
Liburan semesteran sudah selesai. Semua mahasiswa dan mahasiswi sedang bersiap-siap untuk datang lagi ke kampus dan melakukan aktifitas seperti biasanya, meksipun dengan tingkatan yang berbeda.
Aku juga sama. Dia akan masuk untuk pertama kalinya di kampus, yang sama dengan Elisa, isterinya.
Meskipun berbeda tingkatan dan juga jurusan, Aji akan selalu datang bersama dengan Elisa, jika dia tidak ada kegiatan lain, atau pergi ke kantor papanya, di perusahaan GAS.
"Harusnya kita honeymoon dulu ke India. Sesuai dengan rencana papa, saat Jeny belum menikah. Sayangnya, kesibukan papa malah membuat rencana itu gagal, apalagi pernikahan kita yang juga cepat ini, membuat ayah Sangkoer Singh tidak bisa datang ke Indonesia, karena anaknya, Mr Vijay Singh, harus menjalani operasi usus besar."
Aji, menyiapkan sarapann sambil bercerita pada Elisa, yang sibuk dengan handphone di tangan.
"Hemmm..." Aji melihat Elisa yang terlihat tidak memperhatikan perkataannya tadi jadi kesal sendiri.
"Sayang, Elisa!" panggil Aji pada istrinya.
"Iya Kak," jawab Elisa, tanpa mengalihkan pandangan dari layar handphone miliknya.
Aji mendekat. Dia melongok, untuk bisa melihat ke handphone yang sedang di pegang Elisa. Dia ingin tahu, apa yang sedang dilihat istrinya pagi-pagi begini.
"Apa begitu?" komentar Aji, saat melihat video yang sedang di lihat Elisa.
Ternyata, Elisa sedang melihat tutorial cara memasak, untuk sarapan pagi yang mudah disajikan. Tapi, Aji justru mengomentari kegiatannya itu.
"Hehehe... Elisa kan ingin belajar juga Kak. Masak iya, Kakak terus yang masak. Aku kan juga ingin menyajikan sarapan untuk kita berdua."
Aji, menjentikan jarinya pada hidung Elisa dengan gemas, kemudian memeluk Elisa dan berkata, "Kakak menikahimu bukan untuk di jadi koki. Jika sekarang ini Kakak yang harus memasak, itu tidak apa-apa. Itu anggap Kakak sebagai bentuk rasa cinta ini."
Aji, menunjuk ke arah dadanya sendiri. Memberitahu Elisa, bahwa cintanya bukan sekedar cinta sebatas kata-kata saja.
"Kakak... hiks hiks hiks."
Elisa justru terisak-isak, dengan perlakuan manis Aji pagi ini. Dia merasa sangat bahagia dengan pernikahannya dengan Aji, yang tidak egois dan menuntunnya untuk bisa mengerjakan tugas perempuan pada umumnya.
"Kok malah nangis?" tanya Aji, mengelus-elus pundak istrinya. Dia tahu, Elisa itu perasa, meskipun dari luar terlihat cuek dan tidak seperti cewek kebanyakan.
"Sudah-sudah. Ayok kita sarapan, terus berangkat ke kampus," kata Aji, menuntun Elisa agar duduk, dan memulai sarapan.
"Jangan merasa bersalah karena tidak bisa memasak. Kamu tahu, kebanyakan koki di restoran dan hotel itu cowok, karena apa? itu karena cowok yang seharusnya memenuhi kebutuhan cewek, termasuk urusan perut," kata Aji, sambil tersenyum melihat Elisa yang sedang melihatnya dengan mata berkaca-kaca.
"Kakak. Maaf ya, Elisa tidak bisa mengerjakan apa-apa. Masak saja tidak bisa, lalu apa yang bisa di andalkan coba?" tanya Elisa dengan wajah sedih.
Aji tersenyum melihat tingkah Elisa yang manja seperti ini. Dia jadi merasa gemas dengan apa yang tidak disadari Elisa, jika apapun yang dia lakukan tanpa menutup-nutupi kekurangannya, justru adalah kelebihan yang tidak semua orang punya.
Kebanyakan orang, akan berusaha keras menutupi kekurangan yang dimiliki. Tapi Elisa, dengan gamblang mengatakannya.
"Semua hal bisa dipelajari. Tergantung kita, mau tidak belajar?"
"Iya, nanti Elisa pasti belajar." Elisa berkata dengan yakin.
"Tidak usah lihat tutorial seperti tadi. Kamu malah bingung nanti. Lihat saja Kakak kalau sedang beraksi," ucap Aji dengan percaya diri.
"Ihsss, bisa-bisa malah jadi kacau," sahut Elisa cemberut.
"Kok kacau?" tanya Aji bingung dengan apa yang dikatakan Elisa.
"Ya.... Kakak akan merasa terganggu dan tidak Jandi masak kayak kemarin!"
"Hehehe..."
Aji, terkekeh mendengar perkataan Elisa yang ingat dengan kejadian kemarin, saat sedang memasak dan direcoki Elisa, dengan banyak bertanya tentang ini dan itu. Akhirnya, Aji ngambek dan tidak jadi memasak kemudian ganti mengusili Elisa hingga pada akhirnya mereka berdua saling berciuman dan bercumbu di dapur dan berakibat berantakan pada beberapa tempat, karena bahan makanan yang tercecer.
*****
Setibanya di kampus, Elisa langsung mencari keberadaan Rio. Aji, sedang ke kantor bagian administrasi dan pendaftaran, untuk mahasiswa baru kelas karyawan.
"Kakak ke kantor dulu ya," pamit Aji, begitu turun dari mobil. Dia sengaja tidak menawari Elisa untuk ikut dengannya ke kantor, karena tahu, Elisa ada kegiatan yang lain bersama dengan teman-temannya sendiri.
"Iya Kak. nanti kalau sudah selesai kabari ya," jawab Elisa, dengan menganggukkan kepalanya.
"Awas, jangan ganjen!" pesan Aji pada istrinya, sebelum dia berjalan sambil tersenyum miring.
"Ih, ganjen gimana? orang semua juga sudah tahu, kalau Aku sudah nikah," jawab Elisa dengan mengerutu sendiri, karena pastinya Aji sudah tidak lagi bisa mendengar perkataannya itu.
Akhirnya, Elisa pergi dari tempat parkir dan berjalan ke arah taman yang akan melewati kantin. Itu dia lakukan, untuk mencari keberadaan Rio, yang sudah lama tidak ada kabarnya.
Setelah menikah kemarin, Elisa dan Aji memang mematikan handphone mereka. Begitu juga saat liburan semester dan mereka berdua, sudah tinggal di apartemen. Handphone hanya aktif di jam-jam tertentu. Itulah sebabnya, Elisa tidak ada kesempatan untuk saling berkabar dengan teman-teman, termasuk dengan Rio.
Elisa memang sengaja tidak menghubungi Rio, karena dia tahu, jika suaminya, Aji, tidak suka dia berdekatan dengan Rio, meskipun Aji tahu betul bagaimana hubungannya dengan Rio selama ini. Elisa hanya berusaha untuk menjaga perasaan Aji, sebagai suaminya.
"Hai El. Wah yang pengantin baru, beda ya auranya!"
"Iyalah, ada harum-harumnya gimana gitu."
"Jadi pengen cepat-cepat nyusul deh El!"
Teman-teman yang kebetulan berpapasan dengan Elisa, menyapanya sekaligus menggodanya juga.
Elisa, hanya bisa tersenyum menanggapi perkataan mereka yang biasa terjadi jika ada teman yang baru saja menikah.
"Ada yang lihat Rio tidak?" tanya Elisa, tanpa menjawab ledekan mereka semua.
"Tidak."
"Aku juga tidak."
"Kamu lihat tidak?" tanya Elisa, pada yang lain lagi.
"Belum lihat."
"Tumben, biasanya rajin. Atau dia ada kegiatan untuk mahasiswa baru? Oh iya, dia kan ketuanya ya biasanya?"
Elisa baru ingat, jika awal masuk kampus, Rio akan disibukan dengan kegiatan mahasiswa, untuk menyambut anggota baru yang diketuai oleh Rio selama ini.
"Wah... baru menikah dan tidak ketemu sama Rio dalam jangka waktu yang tidak begitu lama, bisa lupa gitu El," tegur temannya.
"Yah, namanya juga manusia rek," jawab Elisa dengan menaikkan kedua bahunya cuek.
"Ya sudah deh, Aku pergi dulu. Kalau kalian ada yang ketemu Rio, tolong kasih tahu dia, jika Aku mencarinya ya," pamit Elisa sekaligus memberikan pesan pada teman-temannya yang lain.
Dari arah samping, ada teman yang lain yang memberitahu mereka semua tentang keberadaan Rio saat ini. "Dia sudah pindah ke luar negeri, tiga hari yang lalu."