Terpaksa Menikahi CEO Lumpuh

Terpaksa Menikahi CEO Lumpuh
Kemarahan Aidan


Gejolak amarah, cemburu semuanya menjadi satu, sudah tak terhingga lagi bagaimana Aidan menghajar pria yang sudah jatuh tersungkur di lantai tanpa memberinya celah, Arik benar-benar tidak berdaya karena semuanya datang dengan tiba-tibanya, hingga tak bisa melawan kekuatan Aidan.


“Berani sekali kamu melecehkan istriku ... huh!” pekik Aidan berbarengan dengan tinjuan yang dia layaknya di wajah Arik yang sudah babak belur.


Dibalik wajah babak belurnya, netra Arik membeliak mendengar ucapan Aidan. “I-istri P-pak Aidan,” gumam Arik dengan susah payah dia berkata, karena bibirnya sudah bengkak.


Lucky dan Karno bergegas menarik lengan Aidan setelah melihat kondisi Arik sudah tak berdaya.


“Cukup Tuan ... hentikan, dia bisa mati nanti Tuan juga yang akan repot, bisa masuk penjara,” pinta Lucky menahan diri Aidan, jangan sampai perbuatan tuannya jadi buah simalakama.


Aidan yang masih kelihatan bengis, menyeka peluhnya yang sedari tadi sudah merayap di wajahnya, kemudian dia memundurkan langkah kakinya, dan menghampiri istrinya yang menangis di atas ranjang dalam posisi meringkuk.


Hancur hati Aidan melihat kondisi Deandra, ingin rasanya dia menghajar Arik kembali. Pria itu bergegas membuka jasnya dan menutupi bagian atas tubuh Deandra yang kemejanya sudah dirobek, kemudian dipeluknya istrinya itu, semakin kencanglah Deandra menangis dipelukan Aidan.


“Karno, bawa dia ke kantor polisi sekarang juga! ” teriak Aidan.


“Baik Tuan,” jawab patuh Karno.


Arik yang masih terkapar dilantai, dipaksa untuk bangkit, dan pria itu memberontak. “Jangan hanya saya saja yang dilaporkan, tapi istri Pak Aidan juga dilaporkan!” sergah Arik.


Aidan langsung menoleh. “Maksudnya istri ... hanya Deandra istri saya!”


Dibalik wajah babak belur pria itu menyeringai tipis. “Poppy, dialah yang menginginkan Deandra hancur, dan mungkin sekarang dia ada di kamar 406,” jawab Arik.


Semakin emosi Aidan mendengarnya hingga ke ubun-ubun. Sementara di luar sana Adam mencari jejak nona mudanya dan untungnya bertemu dengan beberapa anak buah Karno yang diminta segera datang menuju lantai 4, Adam pun mengikutinya dengan perasaan tidak enak, karena kesalahan dia yang sempat tertidur di mobil, hingga akhirnya lalai dalam bertugas.


Aidan ingin menghampiri Poppy dikamar 406, tapi tangan Deandra makin mengerat memegang kemeja suaminya, seakan takut ditinggalkan oleh suaminya. Aidan semakin erat pula memeluk istrinya dan mengecup kening istrinya. “Ya Sayang, aku tidak akan meninggalkanmu.”


“Lucky, bawa Poppy ke kantor polisi juga!” perintah Aidan, saat kembali menatap mereka.


Pria itu pun mengangguk dan bergegas ke kamar sebelah, dan untung saja Adam dan anak buah Karno sudah tiba, jadi ada yang bisa menemaninya ke kamar sebelah.


Sementara itu Poppy dengan suasana hati yang senang, tidak tahu apa yang terjadi di kamar sebelah karena dia baru saja selesai berendam di bathup, dan kini dia sudah terlihat semakin segar. Pintu kamarnya pun berbunyi belnya, pikirnya makanan pesanannya sudah datang tapi yang terjadi ...


Anak buah tangan Karno langsung meringkus kedua tangannya, lalu menggereknya wanita itu ke kamar sebelah.


“Eh ... Apa-apa ini!” teriak Poppy, dia memberontak melepaskan kedua tangannya.


“Jangan pura-pura tidak tahu, Poppy!” celetuk Lucky dengan santainya.


“Kamu!” terkejut Poppy melihat keberadaan Lucky, dan dia semakin terkejut pula ketika dipaksa masuk ke dalam kamar 405, melihat semua orang yang ada dikamar tersebut.


“Kak Aidan,” gumam Poppy mulai meremang bulu kuduknya, untuk mundur tak bisa karena sudah di tahan oleh anak buah Karno.


Aidan menatap tajam Poppy, hatinya semakin memanas, geram.


“Sebentar ya Sayang, aku mau urus satu biang kerok ini,” pinta Aidan melembutkan suara, dan Deandra mengendurkan tangannya yang masih menggenggam kemeja suaminya.


Pria itu menunjukkan wajah garangnya, kemudian beranjak dari atas ranjang lalu mendekati wanita itu yang sudah ditahan oleh anak buah Karno.


“Kak!” teriak Poppy kesakitan.


“Bawa mereka berdua ke kantor polisi, bawa barang bukti serta saksi sampai istri saya bisa seperti ini!” perintah Aidan dengan tegasnya.


“Tidak ... jangan bawa aku ke kantor polisi, aku tidak tahu apa! Kak Aidan ... aku tidak tahu apa!” jawab Poppy benar-benar kalut.


Pria itu kembali menajamkan netranya. “Tidak perlu menyanggah Poppy, sampai ketemu di kantor polisi!”


Dengan cara memaksa dan menggeret, kedua orang tersebut benar-benar di bawa ke kantor polisi, karena kelakuan Arik sudah masuk kategori pemerkosaan yang dibantu oleh Poppy.


Kini Aidan kembali melihat kondisi Deandra yang masih menangis, dia pun kembali memeluk tubuh istrinya kemudian membopongnya.


“Kak, badanku gerah,” ucap Deandra begitu lirih, tangannya pun kembali memegang kemeja bagian dada Aidan. Sontak saja pria itu menghentikan langkah kakinya, dan merasakan sesuatu yang aneh pada istrinya.


Karno yang baru teringat sesuatu, menitip para tersangka pada team dan pihak security hotel lalu bergegas balik ke kamar.


“Tuan, saya mau memberitahukan sepertinya Nyonya diberikan sesuatu dalam minumnya,” kata Karno dengan napasnya yang engos-engosan.


Aidan bukan orang bodoh tentang hal itu, dan tahu apa yang harus dia lakukan.


“Lucky segera buka kamar di sini!” perintah Aidan.


Sang asisten menganggukkan kepalanya dan cepat turun ke bawah lalu kembali ke atas. Setelah urusan buka kamar sudah selesai, Aidan meminta Lucky, Karno dan Adam bersinergi memberitahukan kepada Papa Harland, dia tidak mau ada kesalahpahaman, sekaligus minta dibawakan baju ganti dirinya dan Deandra. Tapi dibalik hal itu Lucky mengendus-endus Tuannya bakal bermalam di hotel sama istrinya.


...----------------...


Kamar Suite President


Gak kaleng-kaleng Lucky pesan kamar buat tuan dan nyonya yang mau berduaan. Wajah Deandra sudah sangat memerah karena menangis dan menahan gejolak hasratnya yang belum juga tersalurkan. ketika Aidan sudah membaringkan tubuh Deandra, dia bergegas mengambilkan minum untuk Deandra.


“Minum dulu ya, Sayang,” pinta Aidan.


Deandra menarik gelas tersebut dengan tangannya yang gemetar, dan meneguknya hingga tandas.


“Maafkan aku ya sayang, tidak bisa melindungi mu.” Pria itu kembali memeluk Deandra dengan rasa penyesalan setelah menaruh gelas di atas nakas.


Tangan wanita itu mengusap netranya, lalu meraba dada bidang suaminya yang masih memeluk dirinya.


“Aku gak kuat, Kak, t-tolong aku,” ucapnya begitu lirih, efek menahan diri dari obat perangsang itu sangat menyakitkan, apalagi jika tidak disalurkan.


bersambung ...