
Seperti yang telah di janjikan oleh Bima dan Alina mereka mengajak Fany untuk bertemu di taman kota.
Fany yang sampai sekarang tidak mencurigai Bima dan Alina pun memutuskan untuk menemui mereka.
"Mana yang nya?"Tanya Fany kepada Alina.
"Ini!"Aku rasa uang itu cukup kan?"Tanya Alina kepada Fany.
Fany yang mata duitan pun melihat uang segepok yang banyak itu mata nya berbinar-binar.
"Cukup,ini sangat cukup, sekarang di mana Bima? Bukan kah dia berjanji akan membebaskan mas Jafin?"Tanya Fany.
"Dia ada di kantor polisi, dia meminta ku yang membawa mu ke sana "Ucap Alina.
"Baik lah,ayo sekarang juga ke kantor polisi."Ucap Fany senang.
"Tunggu di jalan, aku akan mengambil mobil ku dulu."Ucap Alina kepada Fany.
"Oke."Jawab Fany menurut yang kemudian berjalan menuju jalan raya dan berdiri sedikit meminggir di jalan raya tersebut.
Alina pun tersenyum miring dan kemudian berjalan menuju mobil nya dan segera masuk ke dalam mobil.
Alina mengambil ponsel nya yang ada di kursi mobil nya dan menelpon seseorang.
Call on.
"Hallo."Ucap seseorang di sebrang telpon tersebut.
"Iya Bima, ini aku Alina, ayo cepat."Ucap Alina kepada Bima.
Ya, orang yang di telpon Alina adalah Bima.
"Alina, apa sebaiknya kita batal kan saja rencana ini? Ini benar-benar berbahaya."Ucap Bima di sebrang telpon.
"Ayo Bima cepat lakukan, tabrak dia cepat."Ucap Alina yang saat ini sudah tidak mendengar kan ucapan Bima lagi.
"Tidak Alina aku tidak bisa."Ucap Bima tidak berani.
Ya ternyata itu lah rencana yang mereka bisikan semalam, mereka berniat menabrak Fany agar dia mati dan tidak membicarakan rahasia mereka ke Kiara.
Dan Bima tidak lah di kantor polisi melainkan ada di mobil tidak jauh dari taman kota tersebut.
"Bima cepat, sebelum ada orang yang mengetahui gerak-gerik kita!"Ucap Alina sekali lagi.
"Maaf Alina,aku tidak tega."Ucap Bima.
Call of
Namun setelah berkata seperti itu tiba-tiba telpon dari Alina di matikan Seca sepihak.
Tidak sampai di situ saja ternyata Alina nekat untuk menabrak Fany.
Dari kejauhan Fany yang sedang menunggu pun tidak tau bahaya akan datang ke pada nya.
Dan benar saja, saat ia melihat ke kiri, terlihat sebuah mobil yang melaju cepat ke arah nya dan ...
"Aaaaaa!"Teriak Fany kaget.
Brak...brak...brukh. (Mobil itu menabrak Fany hingga dirinya terpental jauh dan kepala menabrak batu.
Setelah melakukan aksi kejam nya itu Alina lun buru-buru kabur dari sana dengan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
Bima yang dari jauh melihat itu kaget dan gemetar,ia pun turut kabur dengan mengendarai mobil nya secepat mungkin.
Sementara orang-orang mengerumuni Fany yang sudah tergeletak di jalan dengan tubuh bersimbah darah. tidak ada satu orang pun yang tau mobil mana yang menabrak Fany karena siang itu kepada taman kota sedang sepi.
"Astaga kasihan sekali dia."Ucap orang-orang.
"Bagaimana ini cepat pangil ambulance."Ucap orang yang mengerumuni Fany.
Bau amis darah mulai menyengat dan kebayangkan orang tidak berani mendekati Fany sebelum ambulance datang.
Sementara itu di sisi lain.
"Akhirnya di perbaiki juga, semuanya sudah selesai."Ucap Kiara dengan senyum hambar menatap surat cerai itu.
Kiara pun masuk ke dalam mobil nya dan kemudian menyala kan mesin mobil dan melaju pergi meninggalkan aula kantor pengadilan agama.
"Mas Ardan,aku pikir kau akan bahagia setelah kepergian ku."Batin nya sambil mengemudi mobil.
Sementara itu ada dua jalur yang biasanya di lewati Kiara untuk kembali ke fila, tetapi entah kenapa kali ini ia ingin lewat di jalur yabg lebih jauh karena ingin berlama-lama di mobil, ia pun memutuskan untuk lewat di jalur yang melewati taman kota.
Sepuluh menit pun berlalu, awal masuk jalur itu Kiara merasa aman-aman saja dan lancar, tapi tepat di depan taman kota, ia melihat kerumunan orang yang begitu banyak di jalan raya yang dia lewati.
Akses jalan itu pun seperti nya terhambat, terlihat juga beberapa polisi sudah berdiri di sana.
Karena penasaran Kiara yang tidak bisa meneruskan mobil nya pun memilih turun dari mobil dan menghampiri kerumunan itu.
"Maaf permisi ada apa ini?"Tanya Kiara kepada salah satu orang yang ada di sana.
"Ada kejadian tabrak lari nona, sebaiknya kau jangan melihat nya, perempuan itu kondisi nya sangat memperihatinkan, karena di sini jauh dari rumah sakit sampai sekarang ambulance masih belum tiba, aku tidak yakin dia akan terselamatkan."Ucap orang tersebut sambil memasang wajah iba.
"Benar kah?"Kaget Kiara.
"Benar nona."Jawab orang itu lagi.
Meskipun Kiara merasa takut, tetapi entah kenapa ia rasa penasaran nya lebih besar, rasanya ia ingin sekali melihat siapa wanita yang di tabrak lari itu.
Kiara yabg tidak bisa menahan rasa penasaran itu pun akhirnya masuk ke dalam kerumunan tersebut.
"Misi-misi,biar kan aku melihat nya."Ucap Kiara kepada orang-orang.
Orang-orang yang ada di sana lun memberi nya jalan untuk melihat Fany.
Dan hal asil Kiara pun masuk ke barisan awal kerumunan, ia kaget sekaligus gemetar melihat siapa yang terbaring lemah dengan wajah yang bersimbah darah itu.
"Fa-fany!"Kaget Kiara mantap Fany.
Samar-samar Fany membuka mata nya, tubuh nya yang sudah lemah dan banyak mengeluarkan darah kini membuat nya sudah tidak bisa bertahan.
Sementara Kiara ia memegang sudah sangat membenci Fany,tapi biar bagaimanapun Fany pernah menjadi sabahat baik nya dan pernah mengalami suka duka bersama nya.
Fany perlahan mengangkat tangan nya, seolah meminta Kiara mendekati nya.
Kiara yabg mengerti pun akhirnya dengan pelan mendekati Fany, ia yabg awalnya takut darah menjadi melupakan ketakutan nya itu,air matanya mulai menetes ia sama sekali tidak berharap Fany akan seperti ini.
Perlahan Kiara meraih kepala Fany dan menaruhnya ke pangkuan nya, suasana semakin haru sat Kiara memegang tangan Fany.
"Ternyata nona itu mengenalinya."Bisik orang-orang.
"Fany,apa yang terjadi, siapa yang sudah melakukan ini kepada mu?"Tanya Kiara dengan air mata yang sudah menetes deras membasahi pipi nya.
"Ki-ara."Lirih Fany berusaha keras mengangkat bibir nya untuk bicara.
"Iya, ini aku."Jawab Kiara memegang pipi Fany.
"Ma-af,kan a-ku."Ucap Fany terbata-bata.
"Jangan bahas soal itu dulu Fany ayo katakan siapa yang melakukan ini?"Tanya Kiara.
"Ak-u, ti-dak t-au, ki-ara,kau, harus tau seua-tu."Ucap Feny lagi.
"Katakan Fany, katakan."Ucap Kiara.
Bersambung ....