Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Tidak Percaya Lagi


Sayup-sayup terdengar suara tidak jelas, yang seperti orang kesakitan, dari dalam kamar pasien, dimana Aji dirawat.


"Eghrrr...!"


"Aghrrr...!"


Dokter Dimas, papa Gilang dan juga tuan besar Sangkoer Singh, segera berlari menuju ke dalam kamar pasien. Mereka semua ingin tahu, apa yang sedang terjadi pada Aji, saat ini.


"Tidakkk...!"


"Jangannn...!"


"Aghrrr...!"


Aji, berteriak keras, seakan-akan merasakan rasa sakit. Saat ini, dia masih dalam keadaan terpejam, tapi sepertinya, dia sedang melawan sesuatu, yang ada di dalam alam bawah sadarnya.


"Dimas!" panggil papa Gilang, pada Dokter Dimas, agar melakukan sesuatu, untuk mengurangi rasa sakit yang diderita Aji saat ini.


"Kenapa Dokter hanya diam?" tanya tuan besar Sangkoer Singh, pada Dokter Dimas, yang tetap diam mengawasi Aji.


"Dia sedang melawan dirinya sendiri. Aku bisa apa? Dia berada di dunianya, dunia alam bawah sadarnya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa mengawasi saja," jawab Dokter Dimas, tanpa menoleh, sebab atensinya ada pada Aji secara penuh.


Semua orang, yang tadi ada di luar, sudah berada di dalam kamar pasien juga. Mereka semua, ikut melihat, bagaimana Aji, sedang berjuang untuk bisa mengalahkan dirinya sendiri di akan bawah sadarnya.


"Ternyata, dia memang kuat. Badannya, tidak mudah menerima obat yang Aku berikan. Apalagi, sejak tadi siang, hanya obat dokter dari rumah sakit, yang dia konsumsi, dan juga cairan infus itu, bisa menetralisir efek samping obatku."


Semua orang, menoleh ke arah paman Ranveer. Mereka semua, tidak pernah menyangka, jika paman Ranveer bisa setega itu untuk kepentingannya sendiri.


"Aku juga sudah memberikan penawar racun, yang sudah dicampurkan ke cairan infus tadi," kata Dokter Dimas tanpa menoleh. Atensinya, tetap ada pada Aji.


Paman Ranveer, melihat ke arah Dokter Dimas dengan cepat. Dia tidak menyangka, jika Dokter Dimas, sudah melakukan satu hal jauh lebih dulu sebelum semuanya terungkap tadi.


*****


Saat pertama kali, Dokter Dimas, melakukan pengecekan pada tubuh Aji, dia memang sudah menemukan keganjilan. Apalagi, saat pengambilan darah, yang tadi sore dia minta, dengan alasan untuk pengecekan dan test untuk laporan pasien bagi rumah sakit ini.


Aji menolak, begitu juga dengan asistennya, paman Ranveer. Bahkan paman Ranveer, memintanya sendiri, untuk mengambil darah sebagai sample yang diminta oleh Dokter Dimas.


Paman Ranveer, begitu lihai dan cekatan, seperti sudah terbiasa melakukannya. Dia mengambil darah Mr Vijay Singh, tanpa rasa takut dan cemas, serta sudah tahu, dimana harus melakukannya, tanpa bertanya dan menunggu instruksi dari Dokter Dimas, yang ada di sampingnya saat itu.


Kecurigaan Dokter Dimas, juga bertambah, saat tanpa sengaja, melihat botol kecil, berisi obat-obatan, yang ada di dalam tas asisten Mr Vijay. Dia lalu mengambil satu butir, dan segera membawanya ke bagian apoteker. Tapi, ternyata, obat itu tidak ada label resmi dari perusahaan farmasi, pabrik-pabrik obat dunia, yang biasa ada di bungkus atau obatnya langsung. Itu tidak ada. Itulah sebabnya, Dokter Dimas, langsung meminta bagian apoteker untuk meneliti kandungan obat yang ada, di laboratorium rumah sakit.


Waktu terus berjalan, dan malam saat Jeny, memberikan kabar tentang kedatangan ke rumah sakit bersama dengan papanya, papa Gilang, Dokter Dimas, ingin memberitahu semuanya, karena tanpa melakukan test DNA, kemungkinan jika Mr Vijay Singh adalah Aji, sangat besar.


Ternyata, asisten pribadi Mr Vijay Singh, yang bukan orang lain, tapi pamannya sendiri, telah mengakui semua. Tanpa harus dipaksa terlebih dahulu. Ini membuat Dokter Dimas, tidak harus banyak mengeluarkan suaranya.


*****


"Jadi, Dokter Dimas, sudah tahu, jika ada yang tidak beres pada Mr Vijay?" tanya paman Ranveer.


"Dan, tadi saat meminta sample darah, hanya untuk menguji kemampuan dan juga keterlibatan Saya?" tanya paman Ranveer lagi.


Dokter Dimas hanya mengangguk. Dia tidak mengatakan apa-apa. Jadi, paman Ranveer juga akhirnya hanya bisa diam dan tidak berkata apa-apa lagi.


Kini, paman Ranveer hanya bisa pasrah. Dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dengan nasibnya sendiri kedepan, jika seandainya kakak iparnya, tidak akan melepaskan dirinya dari jeratan hukum. Dan itu pasti akan terjadi.


*****


Aji sudah tidak lagi berteriak. Dia masih belum juga membuka matanya. Sepertinya, dia sedang tertidur dengan rasa capeknya. Itu terlihat dari beberapa tetesan keringat yang ada di dahi dan keningnya.


"Dokter. Kapan kira-kira Aji akan terus seperti ini?" tanya mama Cilla, dengan suara bergetar. Dia merasa sangat cemas dengan keadaan anaknya itu.


"Tunggu!" tiba-tiba, tuan besar Sangkoer Singh, menyela pertanyaan dari mama Cilla, kepada Dokter Dimas.


"Aku ingin bertanya. Bagaimana bisa kalian yakin jika dia adalah keluarga kalian? Bukankah kalian semua, tidak ada yang bisa membuktikan secara pasti, jika pemuda ini adalah Aji, atau siapapun tadi, karena dia sendiri tidak tahu siapa dirinya. Apalagi saat ini, wajahnya juga sudah tidak lagi sama persis dengan wajah keluarga kalian yang hilang."


Perkataan dari tuan besar Sangkoer Singh, tidak semuanya salah. Dia tentu saja tidak bisa seratus persen yakin, jika pemuda yang dia temukan itu adalah orang Indonesia, yang itu artinya, adalah keluarga Gilang. Bisa jadi, pemuda itu adalah orang India, atau warga negara manapun, yang memang korban tabrak lari, seperti yang dikatakan adik iparnya, paman Ranveer, waktu itu.


"Apa yang Anda pikirkan Tuan?" tanya papa Gilang, dengan cepat.


"Aku, tidak bisa lagi percaya begitu saja dengan orang yang tidak Aku kenal. Bahkan, orang yang aku kenal dengan baik dan masih terhitung keluarga saja, bisa berbuat seperti itu. Apalagi dengan orang asing!" jawab tuan besar Sangkoer Singh, dengan nada yang waspada.


"Apa Kami, terlihat seperti penipu?" tanya mama Cilla, gemas dengan perkataan tuan besar Sangkoer Singh yang seolah tidak percaya dengan keluarganya, keluarga Gilang.


"Bukan begitu Nyonya. Saya hanya Ingin bukti, bukan hanya sekedar perasaan saja. Saya tidak akan melepaskan pemuda ini, jika dia tidak terbukti sebagai anggota keluarga kalian. Saya, akan tetap mempertahankan dia, sampai dia bisa sadar dan mengenali indentitas dirinya sendiri. Kecuali, jika sudah ada bukti yang cukup dan Saya, tidak ada alasan untuk mempertahankan dia lagi."


Papa Gilang mengeleng, saat melihat istrinya, mama Cilla, akan berkata lagi, untuk membatah perkataan dari tuan besar Sangkoer Singh. Mama Cilla pun patuh, dan akhirnya diam. Dia tidak berkata apa-apa lagi.


"Baiklah. Kita tunggu saja sampai pemuda ini sadar. Jika saat dia sadar, dan belum juga tahu siapa dirinya yang sebenarnya, kita akan lakukan tes DNA, agar semuanya bisa terbukti kebenarannya." Dokter Dimas, memberikan usulan, agar tidak ada perdebatan lagi diantara tuan besar Sangkoer Singh dengan keluarga Gilang.


Akhirnya, semuanya setuju dengan usulan itu. Dengan penuh kecemasan dan juga ketegangan. Semuanya menuggu, hingga pemuda yang diperkirakan Aji itu, sadar dengan sendirinya.