
Malam hari cari mangga muda, ya ampun bikin Aidan kelimpungan mau cari dimana, tapi demi sang istri yang lagi ngidam tetap dia lakonin. Berbekal arahan sopir Papa Harland yang asli orang Singapura, mereka menyelusuri sepanjang distrik 15 (Marina Parade), melipir pelan-pelan dengan kecepatan mobil 20 km/jam, Aidan dan Lucky sama sama membuka lebar netranya agar tidak ada satu pohon pun yang terlewati.
“Tuan sepertinya di depan ada pohon mangga,” kata Lucky sembari menunjukkannya.
“Eh iya ada pohon mangga!” balas seru Aidan akhirnya perjalanan selama hampir dua jam terlihat juga sosok buah mangga yang kebetulan ada di pinggir jalan trotoar.
Mobil yang di tumpangi Aidan pun menepi dan menghentikan lajunya.
“Alhamdulillah, ketemu juga pohon mangganya,” gumam Aidan sembari menatap pohon mangga yang tidak berpemilik itu. Dia pun sudah ancang-ancang akan memanjat pohon mangga tersebut.
“Tuan yakin mau naik pohon mangga ini?” tanya Lucky, merasa kurang yakin tuannya mampu panjat pohon mangga.
Aidan menoleh kebelakang, menatap asistennya. “Demi istri dan anak saya harus bisa naik pohon mangga, jangan lupa kamu rekam pas saya panjat pohonnya dan petik buah mangganya buat bukti istri saya,” perintah Aidan.
“Oke Tuan, jangan lupa baca doa dulu, takut kenapa-napa,” sahut Lucky.
“Ya.”
Tanpa ada tangga kayu atau galah buat mengambil beberapa buah yang menggelantung di pohon, Aidan menyingsingkan lengan kemejanya dan langsung mencoba memanjat pohon. “Bismillah, mudahkan Ya Allah demi istri yang lagi ngidam buah mangga," gumam Aidan sendiri.
Lucky dan sopir Papa Harland berjaga-jaga di bawah dengan rasa ngeri-ngeri ngilu, karena lumayan tinggi pohon mangganya, takut Aidan jatuh dari atas pohon. Ada kemauan pasti ada jalan. Dengan kekuatan dan perjuangan, akhirnya beberapa buah mangga berhasil di petik. “Alhamdulillah,” ucap syukur Lucky melihat tuannya berhasil petik buah mangganya.
Satu jam kemudian ...
“Sayang, aku pulang,” teriak Aidan terdengar kegirangan dengan menenteng 4 buah mangga muda, menuju kamar Deandra.
Deandra yang terlihat belum tidur karena sengaja menunggu kepulangan suaminya, netranya langsung cerah seketika melihat buah yang masih berkulit hijau.
“Iih akhirnya ada mangga muda juga, ini beneran Kak Aidan yang petik sendirikan?” tanya Deandra, sembari melirik penampilan Aidan yang sudah terlihat dekil kemejanya.
Pria itu meletakkan buah mangga tersebut ke atas nakas, lalu dia mengeluarkan ponselnya dan ditunjukkanlah rekaman yang diambil oleh Lucky. Deandra pun tersenyum hangat melihat video tersebut, lalu mendongakkan wajahnya agar bisa menatap Aidan kembali.
“Makasih Kak Aidan,” ucap Deandra sungguh imutnya, kedua tangannya dibentangkannya tanda ingin memeluk suaminya.
Terbitlah senyum cerah dari wajah Aidan, lelah tergantikan dengan pelukan hangat dari istri tercinta.
“Nanti kupasin mangganya sama minta tolong sama Bu Nani buatkan sambal rujak ya, tapi sebelumnya Kak Aidan mandi dulu ... bajunya udah kotor dan berkeringat,” pinta Deandra setelah mengurai pelukan terima kasihnya.
Aidan menundukkan kepalanya untuk melihat kemajuan yang dia kenakan memang sudah kotor dan agak dekil.
“Aku ke Lucky dulu ya sayang, mau nyuruh dia ambil koperku yang masih di hotel,” ucap Aidan sebelum keluar dari kamar.
“Kak Aidan gak tidur di hotelkan? Soalnya tadi papa, mama sama kak Elena nginap di hotel, besok pagi baru ke sini lagi?” tanya Deandra dengan netranya yang mulai berkaca-kaca, entah kenapa gak rela hatinya kalau suaminya nginap di hotel, sementara dia ada di rumah.
Pria itu sedikit membungkukkan dirinya lalu mendekatkan wajah pada Deandra. “Masa aku tidur di hotel sayang, sedangkan istriku ada di sini ... hem,” jawab Aidan begitu lembutnya, lalu dikecupnya bibir Deandra sekilas, maunya sih yang lama, tapi ditunda dulu.
“Mmm ...,” gumam Deandra sembari mengangguk pelan, dan membiarkan suaminya untuk keluar sebentar. Hati Aidan semakin menghangat baru kali ini melihat Deandra tak menginginkan dia meninggalkannya.
“Lucky, kamu bisa balik ke hotel untuk beristirahat, nanti tolong titipkan koper saya pada sopir saja. Saya menginap di sini,” pinta Aidan saat menghampiri Lucky yang menunggu dirinya sembari menikmati kopi yang baru saja dibuatkan oleh maid.
Setelah koordinasi dengan Lucky, dia lanjut mencari Bu Nani untuk membuatkan bumbu rujak, sekalian mengambil wadah dan pisau untuk mengupas rujak, lalu kembali ke kamar Deandra. Bumil menoleh ke arah pintu saat terdengar kenop pintu berbunyi, lalu dia tersenyum tipis melihat suaminya kembali masuk.
“Sambil nunggu koperku tiba, aku kupas mangganya dulu buat kamu, takut anak-anakku ngeces di dalam, kalau nungguin aku mandi dulu nanti kelamaan,” kata Aidan, dia ambil satu buah kemudian duduk di tepi ranjang agar bisa bersama istrinya.
“Iya Kak, aku juga udah kepengen banget.”
“Bumbu rujaknya lagi dibuat sama Bu Nani, sebentar lagi diantar ke kamar.”
“Makasih ya Kak,” jawab Deandra lembut, netranya setia melihat jemari Aidan mengulas buah mangga tersebut, disangkanya pria tersebut tidak bisa mengupas buah, ternyata bisa.
Ada rasa haru dan hangat yang menyelusup di rongga-rongga dada wanita itu, entah kenapa kedua rasa itu tiba-tiba datang saat dia setiap memandang suaminya, ah ini benar-benar bawaan si calon baby twin yang ingin dekat dengan papanya, sampai mamanya mulai merasakan percikan rasa yang tak menentu.
Rasa hangat itu melebihi saat dia pertama kali jatuh cinta pada Arik, jauh berbeda. Dan anehnya rasa sisa cinta untuk Arik lenyap begitu saja tanpa ada sisa, bayangan wajah serta kenangan manis mereka selama enam bulan menjalin kasih juga entah pergi kemana, yang ada kini hanya wajah pria yang ada disampingnya itu. Sungguh jodoh yang tak disangka, walau dengan cara yang menyayatkan hati.
Aidan selama mengupas buah mangga, dan melihat daging buahnya masih berwarna putih, lidahnya sudah terasa ngilu, pasti sangat asam rasanya.
Pintu kamar pun terketuk, masuklah Bu Nani dengan semangkok bumbu rujak buatannya. Deandra sudah ambil posisi duduk yang nyaman di atas ranjang, dan mulai mencolek potongan mangga ke sambal rujaknya.
“Mmm ... enak banget rasanya,” ucap Deandra, dia kembali mengambil potongan mangga dan melakukan halnya sama.
Mmm semakin ngilu Aidan melihat istrinya melahap mangga muda tanpa wajah nyengir karena menahan rasa asamnya.
“Kak, buka mulutnya ... baby kita pengen papanya ikut makan rujak mangga muda,” pinta Deandra sembari menyodorkan potongan mangga ke bibir Aidan.
“Sayang ... tuh kan benar dugaan ku, oasti aku disuruh makan juga,” jawab Adian mulai tercekat tenggorokannya.
“Ayo dong Papa, anak kita kepengen Papa makan rujak, nanti anak papa pada ngecess diperut nih,” rengek Deandra pasang wajah cemberut.
Sinar mata Aidan langsung cerah mendengar panggilan Deandra barusan.
“Tadi coba ulangi lagi, panggil apa sayang?” pinta Aidan.
“Mmm ... Papa,” jawab Deandra malu-malu.
Aidan tersenyum bahagia mendengar kata papa yang keluar dari mulut Deandra, disentuhnya dagu wanita itu lalu dilabuhkannya bibirnya dengan lembut ke bibir Deandra yang berasa sambel rujak mangga.
So, malam kedua bersama-sama yang terasa semakin hangat, walau tanpa penyatuan masih banyak cara mengungkapkan rasa cinta mereka berdua.
Bersambung ...
Hai Kakak Readers semuanya info sejenak ya, ada novel yang baru saja liris nih, kali ini kisah dari anaknya Kavin dan Salma dari judul karya Bukan Pelakor Tapi Istri Yang Dibenci.
Kisah Rayyan Abizar Adiputra yang sebagai penerus perusahaan Daddy Kavin, yang memaksa sekretaris culunnya untuk menjadi istrinya agar Daddy Kavin tidak menuntut dia menikah dengan wanita manapun, karena dia sudah nyaman dengan kehidupannya sebagai casanova. Rayyan trauma dengan cinta karena pernah ditinggalkan oleh calon istrinya saat hari pernikahannya, karena itu dia memaksa Sasha sekretaris culunnya untuk menjadi istri di atas kertas.
Bagaimana kisah Rayyan dan Sasha yang belum ada rasa cinta dalam membangun rumah tangganya, apalagi Sasha selalu bikin Rayyan kesal! Yuk mampir ke karya terbaru, saya tunggu dukungannya. Makasih banyak sebelumnya.