
Terik matahari telah tertelan oleh senja. Nara baru saja pulang ke rumah setelah seharian menghabiskan waktu bersama Chelsea sahabatnya bertukar banyak cerita.
Nara masuk ke dalam rumah. Samar terdengar di telinga suara ibunya sedang berbincang dan tertawa. Membuatnya bertanya dalam hati dengan siapa ibunya bicara, padahal di rumah ini tidak ada seorang pun selain ibunya. Ya, Alana tinggal di Jerman memilih untuk tidak ikut bersama hingga hanya dia dan ibunya yang kembali. lalu siapa yang saat ini berbincang dengan ibunya?
Dengan rasa penasaran Nara melangkahkan kaki menuju ruang makan tempat sumber suara.
Nara menghela napas berat saat telah berada di ruang makan, menatap ibunya yang berbincang sembari menata meja makan pada seorang lelaki yang duduk di kursi.
“Kak Milan!” gumamnya pelan berdiri menatap ibu dan Milan.
Ah mengapa dia berada di sini, decak Nara di dalam hati. Melihat lelaki yang sangat tidak ingin dia temui berada bersama ibunya.
Nara dengan cepat membalikkan badannya untuk pergi, mencoba menghindari bertemu dengan Milan.
Menyadari kedatangan Nara Keduanya pun kompak mengarahkan pandangannya ke arah gadis cantik itu.
“Ra, kamu sudah pulang sayang!” sapa ibu Salma buat langkanya terhenti.
Oh, astaga dia ketahuan.
"Ayo sini!" panggil ibu.
Nara berbalik namun hanya diam di tempat, mengarahkan tatapan menghunus ke arah Milan.
Menyadari tatapan putrinya, Salma pun menjelaskan.
“Nak Milan dari tadi bantuin ibu beberes terus susun panci,”
Pemuda tampan itu tersenyum ke arah Nara, membuat gadis itu mendengus memutar bola mata jengah. Uh kenapa juga Milan berada di sini.
“Ayo sini kita makan bersama! Ibu sudah masakin sayur asem kesukaan kamu!” ujar Ibu Salma.
“Nara ngak lapar bu!” sentaknya dengan nada dingin membuat raut wajah Milan berubah sendu.
Mendengar itu ibu Salma melangkah mendekat kearah Nara.
"Ada nak Milan di rumah ini, temani dia,” bujuk ibu Salma.
“Biarkan saja bu!” ketusnya.
“Ra, ayo duduk!” paksa ibu Salma menggiring tubuh mungil Nara untuk duduk di kursi dan sialnya lagi di samping pemuda yang telah menyakiti hatinya itu.
Jantung Milan semakin menggila saat duduk di samping Nara. Yess perempuan yang ia cintai duduk di sampingnya.
Nara memicingkan mata tak suka ke arah Milan dan hanya di balas senyuman oleh lelaki itu. Kan, benar-benar menyebalkan kesal Nara.
“Ayo kita makan!” seru ibu Salma seakan menjadi penengah.
“Ra, ambilkan nak Milan tuh!” titah ibu Salma pada putrinya.
Nara tercengang mendengar perintah ibunya.
“Bu, dia bisa ambil sendiri,” ketus Nara melirik sinis ke samping.
“Layani nak Milan,” gemes ibu Salma.
“Ngak usah bu, saya bisa ambil sendiri,” sela Milan.
“Kan, bu. Dia bukan anak kecil lagi,” sinisnya.
“Ra.” Geram ibu Salma membulatkan mata pada putrinya.
Atas perintah sang ibu Nara menyendok nasi, lalu mengisi piring untuk Milan.
“Terima kasih!” ucap Milan dengan senyum lembut.
Nara hanya mendengus.
Mereka pun mulai makan bersama.
“Saya senang bu melakukannya,” balas Milan membuat Nara memutar bola mata malas. Pandai sekali dia berpura-pura batin Nara.
Ibu Salma dan Milan terus mengobrol sembari makan sedangkan Nara hanya diam tak menimpali satu kata pun.
“Milan udah pesanin ibu panci susun terbaru untuk ibu yang edisi terbatas,” ucap Milan pada perempuan paruh baya penggila panci itu.
Mendengar itu membuat ibu Salma tercengang.
“Untuk ibu?” tanyanya memastikan.
“Iya, bu. Dan saya juga sudah pesan sebuah lemari kaca yang cukup besar untuk menaruh koleksi panci ibu!” tambah pemuda itu.
“Benarkah?” tanya ibu Salma manik matanya berbinar senang.
Berbeda dengan ibunya, Nara yang tadi mencoba menahan diri melihat ibu dan Milan, sekarang amarahnya memuncak mendengar apa yang akan di berikan Milan pada ibunya, seakan dia akan tinggal di sini.
Tring ...
Nara membanting sendok yang berada di piring hingga terdengar dentingan.
Milan dan ibu Salma menatap ke arah Nara.
Gadis cantik ini bangkit dengan memasang wajah marah. Di susul Milan dan ibu Salma berdiri.
"Ra!" ibu menatap heran putrinya.
"Jangak lakukan itu! jangan memberikan kami apa-pun!" geram Nara menatap tajam pada Milan.
"Ra! Jangan bicara seperti itu," protes ibu Salma.
“Kemasi barang-barang ibu, kita pulang besok!” tekan Nara dengan nada dingin.
“Ra!” protes ibu Salma.
Milan tersentak mendengar ucapan Nara. Pulang! Ah tidak, dia tidak ingin cintanya itu pergi lagi.
Milan lalu memegang tangan Nara.
“Ra, kumohon jangan pergi lagi! Tetaplah disini! Beri aku kesempatan, Aku sangat mencintaimu, aku akan menjadi sua ...” kata-kata Milan terpotong.
Plak ...
Satu tamparan keras dari Nara, mendarat di wajah Milan membuat wajah pemuda itu terkalihkan.
Hanya tamparan itu yang akan membuat pemuda itu terbungkam di hadapan ibunya. selain dia telah muak, dia juga tak mau ibunya tahu hubungannya dengan Milan.
“Nara!” bentak ibu Salma melihat perlakuan putrinya.
Ibu Salma terkejut sungguh dia tidak pernah melihat Nara sekasar itu.
“Ra, ibu tidak suka kau melakukan itu, ingat dia itu siapa?” bentak ibu Salma.
“Ibu, aku membencinya! Aku tidak ingin melihatnya lagi!” tekan Nara dengan penuh amarah.
“Ra! Ingat dia itu suamimu!” bentak ibu Salma dengan suara meninggi sudah tak tahan lagi.
Nara tertegun Suami ...
Jantung Nara bak di hempas dari ketinggian, dia mematung di tempat. Ibunya menyebut kata suami. Itu berarti ibunya telah tahu hubungannya dengan Milan, sebuah rahasia yang selalu ia simpan rapat dari ibunya.
Wajah Nara seketika pias, manik matanya mulai berembun menatap ibunya yang telah memasang raut kecewa padanya.
Like
Coment
Vote