Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
perasaan Nara


Kelopak-kelopak indah bunga mawar merah menghiasi lantai di sebuah ruang kamar mewah. Di sertai dengan Lilin tersusun rapi yang kini cahayanya telah meredup. Balon-balon berbentuk hati bergantungan menghiasi dinding,  layaknya di sebuah kamar pengantin.


Sinar mentari pagi telah menerpa ke arah ranjang, di mana terlihat sepasang suami-istri bergelung nyaman saling berpelukan di bawah selimut yang menutupi tubuh polos mereka.


Pakaian yang  berserakan di antara kelopak bunga mawar. menandakan jelas jika pasangan ini telah melalui malam indah penuh gairah bak pengantin baru.


Dret ... dret ....


Suara getar ponsel di nakas membuat tidur pemuda tampan ini terganggu.


Milan menggeliat pelan matanya mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk. Milan menarik ke dua sudut bibirnya saat pandangan pertamanya membukan mata ia menatap wajah cantik istrinya dalam pelukan. Ya tuhan sebuah berkah yang sangat ia syukuri. Sudah seminggu Milan dan Nara melakukan bulan madu telah banyak hal romantis yang di lakukan Milan untuk istrinya yang akhirnya selalu berakhir dengan gairah saling bertukar peluh.


Suara getar ponsel tiada hentinya terdengar. Milan menatap ke arah nakas di mana letak ponselnya yang tiada henti berbunyi.


“Mengganggu saja,” decak Milan lalu mengurai pelukannya perlahan. Meraih ponselnya.


Memutar bola mata jengah setelah melihat nama kontak yang tertera di layar ponsel.


“Ya halo,” ucapnya dengan suara serak khas bangun tidur.


“Ada apa Kay?” ketusnya pada sang asisten sekaligus adik iparnya yang tanpa dosa sudah ia titipkan pekerjaannya.


“Kapan kau pulang?Kenapa kau lama sekali! Sampai kapan kau di sana!” sosor suara dari seberang sana.


“Tidak tahu!” jawabnya malas menatap wajah cantik istrinya.


“Hei Milan Kalingga aku ini pengantin baru! Aku malah mengurus perusahaan, begitu banyak pekerjaan rasanya aku akan gila! Aku juga ingin menghabiskan waktu dengan istriku!” sembur dari balik sana.


“Kay kau mengertilah, aku ini juga pengantin baru!” balas Milan tak mau kalah.


Terdengar suara decihan di seberang sana.


“Pengantin baru apanya! Kau sudah menikah hampir tiga tahun! Kau sudah jadi pengantin usang!” hardik sang Kay tak mau kalah.


“Kau, berani-beraninya kau bilang seperti itu! Aku ini  pengantin lama. Tapi, rasa masih baru!” decak Milan kesal tak terima.


“Dasar! Aku yang menikah kau yang honey moon! Pulang sekarang juga!” tekan sang sahabat yang telah menjadi adik iparnya.


“Aku tidak mau,” jawab Milan.


“Kau ...”


Tut .....


Milan memutuskan panggilan sepihak tak peduli jika yang di seberang pasti telah menggila karenanya.


Milan menarik napas berat. Menatap ke arah Nara yang baru ia sadari ternyata telah terbangun.


“Maaf sayang mengganggumu, tidurlah lagi,” ucap Milan mengecup lembut kening Nara, kembali memperbaiki posisinya memeluk istrinya.


“Kak Kay?” tanya Nara yang mendengar perdebatan mereka.


“Emm.” Milan mengangguk.


“Pasti karena perkerjaan kakak,” tebak perempuan ini.


“Kembalilah! Lagi pula kurang dari tiga bulan lagi, kita akan hidup bersama,” jelas Nara memberi saran.


“Itu lama sayang!” Milan memeluk erat tubuh istrinya.


“Sabar sebentar lagi,” bujuk Nara.


“Ngak bisa!”


“Dulu juga dua tahun bisa!” ejek Nara.


“Dan itu membuatku hampir gila!” terang Milan dengan cepat, wajahnya berubah pias.


Nara terbungkam, memang benar lelaki ini bak menggila terus mencari keberadaannya.


“Perkerjaan kakak juga penting, kakak punya tanggung jawab. Kasihan kak Kay di sana.”


Milan terdiam sebenarnya ia tidak khawatir perusahaan di tangani oleh Kay namun mengingat jika pemuda itu juga adalah pengantin baru tentunya ingin menikmatinya juga.


Milan menarik napas berat.


“Baiklah aku akan pulang, tapi aku akan sering mengunjungimu di sini,” kata Milan telah mengambil keputusan.


Bolak-balik Jerman-Indonesia. Tentu bukan perkara mudah.


“Tidak perlu,  jaraknya terlalu jauh, kan kita masih bisa bertatap melalui sambungan telepon,” jelas Nara.


“Tidak apa-apa demi kamu sejauh apa-pun aku rela! Aku ngak bisa menahan kangen sama kamu,” terang Milan mengecup puncak kepala Nara.


Ah, Nara rasanya ingin terbang mendengar ucapan lelaki ini sungguh manis sekali membuat hatinya bak taman bunga. Duh, bolehkah ia mencubit gemas wajah tampan ini, sungguh manis. Dapat di pastikan wajah Nara kini telah merona. Betapa suaminya ini sangat mencintainya.


Nara mendongak menatap wajah tampan suaminya.


“Kak Milan!” panggilnya.


“Ada apa sayang?” Jawab Milan menatap lembut wajah istrinya. Pandangan mereka terkunci.


“Aku mencintaimu,” bisik Nara kata cinta yang selama ini yang ia tahan di dalam hatinya. Akhirnya setelah sekian lama ia memiliki keberanian untuk mengucapkan kata itu.


Milan terpaku demi apa-pun saat ini ada jutaan kembang api meledak di hatinya. Ini pertama kalinya Nara mengucapkan kata cinta untuknya. wajahnya telah merona, hatinya bersorak bahagia. Perasaan membuncah itu harus tersalurkan. Tanpa kata seketika kembali Milan telah berbalik menindih dan mengukung tubuh Nara.


“Kak Milan.”


Tatapan mereka terkunci.


“Aku sangat mencintaimu Anara putri, kau pemilik hatiku selamanya, teruslah berada di sampingku,” balas Milan.


Wajah Nara tersipu malu semburat merah merona mengiasi. Akan tetapi itu hanya sejenak karena saat ini Milan akan kembali menguasai tubuhnya membuatnya mendesah lagi.


Oh, Pengakuan cinta yang harus terbayarkan ...


Akhirnya mereka pun kembali menikmati penyatuan penuh cinta dengan perasaan membuncah.