Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir

Si Culun Mendadak Jadi Istri Presdir
tragedi


Di gedung perkantoran Maxkal. Di ruangan presdir Milan duduk di kursi kebesarannya, di hadapannya berdiri seorang lelaki bernama Mark.


Tatapan Milan menghunus ke arah Mark.


“Bagaimana? Apa yang kau dapatkan?” tanya Milan dengan nada dingin terlihat sudah tak sabar mendengar informasi tentang mantan kekasihnya itu.


Kepala Mark menunduk, memberi hormat. Setelahnya mulai menjelaskan.


“Maaf tuan jika kami lancang! Selama ini kami mencoba mengikuti adik Anda untuk mendapatkan petunjuk keberadaan nona Zeline,” jelas Mark dengan takut.


Alis Milan terlipat dalam. “Chelsea!” ujarnya.


“Ya tuan, Kami mencurigai nona Chelsea karena dia adalah orang terakhir yang di temui nona Zeline sebelum dia menghilang! Berdasarkan dari rekaman bukti cctv,” jelas Mark.


Milan melipat tangan di dada, menghela napas berat. “Apa hubungan Chelsea dengan hilangnya Zeline!” tudingnya terdengar tak terima adik kesayangan yang polos di sangkut pautkan dengan kehilangan Zeline.


Mendengar itu tubuh Mark bergetar, ia di dera takut salah bicara. Namun dia yakin dengan informasi yang telah dia kumpulkan.


“Kami menyimpulkan orang berkuasa di balik hilangnya nona Zeline adalah adik Anda, dia bisa merencanakan apa-pun! Dia pasti tahu keberadaan Zeline!”


Semakin tajam saja tatapan Milan pada Mark. Lagi Chelsea di kaitkan dalam hal ini.


"Maaf tuan! Beberapa hari lalu kami menyusuri jejak keberangkatan adik Anda keluar negeri, setelah kami cek ternyata nona Chelsea ke sebuah Villa milik keluarga Kalingga yang berada di Paris dan setelah kami periksa ternyata Villa itu tidak kosong, sejak beberapa bulan yang lalu ada yang menempatinya dan setelah kami selidiki orang itu adalah nona Zeline!” terang Mark panjang lebar dengan kepala tertunduk dalam tak mampu menatap Milan.


“Zeline berada di Paris! Dan selama ini tinggal di Villaku,” bentak Milan bangun dari duduknya, kini amarahnya mulai naik. Logikanya mulai bermain di pikiran jika hanya orang dari keluarga Kalingga yang bisa menempatkan Zeline di Villanya.


Ah, pantas saja dia sulit menemukannya. Decak Milan.


“Ya tuan dan selama ini kami yakin nona Chelsealah yang menyembunyikan keberadaan nona Zeline, dari waktu sejak rumah itu ditinggali oleh Nona Zeline, kami yakin nona Chelsea yang mengatur segalanya agar nona Zeline tidak datang di pernikahan Anda!” tambah Mark.


Mengatur agar tidak datang ke pernikahan. Ah sial ....


Oh, Milan semakin geram saja! Jadi selama ini adiknya yang dia kira polos mengatur hilangnya Zeline.


“Chelsea!” teriak Milan berang.


“Apa yang sudah kau lakukan! Kau yang membuat pernikahanku batal!”


“Mengapa kau melakukan itu padaku!”


Ah, sungguh saat ini dia sangat ingin meluapkan amarahnya pada adiknya itu. Chelsea telah menghancurkan rencana hidupnya bersama Zeline.


“Sea apa tujuanmu! Teganya kau melakukan itu padaku!"


Darah Milan seakan mendidih menyampu semua benda yang ada di meja kerjanya hingga semua tergeletak berantakan di lantai.


***


Nara masih menunggu kedatangan Milan dengan perasaan cemas, hatinya bertanya mengapa hingga saat ini Milan belum juga datang. Ia pun tidak bisa menghubungi ponselnya.


Acara telah di mulai namun Nara masih saja menunggu, berdiri di depan jalan. Sejak tadi dia mondar-mandir sesekali menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Kenapa kak Milan belum datang juga!” batin Nara menunggu dengan gelisah.


Sedangkan tak jauh dari tempat Nara berdiri, di bahu jalan ada seorang yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Nara dari dalam mobil. Seseorang yang mengenakan pakaian serba hitam, manik  mata hitamnya tak lekat menatap Nara.


Sebelah tangannya lalu memutar kunci mobil, suara deru kendaraan pun terdengar.


“Aku akan membuatmu kehilangan orang yang kau cintai! Sama sepertiku!” ucapnya dengan geram mencengkeram stir mobil kuat.


“Kasian sekali kau! Aku harus mengirimimu ke akhirat! Sebentar lagi Milan akan menangisimu yang pergi untuk selamanya!” ucapnya dengan senyum seringai menatap Nara yang berdiri memegang ponsel di tangan.


Ia pun mulai menginjak gas dengan kuat hingga mobil mulai melaju dengan kencang.


“Selamat tinggal!” teriaknya.


Sedang Nara masih mengutak-katik ponselnya, mencoba menghubungi Milan namun panggilannya sejak tadi tak terjawab.


Gadis berkacamata ini tak menyadari jika ada sebuah mobil berwarna hitam sedang melaju kencang ke arahnya.


Hingga saat itu terjadi.


“Awas!” teriak seseorang.


Bruk ...


Tubuh Nara seakan melayang terdorong kuat, ia pun jatuh terhempas dengan keras ke sisi jalan.


“Ahhhhh ....” suara teriakan terdengar menggema setelahnya suara benturan yang terdengar keras.


“Aww.” Keluh Nara berbaring dalam posisi miring. Tubuhnya seakan remuk.


Dengan cepat mencoba bangun menatap apa yang terjadi? Nara memegang lengannya yang terasa sakit. Seingatnya tadi ada seorang yang mendorong tubuhnya kuat hingga ia terjatuh.


Manik mata Nara menatap ke depan.


Deg ...


Tubuh Nara seketika  bergetar hebat, aliran darahnya sekan terhenti menatap ke arah tempatnya berdiri tadi.


Seseorang telah berbaring di tempatnya tadi.


“Nana!” jerit Nara menatap adiknya telah berbaring dengan tubuh bersimbah darah.


Secepat kilat ia pun berlari dengan derai air mata menghampiri tubuh adiknya.


Ya, ternyata Nana melihat kakaknya dalam bahaya. Nana yang telah mendorong Nara  hingga kakaknya terhindar dari mobil yang melaju kencang namun sial Alana tak sempat menghindar malah dia yang tertabrak.


Nara meletakkan kepala Alana di pangkuannya. “Nana bangun Nana,” rintih Nara menepuk-nepuk pipi adiknya semua telah berwarna merah. “Nana kenapa seperti ini Nana! Nana buka matamu sayang! Bertahanlah kakak mohon! Jangan tinggalkan kakak! Kenapa bukan aku saja!” tangis Nara pecah mendekap tubuh adiknya yang tak bergerak sama sekali dalam pelukannya.


 


Like


coment


Vote ...


belum di edit ... maaf kalau banyak typo dan bahasa ngak nyambung. sorry buru-buru ntar kalian keburu tidur yang nunggu aku di tengah malam.