
"Kita terlebih dahulu menikah dibandingkan dengan mereka kan?" Zaidan memeluk Anita yang sedang bersiap diri dari belakang.
"Kita hanya lebih cepat satu Minggu saja," jawab Anita masih sibuk merapikan jilbab yang dipakainya.
"Lalu kenapa kita masih santai belum memikirkan masalah momongan tidak seperti mereka?"
Anita mengulas senyum sambil membalikkan badannya melihat sang suami.
"Iya. Aku juga heran kenapa selama ini kamu tidak pernah mengatakan masalah anak." Anita melihat suaminya dengan heran.
Zaidan tampak sedang berpikir.
"Apa kita harus mulai memikirkannya juga?" tanyanya melihat Anita.
"Ide bagus." Anita mengangguk.
Zaidan tiba-tiba menarik istrinya untuk duduk di atas kasur.
Keduanya sudah duduk dengan saling berhadap-hadapan. Anita melihat suaminya dengan heran.
"Kenapa?"
"Jadi begini Bu dokter. Saya ingin berkonsultasi," jawab Zaidan dengan wajahnya yang serius.
Anita langsung menahan tawa.
"Silahkan pak."
"Saya dan istri saya sudah kurang lebih lima bulan menikah. Tapi sampai saat ini belum ada tanda-tanda jika istri saya hamil."
"Iya. Terus?" Anita mendengarkan dengan serius.
"Boleh saya minta saran bagaimana agar kami bisa segera memperoleh momongan?"
"Tentu saja." Anita membenarkan posisi duduknya.
Zaidan bersiap mendengarkan dengan serius.
"Pertama. Lakukan hubungan suami istri dengan teratur. Kedua. Jalani pola hidup sehat. Ketiga. Konsumsi suplemen atau makanan yang mengandung asam folat. Keempat. Hentikan kebiasaan yang tidak baik seperti merokok. Kelima. Lakukan pemeriksaan secara teratur." Anita menjelaskan dengan detail.
"Semuanya sudah kami lakukan Dok."
"Kalau begitu yang keenam. Berdoa kepada Allah SWT." Anita tersenyum.
"Itu juga sudah Dok."
"Masih ada yang ketujuh. Bersabar. Mungkin tubuh anda dan pasangan anda sedang sibuk menyeleksi bibit terbaik untuk dijadikan sebagai Mujahid dan Mujahidah yang hebat kelak." Anita kembali tersenyum.
"Aamiin." Zaidan ikut tersenyum sambil kemudian memeluk Anita dengan eratnya.
"Semoga proses seleksinya tidak lama ya dok," bisik Zaidan.
Anita mengangguk.
***
"Tidak Ummi. Aku tidak apa-apa. Ini bukan operasi besar." Siti mencoba menenangkan sang ibunda yang tampaknya sangat khawatir setelah mendengar jika Siti akan menjalani operasi.
Aisha yang melihat kakaknya kerepotan menenangkan ibunda mereka berinisiatif mengambil ponsel kakaknya dan berbicara dengan Ummi.
Aisha berbicara sambil duduk di sofa, ditemani Alvian yang juga langsung duduk di samping istrinya.
Dia mulai menenangkan sang ibunda, mengatakan jika sebenarnya operasi ini adalah bentuk ikhtiar kakaknya untuk memperoleh keturunan.
"Ummi tidak perlu kesini. Cukup doakan saja agar operasi kak Siti berjalan lancar dan setelah itu segera dikaruniai seorang anak."
"Ada aku dan Lela juga yang akan menjaganya. Pokoknya Ummi tidak perlu khawatir." Aisha terus mencoba.
Siti merasa sedikit lega. Dia yakin jika adiknya bisa membuat ibu mereka tenang dan tak lagi cemas.
Tak lama Andre datang dengan membawa beberapa helai kertas, rupanya dia baru saja menyelesaikan proses administrasi rawat inap untuk istrinya.
"Kakak seharusnya memesan kamar biasa saja," ucap Siti menghampiri suaminya. Sebenarnya dia sedikit tak nyaman dengan kamar VIP yang luas dan mewah ini, dia yakin jika suaminya harus mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk menyewa kamar ini, belum lagi dengan biaya operasi yang dia juga yakin pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
"Tidak apa-apa sayang. Jangan memikirkan apapun. Kamu harus tenang untuk menghadapi operasi besok."
Andre mengajak istrinya duduk berhadapan dengan Aisha dan suaminya.
"Kak Andre benar. Kakak jangan banyak pikiran." Aisha melihat kakaknya.
Siti mengangguk.
Beberapa saat kemudian.
Aisha dan Alvian berjalan bergandengan menyusuri koridor Rumah Sakit. Keduanya baru saja kembali dari kantin membeli beberapa cemilan makanan untuk Aisha yang akhir-akhir ini sering merasa mudah lapar.
Langkah mereka tertahan ketika tiba-tiba saja Indira menghadang keduanya, dengan menunjukkan wajah sok akrabnya, dia menyapa Aisha dengan ramah.
"Akhirnya aku bisa bertemu langsung dengan istrinya dokter Alvian."
"Perkenalkan. Saya Dokter Indira. Rekan kerjanya dokter Alvian." Indira menyodorkan tangannya dengan sumringah.
Aisha menyambut uluran tangan Indira dan mengenalkan dirinya.
Lain halnya dengan Aisha yang juga mencoba untuk bersikap ramah, Alvian menunjukkan sebaliknya, dia nampak tak suka Indira berbicara dengan istrinya.
"Ayo sayang kita pergi." Alvian memegang tangan Aisha mengajaknya untuk berjalan.
Aisha melihat suaminya dengan heran karena baru kali ini dia melihat sang suami dengan jelas menunjukkan ketidaksukaannya pada seseorang.
Hal itu membuat Aisha menjadi sangat penasaran pada sosok Indira. Kenapa bisa suaminya tampak sangat tidak menyukainya.
"Dokter Alvian kenapa terburu-buru. Kami kan masih ingin saling mengenal lebih dekat." Indira mencoba menahan Aisha untuk pergi.
"Iya sayang. Sebentar lagi." Aisha melihat suaminya.
Alvian mengalah. Dia pasrah ketika Indira mengajak istrinya untuk duduk dan berbincang.
Indira lantas berbasa-basi menanyakan kehamilan Aisha.
"Oh iya. Aku dan dokter Alvian sudah berteman sejak zaman kuliahan loh."
"Iya kan Dok?" Indira melirik Alvian.
Alvian tak menjawab, dia justru langsung memalingkan wajahnya dari Indira.
"Aku. Dokter Alvian dan Dokter Anita bahkan berteman baik," tambah Indira lagi.
"Oh." Aisha mengangguk sambil melirik suaminya yang semakin menunjukkan wajah dongkolnya mendengar perkataan Indira.
Tiba-tiba ponsel Alvian berdering, dia segera mengangkatnya yang rupanya ada panggilan darurat untuknya.
"Sayang. Aku harus pergi, aku akan mengantarmu dulu ke ruangan kak Siti."
"Tidak apa-apa sayang. Pergilah. Aku akan kesana nanti sendiri."
"Tapi--" Alvian melirik Indira dengan sinis. Dia takut jika rekan kerjanya itu mengatakan hal yang tidak-tidak kepada Aisha nanti, apalagi tentang fitnahnya kepada dirinya dan Anita tempo hari.
"Sayang. Aku tidak apa-apa. Pergilah." Aisha memegang tangan suaminya sambil tersenyum.
"Baiklah. Aku pergi dulu." Alvian akhirnya membiarkan istrinya untuk tetap disana, di balik rasa khawatirnya, dia yang sudah sangat tahu karakter sang istri yakin jika Aisha adalah orang yang tidak akan mudah dihasut. Malah dia yakin jika istrinya itu malah akan membuat Indira mati kutu jika semisalnya saja Indira mencoba mengatakan hal yang tidak-tidak tentangnya.
Akhirnya Alvian pergi dari sana meninggalkan Aisha dan Indira bersama.
"Kamu sangat beruntung mempunyai suami yang begitu mencintaimu." Indira tersenyum kecut melihat Alvian yang memperlakukan istrinya dengan penuh cinta.
Aisha hanya tersenyum saja.
"Oh iya. Ngomong-ngomong apa kamu mengenal dokter Anita?"
"Iya. Kami berteman baik."
"Benarkah? Sangat jarang loh ada istri yang mau berteman dengan mantan pacar suaminya." Indira memulai untuk memprovokasi.
Aisha malah kembali tersenyum.
"Siapa yang menyangka jika keduanya tidak berjodoh. Mengingat lamanya mereka berpacaran dan bagaimana mereka dulu sangat saling mencintai." Indira mengatakannya sambil melirik Aisha untuk melihat bagaimana reaksinya.
"Itulah jodoh. Bukan tentang siapa yang kenal paling lama, yang datang pertama atau yang paling dicinta. Tapi tentang Allah SWT yang telah mengaturnya untuk kita. Yang dikenal paling lama bisa jadi justru memberi banyak luka. Yang datang pertama bisa jadi berakhir dengan kecewa, dan yang paling dicinta belum tentu membuat nyaman dan bahagia."
Indira tertegun sejenak mendengar perkataan, sesaat kemudian dia terkekeh.
"Iya kamu benar. Kisah cinta mereka hanya sebatas masa lalu, keduanya sudah pasti sudah saling melupakan kan? Tidak mungkin kan mereka ternyata diam-diam masih saling menyimpan rasa." Indira terus terkekeh sendiri.
"Apapun yang disembunyikan oleh hati akan diperlihatkan oleh sikap dan perkataan, seperti halnya kopi, seindah dan semenarik apapun penyajiannya, tak akan bisa menyembunyikan rasa pahitnya. Itulah anda." Aisha balik terkekeh.