
Keesokan harinya
Hari ini giliran Alex wawancara, semoga John tidak mempersulitnya. Tapi, kalau mengingat ini John, aku rasa tidak mungkin.
Aku berangkat sekolah sendiri. John berangkat lebih pagi dari biasanya, entah apa yang dikerjakan. Marlon dan Aniel berangkat lebih dulu daripada ku.
Sesampai di kelas, aku melihat Yuli melamun. Bahkan setelah mendekatinya, dia belum juga menyadariku
"Yuli !!! "
Yuli terkejut dan sadar dari lamunannya
" Auriel kau mengejutkanku. Ada apa ? "
" Mikir apa ? "
" Aku hanya mengantuk dan ingin pulang"
" Kau ada masalah ? Atau.. "
Pembicaraan kami terhenti karena bel kelas berbunyi. Tidak lama, guru sudah masuk dan memulai pelajaran.
Sepanjang waktu belajar Yuli terkadang melamun. Untungnya di saat-saat penting dia masih sempat untuk mendengarkan penjelasan guru.
Waktu pulang sekolah tiba. Yuli melihatku dengan tatapan cemas. Dia pasti memikirkan Alex.
" Tenang saja Yul, kau hanya perlu mendoakannya. Dipikirkan selama 24 jam, sungguh lelaki yang beruntung. Bukankah kau memikirkannya sepanjang waktu tadi ? "
Yuli terkejut mendengar perkataanku, mukanya perlahan memerah.
Aku tersenyum melihat reaksi Yuli, dia tersipu malu.
" A-auriel bukan seperti itu. Aku yakin Alex bisa melewati wawancara itu. Aku percaya padanya. Tapi, ada hal lain yang membuatku khawatir "
Wajah Yuli tiba-tiba terlihat pucat
" Maaf Yuli, aku berkata tanpa pikir panjang "
Yuli hanya tersenyum melihatku dan mulai membereskan barangnya.
" Auriel, aku pamit pulang dulu. Jangan katakan pada Alex aku mengkhawatirkan sesuatu. Itu bisa menganggu fokusnya "
" Baiklah Yul. Hati-hati di jalan "
Setelah menganggukkan kepalanya, dia berlari meninggalkan ku sendiri di kelas. Tidak lama Alex masuk heran melihatku sendiri.
" Auriel, Yuli mana ? "
" Yuli sudah pulang Alex "
" Yang benar saja ? Biasanya dia pasti pamit dulu "
" Yuli sedang terburu-buru tadi. Jadi, tidak sempat pamit padamu "
" Iya juga, Yuli punya banyak urusan. Kalau begitu Auriel mau ke ruang OSIS ? "
" Tentu saja aku ke ruang OSIS, sekarang giliran Alex yang wawancara "
" Terima kasih, setidaknya aku tidak terlalu gugup "
Kami meninggalkan ruang kelas dan bergegas ke ruang OSIS. Seharusnya John sudah menunggu.
Teringat John yang tidak suka menunggu kami berlari dan sampai di ruang OSIS. Kami mengatur napas sejenak, lalu mengetuk pintu.
" Permisi, John ?? "
" Silahkan masuk Alex "
Alex menatapku dengan bingung
" John hanya mempersilahkan orang yang diwawancarai masuk. Silahkan "
Alex memasuki ruangan dengan gugup. Ia menatap John terlihat sibuk bekerja. Ruangan dipenuhi dengan keheningan. Alex terkejut mendengar suara pintu dibelakangnya tertutup. Auriel benar-benar meninggalkannya sendiri.
" Oke, mari kita mulai saja wawancaranya. Alex apakah kau siap ? "
" Siap !! "
Setelah dipersilahkan duduk, Alex menempati kursi dan menatap John
" Silahkan dimulai " John berhenti bekerja dan menatap Alex.
" Terima kasih, saya Alexander Xavier, ketua kelas 10-3, umur 16 tahun dan tanggal lahir 11 Maret "
" Baiklah. Saya ingin tau motivasi anda ingin menjadi OSIS ? "
Kak John terlihat dingin belum lagi sorot matanya yang tajam itu. Alex menguatkan dirinya
" Saya ingin memperbanyak pengalaman dengan mengikuti OSIS. Dan menjadi bagian dari OSIS sudah keinginan saya sejak SMP "
" Sepertinya anda sangat ingin menjadi OSIS. Atau, karena seorang Auriel sudah diterima ? "
Alex tersenyum mendengar perkataan Ketua OSIS
" Itu salah. Alasan seorang Alexander Xavier ingin menjadi OSIS karena sang ketua OSIS John Ervin White. Saya mengaguminya sejak dulu "
John terlihat menahan tawanya mendengar jawaban Alex.
" Aku tidak mengira seseorang yang menyukai adikku, berusaha menyenangkan hati kakaknya juga "
Alex hanya tertunduk malu
" Ok, ternyata aku memiliki fans sejak lama. Baiklah, Alexander Xavier dinyatakan lulus !! Setidaknya aku bisa jamin kau pasti berguna untuk sekolah ini "
John tertawa kecil melihat reaksi Alex. Walau, Alex berusaha menahan diri. Tapi, ia tetap terlihat seperti anak kecil yang sangat bahagia setelah keinginannya terpenuhi.
Alex berpamitan dan keluar ruangan. Mendapati Auriel saat itu tengah memperhatikan langit dan sedikit termenung.
Auriel tersadar dari lamunannya setelah mendengar suara langkah kaki mendekat. Ia menyapa Alex lebih dulu
" Bagaimana hasilnya Alex ? Aku tebak kau lulus kan ? " Kata Auriel dengan senyum kemenangan menghiasi wajahnya
" Bagaimana kau bisa tau ? " Alex terheran-heran melihat Auriel
" Kau terlalu mudah dibaca " Yuli juga begitu pikir Auriel
" Arrghh terserah. Auriel pulang dengan kak John ? " Balas Alex walau wajahnya terlihat sedikit terkejut dan kesal
Auriel menjawabnya dengan anggukan saja
" Kalau begitu aku pulang dulu. Aku ingin menceritakan hari ini ke Yuli, sampai jumpa besok !! "
Auriel melihat Alex pulang dengan bersemangat. Ia berharap keceriaan Alex dapat mengubah wajah Yuli yang terlihat sedih.
Setelah melihat Alex pergi, Auriel memasuki ruang OSIS. Terlihat John masih sibuk membaca dokumen-dokumen entah tentang apa.
" Aku tidak mengira kau menerima Alex menjadi OSIS "
" Kau jahat sekali Riel, kakakmu ini masih bisa berpikir dengan jernih "
" Iyaa, Untung tidak mementingkan perasaan. Karena dikira dekat denganku seketika tidak disukai "
" Tentang itu, aku tidak mengira Alex berani menjadikan ku alasannya ingin menjadi OSIS " Jawab John menatap Auriel
" Oo iya aku baru ingat, Alex memang sama seperti fans club John " Jawab Auriel sedikit tertawa
" Setidaknya Alex lebih baik daripada fans yang lain. Setelah selesai mengecek semua dokumen ini kita pulang. Ini laporan-laporan biasa. Jadi, jangan banyak tanya "
" Iya John " Auriel tetap tersenyum walau menjawab dengan nada kesal
Sepanjang jalan hanya satu hal yang terdapat di pikiran Alex. Yuli harus tau aku diterima menjadi anggota OSIS, dia pasti senang mendengarnya. Karena sejak pagi Yuli terlihat banyak pikiran. Satu berita bahagia mungkin dapat meringankan beban pikirannya.
Alex sampai di rumah. Anehnya yang menemani adiknya bukan Yuli melainkan asisten rumah tangga. Ia mempercepat langkahnya ke kamar, mengganti pakaian dan bergegas ke rumah Yuli setelah berpamitan dengan adik-adiknya
Sebelum pergi Alex sempat bertanya kepada asisten rumah tangga keluarga Carney.
" Bibi hari ini kenapa bukan Yuli yang menjaga adik-adik ? "
" Ohh Nona Yuli setelah pulang sekolah berpesan pada bibi untuk membawa kedua adiknya ke rumah mas Alex. Setelah itu, Nona Yuli hanya berpesan tidak ingin diganggu "
" Terimakasih ya bibi. Alex tetap mendatanginya walau dilarang "
Alex hanya tersenyum dan segera meninggalkan asisten rumah tangga itu sebelum ia dilarang memasuki rumah keluarga Yuli
Alex tau betul Yuli. Kalau hanya sebuah tugas dari sekolah dia tidak akan pernah meninggalkan adik-adiknya kepada asisten rumah tangga. Kecuali benar-benar ada hal yang sangat gawat. Apa karena itu Yuli terlihat banyak pikiran sepanjang hari. Aku harap bisa membantu Yuli meringankan bebannya.
Setelah memantapkan tekad Alex memasuki rumah itu. Mencari Yuli di satu ruangan yaitu ruang kerjanya, saat banyak pikiran Yuli akan kesana kapanpun itu. Saat tugas dari sekolah menumpuk atau galau memikirkan kehidupannya.
Sampai di depan ruang kerja Yuli di lantai 2. Alex membuka pintu tanpa mengetuknya sekalipun. Alex melihat ekspresi Yuli yang fokus melihat layar laptopnya, matanya terlihat lelah. Ia terlihat sangat fokus, suara pintu yang terbuka dengan keras oleh Alex saja tidak terdengar.
" Yuliii, yuli cantik, yull, heii kupanggil berapa kali baru kau menyadari ku? Huftt sudahlah karena dia tidak dengar aku lihat sekeliling saja, siapa tau aku menemukan alasan yuli sesibuk ini "