
Sinar surya menyambut, embun pagi menetes membasahi bumi.
Nara mulai membuka kelopak mata. Ia merasakan ada yang aneh dengan keningnya, tangan lalu Nara terulur meraba dahinya. Ternyata sebuah kain yang di pakai untuk mengompresnya saat demam.
Pintu kamar terbuka, manik mata Nara menangkap bayang adiknya.
“Nana,” ucap Nara pelan tubuhnya merasa sangat lemah.
Alana pun duduk di pinggir tempat tidur.
“Gimana demam kakak udah turun?” ujar Alana meletakkan punggung tangannya di dahi Nara.
“Kakak baik-baik saja,” kata Nara dengan suara lemah kemudian Bangun. “Aw,” keluh Nara memegang kepalanya.
Nara hendak beranjak namun ia merasakan kepalanya sangat berat hingga Alana membantu bersandar di puncak ranjang.
“Kakak harus istirahat.”
“Kakak udah janji ngak bisa di batalin.”
Alana kehabisan kata-kata kakaknya ini memang keras kepala jika menyangkut pekerjaan.
“Kamu kerok kakak lagi ya,” pintanya memasang wajah memelas hanya itu obat bagi Nara.
“Kak ini, udah ngak bisa sembuh dengan kerokan, kakak harus, minum obat,” ucap Alana.
“Kamu tahu kakak susah telan obat Nana. Udah cepat, kakak harus pergi.” Nara membalikkan tubuhnya memunggungi adiknya.
Alana menghela napas berat.
Pintu kamar terbuka perlahan menampakkan sosok pemuda tinggi nan tampan masuk ke dalam kamar.
Ya Milan, yang menginap semalam masih berada di rumah Nara. Semalaman dialah yang mengurus Nara, mengompres agar demamnya turun. Setelah Nara terlelap ia pun keluar memilih tidur di sofa tak ingin adik dan ibunya curiga melihat ia sekamar dengan Nara. Rahasia mereka akan terbongkar, lebih baik Nara sendirilah yang memberitahukan pernikahan mereka pada keluarganya. Itu pikir Milan.
“Kak Milan,” sapa Alana menarik ke dua sudut bibinya menatap ke arah pintu di mana pemuda tampan itu berdiri, melihat wajah Milan di pagi hari sungguh pemandangan yang indah.
“Kak Milan? Milan. Kakak Sea? Memangnya kenapa dia?” Nara malah menyahuti dengan alis berkerut, mengapa tiba-tiba adiknya membahas pemuda yang sedang berada di Jepang itu.
Nara tak menyadari jika ada orang yang baru masuk ke dalam kamar.
Alana pun beralih memijat pundak kakaknya, dia tak mungkin mengerok punggung kakaknya jika Milan ada. Itu bisa membuat Milan melihat tubuh kakaknya.
“Ini, ternyata Kak Milan ganteng banget ya kak? cocok banget kak Sea, cantik Kakaknya ganteng,” puji Alana tersipu pada Milan.
“Iya. Emang ganteng banget Nana!" balas Nara heboh. "Tapi, dia ngak seperti Sea yang ramah dan asik, kakak Sea itu galak, dingin, sombong, cuek, susah bergaul,” timpal Nara santai membeberkan sifat Milan yang ia ketahui.
Mata Alana membulat mendengar ucapan kakaknya bukannya ikut memuji dan terpesona dengan kesempurnaan Milan, ia malah menjelekkan Milan, saat pemuda itu berdiri diambang pintu melipat tangan di dada mendengarkan semua ocehannya.
“Galak, sombong dan tidak bisa bergaul. Dasar dia!” batin Milan mendengus menatap sinis ke arah Nara.
“Eh, Kak Milan baik kok, ramah,” bela Alana memasang senyum kaku pada Milan yang memasang wajah datar. Ia pun mengeraskan pijatannya agar kakaknya berbalik.
“Kamu Cuma liat dia di tv doang, coba ketemu secara langsung, kita itu kaya remahan masako di toples emping, ngak dianggap,” papar Nara malah membuat Alana semakin tercengang dengan ocehan kakaknya.
Astaga, Nara masih tak menyadari jika pemuda itu ada di belakangnya telah menatapnya tajam.
Ah, Alana rasanya ingin membekap mulut kakaknya agar berhenti mengoceh.
“Aduh Nana, sakit!” pekik Nara saat merasakan Alana meremmas kuat pundaknya.
“Kakak kan minta di kerokin bukan di pijat," serunya dengan tangan Nara menyilang memegang ujung bajunya hendak membukanya.
Melihat itu Alana menjadi kelabakan kakaknya akan membuka baju di depan Milan.
“Kakak jangan!” cegah Alana menahan tangan Nara.
“Nana pijat ngak berasa, kerok punggung kakak biar badan kakak enakan. trus kakak bisa pergi merias lagi.”
Nara menepis tangan Alana, ia pun menarik ujung baju belakangnya hingga ke leher. Dan terlihatlah punggungnya. Alana membelalakkan matanya dengan cepat tangannya menarik selimut menutupi punggung kakaknya.
Sedangkan Milan menelan salivanya dengan susah payah. Membuang pandangannya cepat. Ini gawat geloranya bisa naik lagi di sungguhi oleh tubuh Nara. Sejak semalam saja ia sudah sangat tersiksa menahan diri tak menuntaskah sisi kelaki-lakiannya yang bangkit karena seranjang dengan Nara. Ya sekarang dia hanya menunggu waktu yang tepat untuk menjadikan Nara sebagai istri yang seutuhnya.
“Nana kenapa sih?” protesnya berbalik menatap ke arah adiknya yang terlihat tegang.
Netra hitam Nara pun mengarah ke arah pintu.
“Kak Milan!”
Jeduar ....
Nara membatu bak di sambar petir saat menatap Milan berada di dalam kamar berdiri memasang wajah dingin. Tatapannya seakan ingin mengulitinya.
Ah, mengapa Milan berada di rumahnya bukannya pemuda galak ini sedang berada di Jepang.
Nara membenarkan bajunya lalu memperbaiki posisinya lurus menghadap ke arah pintu.
“Sejak kapan Kak Milan di sana?” bisik Nara.
“Sejak tadi.”
“Apa dia mendengar semua?” bisik Nara lagi.
Alana mengangguk.
Tubuh Nara bergetar, aliran darahnya seakan terhenti.
“Dia mendengar semuanya,” batin Nara.
Sumpah demi apa-pun Nara rasanya ingin tenggelam di dasar bumi yang paling dalam. Sudah mengatai Milan, dia bahkan memperlihatkan punggungnya. Wajah Nara memerah bak tomat sangat malu.
“Nana katakan padanya aku pingsan.” Ya, andai ia bisa pingsan saat ini juga. Itu harapnya.
Nara menarik selimut berbaring menutup seluruh tubuhnya, sungguh dia tak tahu bagaimana menghadapi Milan. Takut, malu semua berbaur menjadi satu.
"Emang ada orang pingsan laporan,” cibir Alana.
Alana bangun dari duduknya melangkah keluar kamar, membiarkan Milan bertemu Nara.
Kini mereka telah berdua, Milan mendesah kasar mendekat ke arah ranjang. Ia lalu menarik selimut yang menutupi tubuh Nara.
“Habislah aku! Dia pasti sangat marah!” batin Nara.
“Kak Milan,” sapa Nara dengan senyum kaku sangat gugup, jantungnya seakan ingin lompat keluar Mengingat kesalahannya.
“Maaf,” ucap Nara lirih.
Milan hanya memasang wajah datar. Tanpa satu kata pun, Duduk di sisi pembaringan. Mengecek suhu tubuh Nara dengan punggung tangannya. Nara terpaku saat Milan menyentuhnya.
Milan menghela napas panjang.
“Hari ini kau tidak akan kemana-mana dan kau harus minum obat,” putus Milan cemas akan keadaan Nara.
“Tapi kak ...” suara Nara tertahan saat melihat mata Milan memicingkan tajam mata padanya.
Nara tertunduk takut, tak bisa menyela. Saat ini Milan pasti marah padanya karena ucapannya. Rasa bersalah menyeruak dalam hati.
“Ingat, Kau adalah istriku! Istri harus menuruti, apa perkataan suaminya!” seru Milan dengan nada tegas.
Dengan cepat Nara mengangkat pandangannya, seketika terpaku menatap Milan lekat.
What ....
Pemuda ini menyebutnya sebagai istri dan dia sebagai suami.
“Istri!” batin Nara menelan salivanya lekat.
Apa yang telah terjadi?