
Pinda rumah
Hari ini adalah waktu yang baik yang di pilih ibu Salma untuk menempati rumah barunya.
Ya, mereka akhirnya memutuskan untuk pindah meninggalkan rumah lama yang penuh kenangan pahit.
Mobil dengan bak terbuka yang membawa barang-barang baru saja memasuki halaman rumah, bersamaan dengan Ibu Salma dan Alana yang datang mengendarai motor. Kini mereka telah berada di depan rumah baru menatap kagum rumah yang akan di huni.
“Bu! Akhirnya kita punya rumah baru.” Alana merangkul pinggang ibunya menatap rumah yang akan mereka tempati.
Sedangkan Nara yang baru turun dari mobil hanya tersenyum lucu melihat adik dan ibunya yang heboh. Ia memilih bersiap memindahkan barang-barang ke dalam.
“Kita akan memulai hidup baru di sini,” ucap ibu Salma di balas anggukan oleh Alana.
“Ngak sia-sia ibu koleksi panci Nana.” Ibu Salma berbangga diri. “Ibu jadi semangat beli panci baru lagi,” tambahnya dengan nada terdengar menggebu
Alana mendengkus memutar bola mata malas.
“Ibu Iiat barang kita cuma panci! Itu pun masih banyak yang belum di angkut!” keluh Alana menunjuk ke arah mobil yang membawa barang mereka di sana ada Nara yang mengurus.
“Sudah Nana jangan ngoceh aja, bantu ibu turuni pancinya bawa masuk ke dalam. Ibu udah ngak sabar masak di dapur baru ibu,” ucap ibu Salma lalu melangkah mendekat ke arah Nara.
“Kayanya harta berharga kita Cuma panci deh,” cibir Alana.
Alana dan ibu Salma pun mulai memindahkan barang ke dalam rumah. Nara berdiri di samping mobil memilih barang apa dulu yang akan dia bawah masuk.
“Kami terlambatnya!” suara melengking terdengar dari belakang Nara. Ia pun berbalik, mengembangkan senyuman menatap dua sahabatnya telah datang.
“Akhirnya kalian datang,” sapa Nara.
Vino mengarahkan pandangannya pada rumah baru Nara.
“Jadi ini rumah baru yang hadiah kupon panci itu?” ujar Vino.
"Iya Vin.”
“Bagus Ra, kelihatannya nyaman,” tambah Chelsea.
“Sebenarnya aneh sih, hanya beli panci dapat rumah tapi, ibu ingin tinggal di rumah ini.” Nada suara Nara terdengar lemah.
“Ibumu beruntung banget Ra, dapat undian, selama ini aku Cuma di sms sama pinjaman online,” celetuk Chelsea.
“Apa ini dari kak Milan,” batin Chelsea.
“Aku malah sering di tipu,” tambah Vino.
“Di tipu!” kompak Nara dan Chelsea menatap pemuda ini.
“Di tipu sama sms mama minta pulsa,” ujar Vino.
Chelsea memutar mata malas. “Trus ngapain dikirimin. kau kan udah ngak punya mama,” gemas Chelsea akan sikap Vino.
“Habis dia bikin aku kaya berasa punya keluarga, punya mama. Kasihan tahu mana dia bilang mama di rumah sakit lagi,” jelas pemuda tampan yang hidup sebatang kara ini, dengan cengiran dan sukses membuat dua perempuan ini kesal padanya.
“Vino!” pekik Nara dan Chelsea kompak mencubit pinggang pemuda ini hingga membuatnya mengadu.
“Kalian hentikan!” teriak Vino.
Mereka pun menghentikan aksinya.
“Sudah bantu aku membawa ini masuk," ucap Nara kembali pada barang-barangnya.
Nara memilih mengangkat sebuah kardus.
“Sini aku bantu!” Langkah gadis berkacamata ini terhenti saat merasa ada tangan yang memegang kotaknya.
“Kak Milan!” sapa Nara sontak terkejut saat melihat Milan datang, dia memang memberitahu Milan akan pindah rumah via telepon tak menyangka suaminya ini datang.
“Bukankah kakak seharusnya di kantor?”
“Kau lupa siapa bosnya?” ucap Milan dengan nada mengalun.
Milan mengambil alih kotak dari tangan Nara. mencondongkan wajahnya di telinga Nara.
“Masa aku tidak datang membantu, istriku,” bisik Milan menekan kata istri.
Tubuh Nara meremang, wajahnya seketika memanas, merona bak tomat. Entah setiap mendengar kata istri dari Milan membuat jantungnya terpompa cepat. Ah dia manis sekali!
Milan tersenyum lembut kemudian melangkah masuk ke dalam rumah meninggalkan Nara yang masih mematung.
Milan menatap Chelsea dan Vino sedang berkumpul bersama ibu Salma di ruang tamu.
“Kak Milan di sini!” ujar Chelsea mendekat ke arah kakaknya.
“Memangnya kenapa,” sahut Milan menatap malas pada adiknya.
Chelsea semakin mendekatkan tubuhnya pada Milan hingga menempel. “Apa rumah ini dari kakak,” tebak Chelsea berbisik.
Milan mendesah kasar, adiknya bisa menebaknya.
“Emm,” jawabnya dengan deheman. “Jangan beri tahu dia,” bisik Milan.
“Kak mulai suka padanya?" goda Chelsea menarik kedua sudut bibirnya menatap kakaknya. Ternyata sikap kakaknya telah berubah perhatian pada Nara. Dia meyakini jika kakaknya sudah mulai menyukai Nara.
Graksa-grusuk mereka terhenti saat ibu Salma mendekat.
“Nak Milan datang juga!” sapa ibu Salma dengan ke dua sudut bibir tertarik.
“Saya juga akan membantu,” balas Milan dengan senyuman.
“Wah, jadi rame. Ibu akan masak banyak hari ini, ibu ke dapur dulu,” ujar Ibu Salma setelahnya meninggalkan adik kakak itu.
Milan mengarahkan pandangannya pada Vino tatapan mereka terkunci. Vino menatap heran dengan banyak pertanyaan di hati untuk apa pemuda kakak Sea datang ke rumah ini.
Nara melangkah masuk ke dalam rumah membawa kardus, besar hingga menutupi wajahnya. Melihat Nara kepayahan Milan segera melangkah untuk membantunya.
“Biar aku bantu!"
“Berikan padaku!” Nara mendengar dua suara lelaki dari balik kardus. Ternyata Milan dan Vino kompak ingin membantunya.
Langkahnya pun tertahan ia menatap dua pemuda telah berada di sampingnya dengan tangan menggantung memegang kardus hendak mengambil alih benda itu dari tangannya.
“Biar aku saja!” ucap Vino menatap Milan dengan wajah dingin menarik kardus itu ke arahnya.
“Berikan padaku!” balas Milan tak mau kalah memasang wajah tak suka, menarik benda itu ke arahnya.
Tatapan kilat terpancar dari keduanya, tak ada yang mau mengalah, seakan berlomba untuk mengambil kardus itu dari gadis berkacamata ini.
Nara berdiri mematung di antara dua pemuda yang mengeluarkan aura permusuhan, karena memperebutkan perhatiannya. Tatapan keduanya sungguh membuat Nara bergidik.
Uhh, mengapa jadi begini .....