
Pesta berakhir. Semua orang tampak lelah, tapi tetap terlihat wajah-wajah yang cerah penuh dengan kebahagiaan.
Aji, tidak mengajak Elisa untuk pulang ke rumah ataupun hotel. Dia mengajak Elisa untuk pergi ke villa keluarga yang ada di Sentul.
Dia memilih Sentul, karena selain lebih dekat, di villa itu juga banyak kenangan masa kecilnya dulu. Ada juga kejadian kemarin, sewaktu melamar Elisa, saat mengajaknya makan malam romantis yang gagal. Aji ingin menikmati malam ini, berdua saja dengan Elisa di sana, tanpa gangguan dari adik-adiknya, terutama di Vero yang suka usil dan juga dekat dengan Elisa selama ini.
"Kak, Aku..."
"Apa? diem saja. Kita akan ke villa di Sentul. Kita bisa bebas menikmati berdua tanpa gangguan dari yang lain," kata Aji, tanpa menoleh. Dia masih menatap lurus ke depan, ke arah jalan menuju ke Sentul.
Elisa, hanya ingin mengatakan, jika dia merasa tidak enak hati karena harus pergi, setelah acara selesai. Tapi, Aji justru mintanya untuk tetap diam saja.
"Kak Aku lapar," kata Elisa, setelah terdiam beberapa saat.
"Lapar? nanti di villa sudah disediakan makanan untuk kita hingga semingu kedepannya," jawab Aji, sambil menoleh sekilas ke arah Elisa yang memegang perutnya sendiri.
"Tapi, Aku sudah kelaparan. Kan sedari tadi menerima tamu, gak sempat makan juga," jawab Elisa, dengan memasang wajah memelas.
"Hemmm..."
Aji, tidak lagi bertanya-tanya. Dia melihat sekeliling kiri dan kanan jalan, mencari tempat untuk bisa berhenti sekalian mencari rumah makan.
"Kak, itu! itu ada gerobak nasi goreng. Kita makan di sana saja ya!" teriak Elisa, memberitahu Aji, jika dia mau makan nasi goreng saja.
"Nasi goreng, gerobak itu?" tanya Aji menyakinkan permintaan istrinya, Elisa.
"Iya. Aku mau itu saja," jawab Elisa dengan nyengir kuda.
Akhirnya, Aji menepikan mobil dan mematikan mesinnya. Dia turun, begitu juga dengan Elisa.
"Pak, bungkus nasi gorengnya dua ya. Tidak pedes!" pesan Aji, pada tukang nasi goreng, sebelum Elisa memesan.
"Siap Mas," jawab tukang nasi goreng, menganggukkan kepalanya.
"Kak, kok bungkus?" tanya Elisa bingung.
"Ya, makan saja sambil jalan nanti." Aji, memberikan saran pada Elisa.
"Ihsss... Elisa mau makan di tempat," rengek Elisa manja.
"Ini sudah malam. Aku tidak ingin kemalaman di jalan. Aku ingin segera tidur, capek. Memang Kamu tidak capek juga?" tanya Aji, menjelaskan alasannya pada Elisa.
Mendengar perkataan Aji, yang memang benar, Elisa akhirnya menurut. Dia terdiam dan menunggu sampai pesanannya selesai.
"Ini Mas pesanannya," kata penjual nasi goreng, dengan menyerahkan bungkusan yang dia pegang, pada Aji.
Aji menerima bungkusan yang dia pesan, kemudian membayarnya. "Ini Pak, ambil kembaliannya," kata Aji, sambil mengangguk.
"Oh ya, terima kasih Mas. Semoga berkah," kata penjual, dengan tersenyum senang.
"Ayok!" ajak Aji pada Elisa, yang sedang memperhatikan dirinya.
"Sudah?" tanya Elisa, kemudian berdiri mengikuti Aji yang melangkah menuju ke mobil lagi.
Aji, membuka pintu mobil untuk Elisa. Setelah Elisa masuk, dia menyerahkan bungkusan nasi goreng tadi padanya. "Ini pegang, sambil di makan juga, biar tidak kelaparan lagi," kata Aji menyerahkan bungkusan nasi goreng tadi, kemudian menutup pintu mobil. Dia memutar dan masuk melalui pintu samping yang lain.
"Kita jalan lagi ya," kata Aji memberitahu Elisa.
Elisa hanya mengangguk. Dia mulai membuka satu bungkus nasi goreng tadi, dan menyuapi dirinya sendiri.
Aji melirik Elisa yang makan dengan lahap. Dia jadi ingin makan juga.
Aji, merasa lapar juga. Terbukti dari perutnya yang berbunyi, minta untuk di isi.
"El, suapain dong," pinta Aji sambil melirik sekilas ke nasi goreng yang sedang di makan Elisa.
"Mau juga?" tanya Elisa, menunjukkan nasi goreng yang sudah dia sendok pada Aji.
Aji, mengangguk pasti. Dia juga ingin makan, tapi karena sedang menyetir, dia ingin di suapi Elisa.
"Aaa..." Elisa, akhirnya menyuapi Aji yang masih dalam keadaan menyetir.
Mereka makan malam di dalam mobil yang sedang berjalan, dengan posisi Aji yang menyetir dan Elisa yang menyuapinya dari tempat duduknya.
"Ternyata, momemt romantis itu tidak harus selalu makan dengan suasana temaram dan lilin-lilin yang mengelilingi. Seperti ini juga bisa dibilang romantis ya El," kata Aji, masih sambil makan dan menyetir juga.
"Hihihi, ini namanya romantis ya Kak?" tanya Elisa yang tidak paham dengan perasan Aji.
"Iyalah, coba saja Kamu menikmatinya dengan cinta," kata Aji sok tahu.
"Ah... tidak tahu Elisa. Pokoknya, kalau sudah bareng Kakak, El sudah bahagia."
Elisa, kembali menyuapi Aji. Setelah selesai, dia juga membukakan tutup botol minum untuk suaminya itu.
"Terima kasih ya Sayang. Ah, Aku harus mulai memikirkan panggilan untuk kita ini. Masa iya kita manggilnya masih sama kayak juga," kata Aji mengusulkan.
"Hihihi... jadi aneh gak tuh nantinya?" tanya Elisa geli, saat mendengar panggilan 'sayang' dari Aji.
"Hemmm..." Aji tidak menjawab pertanyaan Elisa. Dia berpikir jika Elisa itu tidak tahu, bagaimana menciptakan suasana yang menyenangkan dan romantis seperti cewek pada umumnya.
"Kakak masih mau lagi? ini ada satu bungkus lagi lho," tanya Elisa, menawari Aji untuk makan nasi goreng lagi.
"Sudah cukup. Nanti saja makam lagi di villa," jawab Aji sambil melirik ke arah Elisa yang mengerutkan keningnya.
"Jangan bilang, kalau Kakak minta Elisa buat masak malam-malam ya. Eh gak hanya malam ding, Elisa memang tidak bisa masak. Kalau makan sih bisa. Hehehe..."
Elisa tidak paham, dengan apa yang dikatakan oleh Aji tentang 'makan' tadi.
"Dasar tidak peka," kata Aji pelan, seakan-akan untuk dirinya sendiri.
"Apa Kak?" tanya Elisa ingin tahu, sebab dia tidak jelas mendengar perkataan Aji barusan.
"Tidak apa-apa," jawab Aji pendek, kemudian masuk ke dalam pekarangan villa. mereka sudah sampai di tempat yang dituju, villa Sentul.
*****
Rio, yang tidak kembali ke kostnya, pergi bersama dengan ayahnya. Mereka berdua, Rio dan ayahnya, menikmati suasana malam kita yang tidak biasa mereka lakukan selama ini.
"Kami yakin, ingin melanjutkan kuliah keluar negeri?" tanya ayahnya, mencoba meyakinkan anaknya yang sedang patah hati.
"Iya Yah," jawab Rio pendek. Dia sedang memandang ke atas, melangit malam kita yang tampak suram dan tidak terlihat adanya bintang dia sana.
"Apa ini karena Elisa?" tanya ayahnya lagi.
"Apa Rio harus menjawab Yah?" jawab Rio tidak ingin mengatakan alasannya. Dia juga tidak tahu, apakah bisa melupakan Elisa, meskipun ada diluar negeri yang jauh nantinya.
Ayah Rio, membuang nafas panjang. Dia merasa kasihan pada anaknya itu. Diwaktu ada cinta, justru tidak bisa tergapai.
"Ayah akan urus semua, secepatnya. Kamu tidak perlu merasa khawatir. Belajarlah, mungkin di sana Kamu bisa melupakan Elisa dan akan mendapatkan masa depan yang lebih baik lagi."
Rio, mengangguk patuh, mendengar nasehat dari ayahnya. Dia menyakinkan dirinya sendiri, agar bisa melupakan rasa cintanya pada Elisa yang sudah resmi menjadi istri dari Aji, kakaknya Jeny, cinta pertamanya Elisa juga.