
Petang berganti menjadi malam. Saat tiba waktu makan malam, hanya ada dua orang yang mengisi meja makan itu. Aniel selalu melihat Marlon yang tidak mau menyentuh makanannya sedikitpun.
“ Marlon kenapa kau tidak makan ? “
“ Aku tidak bisa makan dengan keadaan seperti ini !! “
“ Kalau aku bisa makan dengan senang. Walau, kak John dan kak Auriel tidak ikut. Karena, aku merasa mendapatkan makan malam spesial berdua denganmu “
“ Jarang sekali melihat Aniel jujur seperti ini “
“ Sudahlah, sekarang kau harus makan dulu. Aaa... “ Sambil menyuapi Marlon
“ Aku bukan anak kecil lagi Aniel !! “ Sambil membuang mukanya
“ Ayolah !! Jadi Marlon yang ceria lagi !! Dan tanganku sudah pegal “
“ Baiklah “ Marlon akhirnya memakannya
“ Begitu dong !! Ayo sekali lagi ! Sesekali aku senang kan dapat memanjakan Marlon, kakakku yang paling baik ! "
“ Aniel kau jujur saja ! Bukankah kau menikmati suasana ini ? Sampai mengeluarkan kata-kata manis yang hampir tidak mungkin kau katakan “
Aniel membalasnya dengan tersenyum. Dan, terus menyuapi Marlon. Setelah makanan di piring hampir habis
“ Kau benar Marlon ! Sebenarnya, aku merindukan masa-masa saat hanya berdua dulu. Rasanya lebih damai, bukannya aku tidak senang dengan kehidupan yang sekarang. Hanya saja, karena sekarang berempat, aku tidak sebebas bersamamu dulu, dan kau sudah tidak mengurusku saja kan “
“ Tunggu dulu ! Kau iri ? “
“ Tidak !! “
“ Hahaha.. Adikku yang lucu. Aku sudah paham kok. Dulu, kau merasa paling diperhatikan olehku kan ? “
“ Iya benar, aku hanya merindukan masa itu “
“ Tenang saja Aniel ! Walaupun aku peduli dengan kakak kita, kau tetap yang paling ku perhatikan “ Mengelus kepala Aniel
“ Baik Marlon ! Aku percaya padamu “
“ Makanannya enak sekali. Ayo, kita ke kamar ! “
" Terimakasih atas pujiannya. Ayo !! "
Marlon mengulurkan tangannya. Aniel, dengan cepat mengenggam tangan Marlon. Dan, mereka kembali ke kamar sambil bergandengan tangan. Sementara, di kamar John
“ Marlon bisa saja menenangkan hati orang, dia sangat hebat. Sementara, aku hanya bisa membuat mereka kepikiran, wajar saja Marlon marah seperti itu. Sudahlah, aku tidak perlu membandingkan diri dengan tuan penguasa rumah, Marlon memang lebih muda. Tapi, di beberapa peristiwa yang kami alami selama ini, aku kadang merasa tidak sebanding dengannya. Orang yang terlahir jenius itu sangat hebat. Tapi, sayang sekali sifatnya tidak mendukung. Kalau saja dia bisa tetap serius. Sudah dari dulu, aku pasti akan dibandingkan dengan Marlon. Apalagi, Tuan dan Nyonya tidak pernah mau mengakuiku. Mereka hanya menuntut saja. Walau dia diakui, kenapa Marlon sangat membenci tuan dan nyonya ? “
Pagi pun datang. Tidak seperti pagi biasanya yang diwarnai keceriaan, hari itu terlihat sangat sepi. Tidak terdengar suara apapun saat John keluar kamarnya.
“ Sudah pagi, tapi Auriel belum mau keluar kamar. Lebih baik aku pergi dulu. Supaya mereka bisa sarapan bersama “
John mengambil roti, lalu mengoleskan selai. Dan, dia berangkat sekolah dengan roti yang masih berada di mulutnya. Setelah John berangkat, Marlon keluar dari kamarnya. Ia menuju ruangan Auriel.
“ Kak Auriel ?? Kau sudah bisa keluar !! John sudah berangkat “ Sambil mengetuk pintu
“ Iya !! Terima kasih Marlon, aku akan keluar, kau duluan saja ke bawah “
Marlon segera turun setelah mendengar jawaban Auriel. Dia melihat Aniel sudah menyiapkan sarapan, dan duduk rapi di meja makan.
“ Marlon, ayo duduk !! Kak Auriel akan sarapan juga bersama kita kan ? “
“ Iya, dia pasti akan sarapan bersama kita. Karena aku harus membicarakan sesuatu dengannya “ Sambil menarik kursi dan mendudukinya.
Tidak lama setelah itu, Auriel datang, dan ikut sarapan dengan mereka.
“ Baiklah, sekarang kakak sudah disini. Ayo kita sarapan !! “
Akhirnya mereka sarapan, Marlon dengan cepat menghabiskan sarapannya. Sementara, Aniel masih santai menyantap roti selai kacang yang digenggamnya.
“ Kak Auriel, bolehkah aku mengetahui masalahmu ? “ Kata Marlon dengan wajah dinginnya itu. Ia masih tidak ingin menatap kakaknya.
“ Ini bukan masalah besar Marlon, aku bisa menyelesaikannya sendiri. Jadi, kau juga tidak perlu tau masalah kecil bukan ? “ Jawab Auriel sambil memakan roti
“ Baiklah !! Tenang dulu ya, karena seorang Marlon sangat ingin mengetahuinya. Tapi, kita berangkat sekolah dulu, di perjalanan aku akan cerita “
Setelah merapikan meja makan. Mereka berangkat bersama. Marlon tetap membawa sepedanya. Karena, sekolah mereka itu satu arah. Tapi, lebih dekat sekolah Auriel daripada sekolah Marlon dan Aniel.
“ Baiklah, sekarang aku akan cerita. Masalahku ini dengan kelas 12. Dia mungkin hanya iri melihatku “ Kata Auriel sambil memandang sungai yang dihiasi oleh pohon-pohon yang rindang
“ Dan masalahnya apa ? Kalo cuma itu, orang di luar sana banyak sekali yang iri kepada keluarga kita “
“ Bukan begitu, Marlon. Kalo yang ini irinya lebih parah. Dia mungkin merasa posisinya diambil “
“ Aku paham maksud kak Auriel “ Kata Aniel tiba-tiba
“ Memangnya apa ? “ Tanya Marlon
“ Orang itu mungkin dekat sama kak John, dan perempuan paling terkenal di sekolah. Tapi, setelah kak Auriel masuk di sekolah itu, dia berhenti menjadi yang paling terkenal disana. Dan tidak lagi menjadi orang yang terdekat bagi kak John. Benar tidak ? “ Kata Aniel dengan tersenyum lebar
“ Sepertinya benar “ Jawab Auriel
“ Dasar dia kira dia itu siapa ? Membandingkan dirinya dengan kak Auriel. Dia tidak berpikir panjang “ Kata Marlon sambil menghela nafas panjang.
“ Maksudnya ? “ Tanya Aniel dengan ekspresi bingung
“ Kalau dia iri terhadap seseorang dari keluarga white. Berarti, dia sudah siap untuk menantang keluarga itu. Karena, kita juga tetap diawasi, berarti cepat atau lambat, mereka akan tau. Tenang saja kak Auriel, aku yakin John sudah memikirkannya. Dia akan menyelesaikan masalah ini, tanpa diketahui oleh ayah atau bunda. (Karena, kau yang paling tau keluarga ini, John) “
Marlon berhenti, dan mulai menaiki sepedanya.
“ Ayo naik Aniel !! “
Aniel berhenti melamun dan segera menaiki sepeda Marlon. Mereka meihat Auriel yang melamun. Sepertinya, Auriel masih belum sadar kalo ia sudah sampai di sekolah. Ia tetap melihat pohon itu.
“ Kak Auriel ? “
Auriel tidak menghiraukan Aniel dan Marlon. Ia malah semakin tenggelam dalam pikirannya. Aniel melihat Marlon, seakan meminta Marlon yang berbicara dengan Auriel. Marlon hanya menghela nafas setelah melihat tatapan Aniel.
“ Kak Auriel !! “ Teriak Marlon dengan keras
“ Eeh, iya !! Astaga Marlon kenapa kau teriak ? Membuatku terkejut saja “
“ Sudah sampai !! Makanya, jangan ngelamun aja ! Dari tadi ngelihatin pohon terus. Jangan-jangan tadi tidak mendengar kata-kataku ? “
“ Bukan begitu, Marlon ! Justru karena aku mendengar kata-katamu, aku jadi kepikiran “
“ Jangan terlalu dipikirkan. Tenang saja, jalani seperti biasa. Semua pasti baik-baik saja. Kakak juga bisa berbuat seenaknya di sekolah itu. Ingatlah, kita keluarga white, sudah termasuk keluarga paling penting di daerah ini. Kenapa tidak dimanfaatkan saja ? Maka, semua berjalan lancar “
“ Aku tidak bisa seperti itu, Marlon. Karena, gara-gara itu nama keluarga bisa rusak “
“ Hmm, aku aneh melihat kak Auriel yang sangat ingin menjaga nama keluarga “
“ Mungkin, kau tidak mengerti sekarang Marlon. Tapi, suatu saat kau pasti akan mengerti “
“ Baiklah, terserah kakak saja. Aku sama Aniel akan pergi dulu, nanti kami telat lagi. Sampai jumpa nanti kak !! “
“ Sampai jumpa !! “
Aniel melambaikan tangannya. Auriel membalas lambaian tangan Aniel yang sudah semakin jauh. Dan, dia berjalan memasuki sekolah.
Aniel mengeratkan pelukannya setelah Auriel sudah tidak terlihat lagi. Marlon jadi memelankan laju sepedanya.
“ Kak Auriel belum mengetahuinya “
“ Tenang saja, Aniel. Kak Auriel memang berbeda, hanya ia yang menjaga nama keluarga seperti itu. Walau dia tau, tetap saja tidak akan berubah. Anak emas kan memang berbeda “
“ Anak emas ? Bukannya, kita semua sama di mata ayah dan bunda ? “
“ Iya, Aniel. Kita sama di mata mereka “
Kau masih kecil untuk mengetahuinya Aniel, untuk saat ini, kau hanya perlu hidup di tempat yang aman dan nyaman. Keluarga White, tidak seperti namanya. Keluarga kita juga memiliki sisi yang gelap. Bukan hanya peristiwa itu yang membuatku benci dan muak terhadap mereka.