Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Ikannya Masih Mau


Gilang yang masih memegang piring ikan mengedipkan matanya sebelah pada Cilla. Tandanya dia mau Cilla yang mengurus ikan tersebut dan dia tinggal makan saja.


Cilla berusaha untuk sabar dengan menghela nafas panjang dan memejamkan matanya sebentar. Setelah itu, Cilla menerima juga piring yang masih ada di tangan Gilang.


Setelah Cilla menerima piring tersebut, Gilang tersenyum senang dan merasa menang. Aji dan mami Rossa yang memperhatikan semua ini hanya pura-pura tetap sibuk dengan kegiatan makan mereka. Tidak ada yang berusaha untuk menegur, atau meledek tingkah Gilang yang persis anak kecil itu, seperti kebiasaan yang mami Rossa lakukan, jika melihat tingkah Gilang yang kekanakan. Mereka berdua, mami Rossa dan Aji, justru menikmati pemandangan yang ada di depan mereka berdua itu, dengan saling melirik senang.


"Yuk Aji, lanjutkan makannya!" Mami Rossa memperingatkan Aji, cucunya.


"Aji sudah kenyang Oma," kata Aji, kemudian meminum air putih di gelas, yang ada di depannya.


"Beneran kenyang? Nanti gak bisa tidur lho kalau lapar," kata mami Rossa mengingatkan cucunya itu.


"Iya Oma. Aji sudah kenyang." Aji tetap menjawab, dengan jawaban yang sama juga.


"Baiklah kalau begitu. Oma juga sudah kenyang. Yuk, kita pergi ke teras belakang. Lihat-lihat kolam ikan!"


Mami Rossa mengajak Aji untuk bersantai sejenak ke halaman belakang, sambil melihat-lihat koleksi ikan yang ada di kolam.


Aji menurut dengan ajakan omanya itu. Dia juga tidak mau menganggu usaha papanya, Gilang, dengan berbagai cara, untuk lebih dekat dan membuat mamanya, Cilla, terbiasa dengan dirinya.


Gilang yang sadar, jika sedang diberikan kesempatan oleh maminya dan juga anaknya, tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa mendapatkan perhatian dari Cilla.


"Aku mau itu!"


Gilang menunjuk irisan timun yang ada tidak jauh dari piring tempat ikan bakar.


Cilla mengambil satu irisan timun dan diberikan pad Gilang, tapi Gilang menolaknya. Gilang justru membuka mulutnya untuk minta disuapi oleh Cilla.


Dengan gerakan ragu, Cilla memberanikan diri untuk menyuapi Gilang dengan timun yang dia minta. Tapi karena irisan timun yang memanjang, akhirnya tangan Cilla masih menggantung dengan timun yang sudah masuk ke dalam mulut Gilang setengahnya.


Saat Gilang mengigit timun tersebut, Cilla hampir saja melepaskan pegangannya, agar Gilang bisa memakannya sendiri, tapi justru Gilang memegang tangannya dan menyuruhnya tetap diam. "Aku belum selesai," kata Gilang meminta Cilla tetap diam.


Cilla menunduk dan tidak ikut apa yang diinginkan oleh Gilang. Tapi karena gugup saat Gilang memakan timun yang tersisa ditangannya, tanpa sengaja justru Cilla menyentuh bibir Gilang.


Seperti di replay, mereka berdua diam membisu untuk beberapa detik. Saat sadar, keduanya saling membuang muka karena malu. Cilla yang semakin gugup, sedangkan Gilang tersenyum senang karena usahanya itu berhasil.


Aji dan mami Rossa hampir terkikik geli melihat adegan tersebut. Mami Rossa menutup mata Aji, agar tidak melihat semua tingkah kedua orang tuanya. Tapi tentu saja Aji tidak mau. "Oma. Aku juga pengen lihat usaha papa kayak apa," kata Aji menolak tangan omanya yang bermaksud untuk menutup matanya.


Akhirnya mami Rossa menyerah dan membiarkan Aji melihat tingkah laku mama dan papanya. Menurut mami Rossa, ini masih wajar. Asal mereka yang sedang diperhatikan tidak lupa diri saja.


"Aji. Sepertinya rencana kita berdua ada kemajuan ya," kata mami Rossa meminta pendapat Aji, cucunya, terkait rencana untuk membuat papa dan mamanya lebih dekat lagi.


"Iya Oma. Tapi Aji masih merasa ragu dengan sikap mama," kata Aji dengan khawatir.


"Ya itu biasa Sayang. Mama kamu kan masih muda, tapi tidak pernah merasakan waktu mudanya. Apalagi mama kamu itu terlalu banyak berpikir dan hati-hati. Tapi itu bagus lho, agar tidak gegabah dan asal ambil keputusan. Mungkin semua itu disebabkan oleh kejadian yang pernah mama kamu alami dulu. Maafkan papa dan Oma ya Sayang, yang tidak pernah mengetahui keberadaan kamu selama ini."


Tapi waktu dan takdir berkata lain. Ini menunjukkan jika manusia hanya mempunyai rencana saja, tapi keputusan yang utama dalam setiap kehidupan ini, tetap berada di tangan Tuhan. Tidak ada yang bisa memaksanya untuk terbuka secara cepat ataupun lamban.


Di saat mami Rossa masih berusaha untuk memaksa Gilang, dengan mengenalkannya pada beberapa gadis, semua yang terpendam menjadi rahasia mulai terbuka. Ternyata selama ini, dia sudah memiliki cucu. Bahkan, cucunya itu sudah besar dan tumbuh dengan sangat baik. Cerdas dan pintar, meskipun hanya mamanya yang membimbingnya selama ini.


"Terima kasih Tuhan, atas semua yang ada pada kehidupan masa tuaku ini," ucap mami Rossa bersyukur pada Sang penciptaNya.


Aji ikut memeluk mami Rossa, omanya itu. Dia merasa ikut bahagia, bisa merasakan kasih sayang dan pelukan hangat neneknya juga, sama seperti teman-teman yang lain atau anak tetangga yang kadang di datangi oleh kakek atau nenek mereka.


"Terima kasih Oma. Mau menerima Aji dan juga mama dengan kasih sayang Oma," kata Aji yang masih ada di dalam pelukan mami Rossa.


Kata-kata Aji yang tadi, membuat mami Rossa kembali terisak dalam kebahagiaan dan keharuan.


*****


Di ruang makan.


Cilla dan Gilang baru saja menyelesaikan makan mereka. Cilla yang bermaksud membereskan peralatan makan malam mereka, tapi dengan cepat di cegah oleh Gilang.


"Sudah biarkan saja. Nanti biar dibereskan sama bibi," kata Gilang dengan menarik tangan Cilla agar tidak lagi memegang peralatan makan.


"Eh, tangannya masih bau!" Seru Cilla kaget.


Cilla kaget saat tangannya dipegang Gilang, karena masih bau ikan bakar.


"Mau lagi dong kalau gitu," kata Gilang menanggapi perkataan Cilla yang menolak pegangan tangannya.


"Eh mau apa?" tanya Cilla bingung.


"Mau kayak tadi, ikan bakarnya," kata Gilang memberikan penjelasan.


"Kan sudah habis."


"Pokoknya mau lagi," jawab Gilang dengan merajuk.


Cilla kebingungan dengan permintaan Gilang yang menurutnya aneh. Tapi Gilang tidak mau menjelaskan apa yang dia maksudkan. Dia cuma menunjuk pada bibirnya sendiri.


Cilla menjadi gugup dan salah tingkah. Sekarang dia tahu apa yang yang diinginkan Gilang. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi sekarang ini.


"Aji ada di teras belakang. Ayo!"


Gilang tahu apa yang dirasakan oleh Cilla saat ini, mengajaknya untuk menyusul Aji dan juga mamanya. Pergi ke teras belakang dan melihat kolam ikan.