
“Mengapa dia bisa ada di rumah ini?” batin Nara.
Sejak tadi pikirannya di penuhi dengan pertanyaan, kenapa pemuda galak ini berada di rumah kecilnya? Sesuatu yang ia anggap mustahil ...
Ya, Milan masih berada di rumah Nara, berkumpul di ruang makan bersama dengan ibu dan adiknya.
Nara termenung hanya mengacak-ngacak makanan di piring dengan sendok. Menatap Milan berbincang dengan ibu dan adiknya.
“Makan yang banyak, jangan sungkan,” ucap Ibu.
“Saya tidak akan sungkan masakan ibu sangat enak,” balas Milan tersenyum, ia makan dengan lahap.
Milan menyantap masakan buatan ibunya, berbaur dengan ibu dan adiknya terlihat akrab dan sopan, dari tadi bersikap manis ini bukan karakter Milan Kalingga yang ia kenal.
Nara bergidik ngeri
Kalian tidak tahu siapa yang kalian ajak bicara! Ya tuhan, jangan sampai mereka salah berucap pada lelaki galak itu, jerit Nara dalam hati. Suasana terasa mencekam bagi gadis berkacamata ini.
“Nara, makan jangan melamun aja.” Suara ibu Salma membuyarkan lamunan Nara yang dari tadi hanya diam tak mengerti.
“Iya bu.”
“Habis makan, kamu harus minum obat,” terang ibu Salma.
“Bu Nara ngak bisa nelen obat,” tolak Nara.
“Paksa sayang,” balas ibu Salma.
Nara menatap sekilas pemuda galak yang duduk berseberangan dengannya.
Pandangan mereka bertemu, dengan cepat Nara tertunduk, dia kehabisan kata, kembali menyuap makanan ke mulut, dia benar-benar mati kutu di depan Milan.
Makanan di piring ibu Salma telah tandas, ia pun bangun dari duduknya.
“Kalian makan yang banyak ibu tinggal dulu,” ujar ibu Salma.
“Mau ke mana bu?" sahut Alana menatap ibunya.
"Ibu ada demo masak di tempat bu Jenar. Ibu mau nonton,” jawabnya dengan antusias.
“Ya. Pasti kalau pulang bawa katalog panci lagi nih,” cibir Alana akan hobi si ibu.
“Iya. Ada model terbaru, katanya pancinya canggih. Satu kali masak langsung bisa sekaligus menggoreng, merebus, mengukus, membakar ....”
“Nyapu, ngepel, cuci piring,” sebut Alana menambahkan.
“Huss, Nana. Ini panci bukan babu,” protes ibu Salma menggeram kesal.
Milan tersenyum lucu mendengar perdebatan ibu dan anak ini. mereka benar-benar kocak.
Ibu Salma mengarahkan pandangannya pada Milan.
“Nak Milan, Ibu pergi dulu,” pamit ibu Salma yang di balas Milan dengan senyum terkembang.
Kini hanya tinggal mereka bertiga melanjutkan santapannya.
“Kak Milan menginap ya malam ini?” tawar Alana.
Mendengar itu seketika Nara tercengang, bisa-bisanya adiknya menawarkan Milan untuk menginap di rumah kecil mereka.
Ini gila ... pikirnya.
“Jangan di dengar! Nana memang suka asal bicara,” sosor Nara dengan cepat.
Nara memang tak tahu jika semalam Milan menginap di rumahnya. Tak ada yang memberi tahu. Dia mengira jika Milan baru saja datang.
What ...
“Menginap?” Nara gelagapan pemuda terhormat Milan Kalingga menginap di rumahnya yang ukurannya hanya sebesar kamar mandi Milan.
Apa yang telah terjadi? gadis kaca mata ini menjadi resah memikirkannya.
Tenggorokan Nara seketika kering dia pun meraih gelas yang berisi air putih lalu menenggaknya.
“Kak Milan kan, tidur di kamar Nana semalam,” tambah Alana.
Mata Nara membulat, terlihat dari gelas kaca. Tidur di kamar Alana semalam? Berarti yang ia peluk? Oh tidak ...
Nara menyemburkan minuman yang ada di mulutnya tempat di wajah Alana.
Uhuk .... uhuk ...
Nara terbatuk-batuk sambil memukul dadanya.
Seluruh kejadian semalam berputar di kepalanya, bagaimana dia mengeluh menggigil kedinginan, meminta Milan memeluk erat tubuhnya, bahkan merancau tentang parfum, ternyata benar aroma yang ia hirup wangi tubuh Milan bukan adiknya.
“Ih, kakak Nara kenapa Nana di sembur.” Alana meringis jijik seluruh tubuhnya basahan terkena semburan Nara.
Alana pun beranjak meninggalkan ruang makan membersihkan diri.
Melihat Nara kepayahan, Milan bangun dari duduknya, mendekat ke arah Nara.
“Minum.” Milan menyodorkan segelas air.
Nara pun menenggak minuman itu. Setelahnya menarik napas lega.
Nara menatap Milan dengan wajah pias. Ah daftar kecerobohan yang di lakukannya semakin banyak.
Mengingat pelukan semalam wajah Nara menjadi memanas, semburat merah menghiasi, ia merasakan malu luar biasa. Ingin rasanya ia menghilang tak tahu bagaimana menghadapi Milan.
Milan duduk di sebelah Nara terlihat membuka sebuah bungkusan kecil.
“Kak Milan ....” suara Nara terpotong.
“Minum obatmu,” ucap Milan datar, lebih fokus dengan kondisi Nara.
Manik mata Nara menatap tablet kecil di tangan Milan.
“Susah sekali menelannya,” ucap Nara dengan nada malas menyambut obat dari tangan Milan.
“Minumlah, aku akan membuatnya mudah,” balas Milan dengan seringai di wajah.
Membuatnya mudah?
Nara menatap ragu ke arah Milan.
Dengan pelan jepitan ke dua jari Nara memasukkan obat ke dalam mulut, setelahnya Nara menenggak seteguk air putih. Pipi Nara masih menggembung mencoba menelan benda tablet itu.
Melihat Nara kesulitan, Milan memajukan wajahnya semakin mengikis jarak di depan wajah Nara hingga.
Cup
Bibir mereka pun bertemu.
Mata Nara membelalak saat Milan menempelkan bibirnya di bibir Nara.
Glek ... Nara menelan salivanya kasar akhirnya dengan mudah obat itu tertelan. Ternyata ini yang di maksud Milan membuat menjadi lebih mudah.
Entah sudah semerah apa wajah Nara saat ini. Irama jantungnya berdentam keras, hingga rasanya ia kesulitan bernapas. Lagi ia menerima ciuman dari Milan.