
Indira menghentikan langkahnya melihat lelaki yang dia ingat sebagai suaminya Anita sedang mengobrol akrab dengan Alvian.
Keduanya tampak sangat akrab selayaknya dua orang sahabat. Hal yang membingungkan baginya melihat seorang suami bisa akrab dengan mantan pacar istrinya.
Namun kemudian dia memilih untuk tak mau ambil pusing lagi, entah apa dan bagaimana yang sebenarnya terjadi dia memilih untuk tak memikirkannya lagi. Indira melanjutkan kembali langkahnya.
"Indira?" Langkahnya kembali terhenti ketika seseorang memanggilnya dari belakang.
Anita dengan wajah sumringah menghampiri teman lamanya.
"Assalamualaikum. Apa kabar? Kamu tugas disini sekarang?" tanya Anita dengan antusias.
Indira sedikit terbengong, melihat Anita yang menyapanya dengan hangat.
"Ba-Baik. Iya. Aku tugas disini sekarang." Indira mencoba menyunggingkan senyum di wajahnya.
"Dari kapan? Wah lama sekali ya kita tidak bertemu." Anita tersenyum dengan senang.
Mereka terlibat percakapan. Anita seolah melupakan semua peristiwa semasa kuliah dulu, dimana keduanya terlibat selisih paham akibat memperebutkan sosok Alvian. Namun lain halnya dengan Indira yang ternyata masih mengingat masa itu dengan sangat jelas. Masih ada sisa dendam di hatinya mengingat jika Anita yang telah mempermalukannya habis-habisan.
Hal itu membuat Indira sebenarnya malas berbicara dengan Anita, menjawab seperlunya bahkan terdengar ketus, berbeda dengan Anita yang justru tampak senang berbicara dengan teman lamanya itu.
"Sayang."
Obrolan mereka terhenti ketika Zaidan mendekati keduanya.
"Semua administrasi kepulangan Zayn sudah selesai." Zaidan mengangkat sebuah amplop besar di tangannya.
Indira langsung menatap Zaidan yang kini sudah berdiri di depannya, semakin dekat dia melihat jika suami Anita itu tampak semakin mempesona. Wajah tampannya terasa sangat teduh menenangkan. Membuat siapa saja akan betah berlama-lama melihatnya.
"Oh iya sayang. Perkenalkan ini teman lamaku. Dulu kami satu kampus."
"Dira. Ini suamiku." Anita menunjuk Zaidan.
Indira langsung memberikan senyum terbaiknya sambil menyodorkan tangannya.
Namun sayang Zaidan sama sekali tak melihat wajahnya, uluran tangannya pun tak bersambut karena Zaidan hanya memberikan salam dengan merapatkan kedua tangannya di depan dada.
Indira segera menarik tangannya dengan malu.
Zaidan melihat istrinya. "Ayo sayang. Nanti keburu siang. Aku harus ke kantor lagi."
"Dira. Aku pergi dulu ya. Senang bertemu denganmu. Sampai ketemu lagi nanti." Anita berpamitan dengan Indira.
Indira hanya mengangguk datar. Dia lalu melihat kepergian sepasang suami istri itu.
Wajahnya menjadi kecut seketika melihat keharmonisan keduanya. Zaidan menggandeng istrinya dengan mesra.
Indira mendelik sinis. Dia tahu jika Anita pasti pura-pura menyapanya dengan ramah karena sebenarnya ingin memamerkan suaminya yang tak kalah tampan dari Alvian.
Indira kembali berjalan sambil bersungut-sungut dalam hati. Disapa Anita mengubah suasana hatinya menjadi tidak baik. Dia menyesal telah meladeni sapaan Anita tadi, seharusnya tadi dia berpura-pura tidak kenal saja dengan tidak menggubris panggilannya.
Indira menghentakkan kakinya berkali-kali dengan kesal. Berpikir kenapa Anita selalu selangkah lebih beruntung dibandingkan dirinya dalam hal lelaki.
***
Zaidan dan Anita berpapasan dengan Ammar dan kedua orang tuanya yang keluar dari ruangan Zayn.
Melihat Zaidan, Ammar langsung menundukkan wajahnya malu.
"Kami kesini ingin meminta maaf pada Lela dan suaminya." Ayah Ammar seolah mengerti ekspresi keheranan Zaidan dan istrinya.
"Iya. Alhamdulillah mereka berkenan memaafkan putra kami." Ibu Ammar menimpali.
"Setiap orang bisa meminta maaf, tapi tak setiap orang benar-benar menyadari kesalahan mereka, dan tak semua orang benar-benar menyesali perbuatan mereka ." Zaidan menatap wajah Ammar.
Ammar tak menjawab, dia tahu tak mudah bagi mereka semua mempercayai semua penyesalannya. Setelah apa yang telah dilakukannya, tak mungkin bagi orang-orang akan mempercayainya begitu saja.
"Semoga permintaan maafmu ini benar-benar dari rasa bersalahmu. Semoga jika sekarang kamu sudah benar-benar menyadari kesalahanmu dan menyesali semuanya," ucap Zaidan penuh harap.
Ammar yang terus menunduk mengangguk-anggukkan kepalanya penuh penyesalan.
"Jangan lagi menyakiti seseorang hingga dia duduk di atas sajadah dan menangis atas luka yang telah kau berikan padanya. Berhati-hatilah pada doanya orang yang kamu dzalimi karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah SWT."
"Ada apa?" tanya Anita tiba-tiba sambil memegang tangan Lela.
Lela langsung duduk tegak dan melihat Anita dengan seutas senyum di wajahnya.
"Tidak ada."
Anita tersenyum.
"Syukurlah."
Zayn yang duduk di depannya hanya tertegun mendengar percakapan istri dan kakak iparnya.
Tak lama kemudian akhirnya mereka sampai di Apartemen. Zaidan dan Anita yang harus kerja lagi terpaksa hanya mengantar keduanya sampai ke lobi Apartemen saja.
Lela lalu mengangkat tas besar berisi keperluan mereka selama di Rumah Sakit kemarin, tapi Zayn tiba-tiba mengambil tas itu dan mengajak istrinya untuk masuk masuk ke dalam.
"Biar aku saja. Kamu masih sakit." Lela berusaha mengambil tas itu kembali.
"Kepalaku yang sakit. Bukan tangan." Zayn mempertahankan tas di tangannya.
Lela mengalah. Dia lalu mengikuti langkah suaminya memasuki lift.
Sesampainya mereka di apartemen, Lela meminta suaminya untuk beristirahat, sementara dirinya langsung menyibukkan diri untuk memasak karena sebentar lagi waktu makan siang tiba, dan suaminya harus makan dulu sebelum meminum obat.
Menjelang sore
Diam-diam Zayn terus memperhatikan istrinya yang terus melakukan pekerjaan rumah.
Dia tahu jika sebenarnya Lela sedang mencoba mengalihkan pikirannya dengan cara menyibukkan dirinya sendiri. Zayn tahu jika sang istri sedang memikirkan sesuatu. Semenjak pertemuan mereka dengan Ammar dan orang tuanya di rumah sakit tadi, Lela menjadi lebih banyak diam.
"Aku akan mengganti perban di kepalamu," suara Lela memecahkan lamunan suaminya.
Zayn langsung melihat istrinya yang membawa kotak obat.
Zayn yang sedang duduk di meja kerjanya langsung mematikan laptop, dia berdiri dan menghampiri Lela yang sudah duduk di atas sofa.
Zayn duduk membelakangi istrinya.
Dengan tanpa banyak bicara juga dengan perlahan Lela membuka perban di kepala suaminya, sambil mengingat-ingat bagaimana perawat mengajarinya kemarin bagaimana cara mengganti perban lama dengan yang baru.
"Aku akan mencabut laporannya," ucap Zayn tiba-tiba.
Lela langsung menghentikan aktivitasnya.
"Aku rasa dia sudah mendapatkan hukuman atas perbuatannya," ucap Zayn sambil terus membelakangi istrinya.
"Aku yakin dia juga sudah menyesali perbuatannya," tambahnya lagi.
Lela terdiam.
Zayn yang sebenarnya menunggu reaksi istrinya heran Lela tak jua memberikan respon atas keputusannya.
Dia akan membalikkan tubuhnya melihat sang istri.
Namun kaget karena tiba-tiba Lela memeluknya dari belakang.
Lela menyandarkan kepalanya di punggung sang suami, kedua tangannya melingkar erat di pinggang Zayn.
Zayn tertegun kaget.
"Keputusan yang tepat di awal perjalanan rumah tangga kita yang sesungguhnya," ucap Lela dengan lega, karena sebenarnya itulah yang dia inginkan, namun mengatakannya pada sang suami takut malah membuatnya salah paham.
"Awal yang baik ini semoga membawa rumah tangga kita pada perjalanan yang juga jauh lebih baik."
Zayn tersenyum, dia senang Lela ternyata mendukung keputusannya.
Keduanya terdiam beberapa saat.
Lela terus memeluk suaminya. Zayn akan membalikkan tubuhnya namun Lela menahannya.
"Biarkan seperti ini sebentar. Sebentar saja." Lela semakin merekatkan pelukannya.
Zayn kembali tersenyum. Dia lalu memegang tangan sang istri yang melingkar di perutnya.