
Ruang tengah di rumah Jeny, mendadak sunyi. Tidak ada komentar dari Jeny ataupun Aji. Begitu juga dengan Elisa. Semua orang diam dan tidak ada yang berkeinginan untuk memulai pembicaraan lagi.
Jemy, tidak pernah menyangka, jika sejauh itu pikiran kakaknya, untuk bisa mendapatkan momongan. Dia jadi merasa bersalah, karena tadi sudah menyingung dan bertanya-tanya, tentang anak pada Elisa.
Tiba-tiba, anak Jeny menangis. Membuat mereka semua menjadi kaget, dan melihat apa yang sebenarnya terjadi pada anak bayi tersebut.
"Kenapa Jen?" tanya Aji, karena wajah Jeny kembali tenang, dan tidak terlihat khawatir lagi.
"Gak apa-apa Kak. Dia pup, jadi gak nyaman pampers_nya." Jeny, membawa anaknya ke kamar mandi untuk dibersihkan terlebih dahulu.
"Kalau bayi nangis tandanya pup ya Kak?" tanya Elisa ingin tahu. Dia tidak tahu apa-apa tentang anak-anak apalagi bayi.
"Tidak juga. Penyebab nangisnya bayi tidak bisa dipastikan. Harus diperhatikan dari banyak hal yang menjadi penyebabnya, karena tidak semua bayi menangis saat pup. Tapi, yang pasti, bayi akan menangis jika dalam keadaan tidak nyaman. Bayi kan belum bisa bicara untuk berinteraksi dengan orang disekitarnya, jadi dia hanya bisa menangis untuk memberikan isyarat pada orang lain. Itu salah satu cara dia minta diperhatikan.
Elisa, mengangguk paham. Dia merasa sangat bodoh, karena tidak tahu apa-apa dibandingkan dengan suaminya, Aji.
"Kalau nanti El punya bayi dan tidak bisa mengurusnya bagaimana?" Tiba-tiba, Elisa bertanya tentang kekhawatiran yang dia rasakan saat nanti, bila memiliki bayi.
"Kita bisa belajar bersama Sayang. Atau kalau memang dibutuhkan, kita bisa ambil baby sitter untuk membantu mengurus bayi kita."
Aji, dengan telaten menerangkan kepada Elisa, agar Elisa tidak merasa takut jika memiliki anak nanti.
Tak lama Jeny sudah kembali, tapi dia sendirian. Anaknya tidak lagi bersama dengannya.
"Lho, anak Kamu mana Jen?" tanya Elisa memastikan. Dia khawatir jika Jeny, meninggalkan anaknya di kamar mandi sendirian. Dia pikir, anak sekecil itu, tidak mungkin bisa mengurus dirinya sendiri, apalagi saat berada di kamar mandi.
"Sudah selesai. Aku minta tolong pada baby sitter, untuk mengurusnya sebentar." Jeny, menjelaskan pada Elisa tentang keberadaan anaknya tadi.
Elisa, hanya menanggapi dengan anggukan kepala. Sedangkan Aji, hanya diam dan merogoh handphone yang ada di saku celana. Ada beberapa notifikasi yang masuk, minta untuk diperhatikan oleh Aji.
"Kak, kalau masih ada keperluan lain, kita pamit saja sekarang," kata Elisa, yang melihat Aji, mengerutkan keningnya melihat layar handphone di tangan.
"Hemmm... tidak. Ini ada beberapa pesan dari ayah Sangkoer Singh. Dia mempercepat waktu keberangkatan kita jadi besok siang. Jadi, sebaiknya kita pulang sekarang dan pamit ke rumah mama."
Elisa dan Jeny, sama-sama terkejut mendengar perkataan Aji. "Kok bisa dipercepat begitu?" tanya Jeny tidak percaya.
"Entahlah. Mungkin ada sesuatu yang terjadi do sana. Kakak juga tidak tahu, karena handphone ayah sudah tidak bisa dihubungi lagi. Pesan yang Aku kirim juga belum sampai."
Aji masih menunggu pengiriman pesannya kepada ayahnya, Sangkoer Singh. Tapi , beberapa menit kemudian, tetap tidak ada balasan.
Akhirnya, Aji pamit pada adiknya, Jeny. Dia mengajak Elisa pergi ke rumah mama Cilla, untuk berpamitan ke sana juga, meskipun mama dan papanya, sudah tahu rencana mereka berdua ke India, tapi waktunya yang mereka tahu masih dua hari lagi. Dan sekarang, ada perubahan rencana yang tidak diketahui oleh Aji sebelumnya.
"Jen. Kami pamit dulu ya. Kamu hati-hati, jaga kesehatan dan keluarga Kamu, terutama anak-anak." Aji, memeluk adiknya dan memberikan beberapa pesan.
"Hiks, hiks..."
Jeny terisak dalam pelukan kakaknya, Aji. Dia tidak tahu jika sesingkat ini mereka bertemu dan berpisah. Bahkan sekarang, dalam waktu yang tidak bisa dipastikan.
Elisa, ganti memeluk Jeny. Sahabat sekaligus adik iparnya. "Aku pamit ya Jen. Doakan kami berhasil dalam usaha ini," kata Elisa, sambil menitikkan air mata, sama seperti Jeny.
"Iya El. Huhuhu... Kamu hati-hati ya, jaga diri dan kakak juga," ucap Jeny, masih dalam keadaan menangis.
Elisa dan Jeny, sama-sama menangis sambil berpelukan. Aji, menepuk-nepuk bahu mereka berdua, kemudian ikut memeluk keduanya dari arah samping.
Di rumah papa Gilang ternyata sedang tidak ada orang. Papa Gilang sedang bekerja di kantor, sedangkan mama Cilla pergi ke Mall, memeriksa toko baju peninggalan mami mertuanya, mami Rossa.
Vero dan Biyan juga tidak ada di rumah. Mereka berdua, sedang berada di sekolah, karena hari ini bukan hari libur.
"Seharusnya, tadi kita telpon mana dulu Kak. Biar tidak kecewa seperti ini," kata Elisa, dengan wajah yang lelah.
"Iya. Kakak sudah panik duluan, sehingga tidak berpikir sejauh itu. Sebaiknya kita memberikan kabar pada mama dan papa, biar mereka yang ke apartemen nanti malam. Kita juga perlu beristirahat dan membereskan barang-barang kita yang belum di packing."
Akhirnya Aji dan Elisa, berpamitan dengan para bibi pembantu yang ada di rumah, kemudian kembali pulang ke apartemen mereka.
"Sayang. Coba Kamu hubungi mama Cilla, apa masih ada di Mall? Kalau iya, kita mampir ke sana. Mungkin Kamu tidak ingat, tapi, Aku tetap mengingatnya. Soal ajakan_ku untuk pergi ke Mall, dimana ada gerai burger yang Aku sukai."
Aji ingat dengan cerita dan keinginannya untuk mengajak Elisa pergi makan Burger. Tapi, Elisa yang tidak ingat, mengerutkan keningnya melihat ke arah suaminya.
"Iya, di Mall itu. Dimana toko baju mendiang Oma berada," kata Aji, menjelaskan pada Elisa.
Elisa menurut. Dia mengambil handphone miliknya yang berada di dalam tas. Tak lama, sambungan telpon untuk mama Cilla, bersambung.
..."Halo El. Ada apa?" ...
..."Mama masih ada di Mall?"...
..."Iya masih. Kenapa?" ...
..."Tidak ada apa-apa Ma. Aku dan kak Aji, mau ke mall itu. Ini sudah ada di perjalanan."...
..."Oh begitu ya, baiklah. Mama tunggu ya!" ...
..."Iya Ma." ...
Klik
Telpon ditutup. Elisa beralih pada Aji dan berkata, "Mama masih ada di toko. Dia menunggu kedatangan kita."
"Baiklah. Kita ke Mall terlebih dahulu. Biar acara nanti malam diatur mama juga."
Akhirnya, Aji mencari tempat untuk memutar arah laju mobilnya, menuju ke Mall. Dia ingin mengajakmu Elisa, untuk menikmati Burger kesukaannya, sebelum pergi ke India besok siang.
Suasana Mall, masih sama seperti dulu. Ramai dengan para pengunjung yang datang untuk berbagai keperluan dan kepentingan masing-masing.
"Kak, itu..." Elisa, memangil Aji, saat melihat sekilas bayangan seseorang yang dia kenal.
"Apa?" tanya Aji datar. Dia tidak tahu, apa maksud istrinya memangilnya tadi.
"El, seperti melihat Biyan. Apa dia tidak sekolah?" tanya Elisa memastikan.
"Sekolah. Tadi bibi di rumah bilang kan, kalau Vero dan Biyan pergi ke sekolah. Memangnya ada apa? siapa yang Kamu lihat? atau mungkin Kamu salah lihat Sayang," jawab Aji, dengan tenang dan memberikan beberapa penjelasan pada Elisa.
Elisa mengangguk paham, meskipun demikian, Elisa tetap merasa yakin, jika tadi yang dia lihat adalah Biyan, adik iparnya yang kembar dengan si Vero.
"Biyan bersama siapa ya tadi?" Elisa, bertanya pada dirinya sendiri di dalam hati.