
Malam telah menyambut, di sebuah ruangan terlihat seseorang mengenakan pakaian serba hitam duduk di sofa tunggal dengan melipat kaki. Sebelah tangannya memegang gelas berisi wine.
“Milan Kalingga, aku akan menghancurkanmu! sama seperti kau yang telah menghancurkan hidupku!” ucapnya dengan geram dan tangan terkepal erat.
“Aku akan membuatmu membayar semuanya!” teriaknya lalu menenggak gelas minuman yang ada ditangannya.
Prak .... setelanya membanting keras gelas itu ke lantai hingga menjadi kepingan.
“Aku tidak akan membiarkanmu tertawa di atas penderitaanku!” jeritnya semakin meluapkan amarah.
...****************...
Di lain tempat keluarga Kalingga sedang berkumpul menghabiskan waktu dengan makan malam bersama.
Terdengar suara dentingan sendok dan garpu beradu mengiasi makan malam mereka.
“Tiga hari lagi mama akan kembali ke Paris!” ucap mama Erika membuka pembicaraan.
Mendengar itu, Milan sontak terkejut.
“Ya, Ma. Kenapa cepat sekali!” sosor Milan dengan cepat terdengar tak terima, membuat tatapan mereka seketika mengarah padanya.
Ada apa dengan Milan pikir mereka? Dia bak anak yang akan kehilangan induk.
Mama Erika akan kembali ke Paris! Oh tidak, itu berarti Nara juga akan pulang ke rumahnya.
“Ya, kan mama cuma pulang sebentar ketemu kalian. Bibi kalian masih membutuhkan bantuan mama untuk mengelola bisnis barunya,” jelas mama Erika.
“Sepi lagi dong Ma.” Kini protes di layangkan oleh Chelsea, bibirnya sudah mulai mengerucut.
“Nanti mama bawakan oleh-oleh yang banyak lagi!” terang perempuan paruh baya itu, lalu mengarahkan pandangannya ke arah menantunya.
“Terutama untuk menantu mama!” tekannya.
“Makasih Ma, mama baik-baik di sana, cepat pulang,” balas Nara dengan senyum sumringah.
“Iya, sayang.”
“Tasnya aja belum di pake Nara mama udah mau pergi lagi,” ungkap Chelsea dengan nada malas.
Mama Erika menatap Nara meminta penjelasan.
“Sayang ma, itu mahal sekali,” jawab Nara dengan cengiran.
“Ya, ampun sayang itu memang untuk kamu pakai, ngak perlu di sayang-sayang nanti mama belikan lagi,” terang mama Erika dan di balas Nara dengan anggukan pelan sudut hatinya merasakan keharuan.
Oh betapa, beruntungnya Nara mendapatkan mertua baik dan perhatian seperti mama Erika.
Makan malam kembali berlanjut di isi dengan perbincangan, yang di dominasi oleh ketiga perempuan ini, sedangkan Milan hatinya sedang merasakan gundah tinggal tiga hari ia bersama dengan Nara di rumah ini. Dia harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.
...****************...
Makan malam telah berakhir. Pasangan ini telah berada di kamar.
“Ayo tidur!” Milan menepuk ruang kosong di sampingnya.
Kembali Nara mendapatkan perintah untuk tidur di ranjang bersama Milan.
Baru saja Nara mendaratkan tubuhnya di ranjang, berbaring di ruang kosong di samping Milan. Seketika ia tersentak saat Milan menggeser tubuhnya mendekat padanya seakan menjelaskan jika sejak tadi Milan telah menunggunya. Tanpa kata lengan kokoh itu melingkar di pinggang Nara.
Deg ...
Uh, jantung Nara seketika terpompa cepat, ia merasa seakan tidak bisa bernapas saat Milan mencium pipinya. Sentuhan Milan selalu membuat tubuhnya meremang.
Ah, bukankah dia punya hal yang ingin dia bicarakan oleh Milan tentang kelulusan Alana adiknya. Sebagai pembuktian cinta Milan padanya. Dia harus mengatakannya malam ini juga.
Akan tetapi wajah Milan telah berada di ceruk lehernya mengendus tubuhnya.
“Kak Milan ada sesuatu yang ingin aku katakan!” ucap Nara menggeliat pelan agar Milan berhenti bermain di lehernya.
Mendengar ucapan Nara, ia menghentikan aksinya. Wajah Milan terangkat beralih menatap istrinya. Penasaran apa yang ingin di sampaikan oleh Nara.
“Ada apa?” tanya Milan.
Nara menarik napas panjang mengumpulkan kekuatan untuk bicara dengan suaminya. Mengubah posisi berbaring miring hingga mereka saling berhadapan.
“Emm, Di sekolah Nana akan di adakan acara perpisahan. Apa kakak bisa datang?” tanya Nara dengan ragu-ragu netranya mengarah pada wajah Milan.
"Kapan?” balas Milan singkat
"Minggu depan!” terangnya dengan perasaan gugup.
Milan terdiam membisu terlihat berpikir, Nara mencoba menebak raut wajah Milan. diamnya pemuda itu membuatnya tahu jawabannya.
Kan benar tebakannya, Milan pasti tidak akan datang ke acara seperti itu. Milan tidak memiliki perasaan padanya Nara bermonolog sendiri dengan kecewa.
Nara mencoba menarik ke dua sudut bibirnya, rasanya sudah tidak bisa tersenyum.
“Kalau kakak tidak bisa, ngak apa-apa ini hanya acara biasa ...”
“Aku akan datang!” potong Milan.
Nara tertegun menatap wajah Milan seakan tak percaya. Mencoba mencari kesungguhan di wajah itu.
“Benarkah kakak mau datang? Kak Milan ngak sibuk?” tanya Nara memastikan.
“Aku akan mengosongkan jadwalku, aku pasti akan datang!” ucap Milan penuh keyakinan.
Senyum seketika terbit di wajah Nara. Jantungnya berdetak kencang, bak ada jutaan bunga bermekaran di dalam hatinya.
Nara melipat bibirnya kuat, membuang pandangannya menyembunyikan wajahnya yang merona dari Milan.
Namun baru saja merasa bahagia dalam sekejap tubuhnya telah tegang, tersentak saat Milan telah beralih menindihnya. Mulai melepaskan kecupan-kecupan di seluruh bagian wajah Nara. Oh tidak ini akan menjadi malam panjang yang melelahkan.
Milan berhenti sejenak mengangkat wajahnya, menatap Nara hingga pandangan mereka bertemu.
“Kau ingat petuah move on yang kau tuliskan tadi pagi?” tanya Milan dengan senyum seringai menghiasi wajah tampannya.
Petuah move on! Alis Nara berkerut terlihat dalam berpikir keras. apa dia akan terjebak lagi dalam petuah move on yang ia tulis. Setelahnya mulai mengucapkannya.
“Temukan satu tujuan, terus fokus dan jadikan alasan untuk meraihnya,” ejaan Nara.
“Dan tujuanku adalah ...” suara Milan menggantung mengecup bagian telinga Nara. “Membuatmu menjadi ibu dari anakku!" bisik Milan, setelahnya menyapu kelopak telinga Nara dengan lidahnya.
Nara menelan salivanya kelat.
What ... Milan akan menjadikannya ibu dari anaknya? Dia menginginkan anak.
Seketika tubuh Nara meremang. Irama Jantungnya semakin menggila. Aliran darahnya seakan terhenti.
“Sea kau benar. Dia mencintaiku!” jerit Nara di dalam hati. Entah sudah seperti apa debaran jantungnya saat ini kini dia mulai mempercayai seorang Milan Kalingga mencintainya.