Terpaksa Menikahi CEO Lumpuh

Terpaksa Menikahi CEO Lumpuh
Tolong selamatkan istri saya!



Kantor Polisi


Papa Harland benar-benar terlihat murka setelah dapat kabar dari Adam mengenai anaknya dan kebetulan Papa Harland bersama Papa Ricardo sedang ada di kantor polisi untuk menemui Papa Ernest menindak lanjutkan masalah kasus pengalihan kekayaan milik istrinya.


Bertubi-tubi Papa Harland menghajar wajah Arik yang sudah babak belur jadi semakin hancur tak terbentuk, sementara dengan Poppy terpaksa hanya dicaci maki, wanita itu hanya bisa menundukkan kepalanya antara malu atau tidak suka, entahlah.


“Biadab memang kalian berdua ya! Memang pantas untuk dipenjara!” geram Papa Harland.


Papa Ricardo yang dalam keadaan duduk menatap lekat mantan menantunya yang masih menundukkan kepalanya. “Sudah sejak awal saya bilang bertobatlah, ternyata kamu mengikuti jejak kedua orang tua kamu!" tegur Papa Harland.


Poppy mengangkat wajahnya dan menyeringai tipis. “Buat apa aku bertobat, semua ini karena Deandra awalnya!”


Papa Harland berdecak kesal, lalu mencondongkan dirinya agar lebih bisa menunjukkan wajah amarahnya. “Ternyata Allah memang tidak salah menghukum hambanya, kamu tahu Poppy ... dibalik musibah kecelakaan mu, Allah sudah mencabut salah satu nikmatmu ... Allah telah mengangkat rahimmu dengan caranya hingga dokter memvonis kamu tidak akan bisa memiliki keturunan!”


Teganglah wajah Poppy, bibirnya nyang awalnya menyeringai kini mengangga. “Ti-tidak mungkin!”


“Mungkin saja, dan itu sudah terjadi! Sekalian saya ingatkan akta perceraian dengan Aidan secara resmi akan segera kamu terima,“ balas Papa Ricardo sembari beranjak dari duduknya, sudah cukup rasanya melihat wajah para tersangka hari ini, termasuk Mama Daisy yang di penjara di rumah sakit jiwa, disangka Dokter bisa dikibuli dengan berbagai rangkaian kesehatan, dan semakin lama Mama Daisy pun terpuruk, padahal sudah banyak rangkaian kejahatan yang ingin dia lakukan, namun terjebak di rumah sakit jiwa.


Hukum tetap harus ditegakkan, sesuai dengan kesalahan yang mereka buat.


Papa Ricardo menepuk bahu Papa Harland setelah menyelesaikan pelaporan kasus di rumah sakit. “Biarkan anakku merawat anakmu, Harland, Aidan suaminya dan aku yakin Aidan tidak akan menyakitinya kembali,” pinta Papa Ricardo, langkah kaki mereka berdua beriringan menuju ke parkiran mobil.


“Aku mengkhawatir calon baby twin, Kak Harland, walau bagaimana pun obat perangsang pasti ada efek sampingnya. Aku berharap semoga saja tidak terjadi sesuatu hal pada kandungan Dea.” Agak memelas Papa Harland berkata.


Papa Harland menghentikan langkah kakinya kemudian menoleh kesamping. “B-baby t-twin, j-jadi menantuku hamil anak kembar, Harland!” ujar Papa Harland terbata-bata, begitu berbinar-binar netra pria paruh baya itu mendengarnya, hatinya bahagia.


“Iya, Deandra hamil anak kembar.”


“Kalau begitu biar para ajudan standby di sekitar hotel, jika ada sesuatu hal yang terjadi kita lekas tahu,” ide Papa Ricardo, berharap besannya tidak ke hotel, dan memberi ruang untuk Aidan mengurus Deandra, lagi pula Deandra sudah selamat dari jeratan Arik dan Poppy.


...----------------...


Aidan dan Deandra terlihat sedang tidur berpelukan dalam waktu beberapa jam kemudian, namun tubuh Deandra kembali menggeliat, rupanya efek obat tersebut masih ada, dan akhirnya dia membangunkan suaminya dan kembali mereguk nikmatnya surga dunia. Dengan senang hati sang suami menggauli istrinya, dan kembali menyembur benih cintanya.


Namun, tiba-tiba saja saat menggauli istirnya, Deandra merasa perutnya kram.


“Aaakh ... Kak perutku sakit sekali,” keluh Deandra wajahnya mulai meringis kesakitan.


“Ya sayang ...” Pria itu mencabut bagian intimnya dari sarangnya, netranya pun langsung terbelalak.


“Sayang ... punyamu keluar darah ... kamu kayaknya haid,” kata Aidan yang sudah berpengalaman.


“HAH ... d-darah!” Terkejut Deandra. “Nggak ... enggak mungkin keluar darah ... enggak.” Deandra mengusap perutnya, air matanya mulai berlinang, pikirannya langsung ke kandungannya.


Aidan memperhatikan darah yang keluar seperti darah segar, bukan darah kotor, wajah pria itu mulai panik, dengan terburu-buru dia memakai boxer dan celana panjangnya serta kemejanya.


Dengan gerak cepat, Aidan memakaikan bathrope ke tubuh Deandra, wajah Aidan semakin cemas melihat wajah istrinya semakin memucat seperti tidak ada darah di wajahnya, Deandra terus merintih kesakitan.


“Sayang mama jangan pergi, nak,” batin Deandra menangis.


Dibopongnya Deandra, lalu pria itu berlarian menuju lobby hotel dengan netranya ikut membasah, bagaimana dia tidak ikutan menangis melihat begitu banyak darah yang keluar, ditambah rintihan kesakitan dari bibir Deandra.


Karno yang sudah menunggu di bawah bergegas membukakan pintu mobil untuk Aidan dan Deandra, dan kebetulan sudah tiba Adam, seperti biasa Adam melaporkan ke Papa Harland jika Deandra dibawa ke rumah sakit.


“Ngebut bawa mobilnya Karno ke rumah sakit, istriku kesakitan!” perintah Aidan agak berteriak kencang.


“Baik Tuan.”


Aidan menatap pilu wajah Deandra yang kini ada di atas pangkuannya, dia bisa merasakan tangan dan kaki istrinya mulai dingin.


“Sayang, bertahanlah kita ke rumah sakit ... Jangan pejamkan matamu sayang,” pinta Aidan dengan rasa khawatirnya begitu tinggi, diusapnya pipi Deandra agar terasa hangat, lalu mengecup keningnya berulang kali.


“Kalau aku salah, aku minta maaf, aku tidak tahu apa yang terjadi padamu,” lanjut kata Aidan, didekapnya dengan erat istrinya yang sudah tampak lemas, kedua paha Aidan pun sudah terkena noda darah.


“Tolong selamatkan mereka, Kak Aidan,” pinta Deandra hampir tak terdengar suaranya.


“Aku akan menyelamatkanmu sayang, kalau perlu aku tukar nyawamu untukku.”


Wanita itu menatap wajah suaminya dan mengusap lembut rahang pria itu, lalu karena sudah terlalu lemas dia pun tak sadarkan diri.


“Sayang ... Sayang,” panggil Aidan sembari menepuk lembut pipi istrinya.


“Karno cepatan bawa mobilnya!” teriak Aidan mulai tambah panik.


Sebenarnya Karno sudah mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, namun kurang berasa buat tuannya. Papa Harland, dan Papa Ricardo sudah dapat kabar terbaru, maksud hati ingin kembali ke mansion akhirnya mobil mereka berputar arah menuju rumah sakit. Kedua calon opa itu sudah mudah resah, hatinya sudah tidak karuan lagi.


“Ya Allah ... selamatkan anak dan calon cucuku, semoga tidak terjadi hal yang fatal,” batin Papa Harland berdoa, dan beristigfar.


40 menit mobil yang ditumpangi Aidan dan Deandra sudah tiba di luar lobby rumah sakit bagian IGD  Pria itu bergegas keluar saat security rumah sakit telah membukakan pintu mobilnya.


Brankar sudah tersedia di luar lobby rumah sakit begitu pula para medis yang selalu stand by, jadi Aidan langsung merebahkan tubuh Deandra.


“Dokter, t-tolong selamatkan istri saya ... Saya tidak mau kehilangannya,” pinta Aidan dengan suaranya terdengar parau karena menahan tangisannya, hatinya amat terpukul, apalagi melihat bathrope berwarna putih itu sudah ternoda dengan warna merah di bagian pinggang ke bawah.


Brankar yang ditepati oleh Deandra, langsung dibawa ke ruang IGD, pria itu mengikuti brankar tersebut, karena tangannya masih menggenggam erat tangan Deandra.


 “Sayang bertahanlah, tolong jangan tinggalkan aku.”


 bersambung ...