
Lela kaget, dia langsung mengangkat kepala melihat suaminya yang tengah tersenyum padanya.
"Kamu sudah sadar?" tanya Lela tak percaya dengan sangat senang.
Zayn tak menjawab, dia hanya terus menatap wajah istrinya.
"Sebentar. Aku panggil dokter dulu," ucap Lela sambil akan beranjak bangun.
Zayn dengan cepat menahan istrinya. Memegang tangannya.
"Apa kamu tidak apa-apa? Apa Ammar menyakitimu?"
Lela langsung terdiam. Dia terharu suaminya masih menghawatirkan keadaannya.
"Aku tidak apa-apa."
Zayn terlihat tak percaya, dia menatap lekat istrinya.
"Benarkah? Ketika aku pingsan, apa yang dilakukan Ammar dan para preman itu padamu?"
Lela tersenyum, dia kembali duduk.
"Percayalah. Mereka tak melakukan apapun padaku."
Zayn terdiam. Dia masih ragu dengan jawaban istrinya.
Anita dan Zaidan beserta Alvian yang masuk kaget melihat Zayn yang sudah sadar, mereka langsung menghampirinya untuk menanyakan keadaannya.
"Syukurlah. Lukamu tidak parah." Alvian menepuk-nepuk pundak Zayn setelah memeriksa keadaannya.
Zaidan melihat adiknya, dia tersenyum lega melihat keadaannya yang baik-baik saja.
"Oh iya. Polisi ingin meminta keterangan darimu." Anita melihat Lela.
"Aku memintanya untuk kesini lagi besok," ucap Anita lagi.
Lela mengangguk.
"Karena kamu sudah sadar dan baik-baik saja. Kalau begitu kami akan pulang." Zaidan menarik tangan istrinya.
Anita kaget. Dia melihat suaminya tak percaya.
"Pulang?"
"Iya sayang. Aku ngantuk dan ingin pulang." Zaidan memberi isyarat pada Anita untuk melihat tangan Zayn dan Lela yang saling bertaut.
Anita tersenyum mengerti.
"Baiklah. Kita pulang dulu ya, besok pagi kita pasti kesini lagi." Anita berpamitan sambil berjalan meninggalkan ruangan bersama suaminya.
Alvian pun menyusul sepasang suami istri itu.
Lela heran, melihat semua orang tersenyum-senyum sambil meninggalkannya berdua dengan suaminya.
Akhirnya dia menyadari sesuatu, melihat tangannya yang terus menggenggam tangan suaminya membuatnya kaget. Lela buru-buru akan melepaskannya, namun Zayn menahannya.
"Katakan dulu. Setelah aku pingsan. Apa yang terjadi?"
"Kenapa masih menanyakan itu? Tidak ada apapun, mereka langsung pergi meninggalkanku." Lela terlihat gugup sambil melepaskan genggaman tangan suaminya.
"Benarkah?" Zayn tahu istrinya bohong.
"Iya. Tidak usah dipikirkan. Sebaiknya kamu istirahat sekarang." Lela membenarkan selimut suaminya.
"Apa kamu mau minum?"
Zayn menggelengkan kepalanya sambil terus menatap wajah istrinya.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Lela merasa malu, dia menunduk.
Zayn tersenyum, lucu rasanya melihat istrinya yang malu-malu seperti itu.
"Sudah malam. Sebaiknya kamu juga tidur. Ini hari yang melelahkan untuk kita."
Lela langsung tertegun.
"Iya. Ini hari yang sangat melelahkan," gumamnya pelan sambil mengingat kejadian tadi setengah merenung.
Lela bersyukur. Allah SWT telah memberinya kekuatan yang bahkan dia sendiri tak pernah bayangkan bisa menghadapi mantan suaminya se-tegar dan se-berani tadi. Selain itu, dia juga merasa ada energi lain yang memberinya keberanian untuk bisa melawan sang mantan suami. Keberanian yang tiba-tiba muncul ketika melihat suaminya rela terluka demi untuk melindunginya, kekuatan dan keberanian itu semakin bertambah besar ketika di depan matanya, dia melihat sang suami ambruk tak sadarkan diri. Kekuatan itulah yang membuatnya tak merasa takut sedikitpun pada Ammar, dan berani melawannya dengan lantang.
"Apa yang kamu pikirkan?" Zayn mengagetkan Lela.
Lela yang kaget menggelengkan kepalanya. "Tidak."
Dia langsung berdiri. "Aku ke toilet dulu sebentar."
Zayn memperhatikan istrinya hingga menghilang di balik pintu.
Di tengah rasa penasarannya akan apa yang terjadi ketika dirinya tak sadarkan diri tadi, Zayn merasa bersyukur melihat kondisi istrinya yang tampaknya baik-baik saja, tak ada tanda jika Lela trauma setelah melihat mantan suaminya tadi. Tak seperti yang selama ini ditakutkannya, Lela nampak biasa saja, tidak ada rasa takut yang dia lihat dari matanya, hanya ada rasa cemas dan khawatir yang justru istrinya itu perlihatkan untuk dirinya.
Mungkinkah ini pertanda jika istrinya itu sudah sembuh? Semoga saja seperti itu mengingat bagaimana tadi Lela memeluknya dengan erat.
Zayn tersenyum sendiri. Akhirnya setelah sekian lama dia mendapatkan pelukan pertamanya dari sang istri. Dia berharap jika ini pertanda bahwa Lela memang sudah sembuh dan sudah menerimanya sepenuhnya.
Zayn terus tersenyum melihat Lela yang berbaring tidur di bawah ranjangnya.
"Tidurlah. Jangan melihatku terus seperti itu," ucap Lela sambil terpejam.
Zayn menahan tawanya.
"Bagaimana kamu bisa tahu aku melihatmu terus?"
"Karena wanita bisa merasakan sesuatu jauh sebelum mereka benar-benar tahu," jawab Lela masih sambil terpejam.
"Oh ya? Lalu apa kamu tahu bagaimana perasaanku sekarang?"
"Laki-laki tak pandai menyembunyikan perasaannya. Antara dia akan mengungkapkan atau memilih untuk diam. Namun dalam diam saja laki-laki takkan mampu menutupi tatapan matanya yang mewakili perasaannya."
"Lalu apa arti tatapan mataku ini?"
Lela membuka matanya. Perlahan melihat wajah suaminya yang berada di atasnya.
Mata mereka saling bertemu.
"Kamu sedang sangat bahagia."
"Kamu salah," jawab Zayn sambil menggelengkan kepalanya.
Lela mengernyitkan dahinya.
"Aku tidak sedang bahagia. Tapi aku sedang sangat jatuh cinta." Zayn tersenyum menatap wajah sang istri.
Lela tersenyum kecil.
"Lalu bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Zayn.
Lela terdiam sejenak.
"Wanita sangat pandai menyembunyikan perasaannya. Tapi wanita tak akan mampu menahan air matanya. Jika air mata wanita keluar karena seseorang. Percayalah jika itu adalah ungkapan cinta darinya," jawab Lela pelan.
Zayn tertegun.
"Dan sedari tadi air mataku habis karenamu."
Zayn kaget. Namun kemudian dia langsung tersenyum bahagia. Sementara Lela kembali memejamkan matanya.
___
Keesokan paginya.
Zayn yang duduk di atas kursi roda tertegun tak percaya melihat kondisi Ammar yang terluka cukup parah. Dia langsung melihat Lela yang sedari tadi menundukkan kepalanya.
Ammar yang terus saja bungkam membuat polisi kesulitan mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi. Ditambah dengan Lela yang juga memberikan keterangan setengah-setengah membuat polisi akhirnya mengambil keputusan untuk mempertemukan ketiganya.
"Jadi siapa yang memukulinya seperti itu?" tanya salah seorang polisi pada Lela.
Semua orang langsung melihat Lela. Termasuk itu Ammar yang yang melihat mantan istrinya dengan pasrah.
Lela semakin menundukkan kepalanya. Dia melirik sang suami yang sepertinya juga menunggu jawabannya.
"Para preman yang melakukannya." jawab Lela akhirnya.
Semuanya terlihat kaget.
"Para preman?"
Lela mengangguk.
"Tapi kenapa para preman memukulinya padahal mereka adalah suruhannya."
Ammar mengalihkan pandangannya dari Lela, bersiap menghadapi rasa malu ketika Lela pasti akan melampiaskan kebenciannya padanya dengan mengungkapkan semuanya.
"Karena dia sudah membuat para preman itu marah."
"Memangnya apa yang sudah dilakukannya?"
"Dia telah memukul salah seorang dari mereka dengan balok kayu. seperti yang sudah dia lakukan pada suamiku."
"Kenapa dia melakukan itu?" Semua orang semakin tak mengerti.
Lela menelan ludah.
"Dia marah karena para preman menertawainya. Aku rasa dia tidak terima di tertawai oleh mereka karena itu dia memukul salah seorang dari preman itu dan membuat preman lainnya marah hingga akhirnya mengeroyoknya."
"Kenapa preman menertawainya?"
Lela melirik sang mantan suami yang terlihat cemas.
"Para preman tertawa ketika aku mengolok-olok mantan suamiku dengan sebutan banci karena beraninya main keroyokan."
Ammar kaget. Dia langsung melihat mantan istrinya.
"Itulah yang sebenarnya terjadi." Lela menunduk sambil meremas kedua tangannya.