Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
bersama


Milan hampir gila menahan rindu, pada istrinya yang telah berada di antara mereka, namun sekuat hati dia masih harus menahan diri karena kini dua keluarga sekarang sedang berada di ruangan untuk berbincang. Pandangan Milan tak lepas dari Nara yang terus saja duduk di samping mama Erika, mendampingi sang ibu mertua.


Malam semakin larut, setelah beberapa jam mengobrol akhirnya keluarga Kay pamit.


Kini Nara membantu mama Erika merapikan beberapa sisa acara makan malam. Sedangkan Milan telah  menunggu dengan gelisah waktu untuk bicara dengan orang yang ia cintai itu.


“Terima kasih Ra, kamu sudah mau kembali pada Milan, kalau dia jahatin kamu lagi bilang sama mama, biar mama yang akan berikan perhitungan dengannya!” ucap mama Erika dengan air mata haru. Ia sangat bahagia saat tadi siang Nara datang ke rumah ini dan membantunya menyiapkan acara makan malam. Apalagi Nara sebagai menantu menjamu keluarga besannya dengan baik.


Ya petuah, sebuah petuah suami-istri yang di katakan Milan membuat perasaannya berat melangkah untuk pergi hingga ibu Salma sukses meyakinkan Nara untuk memberikan kesempatan ke dua untuk pernikahannya berdamai dengan keadaan, tidak menyimpan dendam dan sakit hati lagi.


“Iya, ma.” Nara menggenggam tangan ibu mertuanya.


“Chelsea sudah tinggal bersama suaminya, syukurlah ada kamu sekarang jadi mama ngak kesepian,” jelasnya.


“Terima kasih. Karena mama sayang banget sama Nara,” balas Nara.


“Sejak dulu kamu berteman dengan Chelsea mama udah anggap kamu anak mama sendiri,” jelasnya memeluk tubuh Nara. “Mama sangat tahu kamu anak yang baik sayang, hati kamu tulus.”


Pelukan terlepas.


“Sekarang kamu istirahat ya. Kamu pasti lelah membantu mama menyiapkan semua ini,” ujar mama Erika.


“Ngak ma, biar Nara bantu.”


“Ngak perlu sayang biar pelayan saja yang mengerjakannya. Kamu istirahatlah,” desak mama Erika.


“Nara istirahat dulu ma,” Nara akhirnya pasrah.


Nara melangkah pelan ke lantai atas  menapaki tangga satu persatu dengan perasaan gugup, setelah dua tahun ia akan kembali masuk ke dalam kamar itu lagi. Satu kamar lagi dengan Milan.


Tak terasa Nara telah menapaki tangga kini dia telah berada di lantai dua tempat di mana kamar Milan.


Langkah kaki Nara terhenti saat melihat pemuda itu telah berdiri tak jauh dari hadapanpannya menatapnya lekat.


Akhirnya yang di nanti Milan telah berada di hadapannya. Jantungnya berdetak kencang saat melihat wajah cantik itu.


“Kau tidak pergi meninggalkanku,” kata Milan dengan suara bergetar mencoba menahan rasa di dalam dirinya.


“Karena suamiku tidak memberiku izin untuk pergi, dan aku  harus patuh pada suamiku,” ucap Nara.


Suamiku .... Apa? Nara mengatakan ia suami. Milan seakan terbang. Entah bagaimana harus ia lukiskan perasaannya saat ini. Nara masih menganggapnya suami.


Mendengar itu Milan melangkah cepat mendekat ke arah Nara. Tanpa kata memeluk rindu tubuh istrinya. Ya tuhan dua tahun akhirnya dia bisa mendekap tubuh ini lagi.


“ kumohon jangan tinggalkanku lagi.” Lirih Milan.


“Jahat! Kenapa kau selalu saja mengucapkan petuah suami istri untukku,” oceh Nara membalas pelukan Milan, meluapkan perasaan rindu yang juga selama ini di tahan.


Ya, sejak dulu dia selalu saja lemah jika dalam hal petuah suami istri yang di ucapkan Milan.


“Aku tidak akan pernah memberikanmu izin untuk pergi dariku!” ucap Milan semakin memeluk tubuh Nara menghujani puncak kepalanya dengan ciuman bertubi-tubi.


Ah ada jutaan kembang api meledak-ledak di hati Milan.


Milan melepaskan pelukannya beralih menangkup wajah Nara dengan kedua tangannya.


“Terima kasih telah memberiku kesempatan, aku berjanji akan menjadi suami yang baik untukmu. Aku tidak akan menyakiti hatimu.”


Milan beralih mengecup lembut seluruh bagian wajah Nara, meluapkan rasa rindu dan bahagianya.


Nara hanya membisu membiarkan pemuda itu meluapkan rindunya.


Sorot mata mereka bertemu.


“Teruslah bersamaku karena Aku sangat mencintaimu Ra.”


Blus ... Kata cinta dari  Milan, sukses membuat Nara merona. Wajah  Milan lalu maju semakin dekat mengikis jarak di antara wajah Nara.


Cup


Milan menempelkan bibirnya di bibir ranum Nara mengucupnya dengan penuh ke lembut meluapkan seluruh perasaannya.


Setelah dua tahun Milan merasakan manis bibir ini lagi.


Sementara Nara membeku, irama jantungnya semakin berdetak kencang saat Milan mulai mellumat bibirnya perlahan.


Milan terus memagut lembut bibir Nara menyalurkan perasaan terdalamnya. Dia bermain dengan lidah, sesaat Nara akhirnya terbuai hingga mulai terhanyut dan dengan kaku mulai membahas ciuman lelaki itu. Pasangan ini saling menyesap, mengisap hingga ciuman itu semakin dalam. Nara mengalungkan tangannya di leher Milan.


Setelah dua tahun mereka meluapkan perasaan mereka dengan ciuman yang bergairah sebagai pasangan. Saling bertukar saliva hingga lidah mereka saling membelit.


Tubuh Milan telah menegang, ada hasrat tertahan yang harus ia salurkan selama dua tahun ini.


Dengan satu kali sentakan dia menggendong tubuh mungil Nara ala bridel.


“Kak Milan,” pekik Nara mengalungkan tangannya di leher pemuda itu saat merasakan tubuhnya melayang. Dan semakin mendekat ke arah kamar.


Nara menelan salivanya kelat, sudah tahu di mana Milan akan membawanya.


Dengan hati-hati Milan membaringkan tubuh Nara di atas ranjangnya kemudian bergerak menindihnya.


Milan menatap lamat-lamat wajah cantik yang sangat ia rindukan selama ini, Manik mata mereka bertemu dan menyiratkan tatapan  mendamba, merindukan satu sama lain.


“Aku sangat merindukanmu!”


Milan mengelus pipi Nara dengan kelembutan, lalu perlahan menyelipkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya yang semakin memesona dengan semburat merah menghiasi pipinya. Dia sangat bahagia bisa melihat wajah ini lagi.


Tubuh Nara menegang, irama  jantungnya semakin bergemuruh menerima perlakuan lembut Milan suaminya.


“Kumohon jangan menolakku,” pintanya dengan suara serak.


Tuh, kan Nara sudah menebaknya, ia terdiam ini adalah hak suaminya, kewajiban yang tak pernah ia berikan selama dua tahun. Oh, Nara pun pasrah.


Wajah Milan semakin maju mendekat, mengikis jarak di antara ke duanya lalu perlahan mengecup lembut kening istrinya lama, di sertai dengan mata yang tertutup, menyalurkan perasaan rindunya yang terpendam.


“Aku sudah tidak bisa menahannya lagi, aku menginginkanmu,” ucap Milan dengan suara berat penuh gairah. Dua tahun dia harus bertahan kini ia sudah tidak sanggup lagi sisi kelaki-lakiannya telah bangkit.


Nara mengangguk pelan. Membuat senyuman mengiasi wajah tampan Milan.


Milan lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Nara.


“Kamu tahu aku ingin kita punya lima anak,” bisik Milan di telinga Nara.


“Ha.” Nara tersentak  mendengar ucapan Milan.


Anak? Lima


“Agar kau terikat denganku.”


“Kak Milan ...”


“Ingat petuah.” Dan lagi Nara terbungkam dengan petuah yang telah menjadi boomerang baginya.


Kecupan Milan mulai menyebar ke seluruh bagian wajah mulus Nara dan berlabuh pada bibir ranum milik istrinya, Milan mengecupnya sekilas lalu kembali menatap wajah cantik Nara yang merona.


Setelahnya Milan kembali menempelkan bibirnya. Perlahan bibir Milan mellumat dengan lembut bibir Nara menyesap, meneguk manisnya Nara yang tegang mulai mengikuti permainan Milan.  membuka mulutnya memberi cela, membalas ciuman suaminya meluapkan semua perasaan rindu yang ia tahan selama ini pada suaminya. Nara mengalungkan tangannya di leher Milan hingga ciuman itu semakin dalam. Mereka saling berpagut, menyesap, membuat kabut gairah membakar keduanya setelah dua tahun saling menahan rindu, malam ini mereka akan menuntaskan kerinduan itu.


Pagutan itu terlepas, kecupan-kecupan kecil mulai menjalar turun menyusuri leher putih mulus itu membuat Nara menahan geli.


“Ahh,” leguhaan Nara membuat tubuh Milan semakin terbakar oleh gairah, kecupan lalu berpindah ketulang selangka menjilat, menghisap memberikan jejak kepemilikan, di leher putih mulus itu seraya tangannya yang bergelirya meraba setiap inci tubuh Nara, sungguh ia sangat merindukan tubuh ini. Tangan Milan mulai membuka satu persatu kain penutup yang membungkus tubuh istrinya.


“Ahh,” Nara menggelinjang, mendesah merasakan sensasi nikmat yang di berikan Milan pada tubuhnya saat Milan membenamkan wajahnya di bukit kembar istrinya mengulum dan memainkannya dengan lidah membuat Nara semakin tak terkendali mencengkeram rambut Milan tanpa sadar menekan semakin ke dalam.


Setelah dua tahun malam ini semua perasaan rindu dan cinta akan mereka luapkan dengan penuh gairah.


Hasrat dan gairah semakin menggelora, deru napas telah semakin memburu, Milan berhenti sejenak menatap wajah Nara dengan tatapan mata yang telah di penuhi kabut gairah.


 Milan sudah tidak dapat menahan diri kemudian melepas pakaian yang ia kenakan. Mencium seluruh bagian Nara kemudian mulai memposisikan diri.


“Aku akan melakukannya perlahan," bisik Milan.


Membuat tubuh Nara meremang ini adalah penyatuan mereka kembali setelah dua tahun lamanya. Wajar saja jika dia tegang.


Nara menarik napas panjang, menutup sayu kelopak matanya jika dia telah siap.


Milan pun memulai. Nara mencengkeram punggung Milan sambil menggigit bibir bawahnya. Saat Milan mulai mencoba memasukinya, rasanya perih seakan tercabik, namun dengan sentakan lembut mereka telah menyatu.


"Ahhh." pekik Nara.


Milan kembali mengecup seluruh bagian wajah Nara agar istrinya itu tenang.


Setelah istrinya tenang dalam kungkungannya , ia mulai menggerakkan pinggulnya pelan mengantarkan gelenyar kenikmatan yang menciptakan leguhan, ******* dari keduanya.


Setelah dua tahun akhirnya mereka kembali menikmati malam syahdu lagi  berpacu mengejar kenikmatan puncak. Menikmati awal malam panjang yang akan melahirkan malam indah berikutnya sebagai suami istri yang tidak akan terpisahkan lagi


oh, astaga ini tiga bab loh


jangan lupa tinggalkan jejak.


Like


Coment


Vote