
Ardan pun kembali masuk ke dalam kamar dan melihat lemari pakaian, yang ternyata sudah kosong,yang tersisa hanya pakaian nya sendiri, koper Kiara juga tidak ada,hal ini semakin membuat Ardan khawatir dan furstasi.
Melihat hal itu maid A dan maid B pun ikut masuk ke dalam kamar untuk melihat apakah benar Kiara sudah pergi dari Fila.
"Kiara! Kau di mana!"Jerit Ardan dengan perasaan yang kacau balau.
"Tu-tuan muda."Lirih maid B yang menujuk selembar kertas dan juga sebuah cincin di atas nya yang mendidih kertas tersebut.
Ardan menoleh ke atas nakas yang di tunjuk oleh maid B.
Dengan tangan yang gemetar Ardan meraih cincin dan kertas yang belum dia tau itu adalah kertas apa.
"Tidak, ini tidak mungkin."Ucap Ardan menatap nanar bait demi bait dari tulisan tersebut yang berisi tentang perceraian.
Terlihat juga sudah di tanda tangani oleh Kiara,dan cincin itu adalah cincin pernikahan mereka.
Dengan cepat Ardan merobek kertas tersebut dan memasukan cincin itu ke dalam laci nakas, ia pun berlari keluar dari Fila dan masuk ke dalam mobil nya.
"Astaga ternyata nyonya sudah meningal kan kita."Ucap maid A terlihat sangat sedih.
"Tidak, aku rasa dia hanya marah, berdoa lah agar nyonya kita kembali."Ucap maid B yang berusaha menguatkan maid A.
Sementara itu Ardan menyala kan mesin mobil nya dan melaju meninggalkan aula Fila.
Ia mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi, dengan perasaan campur aduk Ardan tidak tau harus mencari Kiara kemana, perasaan bersalah pun saat ini mulai menghantui dirinya, bayangan di mana dirinya marah dan cuek terhadap Kiara pun kembali terlihat di benak nya,apa lagi saat malam itu, dia mempermalukan Kiara dan membuat Kiara berharap.
Tujuan Ardan saat ini hanya lah satu,ya itu rumah mama El, mama mertua nya, dia benar-benar berharap jika Kiara akan ada di rumah orang tuanya.
"Sayang,di mana kau? Aku benar-benar minta maaf, tolong jangan seperti ini."Batin Ardan.
Tidak butuh waktu lama Ardan pun akhirnya tiba di kediaman mama El dan papa Bian.
Setelah memarkir kan mobil nya Ardan pun bergegas berlari ke dalam rumah mama El.
"Kiara! Kiara di mana kau? Kiara maaf kan aku!"Teriak Ardan yang saat itu langsung masuk ke dalam rumah mama El dengan memangil-mangil Kiara.
Kebetulan mama El saat itu sedang duduk di ruang tengah rumah nya dan mendengarkan teriakan Ardan.
"Ardan? Ada apa dengan anak itu? Mengapa dia datang dan menangil-mangil Kiara?"Batin mama El berdiri dari duduknya.
Mama El yang penasaran pun akhirnya melangkah kan kaki pergi menghampiri Ardan.
"Ardan?"Ucap mama El kaget melihat Ardan yang sekarang sudah bisa berjalan dan berdiri tegap tidak duduk di kursi roda lagi.
"Ma, ma di mana Kiara? Aku ingin bicara dengan nya ma."Ucap Ardan terlihat melirik sekeliling ruangan rumah itu.
"Astaga, ma tolong jangan berbohong, apa dia di kamar nya? Aku ingin minta maaf kepada nya ma, dia tidak boleh meningal kan aku seperti ini bahkan meningal kan surat penceraian."Ucap Ardan.
"Apa!? Apa itu benar Ardan?"Ucap mama El kaget.
"Iya ma, dia ada di sini kan? Izin akn aku bertemu dengan nya ma,aku mohon."Ucap Ardan memegang tangan mama El.
"Ardan, Kiara sama sekali tidak pernah datang ke sini, sejak kalian datang kemarin, sekarang ceritakan secara detail apa yang terjadi dengan kalian berdua? Cerita kan ke pada mama Ardan! Di mana putri mama!"Ucap mama El dengan nada suara tinggi.
"Ma, maaf kan aku,aku sudah lalai menjaga Kiara,aku menyakiti nya."Ucap Ardan yang kini terduduk lemah dengan bersandar di tembok rumah itu.
"Ardan, ayo duduk di sofa, kau harus menceritakan semua yang terjadi kepada mama."Ucap mama El yang sudah mulai khawatir akan Kiara.
Mama El pun memapah Ardan yabg sudah lemah untuk duduk ke sofa ruang tengah.
"Bi, ambil kan segelas air putih."Ucap mama El kepada pelayan nya.
"Baik nya."Jawab pelayan tersebut.
Tiga menit kemudian pelayan tersebut pun datang dengan membawa segelas air putih dan memberikan nya kepada mama El.
"Ini nyonya air nya."Ucap pelayan itu.
"Terima kasih bi, kau boleh kembali ke dapur."Ucap mama El.
"Ardan,ayo minum lah dulu."Ucap mama El memberikan air itu kepada Ardan.
Ardan pun mengambil nya dan meminum air itu beberapa tegukan dan kemudian kembali menaruh nya di atas meja depan sofa.
"Ardan tenang kan dirimu dan bicara lah."Ucap mama El.
"Ma, aku tidak menyangka kebodohan ku akan membuat nya pergi meninggalkan aku, hari itua ku pamit dengan nya untuk pergi ke kota lain, dengan Alasan bahwa aku mengerjakan proyek baru, tapi itu tidak benar, aku pergi ke kota itu karena aku ingin menjalankan pengobatan agar aku bisa kembali berjalan, dan aku tidak menyangka saat aku hampir pulang dari sana, sepupu ku datang menemui Kiara dan hampir melecehkan nya, dan ada orang yang mengirimkan Poto mereka ke ponsel ku, hal itu membuat aku salah paham dan membuat aku cuek kepada Kiara, aku tau hal ini sangat bodoh karena aku sudah bertindak tanpa menyelidiki semua ini."Ucap Ardan dengan wajah merah dan terlihat begitu menyesali perbuatannya.
"Lalu."Ucap mama El yang mata nya mulai berkaca-kaca.
"Lalu aku mencoba memanasi nya dengan berbagai macam cara agar dia jujur kepada ku, dan aku tidak menyangka dia akan meningal kan aku hari ini,dan setelah dia pergi baru lah aku mengetahui apa yang sebenarnya terjadi."Ucap Ardan menunduk.
"Ardan,mama benar-benar kecewa kepada mu, mama tau perasaan mu bagaimana, dan mama mohon, cari putri mama sampai ketemu,papa nya memiliki penyakit jantung, jangan sampai papa nya tau apa yang terjadi dengan kalian, mama mohon cari dia dan perbaiki rumah tangga kalian Ardan,jika tidak mama tidak tau akan maaf kan mu."Ucap mama El berusaha menahan air matanya yang sudah mulai berjatuhan membasahi pipi nya.
"Ma,aku berjanji akan memperbaiki semua ini,aku akan melakukan apapun demi Kiara, jika perlu aku akan bersujud minta maaf kepada nya, ma jika benar-benar dia tidak ada di sini,ijin kan aku pergi untuk mencari nya."Ucap Ardan kepada mama El.
Mama El menatap wajah Ardan yang saat itu terlihat mata nya juga sedikit sembab namun terlihat dia begitu kuat menahan nya.
Bersambung ....