Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Gagal Romantis


Elisa yang sedang bertanya-tanya dalam hati, tidak berani bertanya secara langsung pada Aji, mau kemana mereka sebenarnya. Dia hanya memperhatikan jalan yang mereka lalui saat ini.


"Tumben?" Aji, bertanya dengan pelan, sehingga Elisa mendengarnya juga dengan samar.


"Eh, apa?" tanya Elisa bingung.


"Ya tumben saja," jawab Aji sambil melirik Elisa yang kebingungan dengan pertanyaannya tadi.


"Apa sih Kak?" tanya Elisa mendesak, agar Aji mau menjelaskan.


Tapi Aji hanya diam dan tetap fokus pada setirnya. Dan Elisa, juga kembali memperhatikan kemana sebenarnya mobil ini berjalan.


Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya mereka sampai juga di tempat tujuan. Tapi, Elisa masih bingung, sebenarnya rumah siapa yang saat ini ada di depan matanya, dan mau apa Aji mengajak dia kemari.


"Ini rumah siapa Kak?" tanya Elisa ingin tahu.


Aji, tetap diam. Dia menarik tangan Elisa, agar mengikuti langkahnya.


Elisa, yang saat ini memakai gaun panjang, tentu merasa sedikit kesusahan saat berjalan. Dia jadi oleng, dan hampir jatuh karena kakinya yang menginjak ujung gaunnya sendiri.


"Kakak!" teriak Elisa panik.


Dengan sigap, Aji menarik tangan Elisa, sehingga tubuhnya ikut tertarik dan sekarang ada di dalam pelukan Aji.


Degup jantung keduanya, terdengar berpacu. Mereka saling merasakan irama jantung satu sama lain.


Elisa mendongak, melihat ke arah Aji yang saat ini juga sedang menatapnya. Wajah Elisa memerah karena malu, namun cukup jelas dalam penglihatan Aji, di bawah sinar lampu teras depan villa Sentul, milik papa Gilang.


Saat ini, waktu memang sudah malam. Tepatnya pukul setengah delapan malam. Dan Aji, memang sengaja mengajak Elisa ke villa Sentul ini, untuk menikmati suasana malam hari, hanya berdua saja.


"Kak," panggil Elisa dengan menunduk. Dia merasa malu, karena Aji masih diam menatap wajahnya.


"Kak awas!" teriak Elisa tiba-tiba.


Aji, yang sedang menikmati moment romantis yang tidak disengaja tadi, akibat Elisa yang hampir jatuh, menjadi terkejut dan segera melepaskan pelukannya pada Elisa.


Ternyata, Elisa yang tidak siap untuk dilepaskan dari pelukan Aji, terhuyung dan jatuh terduduk.


"Awww...!" teriak Elisa kesakitan.


"Eh... El, apa sih Kamu?" tanya Aji bingung.


"Kakak sih!" gerutu Elisa, kemudian berusaha untuk berdiri dari duduknya.


Aji, segera membantu Elisa yang tetap kesulitan untuk berdiri. "Kamu kenapa teriak?" tanya Aji, untuk tahu alasan Elisa berteriak mengagetkan dirinya.


"Mau ngerjain Kakak. Malah Aku yang kena apes!" jawab Elisa dengan bibir cemberut.


"Hahaha... salah sendiri," kata Aji, meledek Elisa yang saat ini sudah berdiri di depannya.


"Ihsss... kakak jahat!" Elisa semakin kesal, karena melihat Aji yang tertawa senang.


"Yah... kan Kamu sendiri yang merusak moment romantis malam ini, jadi sia-sia deh tadi," kata Aji, dengan masih menahan tawanya.


Elisa, yang merasa kesal bercampur dengan malu, segera menaikkan gaunnya sebatas lutut, kemudian berlari menuju ke dalam mobil lagi.


"Eh, belum juga mulai acara makan malam romantisnya!" teriak Aji, memberitahu Elisa.


Tapi, Elisa yang sudah terlanjur merasa malu, tidak mau berbalik. Dia terus berlari dan masuk ke dalam mobil.


"Huwaaa...!" teriak Elisa kesal pada dirinya sendiri.


"Dasar Kamu El... bego-nego! Mana bisa makan malam romantis, jika kamu saja bikin ulah. Dan apa bisa Kamu mengikuti acara romantis kayak di film-film?" tanya Elisa, pada dirinya sendiri.


"Aghrrr...!"


"Semua ini untukku? Kak Aji sudah menyusun rencana untuk membawaku makan malam romantis di villa om Gilang ini, dan Aku? Aku justru mengacaukan suasananya!"


Elisa, yang baru sadar kalau Aji memang dengan sengaja membawa dia ke villa ini, dan sudah merancangnya, dibantu asisten yang menjaga villa. Tapi sekarang, justru dia sendiri yang mengacaukannya.


Dari dalam mobil, Elisa memerhatikan suasana villa yang terlihat temaram, dengan lampu-lampu yang tidak terlalu terang. Di sisi lain, teras samping, ada beberapa lilin yang disusun sedemikian rupa mengelilingi meja kecil yang ada di tengah taman.


Elisa, tertegun melihat semuanya itu. "Semua ini untukku?" tanya Elisa tanpa sadar.


"Ya. Khusus untukmu," jawab Aji, yang ternyata sudah berada di dalam mobil juga, di samping tempat duduknya Elisa. "Muakah Kamu menikah denganku? Will you marry me, Elisa Mawarni?" tanya Aji, melanjutkan kata-katanya yang tadi.


Karena fokus memperhatikan sekitar, Elisa jadi tidak tahu, jika Aji sudah menyusul dan ikut masuk ke dalam mobil juga. Bahkan sekarang ini, Aji sedang melamarnya, tidak dalam suasana makan malam, tapi ada di alam mobil, setelah insiden tadi, Elisa terjatuh karena menginjak gaunya sendiri.


"Kakak tidak sedang ngerjain Elisa kan?" tanya Elisa hati-hati. Dia tidak ingin, jika jawaban nanti, tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya. Dia takut, jika Aji ganti mengerjainya saja.


"Ck, ini anak. Bisa tidak membedakan, mana yang serius dan bercanda?"


"Hehehe... maaf Kak. El tidak tahu, mau jawab apa. El, bingung." Elisa, menjawab pertanyaan Aji, dengan meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kan tinggal jawab, iya Kakak, El mau. Gampang kan?" kata Aji, memberikan contoh kepada Elisa.


"Iya itu," jawab Elisa tidak jelas.


"Iya itu apa?" tanya Aji dengan bingung.


"Iya... itu jawabannya," jawab Elisa lagi.


"Iya apa El?" tanya Aji lagi, dengan menekan kata 'apa' agar Elisa lebih paham.


"Ihsss... Kakak ngerjain Elisa kan?" Elisa merajuk, dengan pertanyaan demi pertanyaan Aji yang terus berputar-putar.


"Ngerjain bagaimana? Kakak tadi tanya dan Kamu belum menjawab pertanyaan Kakak." Aji, mengelak dari tuduhan Elisa yang mengira jika sedang mengerjainya saja.


"Lihat Kakak!" perintah Aji pada Elisa.


Elisa menurut. Dia melihat ke arah Aji yang saat ini, sedang menatapnya dengan intens.


"Sekali lagi Kakak tanya, apa Kamu mau menikah dengan Kakak?" Aji bertanya lagi.


"Aku... Aku, El malu mengakui jika mau," jawab Elisa, dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


Aji, memegang tangan Elisa, yang menutupi wajah. Dia melihat Elisa yang sedang menunduk. Dia menengadahkan wajahnya Elisa, agar bisa dilihat olehnya.


"Kenapa malu?" tanya Aji, dengan tetap menatap Elisa dengan penuh rasa cinta.


"El, tidak tahu bagaimana bersikap manis dan melakukan acara romantis. El, tidak bisa mengatakannya," jawab Elisa jujur.


Elisa, yang terbiasa tampil apa adanya, dan tidak pernah berpikir sejauh ini, bingung harus berkata apa untuk menjawab pertanyaan Aji yang tidak disangka-sangka. Dia merasa ini adalah kejutan yang istimewa selama hidupnya.


"Apa Kamu mau?" tanya Aji, sekali lagi.


Elisa hanya mengangguk sambil tersenyum, kemudian segera menundukkan wajahnya. Ini membuat Aji merasa gemas dan ingin mengerjai Elisa, dengan pura-pura ingin menciumnya. Dan saat hampir dekat, terdengar bunyi perut Elisa yang merasa lapar.


Kruyukkk...


Elisa menutup mulutnya sendiri karena merasa kaget. Begitu juga dengan Aji. Dia yang hanya ingin mengerjai Elisa, malah semakin ingin mengerjai lagi.


"Dasar gadis aneh. Tidak hanya orangnya yang aneh, tapi cacing di perutnya juga aneh. Tidak mau melihat majikannya menikmati suasana romantis saja."


Elisa, terkikik geli, mendengar Aji yang mengerutu karena suara perutnya tadi.


"Ya sudah, ayok kita makan. Sudah disiapkan di taman samping. Awas saja kalau nanti merusak suasana makan juga!" ancam Aji, dengan menarik tangan Elisa, agar ikut keluar dari dalam mobil.