Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Pesta Selesai


Aji yang masih ada di kamar mandi Rossa tenyata ketiduran, sangking capeknya.


"Lah... sudah tidur dianya. Hem, padahal dia belum sempat buka kado dari papanya dan juga dari omanya ini," kata mami Rossa, dengan mengelengkan kepalanya, melihat bahwa, ternyata Aji, cucunya, sudah tertidur tak lama, setelah selesai berganti pakaian yang biasa.


"Pasti capek dan mengantuk juga dia. Sedari siang memang tidak tidur. Dia begitu bersemangat untuk melihat persiapan pesta malam ini. Tapi Aku, benar-benar suka dengan semangat dan juga pikiran-pikiran Aji yang cerdas."


Mami Rossa kembali berkata seorang diri. Dia terus memandangi wajah cucunya yang sedang tertidur pulas di tempat tidurnya.


"Oh iya, Aku harus keluar dan memberitahu Cilla. Pasti dia akan mencari-cari, keberadaan Aji saat ini."


Akhirnya, mami Rossa kembali keluar dari dalam kamar, dan mencari keberadaan Cilla dengan Gilang juga.


"Cilla," panggil mami Rossa, setelah melihat keberadaan Cilla yang sedang bersama Gilang.


"Iya Mi," jawab Cilla dengan berjalan ke arah mami Rossa.


"Aji tertidur di kamar Mami. Biarin saja ya, kasihan juga kalau dipindahkan. Takutnya malah kebangun dan tidak bisa tidur lagi."


"Tapi..."


"Tidak usah takut jika dia akan menganggu tidur Mami. Kamu bisa tidur sendiri, atau tidur juga di kamarnya Mami. Biar mami yang tidur di kamar kamu." Mami Rossa memberikan usulan.


"Baiklah Mi. Tapi sepertinya nanti kalau sudah tertidur pulas, tidak apa-apa jika Aji dipindahkan. Dia tidak biasa rewel juga kok, meskipun pindah tempat tidur."


Cilla mengatakan apa yang biasanya terjadi pada Aji. Mami Rossa hanya mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Cilla saat ini.


"Baiklah kalau begitu. Mami mau ke dapur lihat pekerjaan bibi dan yang lainnya."


"Iya Mi," jawab Cilla pendek.


Cilla masih menemani Gilang yang sedang berbincang dengan rekan kerjanya.


Tidak lama, semua tamu undangan, pamit untuk pulang kembali ke Jakarta. Bus dan kendaraan yang tadi membawa mereka untuk datang ke villa di Sentul ini, memang masih menunggu, dan akan mengantar mereka semua kembali setelah acara selesai.


"Kami pamit pulang dulu tuan Gilang."


"Kami permisi Pak Gilang."


"Duluan ya Bos!"


"Terima kasih sudah mengundang kami."


"Terima kasih ya semuanya. sudah berkenan ikut hadir dan datang ke acara ini," kata Gilang membalas mereka semuanya.


Tak lama, mbak Diyah dan teman-temannya yang lain, juga ikut berpamitan. Mereka harus segera pulang kembali ke Jakarta.


"Cilla. Kami balik ya! Terima kasih untuk malam ini. Semoga, Kamu dan Aji, akan terus berbahagia setelah ini."


Mbak Diyah dan para karyawan toko mami Rossa juga ikut berpamitan, setelah mami Rossa datang kembali dari dapur.


"Ya Mbak. Aamiin..." Cilla mengamini doa mbak Diyah.


"Mami. Kami balik ya! Terima kasih sudah mengundang kami semua," pamit mbak Diyah, pada mami Rossa.


"Iya Diyah. Hati-hati ya! Mungkin dua hari nanti, Mami tidak pergi ke toko. Titip ya! Mami mau istirahat dulu," jawab mami Rossa memberikan penjelasan pada mbak Diyah.


"Siap Mi!" jawab mbak Diyah.


"Balik dulu Mami, Cilla," pamit yang lainnya.


"Iya, terima kasih. Hati-hati!"


Cilla dan mami Rossa mengantar mereka hingga mobil yang membawa mereka pergi dan tidak lagi terlihat.


"Capek ya Cilla," kata Mami Rossa sambil meregangkan otot tangannya.


Kini mereka berjalan ke arah Gilang, yang sedang mengobrol dengan tuan Adi, Dokter Dimas dan juga komandan polisi.


"Kami juga mau pamit. Besok masih ada kerjaan yang menunggu." Komandan polisi berpamitan pada Gilang.


"Gak nginep disini?" tanya Gilang menawari.


"Gak lah. Gak mungkin terkejar, jika besok berangkat dari sini," jawab komandan polisi memberikan alasan.


"Mungkin Adi dan Dimas yang mau nginep," kata komandan polisi lagi, dengan menunjuk pada kedua orang yang ada di depannya.


"Gak. Aku juga mau pulang kok," jawab tuan Adi mengeleng.


"Oh ya, besok dua hari lagi, sidang akhir Candra dan Lily ya, jangan lupa datang!"


Komandan polisi mengingatkan Gilang, juga pada tuan Adi.


"Lho, sudah final ya?" tanya dokter Dimas. Dia memang tidak begitu mengikuti, apalagi juga tidak tahu dari awal.


"Iya Dim. Biar tidak bertele-tele juga. Malas Mami datang ke persidangan terus. Padahal saksi dari polisi juga ada, kenapa di persulit?" Mami Rossa berkata, seakan protes dengan jalannya persidangan yang lamban.


"Bukan begitu Mi. Itu memang prosedurnya kok. Semoga saja, nanti tidak ada naik banding dari pihak mereka." Komandan polisi memberikan penjelasan pada mami Rossa.


"Aku juga mau datang ah! Pengen lihat itu cowok yang jadi pengemar mas Gilang. Ternyata pesona mas Gilang Tidka hanya pada cewek-cewek. Untung Aku normal. Hahaha..." tawa dokter Dimas menggema di malam hari.


"Halah. Kamu saja yang tidak laku!" cibir tuan Adi pada adiknya.


"Lah, Aku tidak laku? Apa kabar Abang Sayang? Sudah laku ya!" ganti dokter Dimas yang mencibir tuan Adi dengan sindirannya.


"Hahaha... kalian ini ada-ada saja. Untung pasien kamu bukan dari rumah sakit jiwa. Kalau benar, bisa-bisa Kamu dianggap ketularan mereka Dim," kata Gilang dengan mengeleng.


"Eh, ini juga berguna Mas. Biar pasien Aku tidak tegang saat mau operasi!" kata dokter Dimas, membela diri.


"Sudah-sudah. Kalian ini selalu begitu. Aku balik, kalau kalian masih mau berdebat lagumi, Aku tinggal!"


Komandan polisi mengangkat kedua tangannya menyerah dengan perdebatan kedua orang bersaudara itu. Dia kemudian berpamitan pada mami Rossa dan Cilla.


"Mi, balik dulu ya. Mbak Cilla, selamat ya!"


Cilla menganguk tanpa menyahuti, sedangkan mami Rossa yang menyahut, "Iya. Kamu hati-hati ya nyetirnya!"


"Iya Mi," jawab komandan polisi mengangguk, mendengar nasehat mami Rossa.


"Aku juga mau balik, jangan ditinggal!"


Tuan Adi dan dokter Dimas berteriak memanggil komandan polisi, sebab komandan polisi sudah melangkah terlebih dahulu ke arah mobilnya yang terparkir di garasi mobil villa.


"Lang, Mi, Cilik, balik dulu ya!"


"Aku juga pamit ya Mi, Mas, Mbak Cilla!"


Kedua bersaudara itu, berlari kecil menyusul komandan polisi yang sudah berada di dalam mobil.


Gilang melambaikan tangannya, saat mereka bertiga sudah ada di dalam mobil, dan melambai sebagai tanda perpisahan.


Begitu juga dengan mami Rossa dan Cilla. Mereka berdua ikut juga melambaikan tangan, mengantar ketiga tamunya yang terakhir itu.


"Lucu ya dokter Dimas Mi," kata Cilla setelah sepi lagi.


"Iya. Dia memang suka bercanda. Sedikit berbeda dengan Adi yang agak serius. Tapi kalau urusan otak, Dimas lebih diatas dibanding Adi."


Mami Rossa memberikan informasi pada Cilla tentang kedua orang kakak beradik itu. Tuan Adi dan adiknya, dokter Dimas.