Terpaksa Menikahi CEO Lumpuh

Terpaksa Menikahi CEO Lumpuh
Episode 44


Kiara hanya bisa tersenyum dan kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk menyiapkan air mandi Ardan serta baju nya.


Sementara itu di luar kamar.


"El, di depan itu mobil siapa?"Tanya papa nya Kiara yabg baru saja pulang dari kantor nya.


"Itu mobil nya Ardan pa."Ucap mama El kepada papa Bian.


"Ardan? Apa dia ke sini bersama dengan putri kita?"Tanya papa Bian kaget.


"Ssssst, pelan kan suara mu pa, mereka bisa mendengar di kamar sana."Ucap mama El yang kemudian menarik tangan papa Bian ke dapur.


"Ada apa ini?"Ucap papa Bian terlihat sangat penasaran.


Mama El pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, dan itu membuat papa Bian kaget dan hampir tidak percaya.


"Bagaimana mungkin dia baik?"Ucap papa Bian tidak yakin.


"Iya pa, mereka seperti nya sudah saling jatuh cinta dan mereka terlihat sangat bahagia."Ucap mama El meyakinkan papa Bian.


"Bukan kah dia membenci Kiara? Bahkan sangat membenci nya? Laki-laki di dingin seperti Ardan,apa mungkin bisa menjadi hangat?"Ucap papa Bian masih ragu.


"Sudah lah pa, semua orang tau tidak ada yang tidak mungkin jika sudah atas nama cinta."Jelas mama El sambil tersenyum.


"Hmm, ya sudah,kalau begitu, papa ke kamar dulu ma."Ucap papa Bian yang masih di selimuti rasa bingung nya berjalan menaiki tangga menuju kamar nya.


Malam harinya.


Kini mereka sudah berkumpul bersama di ruang makan, Ardan terlihat begitu canggung saat papa Bian mengajak nya bicara, sementara Kiara seolah meyakinkan dia agar biasa saja dan tidak terlalu gugup.


"Sayang apa makanan nya enak?"Tanya mama El kepada Kiara.


"Cukup enak ma, sudah lama tidak makan masakan mama."Jawab Kiara makan dengan lahap.


"Ardan,apa masakan nya enak?"Tanya mama El yang kemudian menatap wajah Ardan.


"Ini cukup enak, aku bahkan belum pernah menikmati masakan seenak ini sebelum nya."Ucap Ardan tersenyum kecil.


"Wahh,kalau begitu makan lah yang banyak."Ucap mama El yang kemudian mengambil beberapa makanan menaruh nya ke dalam piring Ardan.


"Ma, jangan."Ucap Ardan berusaha menolak makanan yang banyak di taruh mama El ke dalam piring nya.


"Sudah makan saja."Ucap papa Bian kepada Kiara sambil sedikit terkekeh.


"I-iya pa."Ucap Ardan sedikit malu.


"Oh iya, bagaimana dengan kantor papa sekarang?"Ucap Ardan mulai membuka pembicaraan baru.


"Cu-cukup baik."Jawab papa Bian sedikit gugup menatap Ardan dan mama El secara bergantian.


"Tidak sia-sia mas Ardan membantu papa. Benar kan pa?"Tanya Kiara tiba-tiba.


"Mem, membantu?"Tanya Ardan bingung.


Ardan tentu tidak tau apa alasan papa Bian membujuk Kiara agar mau menikah dengan Ardan, namun Ardan mulai pekan dengan kode yang di berikan papa Bian kepada nya.


"Loh mas,bukan nya mas yang membantu perusahaan papa yang hampir bangkrut? Mengapa mas terlihat tidak tau seperti itu?"Tanya Kiara sedikit curiga.


"Ouhh, iya-iya, maaf aku tadi sedikit tidak mengerti."Ucap Ardan akhirnya paham.


"Yasudah, jangan bahas soal ini lagi sekarang makan, dan setelah itu istirahat, bukan kah kalian datang ke sini jauh-jauh, apa kalian tidak lelah?"Ucap mama El dengan pintar nya mengalihkan pembicaraan.


"Iya, ma iya, maaf."Ucap Kiara kepada mama nya.


Setelah tiga puluh menit berlalu mereka pun akhirnya selesai makan. Kiara ijin ke kamar sementara papa Bian dan Ardan masih di ruang tengah duduk di sofa sambil menonton tv.


"Ardan."Lirih papa Bian menangil nama menantu nya itu.


"Iya pa."Jawab Ardan yabg semula pandangan nya mengarah tv menjadi mengarah ke papa Bian.


"Sebelum nya papa ingin bicara kepada mu."Ucap papa Bian.


"Iya pa, silahkan."Ardan menjawab nya dengan pelan.


"Karena papa tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kepada Kiara, papa terpaksa mengatakan jika pernikahan kalian itu di langsung kan karena papa memerlukan bantuan dari mu, jadi kau jangan heran jika Kiara membicarakan soal bantuan dari mu di perusahaan papa."Jelas papa Bian tidak ingin membuat Ardan kepikiran tentang pembahasan di ruang makan tadi.


"Aku mengerti pa, dan Jujur saja, aku sekarang sudah tidak memikirkan apapun lagi tentang masa itu,aku benar-benar mintak maaf, dan satu lagi pa, putri kalian benar-benar membuat aku berubah dan jatuh cinta kepada nya "Ardan mengatakan itu dengan tulus dan sambil sesekali tersenyum karena malu.


"Jujur aku senang dengan rumah tangga kalian sekarang, dan satu lagi, aku mohon kepada mu jangan kasih tau dulu tentang kecelakaan itu."Ucap papa Bian khawatir jika Ardan akan mengatakan hal yang sebenarnya kepada Kiara.


"Iya, pa aku mengerti, dan aku juga tidak ingin merusak rumah tangga kami."Ucap Ardan sambil tersenyum kecil.


"Kau terlihat sangat menyayangi nya bukan?"Ledek papa Bian.


"Aihhh, tentu saja, dia mampu menurunkan amarah ku dengan waktu dua bulan."Jawab Ardan yang kemudian di susul tawa oleh papa Bian.


Sementara itu mama El yang sedang berbincang-bincang dengan Kiara menjadi bingung karena mendengar suara tawa papa Bian yabg lumayan kuat .


"Astaga,ma, apa mereka akan akur secepat itu?"Tanya Kiara kaget.


"Sayang, bukan kah kau tau jika Ardan tidak memiliki papa dan papa nya sudah a meningal sejak lama? Mungkin saja dia merasa kan sekarang bagaimana rasanya dekat dengan papa mu,mama ras situ wajar."Ucap mama El sambil memegang tangan Kiara.


"Iya ma, aku tau."Jawab Kiara agak sedikit sedih untuk Ardan.


Malam pukul 12:20


Kiara berjalan menuju ruang tengah untuk menjemput Ardan ke kamar karena ini sudah malam dan seharusnya dia sudah beristirahat.


Namun Kiara kaget melihat papa Bian dan Ardan yang sedang tertidur pulas saling senderan di sofa.


"Astaga."Ucap Kiara melihat tv yang masih menyala, terlihat pertandingan bola yang cukup seru.


Tepat saat itu mama El juga keluar dari kamar nya karena papa Bian juga belum kembali ke kamar.


"Kiara."Pangil mama El.


"Mama, sssst."Ucap Kiara menempelkan jari telunjuk di bibi nya.


"Ada apa?"Tanya mama El bingung.


"Lihat ma."Ucap Kiara menujuk sofa.


Mama El kaget karena melihat papa Bian dan Ardan yang sedang tertidur pulas.


"Mereka sedang tidur."Ucap mama El.


"Itu dia, terlihat seperti anak dan ayah bukan? Lucu sekali."Ucap Kiara menutup mulut nya sambil tertawa.


"Bagaimana ini?"Tanya mama El kebingungan.


Saat itu mama El dan Kiara hanya bisa saling tatap dan bingung,apa mereka harus membangun kedua orang itu atau membiarkan mereka tidur di sana.


Bersambung ....