Teror 90 Hari

Teror 90 Hari
Bab 15


"ada apa den"tanya pak ujang


"via kesurupan pak"jawabku yang masih kaget dengan apa yang aku dengar tadi


tanpa pikir panjang pak ujang langsung menjalankan mobil lagi dan dia tidak bicara sedikitpun lagi


aku masih sibuk dengan pemikiran ku


"sebenarnya apa yang terjadi"gumam ku dalam hati anta kesal dan marah sama orang yang telah membuat orang tua dan sahabat ku seperti ini


andai saja aku tau siapa orang yang melakukan ini mungkin akan ku bunuh mereka semua seketika lamunan ku di buyarkan oleh pak ujang


"den kita sudah sampai"kata pak ujang


"iya pak"jawab ku


kami langsung turun mencari keberadaan suadara pak ujang setelah 15 menit akhirnya kami bertemu dengan beliau ternyata beliau masih muda


"assalamualaikum pak de"jawabnya


"walaikumsalam gi"kata paka ujang sambil memeluk saudaranya itu


"oh iya gi, ini anaknya majikan pak de namanya den bayu"kata pak ujang sambil memperkenalkan aku kepada saudaranya


"yogi"katanya sambil mengulurkan tangannya kepadaku dan aku sambut dengan senyuman


"bayu kak"jawab ku dengan sopan


dia terus melirik dan menatap ku dari kaki sampai kepala ku


"sejak kapan kamu membawa dia"katanya pada ku dan hal itu membuat aku bingung dengan pernyataan yang dia ajukan


"maksudnya gimana ya kak"tanya ku lagi


"sejak kapan kamu membawa wanita itu"katanya sambil menunjuk ke belakang ku sontak aku menoleh ke belakang dan melihat lagi sosok wanita dengan wajah hancur itu


"saya nggak tau kak, tapi dia selalu mengikuti saya dan teman saya"jelas ku


dia hanya mengguk-mangguk sambil senyum


"jangan terlalu percaya sama teman"tambahnya lagi


setelah itu pak ujang langsung membawah kami pulang dalam mobil tidak ada pembicaraan di antara kami aku hanya diam sambil melihat keluar jendela


tiba-tiba aku melihat sindi dengan orang tuanya tengah membeli bunga tapi yang anehnya mereka membeli bunga kembang tujuh rupa yang aku tau itu bunga buat sajen


aku terus memperhatikan mereka dari kejauhan dan kebetulan pada saat itu lampu merah jadi aku bisa melihat apa saja yang mereka lakukan


"jangan terlalu di perhatikan nanti kamu juga yang akan kena imbasnya"tegur bang yogi kepada ku


"maksudnya gimana bang"kataku yang heran


"kita liat aja setelah pengobatan kamu dan teman kamu selesai siapa orang yang penuh dengan luka cacar nanti maka itu orang yang ingin keluarga kamu dan teman kami mati"jelas bang yogi dan aku hanya diam mendengarkan perkataannya


jujur aku ingin semua ini berakhir dengan cepat karena aku nggak sanggup liat orang-orang yang aku sayang menderita


tak lama kami sudah sampai di rumah ku dan aku langsung mempersilahkan bang yogi masuk dan memberikan minum serta cemilan karena perjalana yang di tempuh lumayan jauh


sementara mama ku sudah membersihkan kamar tamu untuk bang yogi


"kita nggak bisa lama di rumah ini sudab terlalu banyak yang di tamam di rumah ini segera. bereskan barang-barang kamu dan juga orang tua mu yu sekalian kita jemput teman kamu"kat bang yogi


sebelum aku menjawab mama langsung mengiyakan perkataan bang yogi entah apa yang terjadi saat kami pergi dan ternyata barang-barang ku sudah di kemas oleh mama dan tinggal di bawah saja


kami semua meninggalkan rumah dan seluruh pekerja di rumah itu ikut dengan kami kami menuju rumah via aku dan bang yogi satu mobil bersama mama dan papa ku dan kang ujang dengan yang lainnya


sesampainya di rumah via kami sudah di tunggu ustad hakim dan keluarga via di luar dengan barang-barang mereka dan aku melihat via diam dengan tatapan kosong serta wajah yang sangat pucat dan di rumah itu aku mencium bau busuk, kemenyan serta bau anyir darah


"kita mau kemana sih ma"tanya ku pada mamaku namun yang menjawab bukan mama melainkan ustad hakim


"kita ke kampungnya kang ujang untuk sementara waktu, karna di situ kalian akan melakukan pengobatan"jelas ustad hakim


"di sini terlalu berbahaya yu, terlalu banyak yang tertanam di rumah kamu dan rumah ini bahkan saat ini sukma via sudah mereka bawah ke alam mereka kita harus cepat yu"tambah ustad. hakim lagi


dan penjelasan itu berhasil membuat saya terdiam seribu bahasa dan pantas saja via diam dengan tatapan kosong


apa yang akan terjadi selanjutnya?


apakah mereka bisa bebas dari teror yang terus menyerang mereka?


atau mereka yang akan menjadi korban dari teror itu?


**jangan lupa like, rate,voted dan komen ya


karna satu dukungan dari kalian sangat berarti buat author


dan terima kasih buat kalian yang udah like,rate,voted,dan komen karya author


karya ini hanya ada di noveltoon/mangatoon di ada di tempat lain itu semua plagiat ya guys


dan semoga di selalu dalam lindungan Yang kuasa dari wabah yang sedang melanda dunia saat ini


jangan lupa jaga kesehatan ya guys**