
“Ma, sudah. Aku udah kenyang,” rengek Milan bak anak kecil saat mama Erika terus saja menjulurkan sendok ke mulut Milan agar pemuda itu menghabiskan makanannya.
“Kamu harus makan yang banyak, biar kamu cepat pulih, satu kali lagi,” bujuk mama Erika.
“Iya, kakak harus makan yang banyak,” tambah Chelsea yang duduk di sofa ruangan sejak tadi menatap kakak dan ibunya.
Mendesah kasar pemuda ini pun akhirnya pasrah membuka mulut.
Sudah tiga hari Milan menghabiskan hari di ranjang rumah sakit, tubuhnya yang terbaring lemah mulai pulih setelah mendapatkan perawatan terbaik serta ketelatenan mama Erika yang tanpa lelah merawatnya.
Pintu ruangan terbuka membuat perhatian ibu dan anak ini teralihkan pada sesosok pemuda yang baru saja masuk dengan membawa berkas ditangan.
“Pagi bi,” sapa Kay.
“Kamu di sini Kay,” balas mama Erika melemparkan senyuman.
“Iya, bibi,” kata Kay bagaimana tidak Milan yang memintanya datang untuk membawa berkas ke rumah sakit
Manik mata Kay beralih pada perempuan cantik yang duduk di sofa.
“Hai Sea,” sapanya dengan senyum lebar namun sangat menjengkelkan bagi Chelsea.
Chelsea mendengus memutar bola mata malas pemuda ini selalu saja memancing kekesalannya.
Senyum Kay semakin terkembang saat Chelsea memasang wajah masam seakan puas.
Beralih dari Chelsea Pemuda tampan yang menjadi asisten Milan ini pun mendekat ke arah ranjang.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Kay berdiri di sisi ranjang menatap Milan yang menjadikan bantal sandarannya.
“Aku baik-baik saja,” jawabnya dengan nada datar. “Mana laporan yang aku minta?” tanya Milan mengulur tangannya yang masih melekat selang infusan.
Kay tergelak mendesak kasar. Dia baru saja datang sahabatnya ini telah meminta laporan pekerjaan. Uh, dipikiran Milan hanya kerja, kerja dan kerja.
“Lan istirahatlah,” kata Kay masih menahan berkas ditangannya.
“Aku baik-baik saja, berikan padaku!” desak pemuda ini.
Kay pasrah sahabatnya ini memang tidak akan mendengar nasihat dari siapa pun.
Melihat berkas laporan telah di tangan Milan membuat mama Erika memasang wajah cemas.
“Lan kau harus banyak istirahat,” saran mama Erika.
“Tidak bisa ma! Ini perkerjaan penting!” ucap Milan mulai membuka laptopnya.
“Lan jaga kesehatan kamu! Jangan menyiksa diri seperti ini,” suara mama Erika terdengar bergetar manik matanya mulai berkaca-kaca.
Dia sangat prihatin dengan keadaan putranya.
“Aku baik-baik saja!” balas Milan tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya.
Kepala mama Erika terasa berputar, pandangannya seketika mulai berkunang-kunang. Tubuhnya sudah tak kuat bertumpu seketika oleng.
“Bibi!” teriak Kay dengan cepat menahan tubuh mama Erika yang hampir jatuh ke lantai.
“Mama!” teriak Chelsea dan Milan seketika tersentak melihat perempuan yang melahirkannya tumbang tak sadarkan diri.
Milan terlonjak turun dari ranjang.
“Mama! Naikkan ke ranjangku Kay!” ucap Milan lalu membantu Kay untuk membawa tubuh perempuan paruh baya itu ke ranjang.
“Mama bangun!” raung Chelsea berdiri di sisi ranjang.
“Aku akan panggil dokter!” seru Kay lalu menekan tombol yang berada di dinding.
Tak lama berselang beberapa dokter datang memeriksa kondisi mama Erika.
...****************...
Cahaya jingga menghiasi langit senja. Chelsea masih berada di ruang rumah sakit.
Perempuan cantik ini duduk di pinggir ranjang, menatap miris pada mamanya yang tertidur di ranjang rumah sakit. Ah sungguh miris, Kini telah ada dua ranjang di dalam satu ruangan.
Ya, mama Erika tumbang karena kelelahan mendamping Milan dan harus menerima perawatan di rumah sakit.
Chelsea juga merasakan kepalanya ingin pecah kenapa hidup dan keluarganya kacau seperti ini. Tangan Chelsea mengusap air mata yang jatuh dengan sendirinya. Rasa sedih itu tak kesudahan.
gadis cantik ini menggelengkan kepala.
“Kau harus istirahat, biar aku yang menjaga mama, aku sudah tidak apa-apa," ujar Milan memasang wajah sendu, dialah penyebab mamanya kelelahan.
“Aku akan menjaga kalian,” kekehnya tidak mungkin dia tidur di ranjang nyaman sedangkan kakak dan ibunya sedang berada di rumah sakit.
“Tolong Sea, aku tidak ingin kau juga sakit, aku tidak ingin kau sakit sama seperti mama! pinta Milan dengan nada terendah terdengar lirih.
bagaimana pun dia menyalahkan dirinya akan kondisi mamanya.
Chelsea tertegun menatap wajah kakaknya yang memasang wajah cemas dan mengiba.
“Baiklah kalau itu keinginan kakak!” ucap Chelsea dengan helaan napas pasrah.
Setelanya beranjak dari kursi mendekat ke arah kakaknya.
"Aku pergi, jaga mama, jika ada sesuatu hubungi aku!” pamit sang adik.
Milan hanya mengangguk.
Gadis ini pun keluar dari ruangan. Melangkah cepat dengan mulut terbekap tangis yang ia tahan sedari tadi akihirnya pecah.
Di luar ruang Chelsea mulai menumpahkan seluruh perasaannya dengan tangis.
“Kenapa seperti ini!” raung Chelsea akan hidupnya yang terus saja di rundung, masalah apalagi setelah kepergian dua sahabatnya. Dia sendiri tak ada lagi penghibur hati.
“Sudah jangan menangis!” suara berat terdengar dari arah samping membuat Chelsea tesentak lalu mengarahkan pandangannya ke arah samping menatap pemuda tampan yang sangat menyebalkan baginya.
“Kak Kay!” sentak Chelsea mengusap air matanya, dia tidak boleh terlihat lemah di hadapan lelaki menyebalkan itu.
“Jangan sedih, Ibumu hanya kelelahan dan Milan juga sudah mulai pulih!” ujar Kay mencoba menenangkan hati Chelsea.
Gadis cantik ini hanya memasang wajah datar hatinya sedikit tenang mendengar ucapan Kay.
“Kenapa kau belum pulang!” ujar Chelsea kembali dengan mode juteknya.
Kay melangkah mendekat ke arah Chelsea dengan memasang wajah serius.
“Aku ingin bicara sesuatu padamu!” tekan Kay.
Chelsea menatap wajah Kay lekat merasa aneh pemuda itu tak menampilkan senyum mengejeknya.
“Bicara apa!” ketusnya.
“Aku punya cara agar sahabatmu itu kembali!” ujar Kay tahu sekali jika biang dari semua masalah ini adalah kepergian Nara.
Netra mata Chelsea seketika terfokus pada pemuda itu.
Apa, pemuda menyebalkan ini bisa membuat sahabatnya yang telah pergi kembali.
“Membantu! Kau jangan bicara sembarang!” sarkas Chelsea bahkan orang-orang terbaik yang sudah di perintahkan tidak tahu di mana mereka.
“Aku punya cara yang terbaik, mereka akan pulang!” balas Kay meyakinkan.
Sejenak Chelsea tertegun, rasa penasaran mulai merasuk di dalam hatinya. Cara apakah yang di maksud oleh Kay, benarkah bisa membuat dua sahabatnya itu kembali.
Oh, jika memang itu bisa membuat Nara dan Vino kembali maka dia akan melakukannya.
“Baiklah beritahu aku! Bagaimana caranya?” tanya Chelsea dengan tak sabar.
Kay menarik napas panjang menatap gadis yang ada di hadapannya lekat mulai berucap.
“Hanya ini yang bisa membuat mereka kembali, dan membuat Milan kembali menjalani hidup dengan bahagia ...” menggantung ucapannya mengumpulkan keberanian.
Chelsea memasang baik-baik apa yang akan di ungkapkan oleh Kay yang mulai mengucapkan caranya.
“Chelsea Kalingga menikahlah denganku!” tekan Kay dengan suara tegas serta wajah serius.
Apa! Menikah ....
Chelsea membatu di tempat? menikah dengan Kay adalah cara agar sahabatnya kembali.
Menikah dengan pemuda menyebalkan itu.