
Cuaca yang sangat dingin membuat Elisa tidak bisa beraktivitas seperti biasa, karena di larang oleh Aji, suaminya. Di tambah lagi dengan dirinya yang sedang hamil, ini membuatnya tidak bisa ke mana-mana seharian ini. Dia hanya berputar-putar saja, dari kamar ke ruang tengah, kembali lagi ke kamar. Ini karena kama mereka sudah dipindahkan dari lantai atas ke lantai bawah, demi keselamatan Elisa. Tapi justru saat di tinggal Aji pergi bersama dengan ayahnya ke kantor, dia tidak tahu, apa yang bisa dia kerjakan jika tidak ada suaminya di dekatnya, seperti sekarang ini.
Api unggun di tungku perapian, yang ada di dalam rumah sudah padam. Ini membuat hawa dingin datang lagi. Padahal alat pendingin ruangan, sudah tidak pernah dihidupkan lagi, sejak musim dingin datang. Elisa ingin menghidupkan kembali api unggun tersebut. Tapi, sepertinya persediaan kayu di ruangan itu juga sudah habis. Elisa harus pergi ke belakang, dimana tempat penyimpanan kayu berada.
Elisa, berjalan dengan sedikit tergesa, agar cepat sampai di ruangan tersebut, tapi baru saja sampai di lorong penghubung ruangan, ada tukang kebun yang melihatnya dan bertanya tentang keperluannya, hingga sampai di tempat ini.
"Nyonya mau kemana? jalan dengan cepat pula, itu tidak baik untuk keselamatan Nyonya," tegur tukang kebun yang bertubuh besar dan agak gelap.
Elisa menjadi gugup dan sedikit takut. Apalagi, selama berada di rumah ini, dia hanya beberapa kali saja berjumpa dengan orang yang sedang berada di depannya sekarang ini. Itu pun tidak pernah bercakap-cakap dengannya.
"Sa_Saya, Saya mau am_ambil kayu. Kayu bakar di perapian habis, dan dingin semakin terasa," jawab Elisa dengan terbata-bata karena gugup.
"Oh, kenapa Nyonya tidak memanggil pelayan untuk meminta bantuan? Kami tidak bisa membiarkan majikan melakukan pekerjaan kami Nyonya," kata tukang kebun lagi, mengingatkan pada Elisa, tentang keadaan di rumah besar Sangkoer Singh. Hal ini, sama seperti yang pernah dikatakan juga oleh suaminya, Aji. Elisa lupa, jika dia bukan di Indonesia yang bebas melakukan apa saja semuanya.
"Oh ya, maaf Paman. Saya pikir, tadi bisa ambil sendiri, jadi tidak merepotkan." Elisa, merasa tidak enak hati, karena sudah menyingung perasaan tukang kebun itu.
"Di rumah ini, majikan tidak boleh melakukan pekerjaan pelayanan. Ini untuk keselamatan para majikan juga. Kita tidak tahu, para musuh-musuh tuan besar Sangkoer Singh yang tidak terlihat nyata bisa saja melakukan sabotase. Itulah sebabnya, semua dibuat dan dilakukan sesuai dengan aturan dan tugasnya masing-masing. Tuan besar Sangkoer Singh, tidak mau kecolongan lagi, dengan kasus tuan muda Vijay Singh dan tuan muda Aji. Dan itu justru dari orang terdekat dan dia percaya juga, paman Ranveer."
Keterangan yang diberikan oleh tukang kebun, membuat Elisa mengangguk paham. Dia tidak berpikir sejauh itu tadi. Dia hanya ingin secepatnya mendapatkan kayu bakar untuk tungku perapian yang sudah padam.
"Nyonya tunggu saja di ruangan perapian, Saya akan ambilkan beberapa potongan kayu untuk api unggun yang sudah padam.
Akhirnya, Elisa kembali berbalik. Dia berjalan lagi ke ruang perapian, menunggu tukang kebun membawakan kayu bakar, untuk api unggun, agar hawa hangat kembali bisa dirasakan untuk mengusir dingin yang datang.
Hari semakin siang, dan Elisa masih duduk berdiam diri di depan tungku perapian. Bibi Lasmi dan yang lain, tidak berani mendekat atau menganggu ketenangan nyonya muda_nya. Mereka tahu, jika Elisa sedang suntuk dan kesepian karena tidak ada suaminya di rumah. Dia juga tidak memiliki kegiatan yang lain.
Tapi, seperti mengajak Elisa mengobrol atau membuat prakarya bisa menghilangkan rasa sepi dan suntuknya, jika sedang sendirian di rumah.
Bibi Lasmi, akhirnya mendekat ke tempat Elisa duduk. Dia menyapa Elisa yang ternyata sedang membaca cerita tentang Mahabharata versi negara India.
"Nyonya. Apa Nyonya mau berbincang-bincang dengan Saya, atau mau Saya ajari menyulam baju-baju khas India sini?" tanya bibi Lasmi menawarkan.
Elisa, tentunya tertarik dengan tawaran yang diberikan oleh bibi Lasmi, untuk belajar menyulam baju yang terlibat cantik-cantik itu. Tapi, baru saja Elisa mau menjawab, handphone di meja depannya bergetar. Ternyata, Aji menelpon dirinya.
..."Halo Kak. Ada di mana?"...
Elisa langsung bertanya kepada Aji, dimana sekarang dia berada.
..."Kenapa? Kamu kangen ya, kan belum ada sehari lho ini?"...
..."Ihsss, Elisa kesepian. Bagaimana kalau saat ke kantor, El ikut. El bisa bantu-bantu, dan sekalian belajar juga. El kan kuliah juga ingin kerja Kak dulunya."...
..."Kamu ikut kerja apa mau dikerjain?"...
..."Oh ya, Kamu sedang apa sekarang?"...
Ganti Aji yang bertanya pada Elisa. Dia ingin tahu, apa yang dilakukan istrinya itu, jika tidak ada dirinya di rumah.
..."El ada di depan perapian. Sedang baca buku cerita Mahabarata. Ternyata versi di negara kita berbeda dengan yang ada di India."...
..."Tentu saja Sayang. Ada banyak cerita yang sudah di ubah sesuai dengan tradisi dan kebudayaan di negara kita. Tidak persis sama seperti yang ada di India."...
..."Semoga cerita cinta Kita tidak ada versi yang berbeda-beda, jika di lain tempat."...
..."Hahaha... kalau cerita tentang cinta kita, tetap satu versi."...
Akhirnya, mereka mengobrol lama, dan bibi Lasmi masih diam, berdiri di samping Elisa.
*****
Beberapa menit kemudian Aji baru menutup panggilan teleponnya. Elisa juga baru saja meletakan handphone miliknya, di atas meja.
Tapi, handphone tersebut kembali bergetar dan ternyata, Aji kembali menelpon Elisa.
..."Sayang, cepat ke rumah sakit. Ajak bibi Lasmi untuk menemani, Vijay Singh baru saja sadar dari komanya."...
Aji berkata tanpa menunggu jawaban dari Elisa. Dia juga langsung menutup panggilan teleponnya tanpa mendengar perkataan dan suara Elisa terlebih dahulu.
"Bi. Bibi Lasmi. Vi_Vijay , Vijay Singh. Dia-dia..."
"Tuan muda? Tuan muda Vijay Singh kenapa Nyonya?" tanya bibi Lasmi cepat, memotong kata-kata Elisa, yang terbata-bata dan tidak jelas karena sambil menangis. Bibi Lasmi, jadi bingung sendiri, karena dia juga tidak mendengar perkataan Aji, saat menelpon Elisa tadi.
"Vijay Singh sudah sadar dari koma_nya. Apa Bibi Lasmi mau ikut menemani Elisa ke rumah sakit?" tanya Elisa, dengan menjelaskan pada bibi Lasmi tentang sadarnya Vijay Singh.
"Benarkah? Tentu saja mau Nyonya. Bibi tentu mau ikut," kata bibi Lasmi, menjawab tawaran dari Elisa. Dia ingin sekali melihat keadaan tuan mudanya yang telah lama mengalami koma.
Beberapa menit kemudian, Elisa, sampai di rumah sakit bersama bibi Lasmi. mereka berdua, berjalan beriringan menuju ke ruangan kaca, dimana tubuh Vijay Singh, biasa terbaring seperti hari-hari sebelumnya.
Tapi, sepertinya dugaan Elisa dan bibi Lasmi jauh dari kata benar. Ruang kaca yang biasanya ditempati tubuh lemah Vijay Singh, tampak kosong. Tidak ada orang lain lagi, begitu juga dengan tempat yang ada di sekitar ruangan tersebut. Sama sepinya.
Elisa mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Siapa tahu, Aji atau ayah Sangkoer Singh, ada di antara banyaknya orang-orang yang berlalu lalang, di lorong-lorong, tak jauh, dari tempatnya berdiri bersama bibi Lasmi.
"Elisa," sapa seseorang dengan menepuk pundak Elisa dari arah belakang.
Elisa menoleh cepat pada sumber suara yang memanggil namanya. Dia ikut terbelalak karena kaget, saat melihat wajah orang yang sekarang berdiri tepat dibelakangnya.