
" Aniel !!! Lihat aku sudah membawakan minuman. Aku juga menemukan bunga yang indah ini. Aniel ??!! " Marlon terkejut melihat tempat itu kosong. Aniel tidak ada disana. Ia cepat mengambil hp dari sakunya. Tapi, tidak ada satu orangpun yang menjawab panggilannya.
" Aniel dimana kau ?? "
Marlon cepat berlari keluar dari taman. Dia melihat sekitar dan menemukan seseorang yang tergeletak. Marlon menghampirinya
" Kenapa bisa begini ?? " Marlon berusaha membangunkannya. Orang itu perlahan sadar
" Maafkan saya tuan muda, nona Aniel dibawa pergi "
" Apa ??!! Kemana orang itu pergi ?? "
" Ia berjalan membawa nona Aniel. Mungkin dia belum terlalu jauh " Sambil menunjukkan arah Aniel dibawa.
" Baiklah, kau istirahat saja !! Aku akan mengejar penjahat itu. Sebarkan info ke yang lain. Jangan sampai bunda tau !! " Awas saja kalau terjadi apa-apa dengan Aniel, kau akan merasakan akibatnya.
" Baik tuan muda !! Semoga saja tidak terjadi apa-apa. Karena penjahat kali ini lebih kuat dan licik dari biasanya "
Marlon berlari. Dengan cepat dia menemukan Aniel dan pria yang membawanya. Pria itu masih seumuran dengan Bunda, berarti aku tidak bisa melawannya langsung. Berarti, aku harus menjauhkan Aniel dulu dari dia. Lebih baik aku menelepon dulu " Halo, cepat ke lokasiku sekarang !! " Baiklah semoga saja yang lain cepat datang. Dan Marlon berlari menarik tangan Aniel dan menepis tangan pria itu.
" Siapa kau ?? Jangan berani-berani membawa Aniel !! "
" Marlon ?? "
" Cih, hei bocah nakal santai saja. Aku hanya membawa adik kesayanganmu ini bertemu bundanya "
" Aku tidak sebodoh itu om !! "
" Padahal kau hanya bocah berumur 6 tahun, hebat sekali ya "
" Apa tujuanmu ?? "
" Serahkan saja adikmu yang manis itu !! "
" Tidak akan !! "
" Kalau begitu. Hahaha !! "
Penjahat itu mendekati Marlon dan Aniel. Untungnya Marlon masih bisa menendang orang itu. Tapi, itu hanya gertakan. Sekarang penjahat itu mengeluarkan pisaunya.
" Bukankah ini sangat keterlaluan om ?? "
" Tidak keterlaluan. Ini yang pantas kalian dapatkan !! "
Penjahat itu lagi-lagi menyerang Marlon. Marlon masih bisa menghindari pisau itu, Ternyata tujuan utamanya adalah Aniel. Pisau itu mengenai tangan kanan Marlon saat melindungi Aniel. Dan beberapa orang datang membantu Marlon dan Aniel.
" Mar.. Marl.. Marlon !! "
Marlon tergeletak bersimbah darah di depan Aniel.
Kembali ke masa kini.
" Aniel ?? Aniel !! "
" Marlon maafkan aku "
" Kau mengingatnya lagi ya ?? "
" Iya, aku tidak mungkin melupakannya !! Lihat bekas lukamu masih ada kan. Tangan ini yang melindungiku " Mengusap bekas luka di tangan kanan Marlon.
" Aniel, jangan menangis lagi " Mengusap air mata Aniel dengan tangan kirinya.
" Iya Marlon aku tidak menangis lagi " Berusaha tersenyum.
" Sudahlah ini bukan kesalahanmu. Kalau begitu, mau ke taman tuan putri ?? " Marlon beranjak dari tempat tidur dan mengulurkan tangannya.
" Dengan senang hati pangeran " Aniel tersenyum dan meraih tangan Marlon.
Terdengar suara pintu kamar terbuka. Aku dan John melihat Marlon dan Aniel yang bergandengan turun.
" Kalian sudah berbaikan ya ?? " Tanyaku
" Kak Auriel, iya kami sudah berbaikan " Jawab Aniel
" Marlon kau membawa Aniel kemana ? " Tanya John
" Kami hanya ke taman sebentar " Jawab Marlon
" Kalian pulangnya sebelum makan malam ya !! " Teriakku
" Baik kak !! " Marlon menarik Aniel berlari keluar.
" John aku akan menyiapkan makan malam dulu. Cepat habiskan tugasmu biar bisa makan bareng "
Aku pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Sepertinya makanan tadi siang masih ada sisa. Berarti tinggal dihangatkan saja. Aku lebih baik menunggu Marlon dan Aniel kembali, setelah itu aku mengajak John juga.
" John ?? "
" Iya ?? "
" Ini sudah jam 19.30 Marlon dan Aniel lama banget ya jalan-jalannya "
" Tenang saja Auriel, mereka pasti kembali "
" Kami pulang !! "
" Baik kak !! " Jawab mereka bersama
" John mari makan !! Kami tunggu di meja makan ya "
" Oke !! kerjaan nanggung nih. Tapi, aku juga sudah lapar banget. Nanti dikerjakan lagi aja "
John dengan cepat berjalan ke meja makan. Mereka akhirnya bisa memulai makan malam. Aturan di rumah ini. Makan harus bersama, kadang tidak ditaati. John dan Marlon makan dengan lahap. Sangat memuaskan melihat yang lain makan dengan lahap begini.
Akhirnya kami selesai makan, setelah aku menyelesaikan cuci piring. Rutinitas kami setelah makan malam. Membahas keseharian masing-masing.
" Jadi, Aniel bagaimana hari pertama sekolahmu ?? " Tanya John
" Oo iya kalian harus dengar ini !! Di sekolah, saat jam istirahat. Aku ke kantin, dan... "
" Kantin ??!! Jangan-jangan yang ribut di sekolah itu kau ?? " Tanya Marlon
" Heii !! Aku belum selesai ngomong. Antri dong !! " Jawab Aniel dengan nada kesal
" Sudah-sudah, lanjutkan Aniel !! " Kata John
" Baiklah, mereka itu fansnya Marlon. Lebih tepatnya sih ketua dari fans club itu. Aku lupa namanya " Bercerita sambil sesekali melirik Marlon.
" Sepertinya aku tau siapa yang kau maksud Aniel " Jawab Marlon
" Siapa dia ?? " Tanya Aniel penasaran
" Namanya aku tidak tau, dia seumuran denganku. Kami tidak sekelas, dan dia selalu hadir dalam setiap pertandinganku, terkadang aku merasa diikuti oleh dia. Orang yang mengerikan " Jawab Marlon dengan muka ketakutan.
" Iya. Dia adalah orang yang sudah tergila - gila dengan Marlon sampai dia tidak bisa hidup tanpamu katanya. Karena dia, aku diserbu pertanyaan tadi " Terang Aniel
" Astaga fans clubnya sampai seperti itu. Adikku yang satu ini sudah menjadi orang hebat di sekolahnya. " Kata John
" Siapa yang suka dengan hal itu kak ?? Malah menjadi mengerikan, diikuti tiap hari, merasa diperhatikan terus. Aku merinding tau !! " Jawab Marlon dengan rasa kesal
" Ok Marlon tenang !! " Kataku memperingati
" Kak John ?? Aku belum selesai " Kata Aniel
" Lanjut saja " Jawab John santai
" Dia memaksaku memberikan informasi tentang Marlon dan keluarga kita "
" Apa ??!! Bukan hanya Marlon, tapi keluarga kita juga ?? " Kata John
" Kak John ?? " Tanya Aniel dan Marlon bersamaan.
Aku cepat mengambil minuman coklat dingin, membagikan John dan adik-adikku. Mood John biasanya akan hancur kalau sudah membahas keluarga seperti ini. Tanggung jawabnya terlalu berat.
" John tenanglah, aku bisa menjamin ini tidak bahaya " Kata Marlon memecah kesunyian.
" Ehmm... Memangnya ada apa ? " Tanya Aniel setelah meminum coklat.
" Kau tidak bicara sedikitpun tentang keluarga kita kan Aniel ?? " Tanya John tegas
" John tenanglah. Aniel sudah tidak selemah dulu " Kataku sambil berusaha menenangkan John.
" Iya kak John, aku tidak mengatakan apapun. Tapi, dia pergi dengan muka marah. Sepertinya dia akan berulah lagi besok "
" Baiklah kalau begitu, Marlon tetap kerjakan tugasmu. Tapi, jangan sampai ketahuan sama fansmu. Kau harus menyelesaikannya dengan bersih. Dan cara menyelesaikan masalah ini ku serahkan padamu. Paham ??" Tanya John setelah menjelaskan rencananya.
" Baik kak John, besok aku akan lakukan dengan sempurna " Jawab Marlon
" Bagus, katakan kepadaku jika ada perkembangannya. Kalau bisa lebih cepat. Jangan sampai kehidupan sekolah kalian terganggu karena masalah sepele seperti itu. Baiklah sekarang waktunya kalian tidur. " Kata John
" Siap kak John !!! " Jawab Marlon dan Aniel serempak
" Mari tuan putri jalan lebih dulu " Kata Marlon sambil mempersilahkan Aniel
" Hihi.. Terima kasih !! " Jawab Aniel senang.
Mereka akhirnya naik dan masuk ke kamar.
Aku membersihkan semua gelas dan piring kotor, serta meja makan. Setelah itu aku menemui John masih bekerja.
" Huffttt... Akhirnya selesai !! Aku lelah sekali seharian kerja terus. Memulai tahun ajaran baru selelah ini kah ??" Kata John dengan suara yang malas
" Seperti yang diharapkan dari seorang John, bisa dengan cepat menyelesaikan masalah sebanyak itu. Kau tidak bisa berhenti membuatku kagum John " Kataku dengan wajah tersenyum
" Oohh begitu. Aneh sekali, orang yang selalu bersamaku ini tidak bisa berhenti kagum. Padahal, orang saja sudah tidak heran "
" Ehhhh... Maksudmu apa John ? Mau meledekku ya, tega sekali sih. Kapan sih kau berhenti mengangguku seperti itu ? "
" Hmmm... Tidak akan pernah. Karena, hobiku salah satunya menganggu Aurielku ini "
" Hahh !!? Sudahlah John aku mau tidur dulu "
" Eeehhh... Jangan marah seperti itu, tunggu aku Auriel "
Aku buru-buru meninggalkan John karena kesal. Tapi, dia dengan cepat sudah bisa berada di dekatku. Dia terus tersenyum melihatku. Huh pada awalnya aku tidak ingin memaafkannya sampai besok. Ternyata tidak mungkin, kalau begitu aku langsung saja tidur, daripada makin panjang.
" Auriel langsung tidur ?? Aneh sekali. Apa gara-gara tadi ? Biarkanlah dia tertidur. Aku juga ingin beres-beres sedikit lagi. Dan akhirnya bisa istirahat "
Dan begitulah akhir dari hari pertama mereka memulai tahun ajaran baru. Mereka tertidur lelap di kamar masing - masing. Keseharian mereka berempat yang tinggal di rumah besar itu. Tanpa ada orang tua di rumah, karena ayah dan bunda mereka jarang sekali pulang. Dan satu hari lagi berakhir diwarnai dengan keceriaan, pertengkaran, kesedihan, kebahagiaan yang berkumpul menjadi satu.