
"Oh, maksud Kamu bakmi Jawa?" tanya Aji memastikan, bahwa keinginan Elisa memang seperti yang ada di dalam gambaran pikirannya.
Elisa, mengangguk cepat. Dia begitu bersemangat untuk bisa merasakan mie, dengan bumbu-bumbu khas Jawa. Apalagi, jika suaminya itu yang memasak untuknya.
Akhirnya, Aji menyanggupi permintaan istrinya itu. Dia akan pergi ke dapur untuk membuat mie rebus sesuai dengan permintaan istrinya yang sedang hamil tua. Dia tidak ingin, Elisa menahan keinginannya, jika hanya ingin menyantap makanan.
Aji, keluar dari kamar. Dia menuju ke arah dapur untuk menemui bibi Lasmi. Dia meminta ijin, untuk bisa mengunakan dapur malam ini, agar bisa membuatkan istrinya Mei godok ala jawa.
Bibi Lasmi, sebenarnya tidak yakin jika Aji bisa memenuhi permintaan istrinya itu. Apalagi, bumbu-bumbu dapur yang ada, tidak mungkin sama seperti yang ada di Indonesia sana. Tapi, Aji menyakinkan bibi Lasmi, bahwa dia bisa membuat mie Jawa tanpa harus menggunakan bumbu selengkap mungkin, seperti yang biasa digunakan di Indonesia. Dia juga meminta kepada bibi Lasmi, untuk menyiapkan arang untuk memasak mie tersebut nantinya.
Akhirnya, bibi Lasmi mengijinkan Aji masuk ke dapur dan memasak. Dia bahkan, ikut memperhatikan bagaimana Aji menyiapkan semua bahan-bahan yang dia butuhkan.
Aji, mengambil mie, yang pastinya tidak sama seperti mie kuning basah yang ada di Indonesia, terutama di Jawa, dan juga daging ayam serta telur.
Aji juga mencari sayuran-sayuran, seperti sawi, kol, tomat, seledri, daun bawang dan lain-lain yang ada di lemari pendingin. Dia juga menyiapkan semua bumbu yang diperlukan.
Bawang merah dia ganti dengan bawang bombai. Dia juga tidak membuat acar rawit, karena Elisa tidak mungkin dia kasi menu mie dengan rasa yang pedas. Hanya cabai yang dia ikutkan sebagai bumbu saja.
Bibi Lasmi, masih memperhatikan bagaimana Aji meracik dan memasak semua bahan dan bumbu yang tadi dia siapkan. Dia kagum, dengan cara Aji, yang ternyata piawai dalam urusan masak. Padahal, tadi dia sempat meragukan kemampuan Aji, anak angkat tuan besar_nya.
Bibi Lasmi, memerhatikan Aji, karena sekalian ingin belajar, bagaimana membuat mie khas orang Indonesia, terutama Jawa, karena siapa yang, besok-besok, Elisa menginginkan makanan itu lagi, sehingga dia bisa membuatkannya.
Aji, membuat mie jawa itu tidak hanya satu porsi saja. Dia juga membuat untuk ayah angkatnya, bibi Lasmi dan tentunya untuk Elisa sendiri, yang tadi menginginkannya.
Beberapa menit kemudian, semua mie sudah siap. Ada tiga piring, yang berisi Mei godok ala jawa. Aji, meminta pada bibi Lasmi, untuk memangil ayahnya, agar bisa ikut menikmati makanan itu.
Dengan patuh, bibi Lasmi pergi memangil tuan besar Sangkoer Singh, yang berada di dalam kamar. Dia meminta pada tuan besar Sangkoer Singh, agar keluar dan menuju ke meja makan. Di sana, Aji sudah menunggu dirinya.
"Ada apa Aji memintaku datang ke meja makan?" tanya tuan besar Sangkoer Singh.
"Tuan di minta untuk ikut makan, makanan yang tadi di minta oleh menantu Tuan," jawab bibi Lasmi, menerangkan kepada tuannya.
"Memang Elisa minta makanan apa?" tanya tuan besar Sangkoer Singh lagi. Dia penasaran dengan permintaan menantunya itu.
"Mei Jawa Tuan," jawab bibi Lasmi, sesuai dengan apa yang dia ketahui.
"Mei Jawa? Kamu bisa masak mie Jawa?" tanya tuan besar Sangkoer Singh, tidak percaya.
"Bukan Saya tuan, tapi tuan muda Aji. Maaf, tadi dia minta ijin memakai dapur. Saya suah melarang, tapi dia bilang, jika istrinya, minta supaya dia sendiri yang memasak mie tersebut. Apalagi Saya memang belum bisa memasaknya," jawab bibi Lasmi, dengan perasaan yang takut, jika tuan besar Sangkoer Singh marah.
"Oh, jadi Aji sendiri yang memasaknya?" tanya tuan besar Sangkoer Singh memastikan.
Bibi Lasmi mengangguk, mengiyakan pertanyaan dari tuannya itu.
Tuan besar Sangkoer Singh, jadi penasaran dengan makanan yang di minta menantunya itu. Dia sudah sering ke Indonesia, tapi belum pernah merasakan makanan tersebut.
Ternyata di meja makan, sudah ada Elisa yang sedang menunggu kedatangannya, agar bisa sama-sama menikmati mie Jawa, hasil masakan suaminya.
"Ayah, silahkan."
Aji, menyodorkan satu piring yang berisi mie Jawa, sama seperti yang ada di depan Elisa. Satu piring lagi, Aji berikan kepada bibi Lasmi, agar bisa ikut merasakan makanan tersebut.
"Duduklah Bibi Lasmi, dan ikut makan bersama dengan kami," ajak Aji, pada bibi Lasmi.
Tapi, Aji mendesak bibi Lasmi supaya menerima piring darinya. Bibi Lasmi jadi tidak bisa menolaknya lagi, sehingga dia hanya mengambil piring yang diberikan Aji, kemudian membawanya ke dapur. Dia akan makan di sana, karena di dapur, juga ada meja dan kursi, yang biasa digunakan sebagai tempat makan dirinya, dan juga pelayan yang lain di rumah ini.
Aji membiarkan bibi Lasmi pergi. Dia tidak mungkin memaksakan kehendaknya kepada bibi Lasmi, yang menjunjung tinggi kesopanan dan begitu patuh pada peraturan ayahnya.
"Ayah makan ya. Ini makanan khas Indonesia, yang tadi katanya di minta oleh menantu?" tanya ayah Sangkoer Singh, pada Aji.
Aji, mengangguk mengiyakan pertanyaan dari ayahnya itu. Dia menerangkan bahwa, rasa mie Jawa ini, tidak sama persis seperti yang ada di Indonesia, karena bahannya juga tidak sama.
Tuan besar Sangkoer Singh, jadi semakin penasaran dengan rasa mie tersebut. Apalagi, Elisa mulai memakannya dengan lahap. Elisa, juga menyuapi suaminya dengan sendok yang sama seperti yang dia gunakan untuk makan, karena memang hanya ada satu piring untuk mereka berdua.
Suapan pertama, tuan besar Sangkoer Singh diam untuk beberapa saat. Dia merasakan sensasi rasa unik yang ada pada bumbu yang menyatu dengan kuah mie. Dia jadi berselera untuk memakannya lagi.
Elisa, juga melakukan hal yang sama. Meskipun dia tahu, jika rasa mie yang dia makan tidaklah sama seperti yang biasa ada di Indonesia, tapi ini sudah cukup mengobati rasa rindunya dengan makanan yang ada di Indonesia.
"Terima kasih ya Kak. Elisa jadi merasa sedang berada di Jakarta saat ini," kata Elisa, sambil menyuapi suaminya itu.
Aji mengangguk, kemudian meminta sendok yang dipegang oleh istrinya. Dia ganti ingin menyuapi Elisa, seperti jika sedang berada di Jakarta, di apartemen yang mereka tempati dulu.
"Jika ingin sesuatu, bilang ya, jangan hanya diam. Kalau soal makanan, Kakak dengan senang hati menyanggupi permintaan Kamu kok Sayang."
Tuan besar Sangkoer Singh, melihat kebersamaan anak dan menantunya itu dengan dengan rasa haru. Dia berharap agar mereka bisa selamanya hidup rukun dan berbahagia.
*****
Malam semakin larut, tapi sepertinya itu tidak berpengaruh terhadap tuan besar Sangkoer Singh, yang sedang menunggu kedatangan seseorang. Tamu, yang tadi sore disebutkan pada Aji.
Elisa sudah diantar Aji ke kamar, agar bisa beristirahat dan tidur terlebih dahulu. Dia juga menemani isterinya, sampai benar-benar tertidur.
Dia mengusap-usap perut Elisa, sambil berbincang-bincang dengan anak yang masih berada di dalam kandungan istrinya itu. Seakan-akan, anaknya bisa mendengar semua perkataannya.
Setelah beberapa menit kemudian, Elisa sudah benar-benar tertidur pulas, dengan posisi miring. Ada bantal kecil yang dia pakai untuk perutnya, supaya bisa nyaman. Aji, membetulkan letak selimut, agar Elisa tidak merasa kedinginan. Setelah itu, Aji baru beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke luar kamar.
Untungnya, kamar mereka sudah pindah ke bawah, dan tidak lagi di kamar atas. Ini memudahkan Elisa, agar tidak naik turun tangga, demi keselamatan Elisa dan juga kandungannya.
Aji menyusul ayahnya Sangkoer Singh, yang berada di ruang tengah. Menunggu tamu yang belum juga datang.
"Belum ada kabar Yah?" tanya Aji, saat duduk di sofa, tidak jauh dari tempat ayahnya duduk.
"Mungkin sebentar lagi. Tadi, orang yang menjemput memberikan kabar jika pesawat sudah tiba di bandara," jawab ayah Sangkoer Singh.
Aji, mengerutkan keningnya memikirkan apa yang dikatakan oleh ayahnya. Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh ayah angkatnya itu, darinya.
Tamu ini, mengunakan pesawat dan dijemput oleh orang-orang suruhan ayahnya juga. Aji, jadi bertanya-tanya, "siapa sebenarnya tamu itu?"
Tapi, Aji hanya diam dan ikut menunggu. Dia tidak ingin, menggagalkan rencana ayahnya, dengan kejutan yang mungkin ditujukan untuk dirinya dan juga Elisa. Orang-orang yang selama ini mereka berdua rindukan.
Selang beberapa menit kemudian, ada suara orang yang sedang mengobrol di luar rumah. Meskipun Aji tidak mendengar perkataan mereka dengan jelas, Aji yakin jika mereka mengunakan bahasa Indonesia.
Aji semakin yakin, bahwa apa yang tadi dia pikirkan memang benar.