
Setelah memperhatikan ruang kerja itu, Alex tidak dapat menemukan sesuatu yang menarik. Dan melihat Yuli begitu lama tidak menyadari kehadirannya. Alex mulai kesal "Yuli !!! " Yuli terkejut sampai menjatuhkan beberapa dokumennya.
Alex mendekati Yuli dengan tatapan yang sangat marah. Yuli hanya bisa mengalihkan pandangannya dan melihat laptop di depannya.
Alex mengambil dokumen yang berserakan di lantai. Setelah membacanya sedikit, Alex menatap Yuli dengan heran.
" Ini bukan Tugas sekolah Yu "
Yuli memotong perkataan Alex, dan merebut dokumen yang dipegang Alex.
" Iya, bapak memang memintaku untuk mempelajari semua ini. Mungkin untuk latihan ku "
" Om memintamu? Apakah di kantor ada masalah ? Anaknya sampai dipersiapkan walau masih SMA "
" Aku tidak tahu Alex. Dan, aku minta maaf tidak bisa serutin biasanya menjaga adikmu "
Alex terdiam melihat Yuli sudah fokus lagi dengan tugasnya. Ia teringat akan tujuan awalnya mencari Yuli.
" Yuli, sebenarnya aku kesini ingin memberi kabar baik, bukan untuk marah atau mengganggu "
" Hmm, Alex diterima menjadi OSIS ? "
" Ternyata aku memang semudah itu dibaca ? "
Yuli tertawa kecil mendengar Alex tanpa melepaskan pandangan dari layar laptop. Tangannya pun masih sibuk mengetik.
Alex merasa Yuli tidak memperhatikannya. Ia mengambil kursi, lalu duduk menopang dagu memandang Yuli. Setelah 15 menit, Yuli berhenti mengetik dan terkejut melihat Alex memandanginya.
" Alex sejak kapan kau disana ? "
" Yuli, aku sudah lama duduk disini. Kau tidak menyadari ku sama sekali ? "
" Aku mengira kau sudah pergi. Karena, ruangan ini menjadi sepi "
" Aku kesal Yul, kau tidak memperhatikan sepanjang pembicaraan kita tadi. Jadi, lebih baik menunggu tugasmu selesai. Setelah itu, kita puas bercerita "
" Kau bisa tunggu diluar. Untuk apa duduk disini ? "
" Supaya bisa memandang wajah serius Yuli, terlihat lebih menawan dari biasanya "
Yuli terkejut mendengarnya. Ia berhenti melihat Alex dan berusaha fokus pada laptopnya. Melihat Yuli kembali seperti itu. Alex juga tidak berpindah tempat.
Lama kelamaan Yuli tidak tahan dipandangi terus menerus dan akhirnya mengalah.
" Baiklah Alex kau menang, kita turun dan berbincang sekarang " kata Yuli dan segera menutup laptopnya.
Wajah Alex terlihat senang, Yuli hanya tersenyum melihatnya.
Mereka turun ke ruang keluarga mendapati keempat adik mereka bermain di sana.
" Kakak!!! " Ketiga anak itu berlari dengan riang ke arah Yuli dan Alex
" Kalian sejak kapan disini? " Tanya Yuli
" Kalian tidak mendengarku ya, malah mengikuti kesini " Kata Alex dengan wajah cemberut
" Sudahlah Alex, kebetulan semuanya di sini, kenapa kita tidak bermain bersama saja? "
" Iyaa " Keempat anak itu terlihat sangat bahagia
" Ehh, kalian curang sekali. Sekarang waktunya Quality time yang berharga dengan Yuli "
Yuli tersentak mendengar perkataan Alex.
" Kalian keluar lebih dulu ya, kakak akan mengambilkan mainan. Bibi bisa istirahat saja "
" Alex maaf ya, karena adik kita di sini berbincangnya nanti saja. Quality time ditunda dulu " (Alex benar-benar tidak memikirkan perkataannya, kata-katanya benar-benar membuatku terkejut. Semoga aku pintar menyembunyikan ekspresiku, wajahku tidak memerah kan?) Yuli memegang wajahnya dan segera meninggalkan Alex.
" Ehh Yull tunggu dulu!! Dia pergi begitu saja, setidaknya tunggu aku berbicara dulu. Sepertinya aku harus merebut Yuli lagi dari mereka " Alex menyusul Yuli keluar rumah.
Seperti biasa, si kembar berebut mainan yang dibawa Yuli, adik Alex yang termuda Rendy hanya menatap Gavin dan Giselle dengan heran. Sedangkan adik pertama Alex, satu-satunya putri di keluarga Xavier, Velika hanya tertawa melihat keributan itu. Yuli kewalahan saat melerai Gavin dan Giselle, setelah dibantu Velika, mereka berhasil.
Karena saat Yuli dan Alex tidak ada, Velika yang bermain dengan mereka. Oleh karena itu si kembar Carney dan Rendy selalu mendengar yang dikatakan Velika. Walau, bagi mereka tidak ada yang semenakutkan kak Alex.
" Hey kalian tidak bisakah bergiliran saja bermainnya? Yuli kau jangan memanjakan mereka, Contohlah Vel, menurutku itu cara yang bagus untuk mengajar bocah ini. Dan Vel, kenapa kau tidak membawa mereka pergi bermain di tempat lain " Alex berusaha menahan agar wajahnya tidak terlihat kesal.
Velika menarik kakaknya dan berbisik
" Bagaimana mungkin aku pergi membawa mereka? Kakak juga tau apa yang terjadi saat Gavin dan Giselle sudah bersama kak Yuli. Mereka tidak akan mau berpisah "
Velika mulai panik ketika melihat wajah kakaknya semakin kesal
" Aku tidak peduli Vel, kalian sudah mengganggu waktuku dengan Yuli. Jadi, kau harus bertanggung jawab atau... " Belum selesai Alex berbicara, Velika sudah menganggukkan kepalanya
" Baik kak, tenang saja ya. Jangan marah oke? "
Velika dengan cepat melambaikan tangan kepada Gavin dan Giselle. Sedangkan Yuli memandang mereka dengan penasaran, entah apa maksud lambaian tangan itu, Gavin dan Giselle menganggukkan kepala. Setelah itu, mereka membalikkan badan dan berbicara dengan Yuli
" Terima kasih kak Yul sudah meluangkan waktunya bagi kami. Kami mulai bosan. Jadi ingin berjalan-jalan dengan Rendy, kak Velika dan Bibi "
Yuli melihat adiknya pergi mengikuti Velika, berebut untuk bergandengan tangan. Velika yang tangan kirinya sudah menggandeng Rendy, sementara tangan kanannya masih diperebutkan si kembar. Pada akhirnya Giselle yang menggandeng tangan kanan Velika. Mereka berjalan ke kediaman Xavier.
Alex bernapas lega melihat Velika berhasil membawa si kembar meninggalkan kakaknya. Sekarang sudah waktunya berbicara dengan Yuli. Alex segera mendekati Yuli yang masih melihat adik-adiknya.
" Yuli, mereka sudah pergi. Kurasa sudah waktunya kita berbicara? "
Yuli tersenyum mendengar kata-kata Alex
" Alex, kau yang meminta Velika untuk membawa mereka pergi bukan? "
Alex membalas pertanyaan Yuli dengan senyuman dan segera menariknya masuk ke rumah. Yuli menghela napas dan membiarkan Alex menarik tangannya.
" Baiklah Alex, sekarang waktuku hanya untukmu. Silahkan ceritakan kejadian hari ini "
" Aku senang mendengarnya. Tapi Yul, apa kau menyembunyikan sesuatu ? "
" Tidak ada " Yuli menjawab dengan santai
Alex mulai yakin ada yang tidak beres
" Kau kira sudah berapa lama kita bersama? Sama seperti dirimu yang dapat membacaku. Aku juga dapat membacamu Yulia Carney " Yuli terdiam menatap Alex
" Yuli!!! Tolong jangan diam saja. Aku tidak bisa membantu apa-apa kalau begini "
Yuli menutup mata dan menundukkan kepala, seakan tidak ingin mendengar suara pria didepannya
Keheningan memenuhi ruangan tersebut.
Sekali lagi Alex merasa diacuhkan. Dia sudah tidak bisa menahan diri. Baru saja ingin berbicara, Yuli sudah menatapnya
" Kalau begitu jangan membantuku!! "
Alex tertegun mendengar Yuli meneriakinya, Yuli terlihat terkejut dan berlari ke kamarnya.
" Kapan terakhir kali aku melihat Yuli sehancur itu? Bukannya jawaban, yang kudapat malah wajahnya yang sedang menahan tangis. Aku gagal menolongnya. Mungkin ini perasaan Yuli saat melihatku dulu "
Alex berjalan pelan menuju kamar Yuli di lantai dua. Di depan pintu terdengar lirih suara tangisan Yuli. Alex duduk termenung di depan pintu kamar Yuli.
" Sepertinya ini pernah terjadi dulu. Saat itu apa pikiranmu sama seperti pikiranku saat ini? "