Di Balik Cadar (Aisha)

Di Balik Cadar (Aisha)
Penyesalan


Senyum Zayn terus merekah, semerekah hatinya yang sedang berbunga-bunga. Bagaimana tidak, Lela istrinya sudah semakin menunjukkan kesiapannya untuk menjadi seorang istri yang sepenuhnya.


Di belakangnya kini sang istri tengah memeluknya erat seolah tak ada lagi sekat dan jarak. Mendekapnya hangat, yang sudah pasti perlahan memantik gairahnya yang kini meronta dan menggiat.


Walaupun masih merasa nyaman, Lela sudah harus menyudahinya, dia melepaskan pelukannya. Membuat Zayn langsung memutar badannya melihat sang istri.


Lela mengulum senyum, dibalas dengan tatapan penuh cinta oleh suaminya.


"Sudah?"


Lela langsung menggelengkan kepalanya. "Belum."


Zayn langsung membuka kedua tangannya lebar, menepuk-nepuk dadanya pelan meminta istrinya kembali memeluknya.


Lela langsung menahan tawanya.


"Aku belum mengganti perbannya."


Zayn langsung meraba bagian belakang kepalanya yang terluka belum ditutupi perban.


"Berbaliklah lagi," ucap Lela sambil menyiapkan perban yang baru untuk suaminya.


Zayn terpaksa membalikkan badannya lagi membelakangi sang istri.


Lela dengan hati-hati memasang perban yang baru di luka suaminya yang kelihatannya sudah mulai mengering.


Dirasanya sudah selesai Zayn buru-buru membalikkan tubuhnya lagi, kembali menatap sang istri yang kini tengah membereskan kotak obat.


Zayn akan mengatakan sesuatu, namun tertahan seiring terdengarnya bunyi bel rumah mereka.


Lela langsung bergegas mengenakan cadarnya dan pergi keluar kamar untuk membuka pintu.


Zayn segera menyusul di belakangnya untuk melihat siapa yang datang.


--


"Maafkan kakak jika kemarin ucapan kakak menyinggung perasaanmu." Amira menghampiri Lela yang sedang sibuk membuatkan minuman di dapur.


"Tidak kak. Sama sekali tidak." Lela menggelengkan kepalanya beberapa kali sambil tersenyum.


Amira menatap wajah adik iparnya, dengan perasaan sangat bersalah.


"Kakak sudah tahu cerita sebenarnya. Kemarin Zaidan menceritakannya setelah kakak desak. Maaf tapi kakak sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi," ucap Amira dengan hati-hati.


"Kamu wanita yang luar biasa. Kakak bangga padamu." Amira mengelus punggung Lela.


"Tidak salah Zayn memilihmu untuk menjadi istrinya."


"Tidak kak. Aku hanya wanita biasa. Aku justru bersyukur Allah SWT telah mengirimkan lelaki sebaik adik kakak untuk menjadi suamiku. Kakak tidak tahu apa saja yang telah dia rela lakukan untukku." Lela melihat suaminya yang sedang bermain dengan kedua keponakannya.


Amira tersenyum.


"Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa mantan suamimu sudah ditangkap polisi?"


"Aku baik-baik saja kak. Mantan suamiku, dia..." Lela ragu untuk melanjutkan perkataannya.


"Aku dan suamiku sepakat untuk mencabut laporan ke polisi."


"Apa? Kenapa?" Amira kaget.


Lela bingung untuk menjelaskannya.


"Karena penjara bukan satu-satunya hukuman." Zayn menghampiri keduanya sambil menggendong keponakannya yang masih bayi.


"Hidup dengan rasa penyesalan dan rasa bersalah jauh lebih menyakitkan dari pada dikurung seumur hidup." Zayn tersenyum melihat kakaknya.


Amira tertegun, sesaat kemudian dia tersenyum.


"Baiklah kalau begitu. Kakak mendukung apapun keputusan kalian." Amira memegang pundak adiknya.


"Ngomong-ngomong masalah itu. Aku harus ke kantor polisi sekarang untuk mencabut laporannya." Zayn melihat istrinya.


"Sekarang?" tanya Lela kaget.


"Iya. Semakin cepat semakin baik. Aku ingin segera membereskan masalah ini."


Lela memperlihatkan raut wajah khawatirnya.


"Tapi--"


"Aku baik-baik saja. Kak Zaidan akan menemaniku kesana."


"Baiklah. Hati-hati. Cepatlah pulang jika sudah selesai." Lela pasrah.


***


Kesembuhan Lela bukan hanya menjadi kabar bahagia bagi Zayn suaminya, namun merupakan kabar yang begitu menggembirakan bagi seluruh keluarga besarnya terutama sang ibunda.


Ummi tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Allah SWT karena telah memberikan kesembuhan untuk putri tersayangnya. Walaupun harus melalui insiden yang membuat menantunya terluka, namun Ummi lagi-lagi bersyukur karena Zayn tak mengalami luka yang parah, dan kesembuhan Lela sudah pasti adalah hikmah dari kejadian tersebut.


"Terima kasih Nak. Sudah memberikan Ummi kabar yang begitu menggembirakan," ucap Ummi di ujung telepon.


"Iya Ummi. Kami sudah pasti ingin berbagi kebahagiaan ini juga dengan Ummi," jawab Aisha.


Setelah berbincang cukup lama, Aisha dan Siti menyudahi pembicaraan mereka dengan sang ibu. Sebelumnya Siti memberi tahu Ummi jika dia dan suaminya akan pulang beberapa hari lagi karena urusan pekerjaan Andre yang belum selesai.


Sepertinya Siti dan suaminya terpaksa memperpanjang kunjungan mereka ke kota karena Andre masih harus mengurus banyak hal.


"Konsultasi apa kak?"


"Kakak ingin segera hamil." Siti terlihat sedih.


"Walaupun tak pernah mengatakannya secara langsung, tapi kakak tahu jika suami kakak sudah sangat mengharapkan kehadiran seorang anak," lanjut Siti lagi.


"Iya kak. Aku mengerti. Besok saja kita kesana, sekalian aku juga akan memeriksakan kehamilanku."


***


Malam hari.


Zayn berjalan lesu sambil memegangi kepala bagian belakangnya, entah mengapa ketika hendak pulang dari kantor polisi tadi tiba-tiba kepalanya terasa sangat pusing dan sakit. Dia mengira jika mungkin karena dirinya yang telat meminum obat.


Berurusan dengan polisi juga bisa jadi pemicunya, ternyata tidak semudah yang dia kira, ada banyak berkas dan surat yang harus dia tandatangani tadi, namun sebelum itu dia dan kakaknya juga dibuat harus menunggu sedikit cukup lama karena harus mengantri, bisa jadi jika semua itu juga yang membuat kepalanya tiba-tiba menjadi sakit.


Sesampainya di apartemen dia melihat keadaan yang sepi, padahal Zayn tahu jika kakaknya akan menginap hari ini karena suaminya yang sedang melakukan perjalanan dinas keluar kota.


Namun rasa sakit di kepalanya yang semakin menjadi membuatnya tak menghiraukan keberadaan sang kakak, dia buru-buru masuk ke dalam kamarnya untuk segera beristirahat.


Zayn membuka pintu, kaget melihat lampu kamar yang gelap sudah dimatikan.


Dia lantas mengira jika istrinya sudah tidur, namun ternyata dia tak melihat Lela di atas tempat tidur.


Langkahnya lantas terhenti melihat Lela yang ternyata ada di balkon luar, termenung dengan tanpa memakai hijab hingga membuat rambutnya yang panjang melambai-lambai terkena semilir angin.


Sejenak Zayn melupakan rasa sakit di kepalanya, yang ada di balkon kini lebih menarik perhatiannya.


"Sudah aku katakan jangan kesini sendirian," ucap Zayn mengagetkan Lela yang tengah merenung. Dia berdiri di samping istrinya.


Lela langsung melihat suaminya.


"Kamu sudah pulang? Kenapa lama sekali?"


"Kenapa? Apa kamu menungguku?" Zayn tersenyum.


Lela langsung mengangguk.


"Tentu saja. Kamu harus segera meminum obatmu."


Raut wajah Zayn berubah.


"Hanya karena obat? Aku kira kamu merindukanku."


Lela mengulum senyum.


Keduanya terdiam sejenak. Menikmati keindahan malam dari atas sana.


"Di kantor polisi tadi, aku bertemu dengan Ammar. Ketika tahu jika kita mencabut laporannya, dia memaksakan diri datang kesana untuk menemuiku."


"Dia menitipkan pesan untukmu." Zayn melirik istrinya.


Lela tak bereaksi, dia hanya menarik napas panjang.


"Dia sangat menyesali semua perbuatannya padamu." Zayn semakin menatap istrinya lekat dari samping.


Lela terdiam sejenak.


"Itulah kenapa orang yang meninggal lebih banyak menerima bunga dibandingkan orang yang masih hidup, karena rasa penyesalan lebih besar daripada rasa terima kasih." Lela melirik suaminya sambil tersenyum.


Zayn ikut tersenyum, keduanya saling bertatapan.


"Aduh." Zayn tiba-tiba meringis memegang kepalanya.


Lela kaget. Dia langsung mendekati suaminya lebih dekat kemudian ikut memegang kepala Zayn.


"Kenapa?" tanyanya panik.


Tanpa diduga Zayn malah langsung memeluk istrinya.


Lela yang kaget hanya bisa mengerjapkan matanya berkali-kali di dalam pelukan sang suami.


"Aku harap kamu sedang tidak pura-pura sakit," ucap Lela sedikit kesal.


"Tidak. Aku bersumpah jika kepalaku memang sakit dari tadi." Zayn mengeratkan pelukannya sambil tersenyum bahagia.


Lela langsung melingkarkan tangannya ke pinggang sang suami.


"Kalau begitu kamu harus segera minum obat."


"Tidak perlu. Obatku itu kamu."


__________


Assalamualaikum.


Mohon maaf atas keterlambatan updatenya.


Mohon doanya untuk kesembuhan kedua anakku yang lagi sakit. Semoga Allah SWT segera memberikan kesembuhan untuk keduanya.


Semoga kita semua juga selalu diberikan kesehatan.


Wassalam.


❤️❤️❤️