Terpaksa Menikahi CEO Lumpuh

Terpaksa Menikahi CEO Lumpuh
Ambyar


Dengan rasa cemburunya yang menggelora di dadanya, Aidan bersabar menunggu Deandra berakhir syuting, sementara itu Lucky kebagian tugas untuk minta izin pada kru agar tuannya bisa menemui Deandra saat break syuting.


Satu jam berlalu, waktu jam makan siang pun tiba. Sutradara pun mengumumkan untuk istirahat sejenak. Salah satu maid yang menemani Deandra bergegas menghampiri nona mudanya dengan membawa botol minum untuk Deandra.


“Makasih Mbak Nurul,” ucap Deandra, langsung meneguk minumnya.


“Permisi Mbak Deandra, ada yang ingin bertemu. Dari tadi orangnya sudah menunggu di sana,” ucap salah satu kru sembari menunjukkan keberadaan Aidan.


Pria itu melambaikan tangannya pada Deandra saat wanita itu menatap ke arah sana.


“What!” Untuk persekian detik wanita itu tercengang melihat keberadaan Aidan tanpa menggunakan kursi rodanya, dan tak lama pria itu melangkahkan kakinya dengan gerakan melambat.


“Di-dia sudah bisa jalan! Sejak kapan!” gumam Deandra sendiri agak terbata. “Tapi tahu dari mana aku di sini?"


Salah satu kru bersama maid Deandra menepi ketika Aidan sudah mendekati keberadaannya.


“Assalamualaikum, Dea,” sapa Aidan berusaha lembut dan terlihat tidak cemburu seperti waktu menunggu.


“Alaikumsalam,” jawab Deandra pelan, dia terpaksa menerima kehadiran pria itu, karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk mengusir pria itu.


Pria itu menatap lekat wanita itu, lalu langkah kakinya semakin mendekati Deandra, hingga tidak ada jarak di antara mereka berdua. “Ini buat kamu, semoga suka,” ucap Aidan sembari menyodorkan buket bunga rose bersama sekotak cake.


Kening Deandra mengernyit melihat apa yang Aidan bawa, akan tetapi tetap dia terima. “Terima kasih,” jawab Deandra sedikit kaku.


“Dea, aku sudah bisa jalan,” kata Aidan tanpa mengalihkan tatapannya, dan dengan sengajanya saat memberikan buket bunga tersebut menyentuh tangan istrinya, akan tetapi wanita itu segera menepis tangan Aidan.


“Alhamdulillah jika Kak Aidan sudah bisa berjalan, terima kasih buat bunga dan kuenya. Aku permisi dulu mau istirahat,” ucap Deandra berpamitan, ekspresinya terlihat biasa saja menyikapi kehadiran Aidan.


Di saat Deandra ingin melangkahkan kakinya, Aidan menghalanginya, tangannya pun langsung melingkar di pinggang wanita itu. Deandra pun mendongakkan wajahnya ketika tubuhnya sudah dihalangi oleh Aidan.


“Jangan mencari keributan di sini Kak Aidan, aku sudah terima bunga dan cakenya, jadi sebaiknya lepaskan tangan Kak Aidan dari pinggangku, di sini banyak orang yang melihat kita!” ucap Deandra pelan namun setiap kata penuh penekan.


“Memangnya salah kalau aku menyentuh tubuh istriku sendiri ... hum? Atau kamu lebih suka dipeluk dengan pria lain ... hum?” Akhirnya keluar juga sikap cemburunya yang sedari tadi ditahannya.


Deandra memutar malas kedua bola matanya. “Kalau suka memangnya kenapa? Lagi pula sebentar lagi aku bukan istrimu lagi,” jawab Deandra agak menantang. Jangan dikira Aidan suka dengan hal itu, diambilnya kembali buket bunga dari tangan Deandra, lalu dicekalnya tangan wanita itu kemudian ditariknya untuk dibawa perginya, namun ajudan Deandra yang sedari tadi memantau langsung sigap menghalangi Aidan.


“Mau dibawa kemana Nona Deandra?” tanya pria yang memiliki tubuh tegap dan tinggi tersebut, bersamaan itu juga Karno bergegas mendampingi Aidan.


Aidan mendesah, baru teringat pasti ini orang suruhan Papa Harland buat menjaga istrinya. “Dia istriku, dan aku berhak membawanya kemana pun,” sentak Aidan.


“Mas Adam, ikuti saya dari belakang!” perintah Deandra, sama tidak ingin membuat keributan di studio. Aidan menarik napasnya dalam-dalam, lalu kembali menarik tangan Deandra dan membawanya ke dalam mobil.


Ketika Deandra masuk ke dalam mobil Aidan, dia berkata, “Jangan bertindak gegabah padaku jika tidak ingin papa tambah murka padamu, Kak Aidan.”


Aidan menolehkan wajahnya ke samping dan menatap lekat wajah cantik istrinya. “Sebenarnya bisa saja aku menculikmu hari ini juga, tapi aku tidak akan melakukannya. Aku hanya ingin mengajak istriku makan siang,” sahut Aidan, menahan untuk emosi.


“Istri ... istri saja yang dibahas,” gerutu Deandra, dipalingkan wajahnya ke arah jendela sembari mengusap perut datar. Aidan mengulas senyum tipisnya karena berhasil membawa Deandra pergi walau masih secara paksa. Mobil miliknya pun melaju meninggalkan studio, begitu juga mobil Deandra yang dikendarai oleh ajudannya untuk mengikuti mobil Aidan.


Pria itu mencondongkan dirinya ke samping agar lebih dekat dengan Deandra. “Dea, sekarang aku sudah tidak lumpuh lagi dan bisa berjalan, kamu maukan terima aku jadi suamimu, sesuai dengan ucapanmu yang ingin memiliki suami yang tidak cacat?” tanya Aidan nada suaranya pelan.


Deandra yang masih betah menatap jalanan, langsung menoleh ke samping dan agak tersentak melihat wajah tampan Aidan begitu dekat dengan wajahnya, hingga reflek agak memundurkan wajahnya, biar tidak beradu bibir dengan Aidan.


“Pembahasan tentang kita sudah selesai Kak Aidan, proses perceraian tetap akan aku ajukan. Banyak hal yang tidak cocok di antara kita berdua, jadi tolong kali ini aku mengikutimu hanya untuk menghargaimu, bukan untuk membahas tentang rumah tangga kita yang sudah usai. Mari sekarang kita menjalin hubungan layaknya saudara, bukankah kita saudara,” tutur Deandra.


Dengan sedikit memaksa, Aidan melingkarkan kembali tangannya di pinggang Deandra hingga tubuh wanita itu tak ada jarak lagi dengan Aidan, kemudian pria itu menatap dalam iris mata hazelbrown. “Mengapa begitu berat kamu membuka pintu maaf untukku Dea, aku sudah berusaha mengobati kelumpuhanku dan berusaha mengikuti terapi jalan semua karenamu. Aku tahu banyak kesalahan padamu, aku rela dimarahi olehmu atau dihukum olehmu, tapi tolong berikan aku kesempatan menjadi suamimu, aku tak ingin bercerai dirimu. Dan perlu kamu ketahui aku sudah menjatuhkan talak pada Poppy, dan kini hanya kamu istriku satu-satunya,” tutur Aidan, dengan kesungguhan hatinya.


Deandra melihat kejujuran serta kesungguhan Aidan dari sirat yang terpancar dari netra elangnya itu, tapi dia juga tercengang jika Poppy sudah diceraikannya, haruskah dia senang mendengarnya? Sepertinya tidak!


Aidan menempelkan keningnya ke kening Deandra, hembusan napas hangatnya menyapu hidung mancung wanita itu, bibir mereka berdua juga sudah semakin mendekat.


“Aku jatuh cinta padamu Dea, aku tidak mau kehilanganmu. Katakan padaku bagaimana caranya agar kamu mau kembali padaku? Katakan padaku Sayang, aku sungguh tersiksa jika kamu pergi dari ku?” tanya Aidan, tangan kanannya terulur ke atas, dan membelai lembut wajah Deandra.


Di saat Aidan memohon padanya, bersamaan juga si calon baby twin minta asupan gizi dari mamanya, dan hal itu membuat Deandra tidak terlalu engeh dengan ucapan Aidan.


“Lapar, pengen makan bakso, asinan buah, cilok, somay, batagor, soto mie,” kata Deandra.


Lucky yang kebetulan yang bawa mobil, langsung tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Deandra. Baiklah suasana haru membiru yang dibuat oleh Aidan langsung ambyar begitu saja dengan jawaban Deandra, maklum ibu hamil kalau perutnya lapar bakal gak konsentrasi diajak ngomong, isi kepalanya saat ini hanyalah menu makanan bukan menu cinta.


Deandra menarik keningnya dari kening Aidan, lalu menatap ke arah jalanan lagi. “Pak Lucky berhenti di depan ya, ada warung bakso tuh!” pinta Deandra.


Pria yang ada di sampingnya hanya bisa melongo, sudah ngomong serius eh malah jawabnya berbeda.


 Bersambung ...