Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Melakukan Test


Sudah hampir seminggu, Aji dengan Elisa ada di India. Banyak sekali yang mereka lakukan dan kerjakan di rumah besar, keluarga Sangkoer Singh. Mereka juga sering datang, untuk menjenguk Vijay Singh yang sedang koma di rumah sakit milik ayahnya, Sangkoer Singh, yang ada tak jauh dari rumah besarnya juga.


Mereka berdua, mempelajari tentang budaya dan kebiasaan masyarakat sekitar, begitu juga dengan para pegawai yang bekerja di rumah tersebut.


Ini semua adalah saran dari Sangkoer Singh sendiri. Dia ingin, anak angkatnya Aji, juga tahu, bagaimana tata cara kehidupan yang ada di India ini.


Aji dan Elisa, juga di ajak berkeliling untuk melihat-lihat tempat rekreasi yang indah di India. Bukan hanya Taj Mahal saja, tapi kuil-kuil indah dari dewa Krisna, tapi pergi ke sungai Gangga juga. Kata Ayah Sangkoer Singh, untuk meminta berkah dan restu pada Dewi Gangga, yang memberikan kehidupan lebih baik.


Vijay Singh yang sedang koma, awalnya sudah sehat dan bisa melakukan kegiatan sehari-hari, meskipun hanya ringan. Tapi ternyata semua itu tidak bertahan lama. Anggota tubuhnya yang lain, tidak bisa menerima begitu saja ginjal donor yang baru dipasang. Itulah sebabnya, dia tidak bisa lagi menahan sakit dan akhirnya malah koma hingga saat ini. Mungkin karena tubuhnya memang sudah tidak bisa dikatakan normal dan sehat sebagaimana dulu.


"Kasihan sekali Kak, Vijay Singh. Dia terlihat pucat dan kurus begitu," kata Elisa, saat menjenguk saudara angkat suaminya, dari balik ruangan kaca.


"Iya. Dia memang tidak pernah gemuk. Apalagi dengan semua penyakit yang dia derita selama ini. Sungguh, tidak bisa dibayangkan, betapa sedihnya ayah Sangkoer Singh selama ini. Harta yang begitu berlimpah dan semua usahanya, sepertinya tidak ada gunanya, untuk bisa menebus kesehatan bagi Vijay Singh, anaknya."


Aji tahu apa yang dirasakan oleh ayah angkatnya itu. Mungkin di luar sana, orang-orang akan melihatnya dengan gagah dan berwibawa sebagai seorang pengusaha sukses yang tidak terkalahkan. Dia juga begitu berpengaruh pada kehidupan politik di negara ini. Tapi, saat pulang dan melihat kehidupan pribadinya, kesedihan itu amat panjang. Sepertinya tidak ada ujung. Itulah sebabnya, Sangkoer Singh meminta Aji untuk datang ke rumah ini, di India. Meskipun awalnya Aji belum bisa meninggalkan keluarganya dan Indonesia, tapi permasalahan pada adiknya, yang membuat Aji menerima tawaran ayah angkatnya itu, dengan berbagai pertimbangan yang matang.


"Taun muda," panggil dokter yang sedang lewat.


"Ya, ada yang bisa Saya bantu?" tanya Aji sambil melihat ke arah dokter, yang datang mendekat ke tempatnya berdiri bersama dengan Elisa. Di depan ruangan Vijay Singh.


"Tuan besar Sangkoer Singh, bilang jika anda bisa tenang. Hasil laboratorium, untuk obat ramuan yang diberikan oleh paman Ranveer dulu, tidak ada efek samping untuk kesuburan pria. Jadi Tuan muda bisa tetap tenang, dan tinggal menunggu waktu saja untuk bisa mempunyai anak."


Senyum merekah di bibir Elisa dan Aji. Mereka berdua, merasa senang dan bahagia, karena tidak ada gangguan yang berarti dalam usaha mereka selama ini. Mungkin memang belum waktunya saja mereka memiliki momongan.


"Tapi apa tidak sebaiknya kami melakukan test kesehatan?" tanya Aji, untuk memastikan jika mereka berdua, memang benar-benar sehat dan tidak ada masalah lain.


"Jika Tuan muda berkenan, boleh kita coba. Nanti Tuan muda dan istri, bisa melakukan cek kesehatan dan kesuburan. Tinggal menentukan waktunya saja, kapan kira-kira istri Tuan muda ini ada pada masa subur."


Jawaban dari dokter di rumah sakit milik ayahnya, Sangkoer Singh, membuat Aji lebih bersemangat. Dia menggenggam tangan istrinya erat, kemudian mencium punggung tangan tersebut.


"Kita akan segera memiliki anak setelah ini Sayang," kata Aji dengan haru.


Elisa, mengangguk senang. Dia merasa sangat bahagia karena Aji yang begitu perhatian, meskipun dalam hal kecil seperti ini, yang kadang-kadang, tidak pernah terpikirkan oleh suami manapun.


"Iya Kak. Kakak, yang sabar ya. Ini hanya soal waktu," ucap Elisa, dengan menggenggam tangan suaminya itu dengan satu tangannya yang lain.


Dokter yang ada di depan mereka tersenyum. Dia ikut merasa senang, dengan melihat pasangan muda ini begitu menakjubkan dimatanya. Dengan usia mereka, biasanya belum begitu memikirkan soal anak, dan lebih fokus pada kehidupan mereka berdua saja. Tapi, tuan mudanya ini memang berbeda.


"Saya permisi dulu Tuan muda. Anda bisa menghubungi kami secepatnya, untuk melakukan test itu," kata dokter, berpamitan pada Aji.


"Baik Dok, terima kasih."


*****


Seminggu kemudian, Aji dan Elisa benar-benar menjalani proses test untuk kesuburan mereka berdua. Dari siang mereka sudah ada di rumah sakit, menemui tim dokter yang menangani mereka berdua.


"Kak, El deg-degan banget nih," kata Elisa, dengan wajah cemas. Ada rasa takut yang tiba-tiba datang di hatinya.


"Tidak apa-apa Sayang. Itu wajar kok. Kakak juga sama ini," jawab Aji, menenangkan istrinya, dengan memeluk Elisa, dari arah samping. Padahal, Aji sendiri juga merasakan hal yang sama, seperti yang dirasakan oleh istrinya itu.


Elisa menggangguk dan tersenyum, meskipun terlihat jelas, jika itu adalah senyuman yang dipaksakan. Dia tidak ingin membuat suaminya merasa khawatir. Dia berharap, jika usaha yang dilakukan mereka berdua ini, bisa membuahkan hasil yang baik, sesuai dengan apa yang diinginkan.


"Tuan muda. Mari," panggil seorang dokter, yang datang bersama dengan dua asisten laboratorium.


Aji, beranjak dari tempat duduknya, bersama dengan Elisa. Mereka berdua, berjalan di belakang dokter, menuju ke laboratorium yang ada di lantai dua.


Pintu masuk ke dalam laboratorium, terbuat dari baja yang tidak tembus pandang. Terkesan menakutkan, untuk ukuran orang awam yang tidak tahu kegunaannya. Oleh karena itu, banyak orang biasa yang malas untuk berurusan dengan test-test semacam ini, karena ruangannya saja sudah membuat orang takut untuk memasukinya.


Aji dan Elisa masuk, mengikuti langkah dokter tadi. Sekarang dokter tersebut duduk di kursi yang ada di pojok ruangan.


"Silahkan duduk Tuan muda, Nyonya." Dokter tersebut mempersilahkan Aji dan Elisa untuk duduk di kursi yang ada di depan mejanya. Sebelum melanjutkan pemeriksaan, dokter itu ingin bertanya-tanya terlebih dahulu pada tuan muda_nya, bersama dengan istrinya.


"Apa istri Tuan muda sedang masa subur? kapan terakhir kali datang bulan? apakah rutin setiap bulan datang?" pertanyaan sekitar siklus bulanan Elisa, dipertanyakan.


Elisa melihat ke sampingnya, dimana suaminya berada. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan dokter tersebut.


"El, bulan ini sepertinya Kamu belum dapat tamu bulanan kan?" tanya Aji, sambil berpikir. Dia merasa, jika selama ini, masih rutin bercinta, karena Elisa tidak berhalangan. Sekarang Aji ingat, seandainya pemikirannya itu benar, dapat dipastikan jika Elisa sudah hamil, saat mereka mempersiapkan diri untuk keberangkatan mereka ke India.


Elisa, juga berpikir hal yang sama seperti yang dipikirkan oleh suaminya, Aji. Dia seakan tidak percaya, jika dia lupa untuk mengingat-ingat hal yang rutin dan biasa dia alami tiap bulan, yaitu menstruasi.


"Kok El malah lupa ya Kak. Jika benar, berarti sekarang, El sudah... sudah..."


Dia tidak sanggup lagi mengatakan hal yang membuatnya bahagia. Dia merasa sangat senang, sehingga tak mampu berkata apa-apa lagi.


Begitu juga dengan Aji. Dia segera memeluk istrinya, untuk hal yang tidak mereka berdua sadari ini.


"Bagaimana kalau kita test urine, untuk memastikan, apakah Nyonya benar-benar hamil atau tidak?" dokter memberikan usulan.


Aji dan Elisa mengangguk bersamaan. Mereka juga ingin, kepastian yang ada dalam pikiran mereka saat ini.


"Semoga, ada kabar yang baik," kata Aji penuh harap.