
Setelah menyetujui pernikahan dan mengantongi restu. Dua keluarga besar Chelsea dan Kay mulai menyiapkan seluruh rangkaian acara yang megah dan akbar. Tentu saja semua menyambut bahagia penyatuan dua keluarga besar yang telah lama menjalin hubungan baik.
Berita pernikahan mereka tersebar di mana-mana semua orang harus tahu. Pernikahan Chelsea dan Kay menjadi pusat perhatian selama beberapa hari ini. Seluruh stasiun tv di buat untuk membuat mengembar gemborkan berita pernikahan akbar mereka.
Ya, target mereka agar Nara dan Vino yang entah berada di mana juga tahu kabar pernikahan sahabatnya itu.
Semua telah di rancang oleh Kay dengan baik.
Sementara di tempat yang jauh dari mereka.
Jerman.
Keluarga kecil Nara berada di ruang makan sedang menyantap menu makan malam.
“Nana ayo makan! Jangan main ponsel saja!” tegur ibu Salma saat manik matanya mengarah pada anak bungsunya yang sibuk pada ponsel mengabaikan piring yang telah berisi makanan.
“Tunggu sebentar bu! Ada berita penting nih!” balas Alana semakin menatap ponselnya.
Ibu Salma dan Nara hanya saling tatap lalu kembali pada piring yang ada di hadapannya.
“Pernikahan akbar dua keluarga besar pebisnis tersukses. Kaisar Abraham dengan Chelsea Kalingga akan di gelar!” baca Alana dengan keras.
Membuat Nara dan ibu Salma terlonjak mendengar berita dari Alana.
“Kak Sea akan menikah!” ujar Alana dengan semangat menyunggingkan senyuman akan berita yang ia dapatkan. Ya mereka boleh saja tinggal di Jerman tapi mereka masih mengetahui berita di tempat dahulu.
“Ha.” Nara tertegun mendengar sahabatnya akan menikah.
“Sea akan menikah!” batin Nara rasa rindunya seketika menyeruak mengingat sahabatnya itu.
“Mana coba ibu liat!” ibu Salma yang penasaran berdiri dari tempatnya mendekat ke arah Alana.
Tubuhnya menempel dengan putri bungsunya demi melihat berita baik dari ponsel Alana.
“Ini bu,” ucap Alana kali ini memperlihatkan gambar Chelsea dan Kay yang sedang mengadakan konferensi pers tampil di depan wartawan.
“Sea benar-benar akan menikah! Wah, Sea anak ibu semakin cantik saja!” ujar ibu Salma kebahagiaan tampak dari wajahnya melihat sahabat terbaik putrinya akan menikah yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri.
“Ya, ampun Ra, liat deh calon suami Sea ganteng banget.” Ibu Salma memperlihatkan ponsel Alana di hadapan Nara yang sejak tadi diam.
Netra cokelat mengarah ke ponsel. Nara menarik sudut bibirnya menatap gambar sahabat yang ia rindukan itu. Setelahnya mengamati lelaki yang berada di sampingnya.
“Kak Kay!” batin Nara terkejut. “Sea menikah dengan Kay, bukankah dia membencinya.”
Ibu Salma mengembalikan ponsel Alana setelahnya kembali duduk di kursinya.
“Ibu sudah ngak sabar untuk pulang!” ujar perempuan paruh baya itu dengan mata berbinar senang membayangkan mereka akan pulang menghadiri pernikahan perempuan yang telah menjadi sahabat Nara selama bertahun-tahun.
Sedangkan Nara hanya mematung memikirkan pernikahan sahabatnya.
Pulang ... haruskah dia pulang seperti yang di katakan ibunya.
Sungguh Nara sangat ingin melihat pernikahan Chelsea dan Kay. Dia sangat merindukan perempuan bawel itu ingin tahu sudah seperti apa dia? Bagaimana hidupnya dua tahun ini? Dan banyak ocehan-ocehan yang ingin dia dengar dari sahabatnya, ah dadanya bergemuruh dia sangat merindukan persahabatan gila mereka. namun teringat di sana juga ada seseorang yang sangat tidak ingin dia temui. Pemuda yang telah menghancurkan hatinya, bertemu kembali dengan Milan hanya akan mengorek luka hatinya.
Ah, selama ini hidupnya sudah tenang mencoba membuang Milan dari pikirannya. Bertemu kembali hanya bisa membuat pertahanannya runtuh.
“Kalau kita pulang ibu jadi bisa liat panci ibu, pasti udah banyak debunya gara-gara ngak keurus!” oceh ibu Salma sungguh dia sangat bersemangat untuk pulang.
“Ya ampun bu malah mikirin panci. Ibu pulang, mau datang ke pernikahan Sea atau Cuma mau ketemu sama panci ibu,” celetuk Alana.
“Ibu tinggal kangen di sana!Tinggal di sini itu ngak seru, ibu kesepian! di sini ngak ada tukang kredit panci, ngak ada nonton demo masak. Boro-boro mau bikin arisan panci, Tetangga sini aja pada cuek tuh, ngak berbaur,” oceh perempuan paruh baya ini panjang lebar akan kerinduan pada lingkungannya dulu.
"Ibu bilang aja kalau tetangga di sini ngak bisa di ajak jadi teman ghiba!Kaya tetangga di sana,” cibir Alana tahu apa yang di pikirkan ibunya, tentang kelakuan warga +62 yang di rindukan ibunya. rombongan ibu rempong.
“Ih Nana!” gemas perempuan paruh bayah ini pada ocehan putrinya.
“Ibu tuh kangen banget dengan kegiatan ibu yang jadi tukang masak di kondangan, suasana kumpul-kumpul saat bantu orang yang mengadakan pesta, seru banget, ibu rindu itu,” jelas ibu Salma akan profesinya yang telah lama di geluti sebagai tukang masak.
"Oh, Yang kalau di kondangan, kerjaannya bantu kupas bawang sekalian kupas aib orang juga!” cibir Alana yang tiada henti menggangu ibunya.
“Nana!” teriak ibu Salma benar-benar ucapan putrinya itu bak pisau yang tajam.
Nara hanya terdiam mendengar ocehan perbebatan ibu dan adiknya. Dia berada dalam dilema antara pulang menyaksikan sahabatnya bahagia dan mengorek kembali luka hati yang telah ia coba sembuhkan.
“Nana kapan pernikahannya! Ibu harus siap-siap?” tanyanya dengan menggebu-gebu.
“Tiga hari lagi bu!” jawab Alana.
“Kita tidak akan pulang! Kita akan tetap di sini!” ucap Nara dengan nada dingin membuat Alana dan ibu Salma terdiam kompak menatap Nara yang tertunduk.
Oh, dia telah mengambil keputusan untuk tidak menggorek luka hatinya. Dengan datang ke pernikahan Chelsea dan bertemu Milan.
“Ra!” protes perempuan paruh baya itu. Tidak pulang berarti tak melihat koleksi pancinya.
“Kita tidak akan datang ke pernikahan itu!” tegas Nara tak ingin terbantahkan kemudian bangkit dari duduknya dengan manik mata mulai berkaca-kaca, hatinya miris dengan keputusannya walau dia sangat ingin.
Alana dan ibu Salma terdiam di tempat, baru kali ini Nara bersikap dingin seperti itu.
“Kakak kenapa bu?” tanya Alana tak mengerti setelah melihat bayang Nara telah tiada.
“Ibu juga ngak tahu!”
“Kamu kenapa Ra! Ada yang kamu sembunyikan dari ibu!” batin ibu Salma.
“Kamu teruskan makannya, ibu mau liat kakak kamu dulu!” ucapnya setelahnya meninggalkan Alana melihat keadaan putrinya.
Perempuan paruh bayah ini akan bicara pada Nara. Ia merasa selama ini ada sesuatu yang di sembunyikan putrinya itu darinya.
...****************...
jangan lupa
LIKE WAJIB ...
COMENT ...
VOTE ....
suka deh kalau alana dan emanknya udah bahas panci.
Ayo ibu Salma demi pulang liat panci bujuk Nara hehehehe ....