Di Balik Cadar (Aisha)

Di Balik Cadar (Aisha)
Untuk apa?


Ammar tersenyum sinis ketika dia melihat biodata Zayn yang dulu diberikan Meisya padanya namun tak sempat dilihatnya. Matanya fokus pada dua kata 'Sabuk hitam' di seni bela diri taekwondo yang ternyata dikuasai oleh Zayn.


Ammar melemparkan kertas itu dengan kesal. Dia termenung sejenak sambil merebahkan tubuhnya pada sandaran kursi.


Sesaat kemudian dia tersenyum. Tak peduli seberapa kuat dan pandai suami Lela itu berkelahi, Zayn tetaplah bukan target utamanya. Ammar tetap akan fokus pada Lela dan rencananya. Mantan istrinya itu tak akan selamanya bisa dilindungi oleh suaminya, ada saat dan masa dimana Lela akan terlepas dari perlindungan Zayn dan saat itu dirinya akan masuk demi untuk membuat mental dan kejiwaan Lela hancur berkeping-keping.


Ammar tersenyum. Cukup membuat Lela gila saja dia merasa sudah mengalahkan laki-laki itu. Kekesalannya karena telah dibuat tak berdaya kemarin akan terbayarkan dengan melihat hancurnya rumah tangga mereka.


Ammar lantas berpikir bagaimana caranya untuk bisa menemui Lela lagi, sambil kini berdiri dan berjalan mondar-mandir dia terus memikirkan cara agar dirinya bisa menemui mantan istrinya yang kini pasti dijaga lebih ketat oleh suaminya.


Dia lalu teringat akan Meisya. Teman sekongkolnya itu pasti mempunyai ide agar dirinya bisa menemui Lela. Dia lalu berniat untuk kembali menemui Meisya setelah rencana menjenguknya kemarin gagal.


***


"Sayang. Ada temanmu ingin menemuimu." Dwi melihat putrinya yang sedari tadi melamun dengan tatapan kosong.


"Apa kamu mau menemuinya?" tanya Dwi dengan lembut.


Meisya tak merespon. Dia terus terdiam.


Dwi menahan sesak di dadanya, melihat keadaan putrinya yang tidak semakin baik.


"Teman yang mana? Apa teman kantornya?" Ayah Meisya bertanya pada istrinya.


"Aku tidak tahu. Namanya Ammar kalau tidak salah."


Mendengar nama Ammar, Meisya seolah langsung tersadarkan. Matanya langsung berkaca-kaca.


"Suruh dia masuk," ucapnya melihat sang ibu.


Dwi dan suaminya kaget dengan respon putrinya setelah mendengar nama temannya yang datang itu.


"Ba-Baiklah nak." Dwi langsung berjalan mendekati pintu.


Tak lama Ammar masuk dengan wajahnya yang berseri, dia langsung menghampiri Meisya dan menanyakan keadaannya.


"Ayah. Ibu. Bisa tolong tinggalkan kami berdua?" Meisya melihat kedua orang tuanya.


Walaupun heran, keduanya menuruti keinginan sang putri.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Ammar kembali bertanya setelah kini hanya tinggal mereka berdua.


Meisya menatap wajah Ammar dengan matanya yang merah dan berkaca-kaca.


"Hentikan!"


Ammar tertegun tak mengerti.


"Hentikan. Jangan ganggu mantan istrimu lagi."


"Apa maksudmu?"


"Jangan ganggu dia lagi. Dia sudah sangat menderita."


Ammar mengerutkan keningnya.


"Apa yang terjadi padamu?" tanyanya heran.


"Yang terjadi padaku persis seperti apa yang terjadi pada mantan istrimu dulu."


Ammar terpaku.


"Jadi aku mohon hentikan."


Ammar tiba-tiba tersenyum. Dia melihat sekujur tubuh Meisya yang terluka, memang persis keadaannya seperti Lela dulu. Namun baginya itu tetaplah berbeda. Sebagai suami dia merasa berhak melakukan tindakan itu pada istrinya sendiri, namun yang terjadi pada Meisya saat ini, itu adalah tindakan kejahatan karena orang lain yang melakukannya.


"Tidak. Aku akan tetap melanjutkan rencanaku walaupun sekarang tidak dengan dukunganmu."


Meisya menggelengkan kepalanya.


"Jangan atau kamu akan menyesal."


"Menyesal?" tanya Ammar sambil tertawa.


"Berhati-hatilah dengan balasan dari Allah SWT. Apa yang terjadi padaku adalah karma atas apa yang aku buat pada Lela."


Ammar semakin tertawa terbahak-bahak.


"Aku sudah memperingatkanmu."


"Terima kasih atas peringatannya." Ammar tersenyum.


"Aku hanya ingin kamu tahu jika aku tak akan berhenti. Aku akan tetap melanjutkan rencanaku dengan atau tanpa dukunganmu."


Ammar lantas keluar ruangan meninggalkan Meisya yang kini menangis sedih. Merasa sangat menyesal karena telah membuka jalan untuk Ammar menyakiti Lela. Rasa bersalah juga kini menyeruak dalam hatinya. Kenapa kemarin dia bisa berpikir sangat ingin menyakiti Lela padahal wanita itu tak pernah menyakiti atau melakukan kesalahan apapun padanya. Meisya menangis penuh penyesalan.


***


Keesokan harinya.


Lela termenung sambil melipat baju miliknya dan sang suami untuk dimasukkan ke dalam lemari. Dia lantas dikagetkan oleh Zayn suaminya yang baru keluar dari kamar mandi sudah dengan pakaian kerjanya. Lela langsung berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya.


Zayn lantas menyiapkan diri untuk pergi ke kantor. Memasukkan beberapa berkas ke dalam tas kerjanya, namun kemudian dia merasa jika ada yang kurang.


"Sepertinya salah satu berkasku yang penting ketinggalan di apartemen " Zayn melihat istrinya yang sedang melipat baju.


"Oh ya?" Lela berdiri menghampiri suaminya.


"Besok berkas itu dibutuhkan. Sepertinya nanti malam sepulang kerja aku akan pulang dulu ke apartemen untuk mengambilnya." Zayn kembali sibuk memasukkan beberapa map lagi ke dalam tasnya.


Lela yang melihat malah fokus pada plester yang kemarin di tempelkan olehnya masih tertempel lekat di tangan Zayn.


Dia lalu mengambil sesuatu, setelah itu kembali mendekati suaminya.


Zayn yang sudah siap dengan tasnya heran, melihat Lela berdiri di hadapannya.


"Coba lihat tanganmu." Lela membuka plester baru di tangannya.


Zayn langsung melihat tangannya yang ditempeli plester.


Dia tersenyum. Langsung menyodorkan tangannya pada sang istri dengan senang hati.


Lela memegang tangan suaminya. Terasa sangat dingin karena baru saja selesai mandi. Tanpa diduga Zayn tiba-tiba menggenggam erat tangan istrinya, membuat Lela kaget dan langsung melihat wajahnya.


"Tanganmu lembut. Juga hangat," ucap Zayn sambil tersenyum.


Lela menunduk dengan gugup. Karena suaminya semakin menggenggam erat tangannya.


Dia lalu melepas plester lama dan menggantinya dengan yang baru hanya dengan satu tangan.


Hingga selesai Zayn tetap menggenggam erat tangan istrinya, seakan tak ingin melepaskannya.


Lela melihat wajah suaminya, memintanya untuk melepaskannya.


Zayn tersenyum, perlahan dia melepaskan tangannya.


Beberapa saat kemudian.


Lela dan Zayn yang baru saja keluar kamar tertegun melihat Alvian yang akan pergi bekerja berpamitan pada istrinya. Alvian mencium kening Aisha dengan penuh cinta, setelah itu dia menciumi perut buncit sang istri sambil mengusap-usapnya perlahan.


Aisha lalu mencium tangan suaminya, namun bukannya berangkat. Alvian malah kembali memeluk dan menciumi wajah istrinya. Dia malah akan menyingkap cadar istrinya untuk mencium bibir Aisha. Tidak menyadari jika ada dua pasang mata yang memperhatikan mereka dari kejauhan.


Melihat itu Lela dan Zayn buru-buru kembali masuk ke dalam kamar. Keduanya lantas berdiri salah tingkah di balik pintu yang sudah ditutup perlahan.


Beberapa saat keduanya tetap berdiri kikuk dengan tanpa saling berbicara.


"Sepertinya sudah," ucap Lela sambil memegang gagang pintu.


"Jangan dulu." Zayn menahan istrinya untuk keluar. Hingga membuatnya refleks memegang tangan istrinya di gagang pintu.


Keduanya saling berpandangan kaget.


Lela langsung melepaskan tangannya. Dia menunduk malu.


"Sebentar lagi. Biasanya para pria membutuhkan waktu yang lama untuk itu," ucap Zayn yang gugup dengan asal.


Lela langsung mengangkat kepalanya sambil mengernyitkan dahinya.


"Untuk itu?" tanyanya melihat sang suami.


Zayn langsung bingung dengan omongannya sendiri.