
Perpisahan hanya untuk orang- orang yang mencintai dengan matanya. Karena untuk orang yang mencintai dengan jiwa dan hatinya tidak ada kata perpisahan.
...----------------...
Semakin lengkap kesedihan Aidan setibanya di rumah sakit keberadaan istrinya sudah tidak ada, dan pihak rumah sakit mengatakan jika pasien sudah pindah rumah sakit atas permintaan keluarga pasien tapi tidak tahu pindah ke rumah sakit yang mana.
Percuma saja Aidan memaksa pihak rumah sakit dengan cara kasar, karena Lucky dan Karno sudah menahan dirinya agar tidak membuat kegaduhan karena kepindahan istrinya.
Netra pria itu semakin memerah, hatinya juga terasa sesak, dirinya merutuki kesalahan dia kenapa tadi pergi begitu saja, lantas dia harus mencari kemana! Ponsel milik Papa Harland sudah tidak aktif.
“Karno sebar team untuk mencari informasi keberadaan istri saya, cari sampai ketemu!” perintah Aidan, dengan rasa sesak yang mengelayuti hatinya.
“Baik Tuan.”
Malam semakin larut, waktu sudah mulai menunjukkan dini hari, udara malam pun semakin dingin dan menusuk ke dalam pori-pori kulit. Lucky menyarankan tuannya untuk kembali beristirahat, besok akan dilanjutkan kembali pencariannya, lagi pula kepergian Deandra masih ada keluarga yang mendampinginya jadi tidak perlu terlalu lalu khawatir bujuk Lucky. Ada rasa enggan untuk pulang, kakinya terasa amat berat untuk meninggalkan rumah sakit, tapi percuma juga jika tetap ada di sana, tidak ada kekasih hatinya.
Papa Ricardo yang sudah sampai di mansionnya sendiri tidak mendapati keberadaan putranya, dan memutuskan untuk lanjut esok hari.
...----------------...
Keesokan hari.
Matahari sudah mulai menunjukkan sinar cerahnya pada dunia, tapi tidak secerah wajah Aidan yang masih berada di atas ranjangnya, pria itu terlihat lelah dan lesu, belum lagi netranya yang membengkak karena semalaman menangisi istrinya dengan penyesalannya yang amat begitu dalam.
Semalam Lucky mengantar tuannya untuk pulang ke mansion Papa Ricardo bukan mansion Aidan, karena menurutnya lebih baik kondisi seperti ini ada keluarga di sisinya, ketimbang sendirian di mansion yang hanya ditemani oleh para maid.
Sebagai asisten pribadi yang baik, di pagi itu dia sudah mengantarkan minuman jahe susu hangat, pisang goreng, air madu, telur ayam kampung setengah matang, ini adalah menu andalan Lucky kalau badan tidak sehat, dan Lucky punya keyakinan pasti tuannya sangat ini pasti terasa lelah. Lelah fisik dan batin, tapi itu juga karena ulah dia sendiri, andaikan bisa menghadapi masalah dengan tenang pasti istrinya tidak akan keluar dari rumah sakit.
“Pagi Tuan Aidan,” sapa Lucky ketika masuk ke dalam kamar, nampan yang dia bawa diletakkannya di atas meja sofa, lalu dia bergerak mendekati ranjang.
“Saya bawa makanan yamg bisa memulihkan tenaga Tuan. Bukankah Tuan berencana akan mencari Nyonya,” kata Lucky memberikan semangat.
Dibalik kata semangatnya, Lucky tergelitik untuk menertawakan Aidan yang sudah seperti anak gadis patah hati, benar-benar sangat persis lihatnya.
Aidan yang sudah membuka netranya sejak tadi terlihat tatapannya hampa, dia melihat Lucky tapi seakan tidak ada Lucky di hadapannya.
“Ayolah Tuan, semangatlah jangan seperti ini!” seru Lucky berusaha mengumpulkan semangat Aidan agar tidak terlalu lama larut dalam kesedihan, yang harus dilakukan adalah bergerak cepat.
Biarlah jika dirinya dikatakan tidak sopan oleh Aidan, dia menarik selimut yang dikenakan Aidan, kemudian menarik lengan pria itu, hingga pria itu bangun dan terduduk di atas ranjangnya.
“Bersedih boleh Tuan, tapi ingat jika kelamaan bersedih yang ada Nyonya diambil sama pria lain, Tuan'kan tahu sendiri Nyonya sangat cantik.”
Membulatlah netra elang Aidan pada Lucky. “Jangan asal ngomong kamu, dia istri saya!” gerutu Aidan. Lucky tersenyum mendengarnya.
“Saya sudah bawa makanan buat stamina Tuan, biar segar kembali.”
“Sayang benarkah kamu mengandung anakku, saat ini?” batin Aidan masih bertanya-tanya, hingga saat ini belum dapat jawaban mengenai hal ini.
Papa Ricardo di saat Aidan masih di kamar mandi masuk ke dalam kamarnya, dan kini terlihat sudah duduk di sofa, menanti dengan penuh kesabaran. Sementara di bawah sana Bu Nani tiba-tiba saja membawa tas ukuran sedang dan berpamitan pada Elena yang kebetulan bertemu di dapur kering.
“Bu Nani mau pulang kampungkah?” tanya Elena melihat asisten kepala pelayannya terlihat rapi.
Wajah Bu Nani tampak bingung mau bilang apa, sedangkan di luar gerbang sana sudah ada ajudan Papa Harland yang menjemputnya. Di satu sisi dia diminta untuk merahasiakan kepergiannya untuk sementara waktu, tapi di satu sisi Bu Nani tidak tega berbohong pada nona mudanya yang begitu baik hati padanya.
Elena memperhatikan dengan jelas, dan membaca kebimbangan yang terlukis di wajah Bu Nani. Elena semakin mendekati dirinya lalu menatap lekat Bu Nani.
“Jangan ada rahasia di antara kita Bu Nani, kalau Bu Nani ada masalah atau kesusahan ceritakan saja pada saya, siapa tahu saya bisa membantunya,” ucap Elena lembut dan tidak menutut.
Bu Nani menarik napasnya dalam-dalam lalu membalas tatapan Elena yang sangat bersahabat itu. “Begini Non Elena, saya minta izin dulu untuk menemui Non Deandra, katanya Non Deandra sakit dan menginginkan saya mengurusnya, dan sekarang sudah ada orang yang menjemput di luar, Non,” jawab Bu Nani.
Elena bernapas lega, lalu tersenyum. “Iya Deandra semalam pendarahan hampir saja keguguran, dan sekarang sedang di rawat di rumah sakit. Ya sudah saya izinkan Bu Nani untuk membantunya di sana, mungkin dia lebih nyaman dengan Bu Nani. Dan jangan lupa ponselnya aktif ya Bu, kalau sewaktu-waktu saat ingin menghubungi Bu Nani jadi mudah,” pinta Elena.
“Iya Non, ponsel saya selalu aktif. Kalau begitu permisi dulu Non, terima kasih banyak.”
“Sama-sama Bu Nani, hati-hati di jalan.”
Bu Nani tidak tahu jika dirinya akan dibawa ke Singapura, sementara Elena masih beranggapan Deandra dirawat di rumah sakit.
Kembali ke kamar Aidan ...
Setelah lega mengeluarkan isi perutnya, Aidan keluar dari kamar mandi dan Papa Ricardo sudah menyapanya serta meminta duduk bersamanya.
“Minumlah, sepertinya tadi kamu habis muntah.”
“Iya Pah.” Gelas yang berisi air madu langsung diteguknya, kemudian mengambil sepotong pisang goreng keju demi mengisi perut kosongnya. Untuk sesaat Papa Ricardo memberi waktu anaknya untuk mengunyah, setelah itu baru dia mulai bicara pokok permasalahannya.
“Aidan ada yang ingin Papa bicarakan tapi sebelumnya Papa minta maaf.”
Inilah yang ingin Aidan dengar. “Katakan Pah sebenarnya apa yang tidak ketahui olehku selama ini?”
Pria paruh baya itu menarik napas sejenak. “Deandra tidak pernah berselingkuh darimu, tidak pernah dekat dengan pria manapun, Papa bisa menjamin hal itu. Deandra sebenarnya hamil anakmu, Papa yang meminta dia menjalankan program inseminasi menggunakan benihmu di rumah sakit, dan ini buktinya,” tutur Papa Ricardo sembari menyodorkan surat perjanjian tempo hari dengan Deandra.
Wajah Aidan pias, kedua tangannya bergetar saat bergerak mengambil kertas dari tangan Papa Ricardo, lidahnya pun keluh tak sanggup untuk menyusun kalimat, yang ada kini netranya membaca surat perjanjian itu.
“Maaf jika Papa tidak memberitahukan tentang inseminasi, ini Papa lakukan demi kebaikan hubunganmu dengan Deandra, selain Papa Ingin memiliki cucu seperti teman Papa yang lain. Deandra hamil anakmu, dan anak kalian kembar.”
Bersambung ...