
Di kamar, Aji hanya diam saja sedari tadi. Dia tidak tidur, tapi juga tidak berbicara atau sekedar mengajak Elisa untuk berbincang-bincang.
Dia hanya memeluk istrinya, Elisa, tanpa melakukan apapun.
Tentu saja, ini membuat Elisa jadi bingung dan merasa khawatir. Dia tidak pernah melihat keadaan suaminya yang seperti ini. Entah apa yang sedang dia pikirkan atau sedang menganggu hatinya.
"Kak."
Akhirnya, Elisa memberanikan diri untuk menyapa suaminya itu, agar tersadar dari lamunannya.
"Hemmm..."
Aji hanya menyahut sapaan istrinya tanpa gairah. Hanya sebatas memberikan gambaran, jika dia belum tidur dan masih tersadar.
"Kakak. Ada yang sedang dipikirkan?" tanya Elisa ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya itu.
Aji menghela nafas panjang. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan dari Elisa, tapi terdiam terlebih dahulu sebelum akhirnya menjawab pertanyaan itu.
"Ayah Sangkoer Singh, ingin melamar mama. Maksudku, mama Cilla."
Mendengar jawaban dari suaminya itu, Elisa menutup mulutnya sendiri karena tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Aji, melanjutkan kata-katanya yang tadi.
Elisa mencoba untuk berpikir sejenak. Dia tidak menyangka jika ayah angkat suaminya itu, memiliki pemikiran seperti itu. Tapi jika ini bisa mendatangkan kebahagiaan mereka berdua, di hari tua mereka sendiri, Elisa berpikir jika itu tidak ada masalah.
"Coba kakak pikiran. Mungkin saja, mereka bisa merenda hari-hari tua mereka berdua dengan saling menyayangi satu sama lainnya. Meskipun ada cucu-cucu yang membuat mereka tersenyum, kita tidak tahu apa yang mereka rasakan dalam hati, kak. Ini menurut El saja. Jika mau tahu jawabannya, Kakak bisa bertanya langsung pada mama. Biar mama yang memikirkan dan memutuskannya sendiri."
Jawaban dari Elisa itu membuat Aji merasa lebih baik dari pada tadi. "Ya kamu benar, Sayang. Semua ini tidak akan terjawab jika Kakak tidak bertanya langsung pada mama. Kakak hanya ingin mama berbahagia di hari tuanya, karena papa sudah lebih dulu pergi," kata Aji, memutuskan untuk bertanya pada mamanya besok pagi.
Sekarang, mereka berdua bersiap-siap untuk 'bermain' karena pikiran Aji, sudah tidak penuh seperti tadi. Ada kelegaan setelah membicarakan soal ini pada istrinya, dan mendapatkan jalan keluarnya.
Begitulah salah satu arti dari pasangan kita. Akan ada beberapa hal yang membuat kita lebih baik, jika membaginya dengan cara yang baik juga.
*****
Keesokan harinya, Aji menemui mamanya, yang masih ada di dalam kamar. Dia memutuskan untuk membicarakan tentang apa yang disampaikan oleh tuan besar Sangkoer Singh semalam, pada mama Cilla pagi ini.
Dia ingin mamanya tahu, dan memikirkannya juga. Dia akan menerima, apapun tanggapan dari mamanya itu.
Tok tok tok!
"Ma. Mama, ini Aji Ma!"
Aji mengetuk pintu dan memanggil-manggil mamanya.
Clek!
Pintu kamar terbuka. Tampak mama Cilla yang sudah rapi, karena sudah selesai mandi.
"Ada apa? Apakah mama terlambat ikut bergabung untuk sarapan pagi?"
Mama Cilla mengira, jika Aji memanggilnya karena dia terlambat untuk ikut acara sarapan pagi yang di sudah direncanakan semalam.
"Tidak Ma. Aji mau ada yang dibicarakan," jawab Aji, kemudian meminta masuk ke dalam kamar.
Akhirnya, mama Cilla mengajak anaknya itu untuk masuk ke dalam kamar. Dia ingin tahu, apa yang ingin disampaikan oleh Aji padanya.
Setelah duduk, Aji menceritakan tentang keinginan tuan besar Sangkoer Singh, untuk melamar mama Cilla, dan menikahinya.
Setelah mendengar cerita dari anaknya, mama Cilla menjadi sangat terkejut, karena tidak menyangka jika ayah angkat dari Aji, memiliki niatan untuk menjadikannya pendamping hidup.
"Bagaimana Ma?" tanya Aji pada mamanya, begitu selesai bercerita.
"Ayah tidak memaksa Ma. Dia hanya mengutarakan maksudnya, kalau mama belum bisa menjawabnya, tidak apa-apa. Kan tadi sudah Aji katakan, jika ini bukan hanya sekedar memenuhi nafsu manusia pada umumnya. Ini lebih pada saling menemani dan menjadi seorang pendamping, di hari tua. Ayah juga sangat menghormati papa Gilang, jadi dia ingin menjaga Mama. Meskipun ada cucu-cucu yang bisa menjadi pelipur hati, tapi tetap akan terasa berbeda jika ada pendamping hidup."
Mama Cilla jadi tertegun mendengar perkataan Aji yang terakhir. Dia merasa harus berpikir panjang, untuk membuat sebuah keputusan untuk hidupnya sendiri.
*****
Dua bulan kemudian, makam papa Gilang tampak ramai.
Ada cucunya yang ikut datang, untuk nyekar bersama dengan kedua orang tuanya, Aji dan Elisa. Ada omanya, mama Cilla yang datang bersama dengan tuan besar Sangkoer Singh juga.
"Mas. Maaf ya Mas. Aku bukannya tidak mencintaimu lagi. Ini bukan hanya sekedar kata cinta, antara Aku dan tuan besar Sangkoer Singh."
Mama Cilla meminta maaf dan juga meminta ijin pada almarhum suaminya, papa Gilang, dengan datang ke makamnya.
Kedatangan keluarga mama Cilla ke makam papa Gilang, dalam rangka untuk persiapan pernikahan mama Cilla dengan tuan besar Sangkoer Singh.
Mereka berdua, akan melakukan pernikahan mereka tiga bulan yang akan datang. Setelah itu, tuan besar Sangkoer Singh juga akan melakukan pestanya di India, sebulan setelah pesta di Indonesia.
Biyan, akan datang ke Indonesia, satu minggu sebelum pernikahan mamanya, mama Cilla dengan tuan besar Sangkoer Singh, dilaksanakan.
Semua orang ikut berbahagia dengan keputusan yang diambil oleh mama Cilla. Termasuk Elisa dan Aji.
Jeny juga ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh keluarganya. Dia ikut datang bersama dengan suaminya dan kedua anaknya, untuk mempersiapkan pernikahan mamanya, mama Cilla.
*****.
Tiga bulan kemudian, mama Cilla dan tuan besar Sangkoer Singh, sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Mereka berdua saling menyayangi satu sama lain, dengan perasaan yang tidak biasa.
Rasa cinta yang mereka miliki, karena rasa untuk saling peduli, melindungi dan saling membutuhkan.
Elisa, sudah berhasil dengan program hamilnya. Ka Singh, akan memiliki seorang adik untuk tujuh bulan kedepannya.
Saat ini, mereka sedang mempersiapkan keberangkatan mereka ke India. dan Biyan, sudah kembali ke India dua minggu yang lalu.
"Kak," panggil Elisa sambil meringis.
"Ada apa?" tanya Aji sambil memegang tangan Elisa, yang sedang menuntun Ka Singh.
Dia bermaksud untuk mengantikan posisi Elisa, untuk menuntun Ka Singh.
"Mbak," panggil Aji pada baby sitter Ka Singh.
Tak lama, Ka Singh di ajak jalan-jalan sama baby sitternya.
"Sayang. Terima kasih ya, sudah menemani Kakak dalam segala suasana, baik suka dan duka," kata Aji, dengan menggenggam tangan istrinya, Elisa.
Elisa tersenyum. Dia pun ikut menggenggam tangan suaminya itu dengan satu tangannya yang lain.
"Kita akan selalu bersama, dalam keadaan apapun. Elisa, yang sebenarnya merasa beruntung Kak. Bisa mendapatkan Kakak sebagai suami Elisa. Terima kasih Kak, untuk semua cinta yang sempurna ini."
Elisa, memeluk suaminya, dengan semua cinta yang dia miliki.
Dari sebuah bangunan tinggi yang tidak jauh dari rumah Aji, ada seseorang yang sedang memperhatikan semua kegiatan mereka berdua, Aji dan Elisa, dengan sebuah teropong.
Orang itu, menghela nafas panjang, setelah menutup kembali teropongnya.
"Semoga saja, kalian berdua akan selalu berbahagia selamanya," kata orang tersebut sambil tersenyum penuh kelegaan.
TAMAT