Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
Nara pulang


Di sebuah kamar terlihat ibu dan anak terlibat perdebatan kecil.


“Lan kamu harus minum obat,” ucap perempuan paruh bayah yang duduk di tepi tempat tidur menyodorkan obat di tangannya untuk sang putra yang bersandar di puncak kepala ranjang.


“Ma, ngak bisa, Milan mual kalau nyium bau obat,” keluh pemuda ini menolak keinginan perempuan yang telah melahirkannya.


Mama Erika menarik napas kasar dengan penolakan Milan. Sudah berhari-hari Milan sakit, pemuda itu merasakan tubuhnya sangat lemah tak bertenaga karena selalu saja memuntahkan isi perutnya. Entah apa yang terjadi pada dirinya?


“Gimana kamu mau sembuh, kalau kamu ngak minum obat. Ini sudah berhari-hari Lan, itu sudah bukan jet lag lagi,” desak mama Erika mengingatkan keadaan putranya yang terus mengatakan jika dia mengalami jet lag setelah kembali dari Jerman.


“Milan ngak apa-apa?”


“Selama ini kamu makan Cuma sedikit, tubuhmu sangat lemah, lihat wajahmu sangat pucat mama mencemaskanmu,” oceh sang mama dengan perasaan cemas.


“Nanti juga sembuh sendiri Ma,” balasnya pasrah.


Ya hanya itu jawaban Milan. Sungguh saat ini dia benar-benar tak bisa menelan satu butir obat pun. Ia pun merasa aneh mengapa Indera penciumannya begitu sensitiv akhir-akhir ini selalu saja membuatnya mual.


Uh, melihat tingkah Milan yang terus menolak membuat mama Erika hanya menghembuskan napas lemah.


“Baiklah kalau kamu tidak mau! Kamu istirahatlah,” ujarnya pasrah memilih menyerah setelahnya beranjak meninggalkan putranya.


Mama Erika pun memutuskan keluar dari kamar Milan.


Milan meraih ponsel di nakas mencoba menghubungi perempuan yang sangat ia rindukan sumber dari rasa sakitnya, saat ini obat untuknya hanya mendengar suara istri tercinta dari sambungan telepon.


Milan membawa benda pipih itu ke telinganya. Setelah menunggu beberapa detik. Alis Milan berkerut dalam saat sambungan teleponnya tak terjawab.


“Kenapa dia tidak menjawab teleponku! Apa dia sangat sibuk! Aku sangat merindukannya! Aku ingin mendengar suaranya,” gumam Milan.


Sudah beberapa kali Milan mencoba menghubungi ponsel istrinya namun sejak tadi sangat sulit tersambung membuatnya menjadi cemas.


***


Malam telah larut, Milan belum juga berhasil menghubungi istrinya itu, mencoba menempis pikiran buruk Milan lalu berbaring, kepalanya telah berdenyut.


Rasanya Milan baru saja masuk ke dalam alam mimpi. Namun ia merasakan ada pergerakan di  ranjang yang melesak, seperti ada seseorang berbaring di sampingnya. Ia merasa lengannya tertindih lalu ada lengan melingkar di pinggangnya.


Ya, setengah sadar pemuda ini merasa ada yang memeluknya. Aroma tubuh itu sangat  menenangkan.


Milan membalas pelukan itu. Setelahnya tersadar membuka kelopak  mata sayu.


Milan mengerjapkan manik matanya beberapa kali saat menatap seseorang yang mengenakan piyama berbaring di sampingnya mengulas senyum padanya.


Kelopak mata Milan terbuka sempurna.


Wajah yang tersenyum ini, adalah wajah yang ia rindukan.


Mungkinkah? Bukankah istri cantiknya ini harusnya di Jerman. Sejak kapan dia datang? Dia tidak menyadarinya. Jantung Milan berdetak kencang.


Tangan Milan terulur menangkup wajah perempuan di hadapannya.


“Ini kamu? Sayang kamu di sini? Ini benar kamu?” tanya Milan memastikan jika ini bukan halusinasinya.


Nara mengangguk dengan seulas senyum lembut memegang telapak  tangan Milan yang ada di wajahnya.


“Aku kembali sayang. Aku sudah mengurus semuanya.”


Nara mempercepat kepulangannya setelah mendapatkan kabar dari curhatan sahabatnya Chelsea jika suaminya sedang sakit karena berjauhan dengannya. Membuat menjadi tak tega.


“Benarkah?”


“Kita tidak akan terpisah lagi,” balas Nara dengan lembut.


Demi apa-pun hati Milan berdecak hore mendengar istrinya telah kembali, itu berarti mereka akan menjalani hari sama seperti pasangan lainnya tak ada jarak lagi yang membentang.


“Jadi kita akan tinggal bersama. Terima kasih sayang?” Milan memeluk tubuh istrinya.


“Kata Sea, suami manjaku ini sakit karena di tinggal istrinya,” goda Nara.


Nara melepaskan pelukan Milan, tatapannya menatap ke arah laci nakas, dimana obat-obatan Milan berada.


Perempuan ini kemudian duduk di tepi tempat tidur.


“Kata mama, sayang menolak minum obat,” terang Nara yang telah menerima semua laporan baik dari Chelsea maupun mama Erika tentang suaminya itu.


“Tidak, aku sudah sembuh sayang!” balas Milan dengan ceria.


“Sayang harus minum obat, biar cepat pulih,” perempuan cantik ini meraih obat itu.


“Aku benar-benar baik-baik saja!”


“Ngak boleh menolak, mulai saat ini, istrimu ini yang akan mengurusmu dengan baik hingga sembuh.”


“Sayang ngak bisa! Aku mual, lagi pula aku sudah baik-baik saja,” rengeknya.


uh, gemasnya mengapa sekarang Milan yang takut minum obat


“Pokoknya sayang ngak boleh menolak,” paksa Nara dengan mata memincing ke arah suaminya, memuat pemuda itu menjadi cicit.


“Baiklah.” Oh, sekarang dia telah menjadi budak istrinya tercinta selalu patuh pada kata-kata istrinya.


Milan lalu menerima tablet dari Nara. Sejenak terdiam tak melakukan apa-pun ada keraguan di dalam dirinya.


“Ayo!” desak Nara.


Dengan ragu-ragu Milan memasukan tablet ke dalam mulutnya, lalu cepat meraih gelas berisi air putih yang di sodorkan oleh Nara kemudian menenggaknya.


Nara menarik sudut bibirnya melihat Milan kepayahan menelan obat itu. Perempuan ini pun memajukan wajahnya lalu menarik tengkuk leher Milan hingga wajah mereka semakin dekat.


Cup


Nara menempelkan bibirnya di atas bibir Milan untuk pertama kalinya. Mata Milan membulat sempurna, seketika obat itu lolos melewati tenggorokan Milan.


Ah, jantung Milan seakan ingin lompat keluar, ini pertama kalinya Nara menciumnya lebih dulu.


Tempelan bibir terlepas, napas Milan terengah menatap wajah Nara yang tersenyum.


“Bagaimana sayang? Aku membuatnya mudah kan,” goda Nara dengan senyum mengejek menatap wajah lucu Milan yang merona.


Uh menggemaskan.


Kali ini Naralah yang bertindak apa yang Milan lakukan saat dia kesulitan meminum obat.


Milan tersadar dari terkejutannya setelah mendapatkan ciuman dari Nara.


“Kau menggodaku sayang!”


Pemuda ini  tersenyum penuh arti wajahnya semakin maju mengikis jarak di antara wajah istrinya.


Yang di tatap mulai gelagapan.


“Mau apa? Kak Milan masih sakit?”


Nara menelan salivanya kelat saat melihat manik mata itu telah tersulut api gairah. Ah astaga aku membangunkan singa yang sedang tidur, dia tidak akan melepaskan aku, sesal perempuan ini. Dia lupa jika yang ia goda adalah Milan Kalingga yang menjelma menjadi suami mesumnya.


Tanpa kata lagi tangan Milan terulur menangkup wajah Nara mempertemukan bibir mereka. Milan mellumat bibir Nara dengan gelora cinta menggebu hingga Nara merasa akan kehabisan napas.


Sejenak ciuman itu terlepas.


“Aku sudah sembuh sayang!” bisik Milan di telinga Nara.


Wajah Nara memanas, semburat merah telah menghiasi di barengi irama Jantung yang berdetak lebih cepat.


“Kamu adalah obat itu sayang,” ucap Milan dengan suara serak berkabut gairah dengan napas memburu setelahnya mendorong tubuh Nara perlahan berbaring kemudian beralih menindihnya, kini dalam kungkungan suaminya.


Dan lagi malam panas penuh gelora akan terlewatkan malam ini untuk pasangan yang baru saja bertemu ini. melalui malam indah yang akan terus mereka gapai bersama sebagai pasangan suami-istri yang tak terpisahkan.