Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Elisa Dan Rio


Jam kuliah sudah selesai. Elisa berjalan dengan tergesa menuju ke arah kantin. Dia merasa kelaparan, sebab, otaknya yang pas-pasan itu, di peras untuk berpikir dan menerima mata kuliah yang menurutnya sangat sulit. Padahal sebenarnya, untuk ukuran mahasiswa normal lainnya, Bahasa dan sastra Indonesia, sangatlah mudah. Tapi tidak bagi Elisa.


"Woiiii... El. Mau kemana?" tanya Rio dari arah belakang. Dia ikut melangkah dengan lebar membuntuti Elisa yang berjalan setengah berlari itu.


"Kantin," jawab Elisa tanpa menoleh.


"Hah, dasar perut karung goni!" gerutu Rio, sambil menonyor kepala Elisa dari arah belakang.


"Hah! Cepet bener jalannya. Tadi itu jalan apa terbang?" tanya Elisa, dengan memicing matanya ke arah Rio, yang sekarang berjalan di sampingnya.


"Kamu saja yang langkahnya pendek. Dasar pendek saja Kamu!" ejek Rio, mengatai elisa.


Tapi, Elisa tetap berjalan dengan cueknya. Toh apa yang dikatakan oleh Rio, tidak semuanya salah. Elisa, meskipun berwajah cantik, tapi mempunyai badan yang lebih mungil, dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Oleh karena itu, kakinya juga tidak terlalu panjang dan jenjang, sehingga langkahnya tidak mungkin bisa lebar, sama seperti Rio, yang jangkung, atau setidaknya Jeny, yang punya tubuh semampai.


"Hai... diem bae ihsss," gerutu Rio, kemudian memukul bahu Elisa, dengan gulungan kertas yang ada di tangannya.


"Ih... Rio! sakit tahu!" teriak Elisa tidak terima dengan kelakuan temennya itu.


"Hahaha... coba mau lihat, Elisa ngamuknya kayak apa? Kan biasanya Kamu juga yang bikin kesel orang!" ledek Rio, tidak mau mengalah.


"Aku lapar. Jangan usil!" gerutu Elisa dengan bibir mengerucut.


"Nah itu. Ciri khas Elisa, kata Jeny... hahaha...." tawa Rio, membahana, sambil menunjuk ke bibirnya sendiri, untuk menunjukan ciri khas Elisa jika sedang cemberut.


Candaan mereka, Elisa dan Rio, membuat beberapa orang yang ada di sekitar tempat yang mereka lewati, menoleh, karena ingin tahu, apa yang sedang terjadi.


"Tuh kan, jadi pada kepo deh..." kata Rio, sambil celingukan melihat ke sekeliling.


"Kamu tuh!" kata Elisa, dengan nada kesal.


"Oh ya. Kok tadi Jeny tidak masuk jam sastra?" tanya Rio. Dia baru ingat tujuannya mengikuti Elisa, yaitu ingin bertanya tentang Jeny, pada Elisa.


"Gak tahu," jawab Elisa dengan cueknya.


"Ihssss, gak mungkin banget!" bantah Rio, tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Elisa.


"Bodo. Emang El pikirin!" cibir Elisa, kemudian segera duduk di kursi kantin yang sedang sepi.


"Buk, pesen bakso kosongan dua mangkok, sama es teh satu!" kata Elisa, membuat pesanannya.


"Aku gak mau bakso!" kata Rio protes.


"Sapa yang pesen buah Kamu? Aku sendiri weeee!" jawab Elisa, sambil mencibir protes dari Rio.


"Wah... wah, kecil-kecil kayak gini, makan Kamu banyak ya El! Hem... bangkrut gak tuh pacar Kamu?" kata Rio meledek Elisa lagi.


"Ih... berisik! Bisa gak sih diem? kalau mau pesen, pesen saja sendiri sono!" kata Elisa dengan mendelik tajam.


"Hahaha... gak cocok El!" ledek Rio lagi, sambil tertawa-tawa.


"Halah... bodo. Aku lapar, makan ya makan!" kata Elisa masa bodoh.


"Ini mbak pesenannya tadi," kata ibu kantin, dengan meletakkan nampan berisi pesanan, yang dipesan oleh Elisa tadi.


"Terima kasih Bu," kata Elisa dengan tersenyum, saat semua pesanannya ada di meja.


"Eh... punyaku!"


Elisa mengambil gelas es teh, yang hampir saja di ambil Rio. "Pesan sendiri sana!" kata Elisa dengan cepat.


"Pelit!" kata Rio, mengatai Elisa.


Tapi, kali ini Elisa tidak membantah. Dia juga tidak mengatakan apa-apa, sebab, mulutnya sudah penuh dengan bakso yang dia makan.


"El, traktir ya!" kata Rio pelan. Dia takut jika terdengar oleh pengunjung yang lain.


Elisa dan Rio, memang sama-sama anak rantau. Mereka berdua, satu kota, meskipun tempat tinggalnya tidak bisa dikatakan dekat.


Ayah Rio, pengusaha armada bus antar kota, di seluruh pulau Jawa. Elisa tahu betul itu. Sedangkan Elisa sendiri, hanya anak pengusaha tenun tradisional, yang menjadi usaha keluarga secara turun temurun.


"Gak ada hubungannya kali El, mau anak presiden, anak jendral, kalau mau ditraktir ya traktir saja lah!" kata Rio memelas.


"Huh. Gak level juga kan, masa iya minta traktir kok sama Elisa. Secara ATMnya sering kosong dibanding ada isinya," kaya Elisa jujur.


"Eh, jadi cewek jujur amat sih!" kata Rio memuji.


"Ini muji, apa ngeledek?" tanya Elisa curiga.


"Hahaha... keduanya," jawab Rio tertawa. Dia memang suka banget ngusulin Elisa. Itu adalah sebuah hiburan tersendiri baginya. Toh, Elisa masa bodoh.


"Halah!"


Elisa tidak ambil pusing. Dia melanjutkan acara makan bakso yang kedua. Sedangkan handphone miliknya, yang ada di atas meja, berbunyi sedari tadi, tapi Elisa tidak langsung menanggapinya.


"Handphone Kamu tuh!"


"Biarin, entar saja abis makan," jawab Elisa, masa bodoh.


"Eh, gak meletus tuh perut?" tanya Rio melotot, melihat Elisa yang sedang makan dengan lahapnya.


Elisa hanya mengeleng dengan pertanyaan Rio. Dia terus melanjutkan makannya, dengan sesekali minum es teh yang tinggal setengah.


"Buk. Dua es teh ya, sama seomany satu!" teriak Rio memesan makanan.


"Kok dua es teh?" tanya Elisa tidak jelas, sebab mulut yang penuh, sambil terus mengunyah bakso.


"Kamu pastinya kurang kan itu es?" tanya Rio, sambil menunjuk gelas es teh milik Elisa.


"Hehehe... tahu saja sih Kamu, makasih ya Rio..." kata Elisa, dengan mata berbinar-binar.


"Siapa yang bilang buat Kamu? Aku kan cuma tanya," kata Rio cuek, seolah tidak peduli. Tapi tentu saja, Elida tahu apa yang di maksud oleh Rio. Dia hanya tidak mengakui saja.


Begitulah mereka berdua. Saling ejek dan ledek tanpa ada yang mau mengalah. Padahal sebenarnya, semua itu hanya candaan belaka.


"Kata Jeny, kakaknya Aji sudah ketemu. Sekarang ada di rumah sakit. Kita ke sana lihat yuk!" ajak Elisa, setelah menyelesaikan makannya.


"Oh ya? Syukurlah. Terus kapan itu ketemunya?" tanya Rio, dengan wajah penuh tanda tanya.


"Ya... mana Aku tahu. Tanya nanti sama Jeny. Biar lebih jelas!" jawab Elisa, dengan menekan kalimatnya.


"Bisa gak sih El, sekali-kali bicara itu serius. Aku heran, kok bisa-bisanya, Jeny yang pinter, pendiam dan terkesan datar itu berteman dan betah berlama-lama sama Kamu?" keluh Rio pada Elisa.


"Oh... Kamu gak betah? Udah sono pergi!" usir Elisa dengan cepat.


"Bukan begitu juga kali El. Ihssss, susahnya menjelaskan," keluh Rio dengan mengeleng.


"Hemmm..."


Elisa tidak lagi mengatakan apa-apa. Sekarang, dia sibuk dengan handphonenya, yang berbunyi terus menerus sedari dia makan bakso tadi.


"Siapa El?" tanya Rio, ingin tahu.


"Makan saja sih tu siomay nya! kepo bener jadi cowok," jawab Elisa, tidak nyambung dengan pertanyaan yang diajukan oleh Rio.


"Haduh..." keluh Rio, dengan mengeleng-gelengkan kepalanya.


"Dasar cewek aneh!"


"Kamu tuh, gak jelas gitu!" balas Elisa dengan memajukan bibirnya, cemberut.