
Fajar telah menyingsing. Pemandangan berbeda terlihat di sebuah kamar. Sepasang suami istri sedang berpelukan di bawah balutan selimut yang sama.
Nara menggeliat kecil mengumpulkan kesadarannya. Kelopak matanya mulai terbuka, sayup-sayup ia melihat pemuda tampan terlelap berbaring di sampingnya mendekap tubuh mungilnya erat.
Jantung Nara terpompa cepat, saat mengintip tubuh polosnya dari balik selimut bayangan percintaan panas mereka semalam kembali terkenang, bagaimana Milan membuatnya terkulai lemas dalam kungkungannya, hingga ia merasakan seluruh tubuhnya remuk karena ulah suaminya.
Ah semalam Milan benar-benar membuatnya tak bisa terlelap. Tenaga suaminya itu seakan tidak ada habisnya.
Dengan perlahan Nara melepaskan belitan tangan kekar Milan yang melingkar di pinggangnya. Dia harus segera pergi sebelum pemuda ini bangun dan kembali menerkamnya. Lagi pula dia punya jadwal merias.
Nara turun dari ranjang, melangkah pelan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah beberapa saat Nara telah rapi hendak pergi tinggal memakai kacamata yang ia letakkan di atas Nakas.
Nara telah hendak melangkah pergi, akan tetapi terhenti, dia teringat jika dia selalu memberikan petuah move pada Milan sebelum berangkat.
Tangan gadis berkacamata ini menarik laci nakas, meraih pulpen dan kertas kemudian mulai menulis kalimat.
Lupakan pahitnya
Jangan lupakan pelajarannya.
Temukan satu tujuan dan terus fokus dan jadikan alasan untuk harus meraih itu?
Semangat ...
Setelah menuliskan kata Nara meletakkannya di laci, menatap sekilas ke arah Milan yang terlelap kemudian berlalu keluar dari kamar sebelum Milan bangun.
////
Matahari baru merangkak naik. Nara baru saja menyelesaikan tugasnya merias calon pengantin wanita yang akan menjalani akad nikah.
Dengan langkah gontai gadis berkacamata ini meninggalkan ruangan membawa tas make upnya. Nara merasakan tubuhnya remuk redam ia benar-benar sangat lelah dan mengantuk bagaimana tidak Milan membuat bergadang semalaman.
Sebelum pulang Nara memutuskan untuk beristirahat sejenak, duduk di tengah pesta yang belum di mulai. Manik mata Nara menatap orang-orang lalu lalang menyiapkan pesta yang tak lama lagi di gelar.
Hingga rasa kantung itu semakin menyerang, Kelopak mata Nara mulai tertutup sayu namun tersentak saat merasakan ada seseorang duduk di sampingnya menyandarkan kepala di pundak Nara.
“Sea!” seru Nara tersentak kaget.
“Aku sangat merindukannya!” ucapnya terdengar lirih.
Tatapan Chelsea ke arah depan tepat pada pemuda yang memegang kamera saat ini bertugas sebagai pengganti Vino.
Melihat itu mengingatkan mereka pada Vino.
Nara menghela napas berat, ia juga merasakan apa yang Chelsea rasakan. Kehilangan, kosong.
“Ngak ada Vino, ngak seru! Ra” keluh Chelsea dengan suara bergetar.
Air matanya selalu saja ingin turun jika mengingat pemuda itu. Apalagi dia yang telah menyakitinya.
“Dia masih kecewa, Berikan dia waktu,” ucap Nara sembari tangan Nara terulur mengusap rambut Chelsea dengan lembut.
“Kita sudah bersama belasan tahun! Ngak mendengar suaranya, canda tawanya, rasanya sangat aneh, sepi.” Setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
Mengingat jika Vino selalu membuat mereka tertawa, memotret mereka, bernyanyi bersama. Melakukan kegilaan bersama.
Oh, dada terasa sesak jika mengingat itu semua.
Nara menarik tubuhnya dari kepala Chelsea, beralih menangkup wajah sahabatnya.
“Dia pasti juga merasakan sama seperti kita!,” tutur Nara sembari menyeka air mata Chelsea dengan ibu jari.
“Semoga Vino kembali bersama kita lagi,” harap Chelsea.
Sungguh Chelsea benar-benar takut jika sahabatnya itu tidak mau bersamanya lagi.
“Jangan menangis lagi, dia akan kembali saat hatinya telah tenang,” bujuk Nara.
Chelsea menganggukkan, hatinya sedikit tenang. Tangannya pun mengusap kelopak matanya yang basah.
Nara tersenyum tipis melihat Chelsea mulai tenang.
Alis Chelsea berkerut dalam setelah menatap wajah Nara lekat. Kelopak mata sayu, kantung mata yang menggelap di balik kacamata serta raut muka tak bersemangat membuatnya menjadi bertanya-tanya apa yang terjadi pada sahabatnya ini.
“Kau sakit Ra?” tuding Chelsea tangannya lalu mengarah pada kening Nara untuk mengecek suhu tubuh gadis berkacamata itu.
“Sakit,” ulang Nara tak mengerti.
“Wajahmu pucat banget.”
Mendengar itu Nara seketika tersentak, membuang pandangannya. Agar Chelsea tak membaca mimik mukanya.
Uh, ngak mungkin dia bilang karena Milan yang membuatnya begadang semalam.
“Aku ngak apa-apa. Aku hanya lelah,” Alibi Nara.
Nara mendengus memutar bola mata malas.
“Ini semua juga karena kakakmu, tenaganya ngak ada habis-habisnya,” jerit Nara di dalam hati mengingat bagaimana suaminya membuatnya lemas tak berdaya.
Chelsea masih menatap Nara lekat seakan menyelidik.
“Aku hanya mengantuk!” tekan Nara.
“Mengantuk? Memang apa yang membuatmu kurang tidur?” rancau Chelsea terdengar sinis masih tak percaya.
Namun seketika Manik mata Chelsea membulat sempurna teringat sesuatu jika Nara kan semalam menginap di rumahnya dan sekamar dengan Milan. Apalagi yang membuat pasangan pengantin begadang dan kelelahan kalau bukan hal itu ....
“Astaga! Kau dan kak Milan–” ada jeda sejenak.
“Sudah melakukan hubungan suami-istri,” tebak Chelsea langsung tanpa basa-basi menatap lekat Nara.
Oh, tidak Chelsea bisa menebaknya.
Blus ...
Seketika wajah Nara menjadi panas hingga semburat merah itu tampak, hingga dia pun semakin salah tingkah dengan tatapan Chelsea yang seakan menyelidik.
“Jawab Ra, apa kalian sudah melakukannya!” desak Chelsea memegang bahu Nara menanti jawaban dengan antusias.
Nara mengela napas panjang mengangguk samar. Memilih pasrah Chelsea si cerewet ini tidak akan melepaskannya.
Melihat Nara menjawab degan anggukan, senyum terkembang di bibir Chelsea.
“Nara kau hebat!” teriak Chelsea kegirangan lalu membekap erat tubuh gadis berkacamata itu.
“Sea!” Nara mencoba berontak dalam pelukan Chelsea. “Sea lepaskan!”
Pelukan terlepas Chelsea beralih memeganga pundak Nara.
"Aku sangat senang Ra, itu sangat bagus!”
Nara mengendus, merotasi matanya.
“Bagus dari mana Sea! Aku batal jadi janda kembang bersegel,” hardik Nara dengan jeritan hati seorang calon janda.
Bagi Nara hubungan dengan Milan tidak akan pernah selamanya. Cepat atau lambat mereka akan berpisah.
“Janda! Itu tidak akan terjadi Ra. Kau tidak akan menjadi janda.”
Chelsea beralih merangkul pundak Nara.
“Kak Milan sudah mencintaimu!” tuturnya.
Nara tergelak, tersenyum sinis.
“Cinta! Jangan sembarang Sea!”
“Ya ampun Ra, kak Milan menyentuhmu itu berarti dia suka padamu? Kalau tidak dia tidak akan peduli padamu,” jelas Chelsea.
“Itu tidak mungkin Sea, memangnya aku siapa? Wajah biasa aja, badan mungil kaya kemasan kecap sachet, di tambah hidup melarat lagi lengkap dah, jauh beda banget sama tipe kak Milan Zeline seorang model,” terang Nara merasa rendah diri.
“Kalau dia melakukannya denganmu itu berarti dia mencintaimu! Zeline aja tiga tahun pacaran sama kak Milan ngak pernah di apa-apain sama kak Milan,” jelas Chelsea tahu dari cerita kakaknya.
Ya, Terkadang Nara merasa itu cinta namun selalu ia tepis prasangka itu. Sekuat hati menolak, Milan tidak mungkin jatuh cinta padanya
“Sikap kak Milan sudah berubah padamu kan? ” tekan Chelsea meyakinkan.
Nara hanya terdiam mendengarkan ocehan Chelsea.
“Cinta,” batin Nara seketika memorinya berputar mengingat kenangan bersama Milan bagaimana pemuda itu begitu perhatian dan memperlakukannya dengan lembut.
Ah, cinta? Apa mungkin Milan Kalingga yang tampan nan sempurna, seorang presdir perusahaan top Maxkal jatuh cinta padanya? Si culun?
...****************...
hei up date ngak karuan ya! sya minta maafnya kayanya ini sampai hari selasa deh. ngak teratur jamnya.
oh,iya mau tanya ini masih mau di kasi manis-manis antara Nara dan Milan ngak, atau udah mau konflik?
oh iya satu lagi, kayanya banyak yang baru gabung deh dengan cerita ini. untuk kalian semua pembaca Nara dan Milan terima kasih atas dukungannya berupa like, coment dan votenya tanpa kalian cerita ini bukan apa-apa ...
Like
Coment
Vote ...