Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
kecewa


Di gedung  perkantoran Maxkal yang menjulang tinggi, di ruangan presdir. Milan duduk di kursi kebesarannya menatap penuh amarah.


“Sea, mengapa kau melakukan itu padaku! Apa tujuanmu?” geram pemuda ini mengepalkan tangannya erat.


“Apa agar aku menikah dengan sahabatmu itu!” tudingnya amarahnya semakin naik. Setelah merangkai semuanya ia menyimpulkan jika gadis berkacamata itu pasti terlibat dengan kebohongan yang di buat oleh sahabatnya.


Sementara di luar ruangan, Nara telah sampai di kantor Maxkal, akan menemui Milan sang presdir.


Langkah cepat gadis berkacamata ini terhenti saat seorang perempuan cantik bertubuh tinggi berdiri dari tempat duduknya, melangkah untuk menghentikannya Nara.


“Maaf Nona anda tidak boleh masuk!” cegah perempuan bernama Siska yang merupakan sekretaris Milan. Berdiri menghadang di hadapan Nara.


“Saya ingin bertemu dengan pak Milan!” ucap Nara suaranya terdengar serak karena tiada hentinya menangis.


“Apa Anda sudah membuat janji?” tanyanya.


Bukan hal yang mudah untuk bertemu dengan seorang presdir. Semua harus melalui prosedur.


“Belum. tapi, saya harus bertemu dengannya!” pinta Nara dengan wajah memelas.


“Maaf, nona Anda tidak bisa bertemu dengan pak Milan!” tolaknya dengan tegas.


“Ini sangat penting! Tolong beritahu dia jika saya ingin bertemu!” mohon Nara kembali air mata itu memupuk.


“Sebaiknya Anda pergi dari sini! Pak presdir tidak punya waktu bertemu dengan Anda!” tolaknya dengan ketus menatap remeh, membuat Nara putus asa. Dia harus bergerak cepat untuk menyelamatkan nyawa adiknya, malah tertahan bersama perempuan ini.


Tanpa kata lagi Nara mencoba menerobos tubuh perempuan tinggi itu. Oh sungguh dia harus cepat bertemu dengan Milan.


“Hei, kau tidak boleh masuk!” Cegah Siska menggeser tubuhnya lagi di hadapan Nara.


“Tolonglah, Aku ingin bertemu dengannya! Aku adalah istrinya!” ungkap Nara dia sudah tidak punya cara lain selain mengakui dia adalah istri Milan.


“Istri!” dengus perempuan itu, melipat tangan di dada tersenyum remeh menatap Nara dengan tatapan menilai dari atas hingga bawah. Gadis berkacamata dengan rambut terkepang dua yang acak-acakan serta jaket jeans yang membalut tubuhnya terlihat sangat kacau.


Istri presdir? tentu saja dia tidak percaya.


“Jangan sembarang bicara! Presdir kami tidak mungkin memilik istri yang penampilannya kampungan seperti dirimu!” hardiknya sinis tak mempercayai ucapan Nara.


“Nona, aku memang benar istrinya, biarkan aku masuk!” mohon Nara.


“Jangan mengaku, sadar diri, lihat penampilanmu norak culun, gadis kampung. kau mengkhayal terlalu tinggi!” Serangnya dengan nada menghina dan merendahkan Nara.


Ah, dada Nara berdenyut perih mendengar penghinaan yang di tunjukan padanya seburuk itu kah dia? Hingga tak pantas mengakui dirinya sebagai istri Milan. Dia hanya ingin bertemu dengan Milan, tapi kenapa malah penghinaan yang ia dapatkan.


Mencoba tak memedulikan ucapan sekretaris Milan. Nara mendorong tubuh Siska hingga bergeser. Dia pun berhasil melangkah namun dengan cepat Siska menarik pergelangan tangan Nara.


“Kau tidak boleh masuk!”


“Tolong biarkan aku masuk!” jerit Nara dengan air mata mulai berlinang. Hingga terjadilah tarik menarik.


“Ada apa ini!” suara bariton terdengar.


Mereka pun terhenti saat Kay datang menghampiri.


“Nona Nara!” sapa Kay menatap Nara dengan alis berkerut dalam, melihat Nara berada di kantor terlebih penampilan perempuan itu  acakan-acakan.


Nara mendekat ke arah Kay.


“Kak Kay, tolong aku ingin bertemu dengan kakak Milan. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan!” mohon Nara dengan suara bergetar.


Melihat Nara datang ke kantor tentu pasti ada sesuatu yang penting.


Kay pun mengarahkan manik matanya pada Siska.


“Biarkan dia masuk!” titah Kay.


“Tapi pak,” sela Siska tak terima.


“Terima kasih kak!”


Nara langsung melangkah cepat tak menghiraukan apa-pun lagi, dia tidak boleh terlambat.


“Kau tahu siapa dia?” bentak Kay setelah menatap bayang Nara telah menghilang.


“Dia istri presdir!” tekan Kay.


Jeduar ...


Tubuh perempuan itu seketika bergetar takut, mengingat dia telah menghina Nara. Istri bosnya itu sebagai perempuan kampung.


“Maaf pak! Maafkan saya! Saya tidak tahu,” ucapnya lirih dengan kepala tertunduk.


“Sebaiknya kau tulis surat pengunduran dirimu, karena pak Milan pasti tidak akan memperkerjakan lagi orang yang tidak menghormati istrinya,” jelas Kay dengan seringai di wajah berlalu pergi meninggalkan perempuan itu.


Tubuh sekretaris itu seketika limbung, kariernya telah tamat.


Menarik napas panjang serta mengusap air mata di pipi. Nara pun melangkah masuk ke dalam ruangan Milan, menatap pemuda itu duduk di kursi kerjanya, mengamati bukti-bukti yang di berikan oleh Mark.


“Kak Milan!” sapa Nara berdiri di tengah ruangan.


Milan mengangkat pandangan, Gurat wajahnya berubah menjadi dingin melihat Nara berada di hadapannya. Amarah itu semakin naik.


“Untuk apa kau kemari!” hardiknya dengan tatapan tajam.


Nara tertegun melihat perubah sikap Milan padanya. Bukan menyambutnya dengan ramah malah seakan ingin menerkamnya.


Milan bangun dari duduknya melangkah mendekat ke arah Nara melayangkan tatapan sinis.


“Kak Milan ....”


“Apa kau ingin mengetahui kabar sahabatmu itu?” sela Milan lebih dulu membuat ucapan Nara kembali tertelan.


Pemuda ini melipat tangan di dada melayangkan tatapan menyelidik.


“Kau dan Sea bersahabat lama! kalian pasti tidak punya rahasia yang di tutupi, sebagai sahabat kau selalu akan selalu mendukungnya kan!” tekan Milan dengan nada mengalun.


Manik mata Nara menatap Milan lekat, tak mengerti dengan apa yang di maksud dengan lelaki itu.


Deg ... Nara mematung dengan  jantung seakan ingin terjun bebas.


Potongan ingat Nara tentang ucapan Chelsea jika dia yang membatalkan pernikahan itu karena Zeline berkhianat terlintas.


Oh tidak, Milan telah tahu rahasia yang di simpan Chelsea. Karena itu lah pemuda ini sangat marah.


“Jawab!” bentak Milan.


“Kak Milan!” ucap Nara lirih seketika wajahnya berubah pias.


“Iya atau tidak!” bentak Milan penuh amarah.


Membuat tubuh Nara cicit, Milan benar-benar terlihat mengerikan saat marah.


“Iya, kak.” Ucap Nara dengan kepala tertunduk mengungkapkan kebenaran yang ia tahu.


“Ternyata benar dugaanku! Selama ini kau telah bekerja sama dengan sahabatmu itu, dan kau pasti tahu juga kan jika selama ini  Sea menyembunyikan Zeline di Paris!” tuding Milan.


Nara yang tertunduk beralih menatap Milan lalu menggeleng pelan akan tuduhan itu.


Bekerja sama dengan Chelsea menyembunyikan Zeline! Sungguh itu tidak benar, Nara juga baru tahu setelah pernikahan itu terlaksana. Dan ia juga tidak tahu ternyata selama ini Chelsealah yang menyembunyikan Zeline.


“Tidak seperti itu kak ...”


“Lalu apa!” sembur Milan tak memberi Nara kesempatan untuk bicara.


“Kau menggunakan cara licik agar bisa menikah denganku! Memanfaatkan sahabatmu itu untuk menjadi bagian keluarga Kalingga!” tuding Milan.


Cara licik ...


Air mata Nara telah menggenang di pelupuk mata, tuduhan itu sangat menyakitkan hatinya. Sumpah demi apa-pun dia tidak pernah berpikir seperti itu.


“Tidak kak,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


“Aku kira kau perempuan yang polos, ternyata itu hanya kedok untuk mendapatkan simpatiku! kau tidak lebih dari perempuan penipu!” murka Milan.


Air mata Nara sudah tak bisa terbendung lagi, bulir kristal itu telah jatuh deras membasahi pipinya.


Namun dia harus mengesampingkan masalah itu dan harus pokus pada adiknya.


“Kak Milan, aku bisa jelaskan itu semua! Tapi tolong bantu aku dulu!” mohon Nara.  Nara tidak punya waktu untuk membahas semua masalah hilangnya Zeline yang terpenting saat ini adalah hidup adiknya.  


“Membantumu!” pekiknya sinis tatapan Milan semakin tajam seakan menghunus tubuh Nara.


Milan tersenyum miring.


“Karena kedokmu telah terbongkar! Akhirnya kau meminta sesuatu padaku! Harta, uang kekuasaan! itu yang kau inginkan!” geram Milan semakin menyudutkan Nara.


Tubuh Nara bergetar hebat semakin terisak, Sungguh hancur perasannya akan tuduhan Milan, ia merasa sehina-hinanya kehilangan harga diri. Namun dia harus menyampaikan jika hidup adiknya lebih penting. Dia di rendahkan demi hidup adiknya.


“Kak Milan. Aku butuh biaya untuk Nana adikku ...” suara itu semakin parau tenggelam dalam isakan memikirkan keadaan adiknya.


“Akhirnya kau katakan juga kau ingin uang!” tekan Milan mendengus tersenyum remeh.


Nara tertunduk dalam tangis, seakan dia tidak telah kehilangan muka di hadapan Milan.


“Kak Milan, Nana ...”


Suara Nara tertahan saat seorang lelaki masuk melangkah mendekat.


“Pak semua telah siap, penerbangan ke Paris siap berangkat,” ucapnya memberi laporan.


Paris ... Nara tertegun, Milan akan pergi ke Paris berarti dia akan menemui Zeline mantanya itu.


Ah hati Nara seakan di sayat mendengarnya, dadanya terasa teremmas kuat.


“Bagus! Ayo kita pergi sekarang!” seru Milan.


Nara lalu mencekal pergelangan tangan Milan.


“Kak Milan! Jangan pergi! Tolong bantu aku, adikku ...” rintih Nara dengan suara terendah memohon di hadapan Milan.


“Aku tidak punya waktu untuk meladenimu!”


Milan menepis kasar tangan Nara, setelah berbalik meninggalkan gadis berkacamata itu.


Sejenak Nara tertegun menatap tangan yang di tepis Milan. Pemuda itu mengabaikannya.


“Kak Milan!” panggil Nara terdengar lirih.


Namun sedikit pun Milan tidak berbalik hingga hilang di balik pintu.


Hiks ... hiks ....


Tangisan Nara pecah meluapkan seluruh perasaannya.


“Aku tidak sejahat itu!” semakin terisak tuduhan Milan membuat hatinya terasa di iris sembilu sangat sakit.


“Mengapa jadi begini!” raung Nara tubuhnya seketika merosot lemas di lantai seakan dia sudah tidak punya kekuatan menghadapi masalah yang bertubi-tubi menimpanya.


“Nana! Apa yang harus kakak lakukan! Bertahanlah, jangan tinggalkan kakak!” rintih Nara cairan bening itu terus turun tiada henti membuat dadanya terasa semakin sesak.


Adiknya sedang sekarat, bertaruh antara hidup dan mati, dia datang ke kantor Milan untuk menggantungkan nasib adiknya pada lelaki itu. Namun Milan yang ia harapkan hanya memberinya kekecewaan, tega menuduhnya, bahkan melemparkan penghinaan yang menyakitkan hati hingga membuat harga dirinya terluka dan merasa sangat rendah. Oh, Sungguh malang nasib yang harus dia terima.


 


 


Dasar Milan kampret ....


 


Hai cerita ini lagi proses kontrak jadi slow up ya. Lumayan kalau di kontrak dapat serebu rupiah sehari. Aduh aku jadi malu .... mengungkapkannya