
Malam harinya, saat selesai makan malam, Aji pamit untuk tidur terlebih dahulu. Dia beralasan jika capek dan juga mengantuk.
"Aji mau tidur duluan Ma, Pa, Oma," kata Aji berpamitan.
"Perlu di temani?" tanya omanya, mami Rossa.
"Tidak usah Oma. Aji bisa sendiri kok," jawab Aji sambil mengelengkan kepala.
"Berarti besok-besok bisa berani dong tidur di kamar sendiri, tidak bareng sama mama?" tanya Oma lagi.
Aji hanya mengangguk pasti sebagai jawaban atas pertanyaan omanya. Dia merasa yakin karena selama ini juga terbiasa mandiri, meskipun mamanya yang masih sering membantunya karena merasa khawatir.
"Besok-besok, kalau mama menikah dengan papa, Aji tidak akan menggangu dong ya? Hehehe..."
"Mami..." Cilla protes.
"Apa sih Mami," kata Gilang ikut-ikutan protes.
"Lho bener kan?" Mami Rossa tidak mau kalah.
"Ya Oma. Maaf, Aji ke kamar dulu."
Aji masih mendengar perdebatan dan saling serang kata, antara omanya dan juga papanya. Mamanya hanya sesekali menimpali atau menjawab pertanyaan dari keduanya, Gilang dan juga mami Rossa.
*****
Aji sudah berada di kamar. Dia segera mengaktifkan handphone miliknya dan masuk ke akun yang tidak diketahui oleh mamanya, akun hacker miliknya.
Dengan satu akun itu, Aji biasa menjelajahi dunia hacker tanpa mamanya, Cilla, tahu jika dia masih aktif mengikuti beberapa organisasi yang dia ikuti selama ini.
Aji mencari akun 'siemoy' yang tadi dia temukan tanpa sengaja. Dia mencoba untuk mengetahui siapa sebenarnya pemilik akun tersebut. Kenapa omanya, ataupun papanya, tidak pernah menyingung soal, seseorang yang berada di Amerika atau sedang dekat dengan papanya itu.
"Apa dia juga pernah mengalami hal yang sama seperti mama?" pikir Aji membuat kesimpulan.
"Tapi kenapa dia bilang jika 'Rasa ini masih untuknya' apa maksudnya? Atau bisa jadi dia istrinya papa? Lalu kenapa papa mendekati mama? Apa karena ada aku?"
Aji terus bertanya-tanya dalam hatinya. Dia mulai berpikir jika papanya itu, ada yang tidak dia ataupun mamanya ketahui.
"Mungkin lebih jelasnya aku bertanya pada papa. Tidak apa kan? Dari pada ada kecurigaan dan itu bisa membuat aku tidak menyukai papa lagi."
Aji bergumam sendiri dan tidak lagi mencoba masuk ke akun siemoy. Dia tidak mau susah payah berpikir jika untuk sesuatu yang tidak-tidak.
"Sebaiknya aku tidur sajalah. Nanti kalau mama masuk ke dalam kamar dan aku belum tidur malah jadi curiga."
Akhirnya Aji pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya terlebih dahulu. Setelah itu, dia pun naik ke atas tempat tidur dan mulai mencoba untuk memejamkan matanya, sambil terus berpikir, pertanyaan seperti apa yang sebaiknya diajukan pada papanya soal akun Siemoy.
Tapi ternyata usaha Aji untuk segera tidur sia-sia saja. Matanya tidak bisa terpejam sana sekali. Dia tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Aji akhirnya turun dari tempat tidur dan kembali ke tempat duduknya yang tadi. Dia menghidupkan kembali handphonenya dan mencoba membuat akun sosial media baru dengan nama yang lain.
Tak lama, akun abal-abal miliknya itu jadi. Dia mencoba untuk mengikuti akun Siemoy dan membuka percakapan dengannya terkait postingannya yang terakhir.
*****
"Hello"
Sapa Aji di kolom komentar akun Siemoy. Aji menunggu beberapa saat dengan perasaan was-was.
"Hello to. Who is Miranti?"
Tak berapa lama kemudian, komentar Aji ditanggapi oleh Siemoy.
Aji memberikan penjelasan jika dia, akun Miranti, berasal dari Indonesia.
Tapi Siemoy bukan lagi membalas komentarnya di kolom yang tersedia. Dia, Siemoy, mengajaknya ngobrol secara pribadi melalui chat messenger.
Siemoy: "Oh ya? Aku dari Indonesia. Apa kabar Indonesia? Lama sekali aku tidak menginjakkan kaki di negara zamrud khatulistiwa. I miss Indonesia."
Miranti: "Kamu dari Indonesia? Aku pikir kamu orang Amerika, atau mungkin keturunan Tionghoa atau Asia lainnya,"
Siemoy: "Iya. Aku asli Indonesia. Tapi karena suatu hal, aku tidak bisa lagi pulang ke Indonesia dan menetap di Amerika. Tapi aku sudah berencana untuk bisa pulang ke Indonesia dan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku."
Aji mengerutkan keningnya bingung dengan perkataan Siemoy. Dia tidak mengerti apa yang dia katakan tadi.
Miranti: "Maksudnya?"
Siemoy: "Kamu lihatlah, foto yang aku posting itu. Dia adalah kekasihku. Lebih tepatnya mantan kekasih. Tapi karena suatu hal, kami terpaksa berpisah."
Miranti: "Wah, sayang sekali. Sepertinya dia sangat tampan."
Siemoy: "Kamu yang baru lihat saja sudah bisa menilai, apalagi aku yang hampir empat tahun menjalin kasih. Sayangnya dia itu terlalu sopan dan yang aku butuhkan tidak hanya ucapan cinta, serta kasih sayang. Aku juga butuh perlakuan yang nyata, sentuhan cinta."
Aji bingung dengan penjelasan yang Siemoy katakan. Dia tidak mengerti kemana arah pembicaraannya itu.
Aji ingin bertanya, tapi dia takut jika ketahuan tidak mengerti apa-apa tentang dunia orang dewasa. Akhirnya, Aji hanya diam dan menunggu penjelasan selanjutnya.
Siemoy: "Hello... Indonesia sudah malam ya? Apa kamu sudah tidur?"
Miranti: " Ya sudah malam. Aku sebentar lagi juga tidur."
Siemoy: "Tunggu dulu! Apa kamu tahu tentang perusahaan GAS?"
Miranti: "Sepertinya aku pernah mendengar tentang perusahaan tersebut."
Siemoy: "Pasti kamu pernah mendengarnya. Pemiliknya adalah mantan kekasihku itu, Gilang Aji Saka."
Miranti: "Oh begitu ya?"
Siemoy: "Jika aku berhasil membuat kerjasama dengan perusahaan miliknya bulan depan, aku pasti bisa pulang ke Indonesia. Nanti jika aku ke Indonesia kita bisa kan kopi darat?"
Miranti: "Bisa, jika waktunya tepat."
Siemoy: "Wah... senang sekali bisa mendapatkan teman yang tidak menilai seseorang dari apa yang dia lakukan. Semoga kita bisa berteman dengan baik."
Miranti: "Iya."
Siemoy: "Apa kamu sudah bekerja? Jika belum, apakah kamu mau bekerja denganku?"
Miranti: "Kerja apa? Aku belum punya pengalaman di dunia kerja."
Siemoy: "Itu gampang. Aku suka orang-orang yang baru dan bisa diajak kerjasama. Nanti aku kasi lihat perusahaan yang akan aku buka di Indonesia. Ini masih belum mendapatkan ijin resmi. Kalau di Amerika, perusahaan yang aku buat bersama dengan mantan suamiku sudah berkembang pesat. Tapi sayangnya, dia pergi bersama dengan bule muda. Akhirnya aku minta pisah dan bertekad untuk mendapatkan kembali cinta lamaku, Gilang."
Aji terdiam dan tidak lagi membalas chat dari Siemoy. Dia sedikit memahami siapa Siemoy yang sebenarnya.
Siemoy: "Oh ya, mana asliku, Sekar Mayangsari."
Aji tidak lagi membalas chat Sekar. Dia harus menyelidiki perusahaan yang Sekar miliki di Indonesia. Dia bilang belum mendapatkan ijin, tapi kenapa sudah mengajukan permohonan kerjasama dengan perusahaan milik papanya?
Siemoy: "Jika kamu ingin tahu lebih banyak tentang perusahaan yang aku tawarkan padamu, PT. Sekar Jagad namanya. Aku sengaja memakai nama Indonesia, biar lebih familiar dan pribumi."
Ternyata tanpa diminta, Siemoy membeberkan informasi yang ingin diketahui oleh Aji. Keberuntungan sudah berpihak kepadanya. Kini Aji harus bisa memanfaatkan peluang itu, untuk bisa menjalankan rencananya.