Di Balik Cadar (Aisha)

Di Balik Cadar (Aisha)
Preman


Tiga hari kemudian.


"Bagaimana keadaan istrimu?" tanya Diah ketika mengajak Zayn untuk bertemu di jam makan siang.


"Alhamdulillah. Dia baik-baik saja."


"Syukurlah. Aku sangat senang mendengarnya. Siapa sangka jika istrimu akan kembali pulih dengan cepat, padahal menurut penalaran kami secara medis, setelah kejadian tempo hari, istrimu paling tidak membutuhkan waktu yang lama untuk kembali pulih."


"Semuanya karena Kuasa dari Allah SWT. Istriku meminta kesembuhan langsung kepada-Nya."


"Iya. Saya juga berpikir demikian. Istrimu wanita yang taat, saya sendiri sangat salut akan kepribadiannya yang shalihah."


Zayn tersenyum.


"Oh iya. Saya mengajakmu bertemu karena ingin menyampaikan pesan dari Meisya."


Zayn kaget. Raut wajahnya berubah seketika.


"Dia sudah menyadari kesalahannya. Dia ingin aku menyampaikan permintaan maafnya padamu dan istrimu."


Diah lalu menceritakan apa yang terjadi pada keponakannya, selain mengalami luka fisik yang lumayan parah, Zayn kaget mengetahui jika Meisya juga mengalami trauma akibat dari pengeroyokan itu.


"Keadaannya persis seperti istrimu. Kekerasan itu meninggalkan luka di jiwanya."


Zayn tertegun.


"Oh iya. Dia juga ingin aku menyampaikan pesan ini padamu."


Zayn mendengarkan.


"Meisya ingin agar kamu berhati-hati. Ammar tak akan berhenti mengganggu Lela."


"Iya. Aku sudah tahu." Zayn lalu menceritakan peristiwa di Rumah Sakit tempo hari.


Tentu saja Diah kaget.


"Aku rasa laki-laki itu sudah terobsesi untuk terus menyakiti dan mengganggu istrimu. Aku yakin jika dia mengalami semacam gangguan jiwa. Aku tak menyebutnya gila tapi pikirannya memang sudah terganggu."


"Aku juga berpikiran seperti itu."


"Kalau begitu kamu harus lebih berhati-hati. Dalam kondisi kejiwaannya seperti itu, dia bisa nekad melakukan apapun."


Zayn mengangguk.


Diah lalu berpamitan untuk pergi karena sudah menyampaikan pesan Meisya pada Zayn.


"Sampaikan salamku pada istrimu."


"Insyaallah. Oh iya mungkin kami akan mulai terapi lagi hari Senin nanti."


"Baiklah. Aku tunggu."


***


Di akhir pekan Siti dan Andre datang mengunjungi Aisha dan Lela. Selain untuk melihat keadaan kedua adiknya, Siti juga menemani suaminya yang akan bertemu dengan partner kerjanya dulu.


Rupanya mantan rekan kerja suaminya tertarik untuk berinvestasi di bisnis yang Andre kembangkan di Pesantren. Tentu saja hal itu disambut dengan hangat oleh Andre yang memang membutuhkan investor untuk mengembangkan bisnisnya lebih luas lagi.


"Selain berinvestasi. Dia juga ingin menjadi donatur tetap Pondok Pesantren." Andre melihat semua orang.


"Tiap bulannya dia akan menyumbangkan sebagian keuntungan perusahaannya untuk kemajuan Ponpes."


"Alhamdulillah." Tentu saja semua orang merasa bersyukur.


"Kita bisa gunakan dana itu untuk meningkatkan fasilitas ponpes karena akhir-akhir ini animo masyarakat menjadi lebih tinggi untuk memasukkan anaknya ke pesantren kita, sekarang bahkan kita sudah tidak menerima murid baru lagi karena keterbatasan tempat tinggal untuk para santri ." Siti melihat kedua adiknya.


"Alhamdulillah. Jika Almarhum Abah masih ada, beliau pasti akan sangat senang melihat Pondok Pesantren yang didirikannya berkembang dengan pesat." Aisha terlihat bahagia.


"Iya. Ini semua berkat Kak Andre, lewat tangannya Allah membuka jalan agar ponpes menjadi lebih maju dan terkenal," tambah Lela.


Semua orang mengiyakan.


Alvian melihat saudaranya.


"Kapan kamu akan bertemu dengan calon investor itu?"


"Kalau tidak halangan. Hari Senin nanti dia mengajakku untuk bertemu."


"Semoga semuanya lancar. Semoga Allah mempermudah segalanya." Zayn melihat kakak iparnya.


"Aamiin." Semua orang mengaminkan.


Ketiga pasangan suami istri itu lalu bersepakat menghabiskan malam Minggu mereka untuk jalan-jalan ke luar. Sebenarnya mereka hanya menuruti kehendak ibu hamil yang entah mengapa tiba-tiba ingin berjalan-jalan dengan kedua saudarinya ke Mall sekalian berbelanja sisa perlengkapan bayi.


Selain itu seharian ini dia melihat kakaknya Lela sedikit murung karena suaminya yang tetap harus bekerja di hari Sabtu, karena itu dia ingin menghibur sang kakak, mengajaknya jalan-jalan agar kakaknya senang dan terhibur dan yang paling utama adalah semoga hal itu bisa merekatkan hubungan kakaknya dan sang suami.


Di perjalanan.


Lela terlihat sumringah, dia terus menebar senyumannya. Walaupun terhalangi oleh cadar, namun Zayn tetap bisa melihat kebahagiaan istrinya.


Zayn tersenyum. Dia tak tahu jika hanya mengajak istrinya jalan-jalan saja sudah membuatnya sebahagia itu. Diapun lantas berjanji pada dirinya sendiri setelah ini dia akan lebih sering mengajak istrinya pergi keluar. Dia juga yakin jika sering pergi bersama akan berdampak bagus pada hubungan mereka berdua.


Akhirnya mereka sampai di mall, setelah memarkirkan kendaraannya di basemen mall, mereka lalu menuju ke lantai atas untuk menemani Aisha berbelanja kebutuhan bayi.


Para wanita tampak bersemangat memilah barang-barang yang sekiranya dibutuhkan untuk calon bayi Aisha. Ketiganya bahkan tak terlihat lelah untuk terus berpindah dari satu toko ke toko yang lain. Para lelaki hanya mengikuti mereka dengan pasrah, sesekali menjawab ketika ditanya pendapatnya tentang barang yang akan mereka beli.


Sementara yang lainnya sibuk memilih. Lela rupanya tertarik pada sepasang sepatu bayi yang lucu, dia terus melihat-lihat sepatu kecil dan imut itu sambil tersenyum-senyum sendiri karena menurutnya sepatu itu sangat menggemaskan.


"Kakak lihat ini lucu sekali kan?" tanya Lela sambil membalikkan badannya dan mengangkat sepatu itu.


Dia kaget karena di depannya kini bukan Siti melainkan Zayn suaminya.


"Iya. Lucu sekali," jawab Zayn sambil melihat sepatu di tangan istrinya.


"Maaf. Aku pikir kakakku." Lela tersenyum malu.


Namun Zayn tiba-tiba mengambil sepatu itu.


"Tapi kalau tidak salah calon bayinya Aisha itu perempuan kan?" tanyanya sambil memandangi sepatu kecil berwarna biru itu.


"Oh iya," jawab Lela yang baru ingat. Dia akan mengambil sepatu itu kembali untuk disimpannya.


Namun Zayn tak memberikannya.


"Kalau kamu suka beli saja."


"Untuk anak kita nanti," jawab Zayn cepat sambil tersenyum.


Lela langsung menunduk malu.


Beberapa saat kemudian


"Aku harus pulang dulu ke apartemen, ada berkas yang harus aku pelajari besok untuk rapat penting hari Senin nanti." Zayn melihat istrinya ketika mereka berjalan menuju parkiran mobil.


"Kamu bisa ikut pulang dengan kakakmu atau adikmu," ucap Zayn lagi ketika mereka berhenti di depan mobil.


"Tidak. Aku mau ikut ke apartemen. Kebetulan ada sesuatu juga yang mau aku ambil."


"Baiklah kalau begitu."


Lela lalu menghampiri Aisha dan Siti mengatakan jika dia akan pulang terlebih dahulu ke apartemennya untuk mengambil sesuatu.


"Iya. Hati-hati ya kak. Jangan lama-lama, cepat pulang."


Sesampainya di apartemen, Zayn segera mengambil berkas yang dia butuhkan, begitu juga dengan Lela yang langsung mengambil barang yang juga ia perlukan.


Tiba-tiba Zayn menghampiri istrinya dengan wajah yang serius setelah membaca sebuah pesan. Zayn mengatakan jika dia akan turun dulu ke bawah karena ada sesuatu.


"Ada apa?" tanya Lela heran.


"Pokoknya dengarkan aku, jangan buka pintu jika ada yang mengetuk."


"Jangan kemana-mana. Tunggu aku disini, jika aku belum datang jangan meninggalkan apartemen ini."


Lela mengangguk dengan heran sambil melihat suaminya pergi dengan terburu-buru.


Sesampainya di basemen, Zayn tersenyum melihat Ammar yang sedang berdiri menunggunya.


"Ada apa?" tanyanya melihat Ammar tajam.


Ammar tertawa.


"Dimana kamu sembunyikan istrimu? Sudah beberapa hari ini aku mencarinya. Untung saja tadi seseorang memberitahuku jika istrimu sudah ada dan aku langsung bergegas kesini."


Zayn langsung tersenyum sinis.


"Apa mata-matamu juga memberitahumu jika aku juga ada?"


Ammar tertawa terbahak-bahak.


"Tentu saja. Karena sebenarnya aku juga membutuhkanmu untuk memancing istrimu keluar."


"Oh ya? Apa yang akan kamu lakukan?"


Ammar tersenyum.


Zayn lalu melihat beberapa orang keluar dari sebuah mobil hitam. Enam orang bertubuh besar dengan pakaian ala preman berjalan menghampiri Zayn dengan sorot mata mereka yang tajam.


Zayn tersenyum santai, dia tetap tenang walaupun tahu jika orang-orang di depannya pastilah preman suruhan Ammar yang diperintahkan untuk mengeroyoknya.


Zayn menahan tawanya ketika melihat seorang preman bahkan membawa balok kayu yang panjang.


"Apa kamu takut menghadapiku seorang sendiri sampai menyewa preman seperti mereka?" tanya Zayn sambil menyingsingkan lengan bajunya, bersiap untuk berkelahi.


Ammar tak menjawab dia hanya langsung memberikan perintah pada para preman untuk menyerang Zayn


Perkelahian tak seimbang pun terjadi, Zayn seorang diri harus menghadapi preman yang berjumlah enam orang. Namun dia terlihat tak kesulitan, Zayn sepertinya dengan mudah menghadapi mereka dengan ilmu bela diri yang dikuasainya.


Ammar yang melihat mulai kesal, namun kemudian dia tersenyum licik ketika melihat ponsel Zayn terjatuh dari dalam sakunya. Sesuai harapannya, kini dia akan melanjutkan rencananya.


Ammar segera mengambilnya, lagi-lagi dia merasa beruntung karena ponsel itu ternyata tidak terkunci, dia lalu mencari nomor Lela dan segera menghubunginya.


Lela yang panik sedang menunggu kedatangan suaminya di depan pintu, tiba-tiba ponselnya berdering ada panggilan video call dari suaminya.


Dia segera mengangkatnya. Kaget bukan kepalang melihat Zayn yang sedang berkelahi di basemen.


Zayn sedikit terkecoh ketika melihat Ammar memegang ponselnya, kini dia mengerti dengan maksud Ammar yang menggunakannya untuk memancing istrinya.


Tak berapa lama, Zayn kaget mendengar suara lift terbuka, dia yakin jika itu adalah istrinya, di tengah perkelahiannya dengan cepat dia langsung berlari menuju pintu lift ketika dia melihat jika memang Lela-lah yang keluar.


Zayn menarik istrinya ke dinding, melindunginya dengan merentangkan kedua tangannya ke dinding. Sementara para preman yang sudah mulai kewalahan di belakangnya sedang berjalan menghampirinya lebih dekat.


"Kenapa turun?" tanya Zayn dengan wajah cemas.


Tak menjawab. Lela hanya melihat suaminya dengan khawatir.


"Siapa mereka?" tanyanya sambil menahan tangis.


Zayn terlihat bingung untuk menjawabnya.


"Ini aku." Suara Ammar terdengar menggelegar bagi Lela.


Bukk.


Lela kaget suaminya dipukul oleh salah seorang preman.


Zayn tak bergeming. Dia tetap berdiri melindungi Lela dari Ammar yang berdiri di belakangnya. Dia akan terus berusaha melindungi istrinya untuk tak melihat Ammar.


Bukk.


Zayn dipukul lagi dari belakang. Namun dia tetap tak bergerak dari tempatnya.


Lela yang kini sudah menangis menatap wajah suaminya yang menahan sakit.


"Minggirlah. Aku tidak apa-apa."


Zayn menggelengkan kepalanya.


"Minggirlah." Lela memohon.


Zayn lagi-lagi menggelengkan kepalanya.


Bukk.


Di pukulan ketiga, Lela langsung memeluk suaminya. Dia memeluk Zayn dengan erat sambil menangis.


"Minggirlah. Aku tidak takut melihatnya. Aku lebih takut lagi jika kamu terluka."