
Aidan wajahnya masih terlihat bahagia dan selalu mengulas senyum hangatnya ketika duduk di tepi ranjang, menatap setia pada istrinya yang masih berada di alam mimpi. Berulang kali dia mengusap perut Deandra.
“Sayang, Papa datang nak, Papa sudah di sini,” gumam Aidan dengan bibirnya yang bergetar.
“Anak Papa harus kuat di perut mama, tapi jangan buat mama kesakitan, cukup papa saja yang sakit,” lanjut kata Aidan sendiri sedikit berbisik, agar istrinya tidak terganggu tidurnya.
Ternyata seperti ini bahagianya jika mengharapkan seorang istri mengandung anaknya, ya walau caranya tanpa sepengetahuan Aidan, tapi jujur memang Aidan sangat menginginkan Deandra mengandung anaknya, dan qadarullohnya sudah mengandung. Perasaan bahagia yang datang sangat berbeda saat mendapat kabar Poppy positif hamil, sama-sama bahagia tapi beda tingkatannya serta pengharapannya.
Aidan masih mengusap lembut perut istrinya, kemudian mencondongkan dirinya lalu mengecup lembut perut Deandra. “Papa sayang kalian semua, papa juga sayang sama mama,” gumamnya sendiri. Setelah itu, tubuhnya bergerak menuju wajah Deandra yang terlihat damai.
“Maafkan aku ya sayang, suami yang tidak becus ini ... maafkan aku,” gumam Aidan, tangan besarnya mengusap pipi putih Dendra, lama kelamaan dia mendekati lalu mengecup kening, turun ke hidung lalu bergeser ke pipi kanan dan pipi kiri. Sentuhan lembut itu ternyata mengusik ketenang Deandra, wanita itu menggeliat, bola matanya terlihat bergerak-gerak di dalam kelopak matanya. Dan pelan-pelan dia pun mulai mengerjapkan kedua netranya.
“K-Kak Aidan.” Terkejut Deandra melihat kehadiran suaminya yang ada di depan matanya. Pria itu tersenyum hangat dan menatapnya penuh kehangatan juga.
“Iya Sayang, ini aku ... maaf mengganggu tidur soremu sayang,” ucap Aidan begitu lembut sekali.
Deandra masih mengerjap-ngerjapkan kedua netranya bagai orang kelilipan debu, masih tidak percaya jika suaminya sudah ada di hadapannya, belum lagi tatapan itu begitu menghanyutkan dirinya, jauh berbeda saat pria itu sangat membencinya.
Pria itu mengulur tangannya dan kembali mengusap lembut pipi Deandra sebelah kanan. “Maafkan aku sayang, semalam aku meninggalkan dirimu di rumah sakit ... Aku sangat menyesal. Tolong maafkan aku,” pinta Aidan dengan memelasnya. “Aku benar-benar terkejut mendengar kamu pendarahan dan kamu mengandung,” ungkap Aidan, sesaat dia menundukkan kepalanya.
Deandra menyentuh tangan Aidan yang masih mengusap pipinya. “Bagaimana kalau aku mengandung anak pria lain? Apakah Kak Aidan akan berhenti mencintaiku lalu kembali membenciku, dan meninggalkanku seperti semalam, setelah apa yang telah kita lalui sore kemarin?” tanya Deandra, netranya menatap dalam Aidan yang masih menundukkan kepalanya.
Pria itu menaikkan kembali wajahnya dan menatap wajah istrinya dengan netranya yang berembun. “Aku marah mendengar kamu hamil semalam, dan berpikir kamu hamil anak dari pria lain, hatiku saat itu langsung hancur sayang, hancur karena kembali diduakan, tapi aku menyadari selama ini juga sudah begitu kasar, kejam padamu, dan sayang juga selalu ingin berpisah padaku, dasar pernikahan kita juga sudah salah dan keliru. Tanpa mengetahui lebih lanjut kamu hamil anak siapa, aku ingin belajar menerima keadaanmu jika memang kamu hamil anak pria lain, karena aku takut kehilanganmu.”
“Kalau boleh jujur jika di dalam perutmu adalah anak pria lain, aku tetap menerimamu asal kamu tidak pergi meninggalkanku, dan tidak kembali pada anak si bapak itu, cukup aku sebagai suamimu saja,” lanjut kata Aidan dengan kesungguhan hatinya.
“Benarkah kalau aku hamil anak orang lain, tetap menerimaku dan tidak membenciku seperti awal kita menikah, dan menerima anak yang aku kandung?”
Aidan segera menganggukkan kepalanya. “Aku tidak akan membencimu seperti dulu, tapi hanya marah saja bolehkan?” Aidan memasang wajah memelasnya.
Wanita itu mengusap punggung tangan suaminya yang masih berada dipipinya. “Aku bukan tipe wanita yang suka mendua Kak, walau aku tidak mencintai Kak Aidan, aku sangat menghargai ikatan pernikahan, jika pun aku menyukai seseorang mungkin harus menunggu statusku sebagai janda. Aku tidak akan berselingkuh dari suamiku yang kejam ini. Dan Kak Aidan tahukan aku sudah menyerahkan kehormatanku padamu, seharusnya dari situ Kak Aidan menyadari jika aku tidak pernah melakukan hal yang melanggar agama kita,” tutur Deandra.
“Di perut ini, sudah ada anakku'kan?” tanya Aidan menurunkan tatapan ke perut Deandra.
“Mmm ... mereka anakmu Kak Aidan, aku yang memutuskan ikut saran apa untuk inseminasi, walau aku masih sangat membencimu.”
Pria itu tersenyum getir mendengarnya, memang kenyataannya hubungan mereka atas dasar kebencian bukan karena saling jatuh cinta atau paling tidak sudah memiliki kedekatan sebelumnya, semuanya tidak ada.
Pria tampan itu kembali menatap dalam istrinya, dan sedikit menggeser duduknya. “Sayang, maukah kamu memaafkan aku dan menerima aku kembali jadi suamimu. Dan kita kembali dari awal untuk memperbaiki rumah tangga kita, sekarang sudah ada calon anak kita sayang,” pinta Aidan tatapannya begitu memohon.
Deandra menatap lekat Aidan, dan mencari kesungguhan hati pria itu. “Kalau aku tidak mencintai Kak Aidan, apakah masih menerima ku sebagai istri?”
Tidak ada suara mendesah kecewa dari mulut Aidan, pria itu justru semakin mendekati wajahnya dan tersenyum tipis saat menyentuh rambut wanita itu kemudian diselipkan kebagian belakang telinganya. Deandra tidak bisa mundur karena masih berbaring di atas ranjang, yang ada hanya membulatkan netranya sembari menahan napasnya.
“Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku sayang dan aku sabar menanti kamu mencintaiku,” ungkap Aidan. Bibirnya pun menyentuh bibir ranum istrinya dengan sentuh lembutnya, tangan kanannya pun menyelip di bagian punggung Deandra.
Deandra yang semula kaget, mulai mengikuti irama permainan suaminya, sungguh membuat hatinya berdesir, dan tanpa di sadarinya kedua tangannya melingkar di leher suaminya.
Bibir mungkin belum bisa mengatakan cinta, tapi dari bahasa tubuh hati Deandra sudah mulai menerima kehadiran suaminya, dan belajar menerima cinta yang begitu besar dari mantan kakak ipar angkatnya. Sungguh jalannya jodoh seseorang memang tidak pernah diketahui.
Wanita itu hanya menatap hangat, lalu tersenyum tipis saat jemari Aidan mengusap bibir ranum Deandra yang sudah terlihat membengkak.
“Cintai aku seumur hidup, jangan berbuat kejam lagi padaku, jangan jadi suami yang bodoh dan jangan berselingkuh kalau tidak ingin kaki Kak Aidan lumpuh kembali. Awas aja! Apalagi aku sedang mengandung!” celetuk Deandra dengan menunjukkan wajah polosnya.
Aidan terhenyak dan tidak memalingkan pandangannya. “Apakah ini tandanya kamu mau menerima aku dan mau memulai kembali rumah tangga kita, sayang?” tanya Aidan kembali agar lebih yakin.
Deandra mengangguk pelan sembari bergumam. “Alhamdulillah Ya Allah, makasih sayang,” ucap Aidan begitu bahagia, dipeluknya tubuh istrinya yang masih berada di atas ranjang.
Semua manusia pasti memiliki kesempatan kedua untuk memperbaiki semua kesalahan di masa lalu, selama betul-betul ingin merubah hal yang buruk menjadi lebih baik. Di mata Deandra, dia bisa melihat selama beberapa hari ini bagaimana pria itu mengejarnya, dan jangan salah semenjak awal menikahi Deandra, Aidan sudah ada rasa suka tapi tertutup dengan dendamnya. Dibalik pernikahan paksa karena ingin balas dendam, ternyata mengantarkan pria itu pada hakikat cinta yang sesungguhnya, dan berkat sikap memberontak Deandra justru mampu membangkitkan pria itu untuk berusaha kembali berjalan.
Ingat pepatah, dibalik musibah yang menimpa seseorang pasti ada hikmah yang tersembunyi, dibalik kesedihan pasti ada kebahagiaan yang telah disiapkan oleh Allah.
Hati Aidan sangat bahagia dan lega, sangking bahagianya dia memeluk erat istrinya.
“Kak Aidan jangan terlalu dipeluk, nanti anak kita penyek di dalam,” keluh Deandra yang sudah mulai engap.
Aidan baru menyadarinya dan langsung mengurai pelukannya, “Ya Allah, sayang ... aku lupa, duh maafin Papa ya sayang, anak Papa jangan jadi penyek ya,” ucap Aidan sembari mengecup perut Deandra berulang kali. Deandra menahan geli ketika suaminya masih saja mencium perutnya.
Dibalik kebahagiaan yang terjadi di dalam kamar Deandra, ternyata Papa Harland sejak tadi melihat dari celah pintu yang masih terbuka, tanpa disadarinya netranya berembun, dan turut bahagia melihat wajah anaknya kembali berseri-seri dengan kehadiran Aidan. Dia bisa merasakan dan teringat saat istrinya mengandung Deandra, begitu bahagianya Bianca kalau sudah berduaan dengan dirinya.
Dari sini Papa Harland bisa mengoreksi dirinya sebagai orang tua, tidak selamanya dia harus melindungi anaknya, dan tidak selamanya sebagai orang tua bisa membahagiakan anaknya, semakin bertambahnya tahun dia pun akan semakin menua. Rumah tangga anaknya tidak seharusnya dia ikut campur, walau tujuannya ingin memberi pelajaran berharga buat menantunya, tapi mau sampai kapan seperti itu? Bukankah sebagai orang tua ingin melihat anaknya bahagia dengan pernikahannya.
Papa Harland mengusap netranya yang hampir saja mengeluarkan air mata. “Papa hanya ingin melihat kamu hidup bahagia, Nak, sebelum Papa menyusul mamamu.”
"Kak Aidan ... udah aah geli, jangan dicium lagi perutku!" Deandra tertawa, dan disusul dengan Aidan yang ikut tertawa sangking gemasnya.
Bersambung ...