
Semua orang mengerutkan keningnya bingung, mendengar jawaban dari paman Ranveer. Ini tidak bisa dipercaya, dengan apa yang dia lakukan, dengan bermain-main dalam meracik obat, yang tidak semua orang tahu, apa yang diracik itu. Bahkan, dirinya sendiri, juga tidak tahu apa penawarnya.
"Lalu, bagaimana caranya, Kami bisa mengembalikan kondisi Mr Vijay Singh dan kakakku Aji?" tanya Jeny histeris. Dia tidak sabar. Dia merasa kecewa. Ternyata, ada seorang paman yang tega melakukan semua itu pada keponakannya sendiri.
"Paman belum sempat meneliti, dan terlalu sibuk dengan rencana yang baru, dan urusan bersama dengan pemuda itu," jawab paman Ranveer beralasan.
"Lalu, apa rencana paman untuk kakakku?" tanya Jeny. Dia ingin tahu lebih lanjut, mengenai rencana yang telah disusun oleh paman Ranveer, asisten pribadi Mr Vijay Singh dan juga kakaknya, Aji Putra.
"Dasar tidak tahu malu!" kata tuan besar Sangkoer Singh, sambil menampar pipi adik iparnya itu, paman Ranveer.
"Sabar Tuan," kata Dokter Dimas, melerai pertikaian kedua kakak beradik itu.
Dokter Dimas, dan papa Gilang, memegang kedua tangan tuan besar Sangkoer Singh, agar tidak lagi berbuat kasar pada adik iparnya. Padahal, mereka bertiga tadi, hanya diam, mendengar dan memperhatikan semua yang diceritakan oleh paman Ranveer. Mereka berdua, masih bisa menahan diri untuk tidak berbuat apa-apa, sebagai pelampiasan amarahnya. Tapi sepertinya, tuan besar Sangkoer Singh, sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya.
"Apa rencana untuk kakakku?" tanya Jeny lagi. Dia tidak sabar, ingin tahu apa yang sedang direncanakan oleh paman Ranveer pada kakaknya.
"Aku ingin membuat dia tergantung kepadaku. Setelah itu, Aku ingin dia menikahi anakku, yang sudah ditolak oleh Mr Vijay Singh, yang sekarang masih dalam keadaan koma," jawab paman Ranveer, dengan menundukkan wajahnya.
"Dasar Kamu! Benar-benar tidak punya malu!" teriak tuan besar Sangkoer Singh, dari tempatnya berdiri. Dia tidak bisa lagi mendekat ke arah adiknya itu, karena masih di tahan oleh papa Gilang dan juga Dokter Dimas.
"Panggilkan polisi! Meskipun kejahatannya ada di India, tapi ada warga negara Indonesia yang menjadi korbannya. Biar pihak kepolisian India yang akan menjemput dan memprosesnya nanti!" kata tuan besar Sangkoer Singh, memberikan perintahnya.
"Tidak sekarang!" teriak Jeny dengan mengeleng, ke arah tuan besar Sangkoer Singh.
"Jika dia masuk penjara dalam waktu dekat ini, bagaimana dengan obat penawarnya?" tanya Jeny, melanjutkan kata-katanya, untuk alasannya menolak laporan ke polisi saat ini.
"Itu bisa dilakukan oleh tim laboratorium milikku," jawab tuan besar Sangkoer Singh, tidak mau kalah.
"Tapi, dia yang lebih tahu banyak. Jadi, akan lebih cepat jika dia yang akan melakukannya. Dan itu dalam pengawasan kita semua," kata Jeny, membantah jawaban dari tuan besar Sangkoer Singh.
Tuan besar Sangkoer Singh, melihat ke arah Jeny dengan dengan tatapan tajam. Dia tidak percaya dan juga tidak pernah menyangka, jika ada seorang gadis kecil, yang tidak dia kenal, tiba-tiba saja dengan lantang menentang dan membantahnya. Padahal, selama ini, tidak ada satupun orang yang bisa menolak perintah darinya. Dialah sang penguasa dari Asia tenggara, yang menggerakkan perekonomian semua pabrik garmen dan tekstil di negara-negara berkembang, seperti negara Indonesia ini.
"Saya akan mengawasi langsung pembuatan obat penawar itu!" kata Dokter Dimas menawarkan diri.
"Saya juga akan mengawasinya!" kata Jeny dengan nada tegas.
"Kalian tahu apa?" tanya tuan besar Sangkoer Singh sinis. Dia tidak percaya dengan kemampuan orang-orang yang baru dia kenal itu.
"Saya, meskipun baru menjadi mahasiswa, tapi sudah biasa melihat semua bahan-bahan yang digunakan untuk obat. Saya juga sering membaca di internet, bersama dengan kakakku, Aji, waktu dulu," jawab Jeny, dengan cara yang sama, seperti yang dilakukan oleh Dokter Dimas.
"Percayalah. Mereka berdua, dan tim laboratorium milik Anda, bisa mengawasi paman Ranveer, dalam membuat obat penawar tersebut. Jika perlu, ada pihak kepolisian yang akan ikut mengawasi juga," kata papa menengahi.
"Saya, secara pribadi, merasa senang dan berterima kasih kepada Anda. Sebab, telah merawat dan menolong anak Saya, Aji, yang tidak pernah Kami ketahui keberadaan dan kabarnya."
Tuan besar Sangkoer Singh, merasa tidak lagi bisa membantah perkataan dari mereka semua. Dia tidak tahu, apa yang bisa dia lakukan saat ini, dalam keadaan sendirian. Dia tidak mau, jika anaknya, Mr Vijay Singh, yang masih ada di India dan dalam keadaan koma, akan mengalami hal yang lebih buruk lagi setelah ini.
"Mas, Jeny, Dokter Dimas!"
Dari arah belakang, tampak rombongan dari keluarga Gilang. Ada mama Cilla, oma Rossa, yang di dorong dengan kursi roda oleh cucu kembarnya, Biyan dan Vero.
Tadi, mereka semua, memang sudah dikabari oleh papa Gilang, agar segara menyusul ke rumah sakit, tempat Aji dirawat.
"Apa benar, Aji sudah ketemu?" tanya mama Cilla, dengan suara bergetar. Dia merasa sangat tidak sabar untuk bertemu dengan anaknya Aji.
"Mi. Aji Mi. Dia sudah ketemu Mi," kata mama Cilla pada oma Rossa, mertuanya.
Oma Rossa, tidak mampu berkata apa-apa. Dia hanya mengangguk dan menangis penuh haru.
"Ma... man Aj... i?" tanya oma Rossa terbata.
"Dia sedang istirahat Tante. Mbak Cilla, sabar ya. Biar dia istirahat dulu. Nanti jika sudah bangun, dan tidak bisa mengenali kalian semua, jangan terkejut, sebab dia masih dalam keadaan hilang ingatan," kata Dokter Dimas, memberikan penjelasan pada oma Rossa dan mama Cilla.
"Tuan tahu, karena mendapat kabar jika cucunya menjadi korban pembajakan pesawat, mami kami, mami Rossa, mengalami serangan jantung dan akhirnya lumpuh seperti ini. Kami berharap, dengan ditemukannya cucunya itu, dia akan kembali sembuh dan sehat seperti sedia kala. Bukankah di negara dan agama Anda juga sangat menghormati seorang ibu?" tanya papa Gilang pada tuan besar Sangkoer Singh, dan paman Ranveer.
Paman Ranveer, hanya diam dan tidak mampu menjawab dengan kata-katanya. Sedangkan tuan besar Sangkoer Singh, merasa ikut terharu, melihat ke arah oma Rossa, yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh keibuan.
"Maafkan Saya Nyonya. Saya tidak tahu, karena dia tidak mengenali dirinya sendiri, saat Saya menemukannya. Dan berita tentang pembajakan pesawat itu, letaknya jauh dari kota tempat tinggal Saya," kata tuan besar Sangkoer Singh, memberikan alasan kenapa dia tidak langsung melaporkan penemuan seorang pemuda yang hilang ingatan itu.
"Li... hat Aj... i, dim... mana di...dia?" tanya oma Rossa dengan tidak sabar.
"Oma. Kakak sedang istirahat. Dia tadi merasa kesakitan, dan tidak ingat siapapun dari kita. Jadi tunggu dia bangun dan kita lihat sama-sama ya," kaya Jeny, membujuk omanya itu.
Tapi, sepertinya oma Rossa tidak sabar menunggu. Dia mengeleng beberapa kali, menolak untuk menunggu. Dia ingin segera melihat cucunya, Aji.