Di Balik Cadar (Aisha)

Di Balik Cadar (Aisha)
Pertama


Keesokan harinya.


Pagi-pagi Lela sudah menyelesaikan pekerjaannya, hari ini dia akan menemani suaminya untuk kontrol ke Rumah Sakit. Kebetulan jika hari ini juga Siti dan kakaknya juga akan melakukan pemeriksaan menyeluruh di Rumah Sakit, dokter Anita menyarankan itu karena peralatan Rumah Sakit jauh lebih lengkap dibandingkan di kliniknya. Jadi kakak beradik itu sudah janjian untuk bertemu disana.


Sesampainya di Rumah Sakit. Lela dan Zayn menunggu antrian untuk diperiksa, sembari menunggu keduanya lantas bertemu dengan Siti juga Andre yang baru saja datang.


Lela langsung memeluk kakaknya, tanpa banyak bicara, sang adik ini mencoba memberikan semangat untuk kakaknya tercinta.


"Aisha tidak ikut?" Lela mengajak kakaknya untuk duduk.


"Tadinya dia bersikeras untuk ikut. Tapi kakak melarangnya. Kasihan dia sudah semakin kepayahan berjalan karena perutnya yang sudah besar."


"Syukurlah kalau dia menuruti kakak. Biasanya dia akan tetap bersikeras dengan keinginannya."


Siti tersenyum.


Keduanya lantas berbincang, sembari menunggu panggilan.


Tak lama Zayn dipanggil, Lela segera berdiri dan menemani suaminya memasuki ruangan dokter.


Tak begitu lama, keduanya keluar, disambut oleh Siti dan Andre yang menanyakan keadaan luka Zayn sekarang.


"Alhamdulillah. Kata dokter lukanya sudah hampir sembuh."


"Alhamdulillah. Syukurlah."


Lela yang ingin menemani kakaknya pada saat pemeriksaan nanti, memutuskan untuk tidak segera pulang, sambil menunggu obat dia dan suaminya kembali duduk sambil berbincang.


Beberapa saat kemudian nama Siti dipanggil. Lela juga Siti dan kakak iparnya segera masuk sementara Zayn menunggu diluar sambil menunggu obatnya.


Segera dilakukan pemeriksaan menyeluruh dan mendetail pada Siti, apalagi dokter yang memeriksa ternyata teman dekatnya dokter Anita yang dititipkan oleh Anita untuk membantu permasalahan Siti.


"Penyumbatan atau kerusakan pada tuba falopi bisa disebabkan oleh beberapa kondisi. Dalam kasus ibu ini, sepertinya keguguran setahun lalu menjadi penyebab utamanya." Dokter itu menjelaskan sambil melihat map berisi riwayat kesehatan Siti.


Siti dan suaminya saling berpandangan.


"Lalu apakah saya masih bisa hamil dok?"


"Insya Allah bisa. Ada beberapa solusi salah satunya dengan operasi. Proses ini dilakukan dengan pembedahan disekitar organ reproduksi untuk mengeluarkan cairan dari dalam tuba falopi yang tersumbat."


"Tapi saya tidak menjamin jika hal ini akan efektif seratus persen, ada beberapa yang berhasil dan bisa hamil tapi ada yang tak membuahkan hasil karena walaupun sudah dilakukan operasi, masih terdapat peluang penyumbatan cairan di saluran tuba falopi terjadi lagi."


"Apabila tuba sudah rusak parah dan tetap tersumbat setelah operasi, kalian masih bisa mencoba program bayi tabung. Anda bisa menggunakan metode IVF atau bayi tabung ini, selama kualitas sel telur, ****** pasangan, dan ovariumnya sehat."


Dokter terus menjelaskan secara terperinci. Kelebihan dan kekurangan dari metode apa saja yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasi masalah yang dialami oleh Siti.


Akhirnya atas kesepakatan Siti dan suaminya, mereka memutuskan untuk menjalani operasi sebagai salah satu bentuk ikhtiar pertama mereka.


Dokter segera mengatur jadwalnya. Lusa hari yang dipilih dokter agar Siti bisa dioperasi.


"Semoga ikhtiar ini memberikan hasil yang kita harapkan." Dokter melihat Siti dan suaminya.


Sesaat sebelum mereka berpamitan, Lela tiba-tiba bersuara, dia lalu mencoba menanyakan tentang kondisinya yang sering mengalami sakit dan kram perut saat mentruasi.


"Nyeri haid atau dismenore umum dialami setiap wanita selama menstruasi. Penyebab nyeri haid bermacam-macam. Namun, anda perlu waspada bila nyeri haid yang muncul tak tertahankan dan tak kunjung hilang, karena bisa jadi ini menandakan adanya penyakit atau gangguan tertentu."


Lela kaget, karena sebenarnya itu yang selalu di alami, sakit perut yang tidak tertahankan.


"Dok. Bisa sekalian periksa adik saya?" Siti yang ikut panik meminta agar dokter memeriksa Lela.


"Tentu saja," jawab Dokter walaupun tahu jika sebenarnya itu menyalahi aturan karena seharusnya Lela mendaftar terlebih dahulu. Tapi dia mau melakukannya demi Anita yang adalah sahabat karibnya.


"Sebentar. Saya panggil suaminya dulu." Andre keluar memanggil Zayn.


Lela lalu menuruti perintah dokter untuk berbaring di atas ranjang.


Tak lama Zayn masuk, dia yang sudah diberitahu Andre langsung duduk di samping Siti melihat Lela yang sedang diperiksa.


Dokter melakukan USG pada perut Lela, namun dia tak menemukan apapun.


Tiba-tiba Dokter memutuskan untuk melakukan USG transvaginal setelah mengetahui jika Lela telah bersuami.


USG transvaginal merupakan metode pemeriksaan internal dengan alat bernama transduser sepanjang 2-3 inci yang dimasukkan langsung ke dalam **** *. Dengan alat ini, dokter akan memperoleh gambar nyata yang lebih detail dari organ reproduksi wanita, rahim, indung telur, saluran telur, dan leher rahim.


Lela terkesiap dan langsung duduk melihat alat panjang itu dipegang dokter untuk dimasukkan kepadanya.


"Tidak apa-apa. Tidak sakit." Dokter mencoba menenangkan Lela.


"Iya dik. Tidak apa-apa. Tadi juga kan kakak pakai itu."


Lela langsung menggelengkan kepalanya panik.


"Tidak. Maaf dokter. Aku tidak mau." Lela segera turun dari ranjang pemeriksaan sambil melihat Zayn suaminya.


Siti dan dokter heran melihat Lela yang sangat ketakutan.


"Kenapa? Suami anda pasti mengizinkan kan?" Dokter melihat Zayn.


Akhirnya dokter dan Siti menyerah. Lela tidak jadi diperiksa. Setelah meminta maaf, mereka semua langsung meninggalkan ruangan itu.


Di perjalanan pulang.


Lela tampaknya masih syok akan pemeriksaan yang akan dilakukan dokter tadi, dia terus terdiam merenung sambil melihat ke arah luar jendela mobil.


Zayn tersenyum mengingat kepanikan istrinya, namun di sisi lain dia merasa khawatir jika kondisi kesehatan istrinya memang tidak sedang baik.


"Kenapa menolak diperiksa tadi? Aku khawatir jika ternyata ada masalah denganmu."


Lela tak menjawab, dia hanya meremas kedua tangannya dengan gugup.


"Kita akan periksa di klinik dokter Anita saja sekarang, sama dokter Anita pasti kamu akan merasa nyaman. Bagaimana?" tanya Zayn melirik istrinya.


"Tidak," jawab Lela cepat sambil melihat suaminya panik.


Zayn terkekeh melihat ketakutan Lela. Dia tahu pasti alat panjang itu yang membuat istrinya ketakutan.


"Baiklah." Zayn mengalah.


Selama di perjalanan keduanya lalu terdiam, hingga telah sampai di apartemen Lela melihat suaminya yang ternyata harus pergi ke kantor.


"Apa kamu sudah benar-benar sembuh?"


"Aku baik-baik saja. Aku terpaksa harus bekerja hari ini, pekerjaanku banyak sekali. Aku tidak mau jika semakin menumpuk."


"Tapi akan aku usahakan untuk pulang cepat."


"Baiklah. Jangan lupa obatnya diminum." Lela akan turun dari mobil, namun kemudian Zayn memegang tangannya, mencium keningnya.


Lela tak bereaksi. Dia terdiam ketika Zayn menempelkan bibirnya di keningnya beberapa saat.


"Cepatlah pulang. Aku menunggumu." Lela mengambil tangan suaminya lalu menciumnya.


"Iya."


***


Zayn tahu jika dirinya sudah sangat telat untuk pulang, tapi mau bagaimana lagi, pekerjaan yang sudah beberapa hari ini dia tinggalkan memaksanya untuk pulang selarut ini.


Dia tahu jika Lela pasti marah, sedari tadi dia menelepon istrinya itu tapi tak diangkatnya.


Zayn bergegas memasuki Apartemennya, segera menuju kamar demi untuk segera menemui istrinya.


Namun dia dibuat tercengang melihat Lela yang sudah berdiri di depan pintu dengan penampilannya yang membuat dadanya terasa sesak seketika.


Lingerie tipis dan menerawang dengan jelas meng-ekspose kulit mulusnya.


Rambutnya yang digulung sembarangan membiarkan anak rambutnya tergerai manis dan tengkuk putihnya terpampang.


Zayn juga mencium aromaterapi yang begitu lembut memasuki hidungnya, beberapa lilin kecil menyala di beberapa tempat di dalam kamarnya.


Zayn menelan ludah, mengerjapkan matanya berkali-kali sambil mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan sedari tadi dikarenakan disuguhi pemandangan bidadari pujaan hati.


"Jika sudah bisa bekerja lembur di kantor, pastinya kamu sudah bisa bekerja lembur denganku sekarang." Lela menghampiri suaminya.


Zayn tak menyangka dengan keagresifan istrinya. Mungkinkah karena mungkin ini bukan kali pertama bagi Lela, berbeda dengan dirinya yang gugup karena ini adalah hal pertama baginya.


Lela menyimpan tangan sang suami di pinggangnya. Tangannya dia kalungkan di leher Zayn dengan mesranya.


Lela mengecup bibir Zayn.


Zayn yang sudah tergulung birahi dengan naluri kelelakiannya yang bergejolak tak tertahankan lagi tiba-tiba menggendong istrinya menuju ke tempat tidur.


"Tunggulah disini. Aku akan mandi dulu."


Lela tak melepaskan tangannya di leher sang suami.


"Kamu sudah shalat isya?"


Zayn mengangguk.


"Tidak usah mandi dulu, aku suka bau keringatmu."


Zayn tersenyum sambil kembali memeluk istrinya.


Zayn kemudian memegang kepala Lela lalu membacakan doa sebelum dia memulai menyatukan dua raga. Berharap dalam pemenuhan nafkah batin ini terhindar dari turut campur setan, dan juga berbagai harapan agar jika diberikan keturunan semoga menjadi anak yang shalih dan shalihah.


"Ini pertama bagiku. Maafkan jika aku tak memuaskanmu," ucap Zayn sebelum memulai mencumbu istrinya.


"Kamu memang suami keduaku. Tapi sebenarnya kamu adalah yang pertama dalam segalanya untukku."


"Bimbing aku karena ini juga yang pertama bagiku."