
Aji yang sudah duduk di bangku belakang menoleh ke arah mamanya, saat mendengar keluhan mamanya yang mengaduh.
"Kenapa Ma?" Aji bertanya heran.
"Tidak apa-apa Sayang," jawab Cilla, masih dengan handphone yang terhubung dengan Gilang di seberang sana.
..."Beneran Sayang yang aku dengar ini?" tanya Gilang dengan senangnya....
..."Eh, apa?" tanya Cilla bingung....
..."Tadi Kamu panggil aku dengan sebutan Sayang," jawab Gilang....
..."Kapan?"...
..."Barusan," jawab Gilang mengingatkan....
Cilla terdiam mengingat-ingat kembali apa yang dia katakan tadi. Tapi sepertinya dia tidak pernah memangil Gilang dengan sebutan Sayang seperti yang dia katakan.
..."Iya kan?" tanya Gilang mendesak Cilla....
"Ah, mungkin dia salah paham dengan apa yang aku katakan pada Aji. Ya mungkin itu dia pikir tertuju padanya." Akhirnya Cilla paham jika sebenarnya Gilang salah paham dengan apa yang dikatakan oleh Cilla untuk Aji. Dia mengira jika perkataan itu, untuknya.
..."Ayo, mengaku saja Cilla Sayang," kata Gilang ingin Cilla mengakuinya....
..."Kami baru keluar dari rumah sakit. Kami mau pulang dulu ya!" pamit Cilla pada Gilang....
..."Tunggu. Kamu belum mengatakan jika rindu denganku," kata Gilang meminta Cilla mengatakan itu....
..."Tapi...."...
..."Ayolah... Aku tidak bisa konsentrasi ini. Coba bilang, Sayang... aku rindu," kata Gilang memberikan contoh....
..."Atau kamu bisa bilang, Miss you darling," lanjut Gilang mengajari....
Cilla mengeleng mendengar semua permintaan Gilang melalui telepon. "Aku pasti malu beban mami Rossa ataupun dengan Aji. Kenapa dia aneh-aneh saja permintaannya," pikir Cilla dalam hatinya.
..."Ayo Honey... Aku masih menunggu. Sebentar lagi mau metting, tapi jika belum mendengar panggilan tadi lagi, Aku tidak bisa mulai metting ini."...
..."Sebenarnya tadi itu untuk Aji, tapi ba... baiklah. A... Aku Miss you," kata Cilla dengan suara pelan. Takut terdengar oleh mami Rossa dan juga Aji....
..."Miss you to honey..."...
Suara Gilang terdengar menggema di telpon Cilla. Dengan terburu-buru, Cilla mengakhiri hubungan telepon tersebut. Dia tidak ingin lebih malu lagi, karena bisa dipastikan jika Gilang akan memintanya untuk mengatakan hal itu lagi, seperti biasanya.
*****
Di ruang kantornya, Gilang melompat kegirangan. Hatinya berbunga-bunga karena senang dan bahagia. Dia berlagak persis seperti anak remaja tujuh belasan tahun yang sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya.
"Huh... Akhirnya Cilla bisa menyebutkan kata sayang untukku tanpa aku minta. Ini sungguh luar biasa"
Gilang yang salah paham tidak tahu, jika perkataan 'sayang' Cilla yang tadi adalah untuk anaknya, Aji, yang sedang bertanya saat Cilla membentur pinggiran pintu mobil.
"Aku harus tetap berusaha untuk bisa mendapatkan hatinya. Dia sebenarnya hanya memerlukan waktu saja, untuk mengakui dan menyadari ketulusan hatiku ini. Ah... Aku tidak sabar ingin pulang dan bertemu dengannya."
Gilang tidak bisa menahan diri untuk tidak terus memikirkan Cilla. Dia merasa sangat bahagia dengan apa yang dia dengar tadi.
"Huh... metting penting ini kenapa harus hari ini. Aku jadi tidak bisa keluar kantor dengan bebas."
Kring...
Kring...
Telpon di meja kerja Gilang berdering. Dia segera mengangkatnya dan suara sekertaris di luar terdengar memberitahu jadwalnya.
..."Metting tiga menit lagi Pak. Semua sudah ada di ruangan. Apa Bapak mau berangkat menuju ruang metting sekarang?"...
..."Ya. Persiapkan semuanya."...
*****
Di perjalanan pulang dari rumah sakit. Aji yang sudah merasa lapar memegang perutnya.
"Ma..."
Cilla menoleh saat anaknya memanggil. Dia melihat Aji yang sedang memegang perutnya.
"Aji lapar?" tanya Cilla ingin tahu.
Aji menganguk mengiyakan. Cilla tersenyum melihat anaknya yang tidak pernah rewel meskipun dalam keadaan lapar seperti sekarang ini.
"Mi. Boleh mampir ke warung atau apa untuk makan dulu? Aji sudah merasa lapar."
Mami Rossa yang duduk di depan menoleh ke belakang. Dia melihat Aji, kemudian beralih kearah Cilla.
"Tentu saja Sayang. Kalau menunggu sampai rumah terlalu jauh, nanti kelamaan. Bagaimana kalau ke Mall saja. Ini sudah dekat. Kebetulan Mami belum menengok toko lama. Kamu juga, apa tidak kangen sama Diyah?"
Usulan mami Rossa tentu saja di setujui oleh Cilla. Dia memang sudah lama tidak bertemu dengan mbak Diyah yang baik itu. Orang yang selalu ada untuknya saat masa sulit.
"Benar Mi? Ah, Cilla sudah lama sekali tidak bertemu dengan mbak Diyah. Tapi..."
Mami Rossa bingung dengan perkataan Cilla yang terakhir. Kenapa terdengar ragu dan takut?
"Ada apa? Kenapa memangnya?" tanya mami Rossa bingung.
"Aku takut teman-teman di toko salah paham dengan Cilla Mi," jawab Cilla gugup.
"Kenapa?" tanya mami Rossa lagi.
"Cilla takut jika mereka menyangka jika Cilla selama ini berbohong dan menutupi semua ini. Cilla takut mereka salah paham."
Cilla memang merasa takut jika di tuduh sebagai pembohong. Apalagi ternyata Aji, anaknya itu adalah anaknya Gilang, cucunya mami Rossa. Dia tidak mau jika di tuduh telah menyembunyikan semua ini sedari dulu dan memanfaatkan waktu untuk bisa mendapatkan keuntungan dengan mengakuinya.
"Mereka tidak akan akan menuduhmu yang bukan-bukan. Bukannya selama ini Kamu memang tidak tahu jika Gilang itu anaknya Mami? Kamu juga tidak pernah bertemu dengan Gilang lagi setelah itu. Jika ada yang nekad menunduh macam-macam, ada buktinya kok!"
Mami Rossa memberikan penjelasan pada Cilla agar tidak lagi merasa takut. Semuanya sudah terbukti dan tidak ada yang bisa meragukannya lagi.
"Nanti Kamu bisa cerita apa saja dengan Diyah. Biar dia juga Tidka salah paham dan tahu kebenarannya. Dia juga orang baik kan? Tidak mungkin dia marah. Justru dia akan bersyukur karena Kamu dan juga Aji bisa bertemu dengan Gilang."
Cilla mengangguk mengiyakan semua yang dikatakan oleh mami Rossa. Dia tahu jika mbak Diyah Tidka mungkin melakukan semua yang dia takutkan.
"Oma. Aji mau Burger yang dulu papa belikan saat pertama kali bertemu," kata Aji memberitahu.
"Oh ya? Baiklah nanti kita beli Burger di sana ya!"
Aji tersenyum senang mendengar perkataan Omanya yang setuju dengan permintaannya itu.
"Pak. Kita ke Mall ya!"
"Baik Nyonya," kata pak supir patuh.
Mobil melaju menuju Mall yang lama tidak didatangi oleh Cilla, sejak dia mengundurkan diri dari toko milik mami Rossa, maminya Gilang.
"Mama tidak mau kerja lagi kan?" tanya Aji ingin tahu.
"Kerja apa?" tanya Cilla bingung.
"Mama kan sudah keluar?" tanya Aji tanpa menjawab pertanyaan mamanya.
"Oh iya Sayang. Mama sudah keluar. Mama hanya ingin bertemu dengan Tante Diyah. Aji tidak kangen dengan Tante Diyah?"
Aji mengangguk mengiyakan pertanyaan mamanya. Dia memang sudah mengenal baik teman kerja mamanya itu. Tapi dia tidak suka dengan beberapa teman kerja mamanya yang lain.