
Pagi tadi.
Setelah melihat keadaan Zayn, Alvian langsung bergegas menuju ruang operasi karena ada beberapa operasi yang harus dia tangani hari ini.
Sesampainya disana dia kaget beberapa orang tampak sedang mengerubungi seseorang, setelah dilihat-lihat ternyata mereka sedang menyambut kedatangan dokter bedah yang baru.
Alvian baru ingat jika beberapa hari yang lalu direktur Rumah Sakit mengatakan jika akan menambahkan satu orang dokter bedah lagi untuk mengimbangi semakin banyaknya pasien yang datang ke Rumah Sakit mereka.
Alvian berjalan menghampiri dokter baru itu dengan sedikit semangat, jujur saja dia merasa senang karena kedatangan dokter itu akan sedikit mengurangi jadwalnya yang padat, dia bisa berbagai tugas dengannya sehingga dengan begitu Alvian bisa sedikit lebih punya banyak waktu dengan sang istri apalagi disaat seperti ini, saat keduanya sedang menantikan kelahiran buah hati pertama mereka yang tinggal sebentar lagi.
Namun Alvian dibuat terkejut setelah mengetahui siapa rekan dokternya yang baru. Niatnya untuk memberi ucapan selamat datang dia urungkan setelah tahu jika dokter itu adalah Indira, teman kuliahnya dulu.
Alvian masih mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu saat dirinya menghadiri sebuah seminar di luar kota, Indira hampir membuat Aisha istrinya salah paham.
"Dokter Alvian apa kabar?" Indira menyapa Alvian yang berjalan melewatinya.
"Baik," jawab Alvian sambil mengambil sebuah map dan melihat jadwal operasinya hari ini
Indira menghampiri Alvian.
"Apa tidak ada ucapan selamat datang darimu?"
"Oh Iya. Selamat bergabung di Rumah Sakit ini. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik," jawab Alvian masih dengan terus melihat map.
Indira menahan tawanya melihat Alvian yang masih tetap dingin padanya.
---
Indira memanfaatkan hari pertamanya kerja untuk berkeliling Rumah Sakit, sebelum besok dia akan mulai sibuk bekerja dia ingin terlebih dahulu mengenal tempat kerjanya yang baru.
Setelah puas berkeliling dan menyapa beberapa orang dokter yang dulu juga adalah teman kuliahnya dia akan makan siang bersama salah seorang temannya yang sudah lama menjadi dokter di Rumah Sakit itu. Mereka memilih untuk makan siang di kantin umum setelah tadi melihat jika di kantin khusus untuk karyawan Rumah Sakit penuh sesak oleh kebanyakan perawat yang juga sedang istirahat makan siang.
Ketika sedang makan, dia melihat Alvian yang sepertinya habis operasi menghampiri satu meja dimana ada dua orang wanita bercadar disana.
"Itu istrinya," ucap temannya tersenyum seolah tahu jika Indira penasaran akan sosok wanita yang dihampiri oleh Alvian.
"Istrinya?" tanya Indira tak percaya.
Dokter Silvi mengangguk.
"Jadi benar dia tak menikah dengan Anita?"
Silvi menggelengkan kepalanya.
"Kalau tidak salah dengar, dokter Alvian menikah dengan wanita pilihan orang tuanya."
"Oh ya?" tanya Indira tak percaya sambil terus memperhatikan Alvian dan istrinya yang sedang makan bersama. Dia lalu tersenyum membayangkan Anita yang pasti sedih dan merana karena tak jadi menikah dengan Alvian.
Dalam hatinya, dia merasa bersyukur mengetahui ternyata Anita tak berjodoh dengan Alvian. Dia masih ingat bagaimana dulu dirinya dilabrak oleh Anita karena dirinya yang ketahuan naksir Alvian diam-diam. Mengingat itu Indira menjadi kesal. Dia dendam dengan Anita yang telah mempermalukannya waktu itu.
"Kenapa? Apa kamu masih naksir dengan Alvian?"
"Apakah kamu berniat untuk merebut Alvian dari istrinya? Apakah kamu akan menggunakan kecantikanmu untuk merayunya agar dia jatuh ke dalam pelukanmu?" Silvi bercanda menatap wajah sahabatnya.
"Kalau iya. Inilah saat yang tepat karena mulai hari ini kalian akan sering bertemu dan berkomunikasi. Inilah saatnya kamu melampiaskan hasratmu yang tertunda setelah sekian lama," ucap Silvi diakhiri dengan tertawa lepas.
Indira ikut tertawa, dia memukul pundak temannya pelan.
"Aku tidak segila itu. Seperti tidak ada laki-laki lain saja. Masih banyak lelaki singel yang lebih tampan dari Alvian yang akan mengantri untuk mendapatkanku."
Silvi dan Indira kembali tertawa.
"Oh iya. Ngomong-ngomong bagaimana kabar Anita? Dimana dia sekarang?" tanya Indira tiba-tiba.
"Dokter Anita?"
"Iya."
"Dia sudah tidak bekerja di rumah sakit ini lagi."
Indira menahan senyumnya. Tentu saja Anita tak akan sanggup lagi bekerja bersama Alvian. Dia berpikir pasti Anita mengundurkan diri dan pergi menjauh sejauh-jauhnya dari Alvian. Dia sudah membayangkan jika Anita pasti frustasi dan merana karena Alvian kekasih yang sangat dicintainya dan dibanggakannya tidak menjadi miliknya.
"Nah. Itu dia Anita." Tiba-tiba Silvi menunjuk seorang wanita bercadar berjalan menghampiri meja Alvian dan istrinya.
"Siapa? Dokter Anita?" Indira kaget.
"Iya. Orang yang kamu tanyakan barusan. Anita mantannya Alvian."
Indira membelalakkan matanya melihat penampilan Anita. Semakin dibuat kaget ketika melihat Anita mengobrol bersama istrinya Alvian dengan akrab.
"Ini suaminya Anita." Silvi menunjuk seorang laki-laki yang lewat.
Belum habis rasa kagetnya melihat Anita, Indira kembali dikagetkan dengan kenyataan jika Anita ternyata sudah menikah. Melihat suaminya Anita, Indira semakin dibuat syok jika dia tak kalah tampan dan berwibawa seperti Alvian.
Indira tak bisa berkata-kata. Dia hanya tertegun mencoba memahami keadaan yang sedang terjadi.
"Kenapa Anita malah akrab dengan Alvian dan istrinya? Kenapa juga Anita bisa menikah dengan laki-laki yang tak kalah tampan dengan Alvian?" gumam Indira tak percaya.
Silvi yang sedikit mendengar gumaman Indira hanya tersenyum saja.
***
Keesokan harinya.
Zayn dan Lela telah bersiap meninggalkan Rumah Sakit, mereka sedang menunggu Zaidan yang akan menjemput mereka.
Namun tiba-tiba keduanya dikagetkan oleh kedatangan Ammar dan kedua orang tuanya masuk ke dalam ruangan mereka.
Ammar tampak tertunduk malu di atas kursi roda yang di dorong oleh ayahnya.
"Kalian pasti sudah tahu maksud kedatangan kami kesini."
Lela suaminya tertegun tak menjawab.
"Kami ingin meminta maaf," ucap ayah Ammar.
"Dan mencabut laporan?" ucap Zayn tiba-tiba.
Kedua orang tua Ammar tak menjawab.
"Tidak. Aku tak ingin kalian mencabut laporannya. Aku hanya ingin meminta maaf." Ammar bersuara, membuat Lela dan suaminya kaget.
"Aku pantas mendapatkan hukuman atas semua telah aku lakukan pada kalian."
"Nak." Ibu Ammar melihat anaknya. Dia heran karena sebenarnya mereka kesini memang ingin agar Lela dan suaminya mencabut laporannya.
"Maafkan aku ibu. Aku hanya ingin meminta pengampunan dari mereka. Soal laporan polisi, aku sudah pasrah. Aku memang pantas dihukum." Ammar melihat ibunya dengan sedih.
Ibu Ammar menangis. Rasanya dirinya tak sanggup lagi melihat putranya di penjara.
Ayah Ammar mendesah. Sebenarnya dia cukup kaget dengan keinginan putranya.
Akan tetapi dia lebih dikagetkan lagi dengan pemikiran sang putra yang kali ini cukup dewasa karena mau bertanggung jawab atas semua perbuatannya.
"Anakmu benar. Biarkan dia mendapatkan hukuman atas perbuatannya kali ini." Ayah Ammar melihat istrinya.
Zayn melirik sang istri yang sedari tadi berdiri disampingnya sambil menunduk.
"Aku sudah memaafkanmu. Tapi kalau istriku..." ucap Zayn melirik istrinya lagi.
"Aku juga sudah memaafkanmu." Lela bersuara.
Ammar terlihat lega.
"Alhamdulillah."
Lela mengangkat kepalanya perlahan.
"Seburuk-buruknya perlakuanmu. Seperih-perihnya lukaku. Separah-parahnya deritaku. Mulai sekarang aku tak akan terus mengingat luka, derita dan sakit itu. Aku bukan orang yang kamu lukai dengan sengaja hanya saja ternyata membahagiakanku bukan tugasmu. Terima kasih telah banyak memberiku pelajaran di hidupku."